GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 182


__ADS_3

Caca senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras saat mengingat kejadian ketika liburan kemarin yang membuat dirinya memiliki banyak waktu berdua dengan Aril. Apalagi ketika Caca tersandung akar pohon dan hampir terjatuh, tapi langsung di tahan dan dibawa ke dalam dekapan Aril. Itu merupakan hal yang paling tidak bisa Caca lupakan.


"Tuhan... Kenapa hamba terus memikirkan ciptaan mu yang satu itu saja," gumam Caca.


Tiba-tiba suara dering ponselnya terdengar nyaring di dalam ruangan tersebut. Caca melihat ke layar handphonenya ternyata sang Mommy lah yang meneleponnya.


"Halo, Mommy cantik!"


"Hai sayang, sepertinya ada yang lagi bahagia nih. Ayo ceritakan ke Mommy apa yang membuat anak Mommy ini begitu bahagia."


"Rahasia!" ucap Caca menggoda sang ibu.


"Huh... Sekarang berani ya main rahasia-rahasiaan sama Mommy."


"Hehehe nggak kok, Mom."


"Apa ini karena kamu bisa berdekatan dengan pria pujaan hatimu?"


Caca terdiam sejenak. Ranti memang mengetahui jika putri semata wayangnya itu menyukai Aril. Dan... yah apabila putrinya itu bahagia bersama Aril, Ranti serta Wilson akan merestui hubungan mereka walaupun kesetaraan keluarga mereka cukup jauh. Tapi demi kebahagiaan Caca, mereka rela melakukan apapun untuk putrinya. Orang tua dan mertua idaman memang.


"Benar kan kata Mommy tadi?" tanya Ranti lagi.


Caca tersentak, "M-mommy tau saja!" jawabnya gelagapan.


"Tentu saja Mommy tau. Kalau kamu begitu menyukainya dari zaman SMA hingga sekarang."


Caca dan Mommy-nya terus mengobrol dan bercanda hingga Salma datang memberitahukan dirinya harus segera menghadiri rapat, barulah obrolan anak dan ibu itu harus terhenti.


Lucas mengetuk pintu ruangan Caca, setelah dipersilahkan Caca barulah ia masuk.


"Kak Lucas, ada apa?" tanya Caca.


"Aku ganggu nggak?" tanya balik Lucas.


Caca menggeleng dan tersenyum. Lucas berjalan menghampiri Caca dan duduk kursi tepat di depan wanita itu.


Lucas sudah lama menyimpan perasaan kepada Caca. Dulu ia terlalu pecundang untuk mengungkapkan perasaannya. Tentu hal ini karena Lucas merasa minder atas kesetaraan keluarga mereka, Caca merupakan cucu dari atasan ayahnya sedangkan ia hanyalah anak dari asisten pribadi keluarga Caca yang tidak mungkin bisa bersatu seperti air dan minyak.


Tapi itu dulu. Namun setelah Lucas menjadi direktur pada divisi desain, ia lebih semangat mendekati Caca. Ia begitu yakin bisa mendapatkan hati Caca sekaligus keluarganya, sebab jabatannya kini sudah cukup tinggi di perusahaan dan Lucas pun semakin percaya diri karena dirinya juga memiliki usaha frozen food yang kini berkembang cukup pesat.


"Kamu nanti malam sibuk nggak, Ca?" tanya Lucas.


"Kebetulan nggak ada kegiatan. Memangnya kenapa?"


"Aku mau mengajak kamu ke pesta ulang tahun salah satu klien ku. Kamu mau kan?"


Caca berpikir sejenak, lalu mengangguk menyetujui ajakan Lucas. Daripada dirinya bosan di rumah, apalagi kalau sudah bertemu dengan Arsal dan Ibunya, rasanya Caca ingin sekali pindah dari rumah kakeknya agar tidak bertemu dengan dua Lucifer itu.


"Aku mau, kak."


"Seriusan?" tanya Lucas berbinar.


Caca hanya mengangguk.

__ADS_1


"Oke, nanti malam jam 7 kakak jemput kamu."


"Iya, kak."


Setelah selesai memberitahukan hal tersebut, Lucas pun keluar dari ruangan Caca sambil senyum-senyum tak jelas membuat Aril yang melihatnya curiga.


'Ada urusan apa laki-laki itu ke ruangan Caca terus keluar sambil senyum-senyum sendiri lagi. Aneh!' batin Aril penasaran.


Jam istirahat makan siang pun telah tiba, Caca keluar dari ruangan dan berjalan ke arah ruangan Aril. Ia berniat akan mengajak Aril untuk makan siang bersama.


"Masih sibuk, Ril?" tanya Caca masuk ke dalam ruangan Aril tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu memang sudah menjadi kebiasaan Caca, Aril hanya bisa memakluminya.


"Tidak, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aril.


Caca menggeleng, "Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama."


"Nona saja duluan, nanti saya bisa menyusul."


"Kenapa? Kamu malu makan siang denganku?" tanya Caca memasang wajah sendu.


"Bukan seperti itu, Nona. Saya harus sholat Dzuhur terlebih dahulu, baru kemudian saya pergi makan siang," jelas Aril agar Caca tidak salah paham.


Hati Caca langsung tersentil mendengar ucapan Aril tadi. Semenjak lulus kuliah dan karena kesibukannya bekerja, dia menjadi jarang beribadah bahkan terbilang ibadahnya suka bolong-bolong.


"Ya sudah aku juga mau sholat Dzuhur dulu kalau begitu," ucap Caca.


Aril mengangguk. Lalu mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke musholla kantor dengan Caca berjalan di depan Aril. Aril sengaja berjalan di belakang Caca, agar nanti tidak membuat desas-desus tak mengenakan tentang mereka di kantor.


Pulang dari kantor, Irsyan langsung di todong istrinya untuk dibelikan durian. Padahal Aurora mengetahui jika dirinya tidak menyukai buah berduri dan memiliki aroma menyengat itu.


"Tapi aku suka. Pokoknya aku nggak mau tau, Mas harus belikan aku durian sekarang!" titah Aurora.


"Tapi sayang--"


"Nggak ada tapi-tapian Mas ku yang paling tampan... ayolah lah belikan istrimu ini durian," rengek Aurora dengan nada manja.


Irsyan menghela napas dan mengangguk menuruti keinginan istrinya itu. Terlihat dari wajah pria itu seperti tidak ikhlas. Tapi Aurora tidak peduli, yang penting keinginannya bisa terwujud.


"Kamu mau ikut atau gimana?" tanya Irsyan.


"Mas aja yang pergi sendiri aku tunggu di rumah."


"Ya sudah. Tunggu Mas belikan dulu."


"Oke. Mas hati-hati di jalan."


Irsyan pun pergi membelikan apa yang diinginkan istrinya tadi tanpa mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu. Sesampainya di tempat jualan durian, Irsyan menjadi bahan tontonan orang disana karena terpesona melihat penampilannya menggunakan kemeja putih yang lengannya di lipat ke atas, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang menonjol membuat wanita-wanita disana memekik tertahan. Aura Irsyan sudah seperti pria-pria di dalam cerita novel yang di idam-idamkan oleh para wanita.


Irsyan menghampiri stand penjual durian, sesekali ia harus menutup hidungnya karena tidak bisa mencium aroma menyengat yang keluar dari buah durian tersebut.


"Saya mau beli durian yang rasanya manis, legit dan sedikit pahit. Pokoknya yang paling enak," ucap Irsyan.


"Baik, Pak. Bagaimana kalau musang king atau black thorns? Dua jenis tersebut menjadi durian paling banyak dicari dan diminati banyak orang," jelas penjual durian tersebut sambil menjelaskan rasa serta kualitas dari masing-masing durian yang ia sebutkan tadi.

__ADS_1


"Boleh deh. Saya mau ke duanya. Masing-masing 5." Irsyan juga akan membelikan durian tersebut untuk pekerja di rumahnya.


"Tapi harganya cukup mahal. Musang king 500 ribu perkilo sedangkan black thorns lebih mahal lagi, sekitar 1 jutaan perkilo. Gimana pak?"


Irsyan tidak peduli berapapun harga durian tersebut. Bahkan ia pun bisa membeli kebun duriannya sekaligus.


"Untuk harga tidak masalah. Bapak tinggal pilihkan saja durian yang menurut Bapak paling enak," jawab Irsyan.


"Baik, Pak." Penjual durian tersebut berbinar karena duriannya diborong, dengan semangat empat lima ia memilihkan durian untuk Irsyan.


"Banyak sekali beli duriannya, Pak," ucap seorang ibu-ibu yang juga ingin membeli durian.


"Ah iya Bu, ini permintaan istri saya," jawab Irsyan tersenyum tipis.


Ibu-ibu itu hanya manggut-manggut, walaupun sebenarnya ia ingin sekali mendekati Irsyan agar menjadi menantunya. Tapi setelah mengetahui jika Irsyan sudah memiliki istri, ibu-ibu tersebut langsung berubah pikiran. Dasar ibu-ibu!


Selesai membeli durian, Irsyan pun langsung kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Irsyan menyuruh salah satu penjaga rumah memasukan durian-durian tersebut ke dalam.


"Sayang... Mas pulang!" teriak Irsyan. Aurora dan Alina segera berlari kecil menghampiri Irsyan diikuti Hansel.


"Mana duriannya, Pa?" tanya Alina antusias.


"Itu duriannya dibawa sama pak Gema. Makannya di ruang tengah aja yuk," jawab Irsyan seraya mengajak kedua anak dan istrinya ke ruang tengah.


"Pak Gema, sebagian durian ini untuk bapak dan lainnya. Tolong dibagikan ya?" perintah Irsyan.


"Nggih Tuan. Terima kasih sudah membelikan kami durian," ucap pak Gema.


"Sama-sama Pak."


Aurora, Alina dan Hansel pun mulai mengeksekusi durian tersebut. Sedangkan Irsyan rasanya ingin muntah mencium aromanya, ia pun tak segan-segan menutup hidungnya dengan bantal sofa.


Baru saja Aurora memakan sedikit durian tersebut, ia langsung melepaskan durian tersebut di tempatnya dan berlari menuju kamar mandi. Irsyan yang melihat itu sontak ikut berlari mengikuti istrinya.


"Kamu masih suka mual dan muntah seperti ini?" tanya Irsyan sambil menepuk pelan punggung Aurora.


Aurora hanya menjawabnya dengan anggukan saja.


"Gimana kalau aku suruh Dokter periksa kamu? Mas khawatir sayang."


"Nggak usah, Mas. Aku gapapa," tolak Aurora.


Irsyan membuang napas kasar. Istrinya itu memang sangat keras kepala.


"Aku mau ke kamar, Mas. Badanku lemas banget."


"Nggak jadi makan durian?"


Aurora menggeleng, "Rasa ingin makan durian langsung menghilang, Mas. Aku begitu mual saat memakannya, padahal baru sedikit," keluhnya. Padahal durian merupakan buah favoritnya sedari kecil.


"Ya sudah. Ayo kita ke kamar."


Irsyan pun membopong tubuh Aurora menuju ke kamar mereka.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2