
Aurora dan Vania berada di salah satu restoran cepat saji, jikalau Irsyan mengetahui istrinya makan disini, sudah di pastikan ia akan mengomeli istrinya itu. Irsyan melarang keras Aurora untuk memakan makanan cepat saja atau fast food karena itu tidak baik untuk kesehatan apalagi sekarang istrinya itu tengah mengandung.
Aurora sendiri yang ingin makan di restoran cepat saji ini, karena ia sangat menginginkan makan ayam goreng dan es krim khas dari restoran tersebut. Aurora dan Vania yang tengah asyik menyantap makanannya, tiba-tiba saja meja mereka di datangi Dania dan Renata, ibu dari Rian.
"Ini Mi, wanita pelakor yang mencoba merebut Rian dari aku," tuduh Dania. Aurora dan Vania hampir tersedak mendengar tuduhan dari Dania. Seketika Vania menatap tajam Dania.
"Heh kalau ngomong itu yang bener dong! Nggak usah ngelantur!" ucap Vania sambil memukul keras meja membuat orang-orang disana melihat ke arahnya.
"Loh memang benar kenyataan begitu," bela Dania. Aurora mencoba menahan diri untuk tidak emosi, takut akan berefek samping pada kandungannya. Renata yang sedari tadi diam mulai membuka suara.
"Benar kamu yang namanya Aurora?" tanya Renata. Pantas saja anaknya itu tergila-gila pada Aurora, aura kecantikan wanita patut diacungi jempol membuat Renata akan meralat ucapannya karena kemarin menuduh jika Aurora memakai susuk dan pelet pada Rian, ternyata Aurora memang sangatlah cantik, pikir Renata.
"Iya benar Bu, ada apa ya?" tanya Aurora dengan sopan sebab ia mengerti attitude berbicara dengan orang yang lebih tua.
"Kamu siapanya Rian?" tanya balik Renata.
"Saya teman kerjanya Rian dulu, Tan," jawab Aurora jujur.
"Saya harap kamu agar kamu tidak menemui atau bahkan muncul di depan Rian lagi!"
Aurora hanya bisa melongo mendengar ucapan ibu dari mantan rekan kerjanya itu, sejak kapan dia menemui Rian? Bahkan mereka pun bertemu karena faktor tidak kesengajaan.
"Mohon maaf sebelumnya Bu, saya ini sudah punya suami mana mungkin saya menemui laki-laki lain dan saya bertemu dengan mas Rian itu memang murni karena tidak kesengajaan," jelas Aurora jujur agar tidak ada kesalahan pahaman disini.
"Halah jangan bohong deh! Siapa tau kan kamu diam-diam bertemu dengan mas Rian dibelakang suamimu!" sahut Dania tak santai.
"Heh lambe lo gue timpuk juga ya lama-lama! Kakak ipar gue nggak mungkin begitu, suaminya ganteng kayak artis korea gitu nggak mungkin nemuin laki-laki lain di belakangnya!" timpal Vania membalas ucapan Dania sekaligus membela Aurora.
"Lo jangan ikut campur deh!" Dania menunjuk Vania.
"Ya gue harus campur karena yang lo fitnah itu kakak ipar gue!" sentak Vania. Jangan salah sifat Vania dan Aurora beda tipis, sama-sama memiliki sifat yang bar-bar.
"Maaf ini ada apa ya?" tanya manajer dari restoran tersebut karena mendengar suara ribut-ribut.
"Dua orang ini sudah menganggu kenyamanan kami yang sedang makan Pak, suruh aja keluar dari sini!" ucap Vania. Dania menatap tajam ke arah Vania.
"Maaf Nyonya, Nona kalian harus pergi dari sini, karena kalian sudah membuat onar dan membuat pengunjung disini jadi tidak nyaman!" usir manajer itu.
"Enak saja mengusir kami, kamu mau di pecat dari sini?" sungut Renata.
"Saya tidak peduli, karena disini yang membuat keributan adalah kalian. Kalian pergi dari sini atau saya panggilkan security?" ancam manajer itu. Renata mengeram kesal sedangkan Dania mendengus, lalu dengan terpaksa mereka berdua keluar dari restoran tersebut. Hampir semua pengunjung menyoraki mereka berdua sedangkan Aurora dan Vania hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Maaf telah menganggu kenyamanan Nona-nona disini," ujar manajer itu pada Aurora dan Vania.
"Tidak apa-apa Pak, terima kasih sudah bantu untuk mengusir mereka," balas Aurora. Manajer itu mengangguk sambil tersenyum, lalu mengundurkan diri dari meja Aurora dan Vania.
__ADS_1
"Lo nggak apa-apa kan Ra?"
"Gue gapapa kok santai aja," balas Aurora. Mereka berdua pun kembali menyantap makanan yang ada di atas meja.
"Van," panggil Aurora disela-sela makan.
"Kenapa Ra?"
"Lo nggak nggak ada gitu keinginan untuk menikah?" tanya Aurora tiba-tiba membuat Vania tersedak dan cepat-cepat meminum air soda yang ia pesan tadi.
"Ya ampun Van, hati-hati makannya!"
"Pertanyaan lo sih creepy banget!" sungut Vania kesal.
"Sorry, soalnya gue penasaran aja," ucap Aurora cengengesan.
"Oke bakal gue ceritain ke lo, sebenernya gue lagi nunggu di lamar oleh seseorang, karena dia janji sebelum gue Aussie dulu dia bakal ngelamar gue pada saat gue kembali ke Indonesia, tapi gue nggak tau dia masih nggak inget dengan janjinya itu," ucap Vania lirih saat mengingat janji dari orang itu.
"Memangnya orang itu siapa sih?" tanya Aurora.
"Lo pasti tau kok orangnya," jawab Vania membuat Aurora semakin penasaran.
"Apa gue tau orang itu?"
"Haishhh! Kasi tau gue dong!"
"Lo tau aja sendiri," goda Vania. Aurora langsung mendengus kesal.
...****************...
Satria dan timnya tengah mengintai beberapa pria yang tengah melakukan jual-beli narkoba di sebuah gudang yang sudah tidak digunakan lagi. Salah satu dari pria itu sudah lama jadi buronan polisi.
"Gimana komandan? Apa sekarang kita tangkap mereka?" tanya salah satu rekannya.
"Sabar, sebentar lagi," jawab Satria tanpa menatap rekan di sampingnya karena fokus menatap ke arah orang-orang yang menjadi sasarannya.
"Siap Ndan!"
Saat telah siap, Satria menatap ke arah rekan-rekannya yang tengah bersembunyi dan mengangguk, pertanda jika mereka harus segera menangkap orang-orang itu.
"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian semua!" ucap Satria dan timnya sambil menodongkan pistol pada orang-orang sasaran mereka. Orang-orang itu langsung terkejut dan kelabakan kegiatan jual-beli narkoba yang mereka lakukan ketahuan oleh polisi, mereka yang berjumlah empat orang itu seketika mengangkat kedua tangan mereka.
"Anton, Fadil, Yoga geledah mereka!" suruh Satria pada rekannya.
"Siap Ndan!"
__ADS_1
Salah satu dari buronan itu melarikan diri, sebelum diperiksa dengan cepat Satria dan rekan kerjanya bernama Doni langsung mengejar orang tersebut.
DOR!
"Sial!"
"Jangan lari kamu!" teriak Satria sambil menembakkan pistolnya ke atas sebagai tanda peringatan. Orang yang jadi sasaran tersebut tidak mengindahkan peringatan dari Satria, ia terus berlari bahkan orang itu berlari menuju ke gubuk warga.
Mila yang tengah berbelanja di salah satu warung dekat rumahnya terkejut saat ada orang yang tiba-tiba menyandera dirinya.
"Kalian jangan berani mendekat atau perempuan ini saya bunuh!" ancam buronan itu sambil menaruh pisau di leher Mila membuat sang empu menahan nafasnya. Ingin melawan, tapi nyawa menjadi taruhannya. Orang-orang yang melihat itu pun juga ikut menjerit ketakutan.
"Dan turunkan senjata kalian!"
Satria menatap Doni lalu mengangguk, mereka berdua pun memasukkan pistol mereka ke dalam holster pinggang atau tempat pistol yang ada di sampingnya.
"Mas Satria tolongin gue," jerit Mila yang sudah ketakutan bahkan suaranya bergetar, traumanya yang dulu muncul kembali saat segerombolan preman mengganggunya dan Aurora yang menjadi korban dari preman-preman yang mengganggunya itu.
"Tenang Mila, lo jangan bergerak sedikitpun," suruh Satria.
"Mau tenang gimana, nyawa gue nih taruhannya!" balas Mila dengan sewot. Satria menghela napas, ia mencoba mendekati buronan dan Mila dengan perlahan.
"Saya bilang jangan mendekat!"
SREK!
buronan itu menggores pisau yang ia bawa sedikit ke leher Mila. Membuat Mila meringis kesakitan.
"Jangan berani menyakiti dia!" sentak Satria. buronan itu pun menghentikan gerak pisaunya.
"Makanya kau jangan berani-berani mendekat!" Satria pun kembali terdiam di tempat.
Karena sudah tidak tahan lagi, Mila langsung mengigit tangan buronan yang ada di lehernya itu dengan keras.
"Arrgghh!" buronan itu kesakitan dan melepaskan Mila. Mila pun langsung berlari ke arah belakang Satria. Dan Doni pun langsung menangkap dan membekuk buronan itu lalu membawanya ke mobil tahanan.
"Lo gapapa kan Mil?" tanya Satria.
"Gue gapapa, tapi luka di leher gue terasa perih," jawab Mila yang meringis akibat goresan pisau dari buronan tadi.
"Ayo kita ke rumah sakit buat obati luka lo biar nggak infeksi nantinya," ajak Satria sambil menggandeng tangan Mila hal itu membuat jantung Mila berdetak lebih cepat, karena crush alias orang yang ia diam-diam suka menggenggam tangannya. Jika waktu bisa di hentikan, mungkin Mila akan melakukan itu sekarang.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1