
Pagi berganti siang, siang berganti malam, dan malam ini Aurora tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah pasangan paruh baya yang pernah ia tolong ketika akan di begal. Jantungnya berdebar kencang sedari tadi, seperti akan terjadi sesuatu nanti disana. Namun, Aurora segera menepis pikirannya itu.
Aurora mengenakan midi dress berwarna moccha polos yang memiliki panjang di atas lutut, berlengan pendek dan dibawahnya bermodel lebar bergelombang. Dress ini membuat kaki Aurora terlihat jenjang, apalagi di tambah heels yang senada dengan warna dress yang ia kenakan.
Aurora memberikan sentuhan makeup flawless di wajahnya. Rambut yang biasanya terurai, kini ia cepol ke atas. Tak lupa juga menambahkan aksesoris seperti anting, kalung dan cincin agar penampilannya terlihat lebih sempurna. Malam ini Aurora terlihat sangat cantik dan anggun.
Aurora pergi menggunakan taksi online, tidak mungkin ia menggunakan motor ketika penampilannya seperti ini.
Aurora bergegas ke depan rumahnya, karena pesanan taksi onlinenya sudah sampai. Setelah itu ia diantarkan ke alamat tujuan.
Butuh waktu 25 menit untuk sampai di rumah Jihan dan Harun, lalu ia turun dari taksi online tersebut.
"Subhanallah, mewah banget rumahnya," gumam Aurora yang kagum dengan rumah mewah nan besar di depannya saat ini.
Aurora melangkahkan kakinya menuju pintu sang pemilik rumah, lalu membunyikan bel rumah tersebut.
TING NONG!
TING NONG!
TING NONG!
Dengan sabar Aurora menunggu untuk dibukakan pintu. Ketika dibukakan pintu, betapa terkejutnya ia melihat orang yang membuka pintu tersebut.
"Assalamualaikum Om Ha ..." ucapan Aurora terpotong karena pekikan laki-laki yang membukakannya pintu tadi.
"Aurora!" pekik laki-laki itu.
"Mas Irsyan!" Aurora mengira orang yang membukakannya pintu tadi adalah Harun. Ternyata salah, laki-laki yang membukakan dia pintu adalah laki-laki yang beberapa hari ini dekat dengannya.
"Kamu ngapain disini dek?" tanya Irsyan heran. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Aurora ke rumahnya, sekaligus terpesona melihat penampilan Aurora yang malam ini sangat cantik.
"Ini rumahnya, Mas?" Bukannya menjawab, Aurora malah menanyai balik Irsyan.
Irsyan mengangguk, "Iya ini rumah aku. Kamu belum jawab pertanyaan ku, kamu ada keperluan apa di--" ucapan Irsyan terpotong karena Jihan datang dari belakangnya.
"Eh nak Aurora sudah datang." Irsyan dan Aurora menatap wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu.
'Bentar-bentar, berarti Aurora yang dimaksud sama Mama dan Papa itu Aurora Putri Ramadhina? Astaga kebetulan macam apaan ini?' tanya Irsyan dalam hatinya, ia tak percaya dengan kebenaran ini.
"Assalamualaikum Tante," ucap Aurora sopan sambil menyalami Jihan.
"Waalaikumsalam nak, kamu terlihat sangat cantik malam ini," puji Jihan pada penampilan Aurora.
"Makasih Tan," ucap Aurora tersenyum malu.
"Irsyan kok malah bengong, ayo tamunya disuruh masuk."
"Ah iya ayo masuk," ucap Irsyan menggeser posisinya untuk mempersilahkan Aurora untuk masuk.
"Iya terima kasih, Mas." Aurora pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Ayo duduk nak," ucap Jihan mempersilahkan Aurora untuk duduk.
__ADS_1
"Iya Tan," ucap Aurora, lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut dan diikuti oleh Irsyan duduk di sofa single yang dekat dari posisi Aurora.
"Kalian berdua ngobrol dulu ya? Mama mau siapkan makanan dulu," ucap Jihan.
"Boleh saya bantu, Tan?" tawar Aurora.
"Nggak usah nak. Kamu disini aja, ngobrol dan kenalan sama anaknya Tante," ucap Jihan seraya tersenyum mengejek ke arah Irsyan yang sedari tadi mencuri pandang ke Aurora.
"Tante ke dapur dulu," ucap Jihan, lalu pergi dari ruang tamu membiarkan mereka berduaan.
Suasana canggung pun terasa di ruang tamu tersebut. Apalagi Aurora yang tak berani melihat Irsyan, gara-gara ucapan Aji semalam yang mengatakan jika Irsyan menyukainya.
"Ekhem, Aurora!" Irsyan mencoba mencairkan suasana yang canggung ini.
"Ya Mas?" Aurora tak menatap Irsyan dan malah menunduk menatap lantai.
Irsyan menghela napas, "Apa lantai itu lebih menarik daripada aku?" tanyanya. Lantas Aurora pun menatap wajah Irsyan dan mata mereka pun saling bertemu, membuat jantung mereka berdua sampai berdetak kencang.
'Astaga jantung gue,' ucap batin mereka berdua.
"Nah gitu dong, masa aku lagi ngomong tapi kamu malah ngeliatnya ke arah lantai."
"Maaf Mas," ucap Aurora cengengesan, ia mencoba untuk tidak canggung dan biasa saja di depan Irsyan.
"Oh ya, aku mau nanya sesuatu sama kamu."
Aurora menaikkan satu alisnya, "Mau nanya apaan ya Mas?"
Aurora mengangguk pelan, "Iya Mas."
Lalu Aurora menceritakan kejadian waktu ia menolong orang tua Irsyan. Namun ini versi ceritanya sendiri, karena Aurora yakin pasti Irsyan juga diceritakan oleh kedua orang tuanya tentang kejadian itu.
Ekspresi wajah Irsyan berubah-ubah ketika Aurora menceritakan dirinya, apalagi ketika Aurora cerita saat dirinya di pukul oleh salah satu dari preman tersebut, Irsyan langsung mengeluarkan ekspresi menahan amarahnya.
"Kamu hebat banget melawan 4 preman sekaligus," puji Irsyan.
"Nggak juga Mas, itu semua karena pertolongan dari Allah," ucap Aurora tersenyum. Irsyan tersenyum mendengarnya.
'Masya Allah udah cantik, sopan, rendah hati, terus mana jago beladiri lagi.' puji Irsyan dalam hatinya, ia semakin terpesona dengan sifat Aurora itu.
"Makasih ya udah nolongin orang tuaku waktu itu," ucap Irsyan tulus.
"Sama-sama, Mas. Kan sudah aku bilang, itu semua berkat pertolongan dari Allah dan perantaranya itu lewat aku Mas," ucap Aurora lembut.
Ah, rasanya Irsyan ingin membawa kabur gadis di depannya ini ke KUA, untuk segera dinikahinya.
"Eh nak Aurora sudah datang rupanya," ucap Harun yang tiba-tiba datang ke ruang tamu.
'Ck, Papa ganggu aja waktu gue berduaan sama Aurora,' decak Irsyan dalam hatinya.
"Iya Om." Aurora berdiri, lalu menyalami Harun.
"Ayo duduk lagi nak." Aurora mengangguk dan kembali duduk.
__ADS_1
"Syan, Papa mau duduk disitu, kamu pindah," titah Harun pada Irsyan. Irsyan mendengus kesal, lalu berpindah tempat duduk di samping Aurora.
"Kalian berdua sudah berkenalan?" tanya Harun.
"Sudah, Pa."
"Sudah, Om."
Harun manggut-manggut, "Baguslah kalau begitu."
Lalu mereka bertiga mengobrol-ngobrol ringan sembari menunggu makanan siap.
"Tadi kamu kesini naik apa, nak?" tanya Harun pada Aurora.
"Aku tadi kesini naik taksi online Om," jawab Aurora.
"Oalah, nanti kamu diantar ya sama Irsyan?"
"Hah? Nggak usah Om, nanti ngerepotin mas Irsyan," tolak Aurora dengan sopan.
"Nanti biar aku yang antar kamu, nggak baik perempuan pulang sendirian, apalagi di anter sama orang yang nggak kamu kenal, nanti kalau kamu sampai di apa-apakan gimana?" ucap Irsyan sedikit menakuti Aurora, tentu saja ia dengan senang hati mengantar kucing manisnya pulang, nanti kan mereka bisa berduaan, pikirnya.
"Tapi Mas--" Ucapan Aurora langsung disela oleh Irsyan.
"Nggak usah nolak!" Aurora menghela napas lalu mengangguk. Laki-laki itu memang tidak suka dibantah. Irsyan dan Harun langsung tersenyum melihat Aurora menyetujuinya.
"Oh ya, gimana kabar orang tua kamu nak?" tanya Harun.
"Alhamdulillah kabar ibu baik, kalau ayah lagi di rawat di rumah sakit, Om."
"Ayah kamu sakit apa nak?"
"Ayahnya di diagnosis kena stroke ringan, Pa." Bukan Aurora yang menjawab melainkan Irsyan. Lalu Harun menatap Irsyan.
"Kok kamu tau, nak?"
"Iya ayahnya dia aku yang rawat, Pa," jelas Irsyan.
Harun manggut-manggut, lalu menyadari akan sesuatu, kemarin putranya itu pernah cerita kalau dia suka dengan anak dari pasien yang dia rawat. Apakah perempuan itu Aurora? pikirnya. Jika itu benar, Harun dan Jihan pasti akan merestui hubungan mereka berdua dengan senang hati.
"Terus gimana sekarang keadaan ayah kamu, nak?"
"Tekanan darah ayah sudah stabil, Om. Tapi tangan kanan ayah belum bisa terlalu digerakkan dan ayah belum bisa berbicara akibat dari penyumbatan pembuluh darah di kepalanya," jelas Aurora menunduk, dia paling lemah jika sudah bercerita tentang keluarganya, terutama bercerita tentang ayahnya.
Tak sadar tangan Irsyan menggenggam tangan Aurora seperti mengatakan, aku yakin kamu pasti kuat melewati ini semua. Tentu hal itu membuat Aurora sedikit terkejut melihat tangannya di genggam tiba-tiba oleh Irsyan. Ia menatap Irsyan dan yang di tatap hanya tersenyum.
"Kamu yang sabar ya nak, ayah kamu pasti segera sembuh," ucap Harun lembut.
"Aamiin semoga Om," balas Aurora tersenyum tipis.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1