GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 123


__ADS_3

Pukul 10 malam Irsyan belum juga pulang dari kantor membuat Aurora jadi gelisah dan risau menunggunya pulang, terakhir kali Aurora menghubungi suaminya, pria itu memberitahukan jika dirinya akan lembur tapi masa harus lembur sampai jam 10 malam begini.


Suara pintu terbuka terdengar di telinga Aurora, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya pulang juga. Aurora yang berada di balkon kamar itu segera berlari menghampiri suaminya.


"Mas!" teriak Aurora.


"Astaghfirullah, udah di bilang jangan lari-lari gitu sayang, kamu ini terlalu aktif ya," tegur Irsyan.


"Maaf Mas," ucap Aurora cengengesan. Ia menatap wajah suaminya terlihat lesu dan lelah. Aurora sedikit berjinjit dan mengulurkan tangannya mengelus pipi Irsyan.


"Mas capek banget ya?" tanya Aurora.


"Banget sayang," jawab Irsyan memejamkan matanya saat pipinya di elus Aurora.


"Mas tadi sudah makan malam?" tanya Aurora lagi.


"Sudah sayang, tadi makan sama pak Aris di ruangan," jelasnya.


Aurora menarik tangan Irsyan untuk duduk di ranjang, "Mas mau aku pijitin?" tawar Aurora.


"Nggak usah sayang, Mas mau mandi dulu soalnya badan Mas lengket banget." Irsyan membuka jas dan kemejanya di bantu istrinya. Ia beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi, sementara itu Aurora menyiapkan pakaian untuk suaminya di walk in closet.


Selang lima belas menit, Irsyan pun selesai dari ritual mandinya. Dengan sigap Aurora mengambil alih handuk kecil dari tangan Irsyan dan membantu untuk mengeringkan rambut suaminya.


Setelah rambutnya kering, Irsyan membaringkan tubuhnya di ranjang, tapi kepalanya berada di atas paha Aurora.


"Kok Mas bisa lembur, ada masalah ya di kantor?" tanya Aurora sambil membelai rambut Irsyan.


"Iya sayang, tadi tiba-tiba saja saham HC PROPERTIE'S turun, semua karyawan jadi kelimpungan dibuatnya." Irsyan menjelaskan alasan mengapa hari ini ia lembur. Aurora menatap suaminya iba, coba saja ia mengerti tentang bisnis, dipastikan Aurora akan membantu suaminya itu.


"Terus masih belum teratasi?"


"Masih sayang, kayaknya besok Mas lembur lagi deh," keluh Irsyan menyembunyikan wajahnya di perut istrinya.


"Walaupun begitu Mas nggak boleh terlalu memforsir diri. Kalau lelah ya istirahat, waktu jam makan ya Mas harus makan, aku nggak mau nanti Mas jadi sakit," ujar Aurora menasehati Irsyan.Tak ada sahutan dari Irsyan, Aurora melihat ternyata suaminya itu sudah tertidur.


Ia menghela napas panjang, lalu memapah kepala Irsyan ke arah bantal dan suaminya itu sama sekali tidak terusik.


"Good night, suamiku." Aurora mencium kening Irsyan lalu ia ikut berbaring, tak lama Aurora pun juga ikut tertidur.

__ADS_1


...****************...


Beberapa hari ini Kiran merasa tidak enak badan, cepat kelelahan padahal pekerjaan di toko kuenya tidak terlalu berat, nyeri di bagian dadanya dan terkadang perutnya terasa keram. Saat Kiran searching di internet gejala-gejala yang ia rasakan tersebut matanya langsung membulat sempurna, di pencarian menyebutkan bahwa itu merupakan tanda-tanda sedang wanita hamil dan Kiran berharap semoga saja benar.


Kemarin saat masih di toko kuenya Kiran menyuruh salah satu karyawannya untuk membeli testpack di apotek, kini ia akan mencoba alat tes kehamilan tersebut dengan diam-diam tanpa diketahui Andre, karena suaminya itu masih tertidur.


Kiran membaca langkah-langkah untuk menggunakan testpack tersebut. Setelah itu menaruh air urinenya ke dalam wadah kecil, setelah itu ia membuka 3 bungkus testpack dan mencelupkan testpack tersebut ke dalam air urine miliknya tadi, beberapa detik kemudian Kiran mengangkatnya lalu menaruhnya di pinggiran wastafel. Hati Kiran begitu gelisah dan cemas menunggu hasilnya.


"Ya Allah semoga positif," doa Kiran berharap.


Kurang lebih dari 10 menit Kiran menunggu dan pada akhirnya testpack tersebut mengeluarkan dua garis merah yang berarti menunjukkan jika ia tengah berbadan dua, bahkan ketiga testpack tersebut semuanya mengeluarkan dua garis merah. Kiran mengangkat testpack tersebut dengan bergetar masih tak percaya.


"Apa ini benar? Alhamdulillah ya Allah, terima kasih." Air mata Kiran seketika luruh bukan air mata kesedihan, tapi itu adalah air mata kebahagiaan. Saat ini Kiran tidak bisa merangkai dengan kata-kata gimana perasaannya sekarang.


"Sehat-sehat ya sayang, Bunda dan Ayah menunggu kehadiran mu," lirih Kiran sambil mengelus perutnya.


Kiran akan memberikan surprise pada suaminya, tapi nanti dia akan menyembunyikannya sekarang. Kiran keluar dari kamar mandi sambil membawa ketiga testpack tersebut lalu menyembunyikannya di lemari tepatnya di bawah tumpukan baju-bajunya.


"Sayang bangun yuk, udah pagi nih." Kiran membangunkan Andre. Sang empu pun terusik dan mulai membuka matanya.


"Udah jam berapa sayang?" tanya Andre dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kiss dulu dong," pinta Andre sambil menunjuk ke arah bibirnya. Kiran tersenyum, tak pelak ia pun mengecup sekilas bibir suaminya.


"Sudah kan?"


Andre langsung mengangguk dan nyengir seperti anak kecil, ia merubah posisinya menjadi duduk beberapa saat kemudian Andre beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Sementara itu, Kiran menyiapkan seragam pegawai hotel milik Andre.


Kiran masuk ke dalam toko kuenya dengan senyum yang tidak pernah luntur, sebelum ke toko terlebih dulu Kiran pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Benar saja ia sedang mengandung buah hatinya yang baru saja berusia 4 minggu dan kata Dokter, calon anaknya dalam keadaan sehat dan kuat.


Kiran pergi ke rumah sakit sendiri tanpa ditemani oleh siapapun dan untungnya ia berangkat kerja berpisah alias menggunakan kendaraan masing-masing dengan suaminya.


"Pagi semua," sapa Kiran ke para pegawainya dengan ramah dan senyuman manisnya.


"Pagi juga Bu Kiran," balas para pegawainya.


Sore harinya sekitar pukul setengah lima, Kiran masih fokus dengan laporan keuangan tokonya. Tak lama suara ketukan pintu terdengar.


"Ya masuk!"

__ADS_1


Masuklah salah satu karyawannya yang bernama Meta.


"Permisi Bu Kiran."


"Ya ada apa Meta?" tanya Kiran.


"Itu anu Bu ..." Meta serasa susah untuk memberitahukan kepada atasannya itu.


"Anu kenapa Meta?"


"Itu Bu, pak Kevin datang kesini," jelasnya. Meta menghela napas dalam-dalam, pria itu masih juga mengganggu kehidupannya.


"Mau ngapain sih dia kesini?" tanya Kiran dengan kesal.


"Katanya sih mau bertemu dengan Ibu," jawab Meta.


"Suruh aja dia pergi, kalau nggak mau suruh pak Satpam untuk mengusirnya!" suruh Kiran. Belum saja Meta menjawab, pria yang sedang mereka berdua obrolkan datang ke dalam ruangan Kiran.


"Kejam banget sih kamu ngusir aku," ujar Kevin dengan membuat nada sedih. Meta yang tak ingin ikut campur, ia memilih untuk keluar dari ruangan atasannya.


Kiran memutar matanya jengah, "Mau ngapain lo kesini?" tanya Kiran sewot.


"Ya tentu saja untuk bertemu dengan kamu," ucap Kevin santai sambil duduk di kursi depan meja Kiran.


"Gue sudah bilang ya sama lo, jangan pernah ganggu-ganggu gue lagi!" sentak Kiran marah.


"Aku nggak mau, sebelum kamu kembali sama aku."


"Dasar cowok gila!" umpat Kiran. Ia tak habis pikir dengan pria di hadapannya ini, padahal dia tau jika dirinya sudah menikah.


"Ya aku gila karena kamu, Kiran!" balas Kevin dengan nada tak kalah tinggi.


"Aku nggak rela kamu bersama laki-laki miskin itu!" lanjutnya membuat Kiran naik pitam.


"Walaupun dia bukan laki-laki berada, tapi setidaknya dia kaya hati, bukan kayak lo miskin hati dan akhlak!" sarkas Kiran yang tak terima jika suaminya di hina seperti itu.


Kiran berdiri dari kursi lalu menghampiri Kevin dan menarik tangan pria itu, namun sialnya ia malah terjatuh di pangkuan Kevin. Saat Kiran akan berdiri dengan cepat Kevin menarik tengkuk dan mencium bibirnya membuat mata Kiran melotot sempurna, ia terus memberontak tapi Kevin menahan tubuhnya dengan kuat bahkan air mata Kiran mengalir dengan derasnya, ia merasa telah mengkhianatinya suaminya.


"Apa-apaan ini!"

__ADS_1


__ADS_2