
"Uhuukk!" Aurora langsung tersedak mendengar ucapan Irsyan. Dengan sigap tangan kiri Irsyan menepuk pelan punggung istrinya.
"Makanya kunyah yang bener biar nggak keselek kayak tadi," tegur Irsyan lebih tepatnya menyindir Aurora.
Aurora menatap kesal suaminya itu, ia bahkan melotot kan matanya disertai dengusan.
"Jangan melotot begitu, kamu nggak lagi audisi buat peranin Suzanna kan?" seloroh Irsyan, Aurora kembali mendengus kesal.
"Balik dari kota S, mau nonton film Suzanna nggak? Biar besok kita nonton filmnya di mini teather rumah Papa," ajak Irsyan lebih tepatnya sedang menggoda Aurora yang anti film horor. Entah kekesalannya yang sudah menumpuk, lantas tangan Aurora bergerak untuk mencubit gemas perut suaminya.
"Ngeselin banget sih! Udah tau aku nggak suka film horor!" sungut Aurora. Bukannya kesakitan Irsyan malah tertawa.
"Iya-iya maaf sayang."
"Makanya nggak usah cari gara-gara!" Aurora kembali duduk dan mencomot potongan apel lalu memakannya.
"Mas nggak disuapi lagi?" tanya Irsyan.
"Makan aja sendiri," ujar Aurora sewot.
"Cih bumil ngambek nih." Kini giliran Irsyan yang mencibir Aurora.
"Siapa yang ngambek?" tanya Aurora dengan nada sewotnya.
"Istrinya Mas dong, masa siapa?" Aurora memilih mengabaikan ucapan Irsyan.
Karena merasa diabaikan, Irsyan ingin menjahili istrinya lagi. Ia memegang perban luka jahitannya di lengannya dan berpura-pura meringis kesakitan, sontak saja Aurora dibuat kaget dan khawatir secara bersamaan.
Dengan cepat ia menaruh piring berisi buah itu di atas nakas, posisi Aurora berada di sebelah kiri Irsyan yang membuatnya harus mencondongkan tubuhnya untuk melihat lengan suaminya itu, ia khawatir darahnya kembali keluar karena jahitan di lukanya terlepas seperti semalam.
Irsyan masih berakting kesakitan namun sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman di kala melihat kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah istrinya.
"Masih sakit?" tanya Aurora tanpa menoleh. Ia masih fokus pada perban di lengan Irsyan.
Tak ada jawaban dari Irsyan, ia kini menyudahi aktingnya dengan cengengesan tidak jelas.
"Aku panggilkan Dokter ya Mas?" tanya Aurora yang kini menoleh, ia terkejut karena jaraknya dengan Irsyan begitu dekat.
Irsyan tersenyum lebar saat melihat wajah cantik istrinya, beberapa hari ia pergi ke kota S membuatnya begitu merindukan segala pahatan sempurna di wajah Aurora. Matanya berhenti dibibir sang istri, lalu tanpa permisi Irsyan meraup bibir mungil itu.
Aurora terkejut namun beberapa detik ia kemudian membalas ciuman suaminya. Bahkan Aurora sudah duduk di ranjang saat lidah Irsyan berusaha menerobos masuk.
__ADS_1
Sepasang suami-istri di mabuk akan kerinduan. Seminggu tidak melakukan sesuatu yang intim membuat jiwa mereka bergejolak.
Disela lumatannya, Irsyan tersenyum kecil, tangan kirinya memeluk pinggang istrinya. Sedangkan kedua tangan Aurora menahan tengkuk Irsyan dengan mata yang terpejam, Aurora terlihat menikmatinya.
Sementara itu Irsyan membiarkan Aurora mengambil alih. Merasa tidak ada balasan lagi, Aurora hendak menyudahi lumatannya detik kemudian Irsyan kembali menciumnya dengan lebih agresif membuat Aurora tidak sadar mendes*h apalagi saat tangan kiri Irsyan yang tadinya memeluk pinggangnya kini membelai tengkuk lalu turun ke lehernya, itu salah satu area sensitif Aurora yang paling diingat oleh Irsyan.
"Astaghfirullah!"
Aurora langsung melepas pagutan bibirnya lalu menoleh ke belakang. Ada Jihan, Fani dan Alvaro disana. Fani sedang menutup mata sang anak menggunakan tangannya. Aurora malu setengah mati, dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Irsyan.
Irsyan yang awalnya juga terkejut kini memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa. Tangannya kini bergerak mengelus surai hitam dan panjang milik Aurora.
"Benar-benar ya kalian, bisa-bisanya gituan nggak tau tempat. Kemarin di kolam renang sekarang di rumah sakit juga!" omel Jihan membuat Aurora semakin membenamkan wajahnya.
"Mami, kenapa mata Al ditutup? Al jadi nggak bisa liat apa-apa!" keluh Alvaro berusaha menarik tangan Fani yang menutupi matanya.
"Maafin Mami, soalnya tadi ada pertunjukan singa yang baru diberi daging oleh Tuannya," balas Fani tertawa kecil, ia mengatakan itu untuk menggoda Irsyan.
"Terus singanya mana, Mi?" tanya Alvaro polos.
"Aaahh itu--" Fani bingung sendiri ingin menjawab apa pertanyaan dari anaknya itu. Wanita beranak satu itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Ya benar sayang, bohong itu perbuatan dosa. Jadi Alvaro nggak boleh suka bohong ya."
"Baik Oma."
Kini Alvaro melangkah menuju ke ranjang rawat Irsyan.
"Tante Aurora kenapa, Om?" tanyanya pada Irsyan yang melihat Tantenya itu masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Omnya. Kini Irsyan dibuat bingung, lelaki itu mencoba mencari alasan untuk pertanyaan keponakannya.
"Tante kamu habis diterkam singa," celetuk Jihan, lebih tepatnya mengejek anak dan menantunya itu.
Aurora menarik wajahnya lalu menatap mata Irsyan seolah meminta pertolongan, bahkan wajah Aurora masih merah padam.
"Kenapa harus datang di saat yang tidak tepat? Padahal tadi adik kedua Alvaro udah mau jadi loh," ucap Irsyan asal. Mendengar ucapan dari suaminya, membuat Aurora memukul dada pria itu dengan kesal.
"Al mau punya adik kedua? Wah mana Om?" tanya polos Alvaro dan nada yang gembira.
"Makanya jangan asal bicara, tau Alvero memiliki sifat keingintahuan yang besar malah bilang kayak gitu," sungut Jihan.
Pasangan suami-istri itu mengabaikan ucapan Jihan, keduanya masih memutar otak untuk mencari jawaban dari pertanyaan Alvero.
__ADS_1
"Mas sih!" kesal Aurora, ia berbicara setengah berbisik.
"Lah kok Mas sih? Kamu loh yang terkam Mas tadi."
"Kok aku? Mas yang salah pokoknya!"
"Dasar wanita, nggak ada kata salah di dalam kamusnya," sindir Irsyan.
Tiba-tiba Harun dan Adit masuk ke dalam ruang rawat Irsyan. Untuk kedua orang tua Aurora dan Aril sudah balik ke kota M kemarin karena tak mungkin Alfian meninggalkan pekerjaannya dan Aril tak mungkin libur lama sebab ia tak ingin banyak ketinggalan pelajaran.
"Papa," panggil Irsyan.
"Kenapa, Syan?"
"Gimana tentang penyelidikan itu?" tanya Irsyan. Harun sudah menyuruh polisi untuk menyelidiki kasus kecelakaan sang putra. Ia berpikir jika kejadian itu bukan karena murni kecelakaan tapi memang ada seseorang yang ingin mencelakakan Irsyan.
"Belum ketahuan siapa pelakunya nak, polisi masih menyelidikinya. Kamu tenang aja pelakunya pasti akan segera ditangkap," jelas Harun.
"Iya semoga saja, Pa." Irsyan berharap semoga pelaku yang membuatnya celaka segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.
"Kamu sudah makan, nak?" tanya Jihan pada Aurora.
"Belum Ma," jawab Aurora sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau apa? Biar kak Fani dan kak Adit belikan kamu," tawar Fani.
"Hem aku mau makan nasi biryani kak," pinta Aurora sambil mengelus perutnya.
"Kamu lagi ngidam makan itu sayang?" tanya Irsyan lembut.
"Iya Mas."
"Ya sudah kakak pergi belikan kamu nasi biryani dulu ya?" ujar Fani.
"Iya kak, makasih sebelumnya," imbuh Aurora.
"Iya sama-sama." Fani dan Adit keluar dari ruang rawat Irsyan, sedangkan Alvaro diam di dalam bersama dengan Om, Tante, Oma dan Opanya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1