
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku pulang dulu ya Mas?" pamit Aurora pada Irsyan.
"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan," ucap Irsyan sambil mengelus rambut Aurora.
"Iya Mas," balas Aurora tersenyum.
Setelah pulang dari rumah sakit, Aurora berencana pergi ke toko kue milik Kiran untuk membeli titipan kue ibunya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan di toko kue milik Kiran.
"Saya mau beli kue-kue tradisional dong mbak," ucap Aurora. Di toko kue milik Kiran tidak hanya menjual kue saja, melainkan juga menjual roti, kue tradisional dan lain sebagainya.
"Baik Mbak, mau kue jenis apa saja?"
"Saya maunya onde-onde, apem, bika ambon, carabikang, kue talam, lapis legit sama kue pukis. Semuanya tiga-tiga ya mbak," pesan Aurora.
"Baik Mbak, mohon ditunggu sebentar," ucap pelayan tersebut sambil mengambilkan kue-kue yang dipesan oleh Aurora.
"Oh ya mbak, ibu Kiran ada?" tanya Aurora.
"Ibu Kiran tadi lagi keluar sebentar Mbak," jawab pelayan tersebut. Aurora hanya manggut-manggut mengerti.
"Ini pesanannya, Mbak. Tinggal bayar ke kasi ya mbak" Pelayan tersebut membawa pesanan Aurora ke tempat kasir.
"Baik makasih Mbak." Aurora menuju ke tempat kasir berada.
"Berapa totalnya mbak?" tanya Aurora sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam sling bag miliknya.
"Totalnya seratus sembilan puluh ribu, Mbak," jawab kasir itu.
"Ini Mbak." Aurora mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.
"Ini Mbak kembaliannya," ucap kasir memberikan uang kembalian dan kotak kue pada Aurora.
"Terima kasih," ucap Aurora.
"Terima kasih kembali."
Aurora keluar dari toko kue tersebut, ketika ia berada di pintu, Aurora tak sengaja berpapasan dengan Rian.
"Aurora."
"Eh mas Rian." Aurora sedikit pangling dengan penampilan Rian hari itu, laki-laki yang biasanya mengenakan seragam PNS kini mengenakan kemeja yang di balut dengan jas, seperti seorang petinggi di suatu perusahaan.
"Kamu apa kabar, Ra?" tanya Rian pada Aurora.
"Alhamdulillah baik Mas, kalau mas Rian gimana kabarnya?"
"Aku juga baik, udah lumayan lama ya kita nggak ketemunya? Kamu tambah cantik aja," goda Rian.
__ADS_1
"Mas Rian bisa aja," balas Aurora tersenyum tipis.
"Oh ya mas Rian sekarang kerja dimana?" tanya Aurora penasaran.
"Aku disuruh Papi buat mengelola beberapa cabang hotel miliknya," jawab Rian.
"Oh gitu."
"Kamu nggak kangen sama aku, Ra? Kan biasanya kita sering banget berduaan di kantor," goda Rian dengan senyum tengilnya.
"Iya kangen, kangen pengen nabok maksudnya," ledek Aurora. Rian mendengus kesal, namun sedetik kemudian ia tersenyum.
"Kamu itu memang nggak bisa di rayu ya?"
"Ya dong, aku kan udah kebal dari rayuan gombal dari para buaya," ucap Aurora bangga.
"Ya ya terserah kamu saja. Tapi boleh lah ya kita jalan berdua kapan-kapan?" Rian belum mengetahui pasal Aurora dan Irsyan yang akan menikah.
"Insya Allah Mas, kalau gitu aku mau pulang dulu, soalnya udah di tungguin sama ibu," ucap Aurora yang tak ingin lama-lama dengan laki-laki di hadapannya ini.
"Iya Ra, kamu hati-hati."
Aurora mengangguk, "Iya Mas." Dengan langkah yang cepat Aurora menuju ke arah parkiran.
'Apa harus cara yang keras buat gue bisa dapetin lo, Ra?' batin Rian yang terus menatap Aurora walaupun gadis itu sudah lumayan jauh dari penglihatannya.
...****************...
Malam harinya, Aurora di ajak ke apartemen mewah milik Irsyan. Ini pertama kalinya ia pergi kesana, walaupun sering kali Irsyan mengajaknya.
Di dalam lift, Irsyan hanya diam saja dan sibuk dengan handphonenya. Aurora mencoba melepaskan genggaman tangan Irsyan, dirinya malu karena terus di lihat oleh orang-orang di dalam lift tersebut.
Namun Irsyan masa bodoh dengan pandangan orang-orang itu dan terus mengeratkan genggamannya tanpa menoleh ke arah Aurora. Aurora hanya bisa pasrah dan membiarkan Irsyan menggenggam tangannya.
Tepat di lantai 20 pintu lift terbuka, Irsyan menarik tangan Aurora dan membimbingnya menuju ke pintu apartemen miliknya.
Irsyan membuka pintu apartemen dengan sidik jarinya, membukanya dengan lebar lalu mempersilahkan Aurora untuk masuk. Sepertinya tempat ini bukan lagi disebut dengan apartemen, melainkan penthouse.
Ruangannya tampak begitu luas dengan jarak antara lantai dan langit-langit lumayan tinggi. Apartemen Irsyan terdiri dari dua lantai, ruangan di dalam apartemennya tampak terlihat kosong dan lapang karena tidak banyak perabotan dan dekorasi, layaknya hunian laki-laki pada umumnya.
Di lantai 1, ruang tamu diisi dengan sofa letter L. Ruang TV dan makan sekaligus dapur dijadikan satu. Jadi pada saat memasak bisa sekalian sambil menonton TV.
Irsyan membuka jaket sweater yang dikenakannya sehingga menyisakan kaos putih polos di badannya. Aurora menghiraukan Irsyan, ia memilih menuju ke kaca besar dan tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota M pada malam hari.
"Ayo kita makan dulu sayang," ajak Irsyan yang kini sudah berada di samping Aurora.
"Aku tadi sudah makan di rumah Mas," ucap Aurora menatap ke arah Irsyan.
"Beneran?"
"Iya beneran, Mas makan dulu gih," titah Aurora.
"Tapi temenin Mas makan," ucap Irsyan memelas.
"Ya sudah ayo aku temenin."
__ADS_1
Sepertinya pada saat Aurora masuk tadi tidak memperhatikan meja makan, ternyata disana sudah ada beberapa makanan yang tersaji. Irsyan menarik kursi untuk Aurora, kemudian ia duduk di samping Aurora.
"Mas yang masak ini semua?" tanya Aurora.
"Ya nggak lah sayang, ini tadi aku suruh salah satu anak buah papa untuk membeli semua makanan ini," jawab Irsyan. Aurora hanya manggut-manggut. Irsyan pun ditemani makan oleh Aurora hingga selesai.
Ketika Aurora ingin membersihkan dan mencuci piring kotor bekas makan, langsung ditahan oleh Irsyan.
"Nggak usah kamu cuci sayang, besok ada kok tukang bersih-bersih datang kesini."
"Tapi Mas--"
"Udah nggak usah sayang, lebih baik kita ke ruang TV aja," ajak Irsyan memotong ucapan Aurora. Aurora menghela napas, lalu mengangguk.
Irsyan menarik tangan Aurora menuju ke ruang TV dan duduk di sofa.
"Kamu mau nonton apa sayang?" tanya Irsyan.
"Nonton drama korea dong Mas," seru Aurora.
"Suka banget kamu nonton drama kayak gitu."
"Ya dong, soalnya ganteng-ganteng pemainnya," ucap Aurora langsung mendapat tatapan tak suka dari Irsyan.
"Cih dasar betina," gumam Irsyan. Tak ayal ia pun menuruti permintaan calon istrinya dan menyalakan TV yang menayangkan drama korea yang tengah ramai diperbincangkan saat ini.
Disaat mereka sedang asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba saja terdengar handphone bergetar. Aurora menoleh ke arah meja kecil yang berada di samping, ternyata handphone Irsyan lah yang bergetar.
Baru saja Aurora ingin memberitahukan kepada Irsyan, tapi entah sejak kapan wajah laki-laki itu sudah berada di dekatnya. Aurora menahan napas sesaat, tangan Irsyan terulur melewati belakang kepalanya untuk mengecek handphone.
Aurora tidak berani bergerak karena jarak Irsyan dengannya sangat dekat, aroma tubuh dan parfum Irsyan menyeruak masuk ke indra penciumannya. Jantung dengan tidak sopan Aurora berdetak kencang, bohong jika dirinya tidak gugup berada sedekat ini dengan calon suaminya. Ia memejamkan mata sejenak untuk meredakan debaran jantungnya. Tepat saat Aurora merasakan pipinya disentuh, ia langsung membuka matanya.
"Apa boleh sayang?" tanya Irsyan yang terus memandangi bibir Aurora.
Aurora menelan ludah, tanpa sadar ia mencengkram ujung kursi. Dari jarak sedekat ini mata Aurora juga terpaku melihat bibir Irsyan.
Dengan cepat Aurora mengenyahkan pikiran mesumnya itu.
"Nggak boleh, tunggu sampai kita nikah dulu," tolak Aurora sambil menutup bibir dengan tangannya. Irsyan menjauhkan wajahnya, laki-laki itu terlihat kecewa karena tolakan dari Aurora. Aurora tak enak hati melihat Irsyan seperti itu.
"Mas," panggil Aurora sambil memegang tangan Irsyan.
"Hem," jawab Irsyan singkat.
"Mas marah sama aku?"
"Nggak kok."
"Beneran?"
"Ya." Lagi-lagi Irsyan menjawabnya dengan singkat, Aurora hanya bisa menghela napas, laki-laki itu sepertinya marah dengannya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1