
Sepulang sekolah Caca harus menunggu jemputannya di depan gerbang tapi sampai sekarang sopir pribadi Daddy-nya itu tak kunjung datang. Memang jarak antara rumah dan sekolahnya itu cukuplah jauh.
"Astaga pak Udin kemana sih kok nggak datang-datang!" kesal Caca sambil menghentakkan kakinya. Ia pun mencoba menghubungi pak Udin.
"Halo Pak, Bapak ada dimana?" tanya Caca saat setelah teleponnya terhubung.
"Ini Non, bapak lagi di jalan tapi ban mobilnya kempes mana bengkel cukup jauh disini," jelas pak Udin ternyata ban mobil yang dibawa oleh pak Udin kempes karena itu ia lama menjemput anak majikannya.
"Ya ampun pantas saja lama, terus gimana Caca pulangnya Pak?" resah Caca.
"Pesan taksi online aja Non," suruh pak Udin.
"Ya sudah Pak, Caca pesan tak online aja," ucap Caca pasrah.
"Maafin Bapak ya Non," sesal pak Udin.
"Iya gapapa Pak, ini bukan salah Bapak kok."
Setelah itu Caca mengakhiri sambungan teleponnya. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depannya dan orang itu membuka kaca helmnya.
"Ayo gue anter."
"Aril!" Ini pertama kalinya Aril akan mengantarkan pulang, apa ini karena terkena lemparan bola tadi? Jika benar berarti kejadian terkena bola basket dan ban mobil pecah membawa berkah baginya.
"Lo mau nggak? Kalau gitu gue pergi." Aril mulai menyalakan mesin motornya kembali, tapi dengan cepat Caca memegang pinggang Aril dan naik ke atas motornya.
"Gue mau kok Ril," ucap Caca sambil memeluk erat perut Aril.
"Bisa dilepas nggak? Atau lo mau gue turunin?" tegur Aril yang risih saat dipeluk oleh Caca, bukannya apa tapi ini pertama kalinya Aril dipeluk oleh perempuan selain ibu dan kakaknya. Caca pun segera melepas pelukannya.
"Hehe maaf Ril," ucap Caca cengengesan.
"Hem." Aril memberikan helm pada Caca dan langsung di pakai oleh gadis itu, tapi Caca tidak tau cara mengunci helm tersebut karena ini pertama kalinya ia menaiki motor sekaligus memakai helm, sebab sejak kecil orang tuanya selalu melarang jika anaknya itu menaiki bahkan mengendarai motor.
"Kenapa?" tanya Aril yang mendengar Caca grasak-grusuk di belakangnya.
"Gue nggak bisa mengunci helmnya," jawab Caca polos. Aril menghela nafas, dasar anak Mami, pikirnya.
"Sini gue pasangin," suruh Aril. Caca turun dari motor dan berdiri di depan Aril. Jantung Caca berdegup kencang saat wajahnya cukup dekat dengan Aril, wajah tampan bak aktor China membius mata Caca.
CLICK!
"Sudah."
"Eh iya!" Caca pun tersadar dari terpesonanya pada ciptaan Tuhan di depannya ini. Caca kembali naik ke atas jok motor Aril, kemudian Aril mulai mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Motor itu merupakan pemberian dari Aurora untuk hadiah ulang tahunnya yang ke 17 tahun.
"Aril!" panggil Caca sedikit kencang.
"Hem?"
"Emangnya lo udah punya SIM makanya berani banget mengendarai motor?" tanya Caca penasaran.
"Udah."
"Oh ya gue lupa kalau lo itu udah 17 tahun," ucap Caca dan Aril hanya diam tanpa menanggapi lagi ucapan gadis cerewet di belakang ini.
Membutuhkan 20 menit untuk sampai di rumah mewah Caca. Aril memberhentikan motornya di depan gerbang rumah Caca.
"Lo nggak mampir Ril?" tawar Caca.
"Nggak usah, gue langsung pulang."
__ADS_1
"Oh oke, makasih udah nganterin gue," ujar Caca tersenyum. Aril hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dan kembali melajukan motornya pergi meninggalkan rumah Caca.
"Dasar triplek, untung gue cinta," ucap Caca dan masuk ke dalam rumahnya.
"Mommy yuhuuu anakmu yang cantik ini pulang!" teriak Caca dengan suara cempreng sekaligus melengking membuat ruangan di rumah itu langsung menggema akibatnya.
"Caca ini rumah bukan hutan. Kamu mau jadi salah satu penghuni hutan hah?" tanya Ranti sang mommy. Caca langsung nyengir kuda dan menggeleng.
"Ya enggaklah Mom. Enak aja, masa Caca mau jadi monyet cantik nantinya?"
Ranti berdecak, untung anak semata wayang kalau nggak mungkin ia sudah menukar tambahnya dengan panci. Eh?
"Kata pak Udin tadi kamu pulang naik taksi online?" tanya Ranti.
"Nggak Mom, Caca nebeng sama temen," .
"Pakai apa mobil atau motor?"
"Pakai motor," jawab Caca dengan santai membuat Ranti melotot kan matanya.
"Kenapa nggak pesan taksi online aja sih sayang, pakai motor itu bahaya, kalau kamu kenapa-napa nantinya gimana?!" ujar Ranti marah. Yah, namanya juga anak semata wayang.
"Nggak usah khawatir Mom, buktinya Caca baik-baik aja kan?"
Ranti menghela napas panjang, "Terserah kamu saja, pokoknya ini pertama dan terakhir kalinya kamu naik motor!" pesan Ranti dengan tegasnya.
"Iya Mom," jawab Caca malas.
...****************...
Aurora sedang duduk bersantai di kursi di pinggir kolam renang sambil melihat suaminya itu berenang dengan lincahnya kesana-kemari.
"Nggak ah aku lagi malas," jawab Aurora.
"Ayo sini sayang, renang itu banyak manfaat loh untuk ibu hamil," bujuk Irsyan.
"Tapi dingin Mas," rengek Aurora.
"Nggak dingin kok, percaya deh sama Mas."
Dengan terpaksa Aurora membuka kimono yang ia gunakan, Irsyan menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat bentuk tubuh istrinya yang semakin berisi namun seksi.
Sebelum masuk ke kolam renang, Aurora melakukan pemanasan terlebih dahulu agar otot-otot tidak kaku dan kram saat berenang nanti.
BYURRR!
Aurora masuk ke dalam kolam renang dan menghampiri suaminya yang berada di tengah-tengah kolam.
Irsyan mendekatkan wajahnya ke wajah Aurora, "Mas mau apa?" tanya Aurora mendorong wajah sang suami.
"Mau cium," rengek Irsyan sambil memanyunkan bibirnya.
"Nggak! Yang ada pasti tangannya kesana-kemari!" ketus Aurora yang memang benar adanya jika sudah berciuman dengan Irsyan pasti tangan nakal dari suaminya itu akan kemana-mana.
"Ish! Dosa loh nolak keinginan suami!" ancam Irsyan. Aurora menghela napas, selalu saja mengancamnya seperti itu.
"Kalau Mas bisa kejar aku, baru aku kasi ciuman," ucap Aurora dan langsung berenang ke ujung meninggalkan Irsyan. Irsyan terkekeh kecil kemudian berenang untuk mengejar istrinya itu.
HAP!
Aurora pun tertangkap Irsyan. Lalu Irsyan menggelitik pinggang Aurora membuka sang empu tertawa terbahak-bahak menahan geli.
__ADS_1
"Sudah Mas, geli!"
"Ini hukuman karena tadi nggak ikuti kemauan Mas."
"Hahaha iya-iya maaf, please sudah Mas," mohon Aurora. Irsyan yang tak tega pun langsung berhenti menggelitik.
Aurora mengalungkan tangannya ke leher Irsyan. Irsyan yang paham pun mengangkat tubuh Aurora, dahi keduanya saling menempel. Irsyan memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Aurora, lama-kelamaan ciuman mereka menjadi intens.
Irsyan mengigit bibir mungil Aurora membuat sang empu sedikit meringis dan membuka mulutnya. Kesempatan bagi Irsyan untuk bermain dengan lidah sang istri. Lidah Irsyan bergerak dengan lincah mengabsen satu persatu item yang ada di dalam mulut Aurora.
"Eugghh," lenguh Aurora saat tangan suaminya mendarat di salah satu gunung kembarnya.
"Astaghfirullah, mata Mama ternodai!" teriak Jihan sambil menutup matanya saat melihat adegan panas antara sang putra dan menantunya. Dua insan yang sedang berciuman itu pun reflek melepaskan ciumannya mereka.
Aurora langsung memeluk dan membenamkan wajahnya di dada bidang Irsyan, ia kini sangat malu dilihat oleh Mama mertuanya, ingin sekali saat ini ia bersembunyi di lubang semut. Sedangkan Irsyan mendelik tak suka ke arah Mamanya karena kegiatannya terganggu.
"Ck, Mama mah ganggu aja!"
"Kalau mau bermesraan jangan disini, di kamar juga bisa kan!" sindir Jihan.
"Di kamar udah bosan Ma, maunya di tempat yang lain biar lebih menantang," balas Irsyan. Aurora langsung mencubit pinggang Irsyan saat mendengar ucapan vulgar dari suaminya itu.
"Aduhh sakit, yang!"
"Makanya omongan Mas di filter dulu!" sungut Aurora.
"Lebih baik kalian honeymoon kedua aja kalau gitu, biar nggak ada yang mengganggu waktu bermesraan kalian!" ucap Jihan.
"Boleh juga Ma, nanti aku atur jadwalnya."
Jihan mendengus, ia memilih untuk pergi dari sana.
...****************...
Kurang lebih 10 jam penerbangan dari kota M menuju ke Jeddah, Arab Saudi, akhirnya Mila, kedua orang tua dan rombongan lainnya telah tiba di Bandara King Abdulaziz. Mila bernapas lega, ia dan rombongannya sekitar 10 orang termasuk orang tuanya keluar dari bandara dan menuju ke hotel.
Mila merebahkan tubuhnya setelah sampai di kamar hotel, kamarnya bersebelahan dengan kamar orang tuanya. Mila menyalakan handphone yang sedari tadi mati, setelah menyala ia mengecek apakah ada pesan atau telpon dari keluarga atau sahabat-sahabatnya.
Ternyata benar pesan langsung berbondong-bondong masuk ke dalam ponselnya dan kebanyakan itu dari sahabat-sahabatnya yang menanyakan apa dia sudah sampai di Mekkah atau belum. Mila pun membalas pesan dari mereka dengan mengatakan bahwa ia telah sampai di Mekkah, setelah itu Mila memutuskan untuk pergi mandi.
Pukul 8 malam Meta, kedua orang tua dan lainnya pergi ke restoran yang berada di bawah hotel untuk makan malam. Ia mengenakan pakaian syar'i yang sangat cocok di tubuhnya.
Mila memesan beberapa makanan khas Arab, ia tersenyum saat makanan yang ia pesan telah tiba dan Mila mulai menyantapnya dengan khidmat. Makanan-makanan tersebut biayanya sudah di tanggung oleh pihak travel termasuk akomodasi dan transportasi selama ia dan orang tuanya disana.
"Enak banget makanan disini, bisa kali gue menetap disini," gumam Mila pelan namun bisa di dengar oleh sang Mama.
"Kamu mau tinggal disini?"
"Mau Ma, kalau Mila punya suami orang sini hihihi," jawab Mila cengengesan.
"Kamu ini," timpal Erwin geleng-geleng kepala dengan ucapan putrinya itu.
"Papa mau kan punya menantu Sultan Arab?"
"Papa lebih baik punya menantu ustadz atau polisi Indonesia aja, daripada Papa harus jauh-jauh dari kamu," ucap Erwin membuat mata Mila berkaca-kaca.
"Aaaa Papa bisa aja," balas Mila langsung memeluk tubuh Papanya dari samping. Rahma yang melihat itu hanya tersenyum.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1