GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 173


__ADS_3

Caca terus mengejar Frans tanpa ampun, hingga pria itu pun berlari ke arah rumah rusun kosong yang sudah tidak berpenghuni lagi.


"Berhenti! Jangan lari lagi!" teriak Caca. Namun Frans terus berlari, menaiki tangga yang ada di rumah rusun tersebut.


"Jangan ikuti saya! Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya ingin pergi ke luar negeri untuk mengunjungi istri dan anak-anak saya."


"Jika anda tidak melakukan apa-apa, mengapa anda harus lari?" tanya Caca menaiki tangga mengejar Frans, entah sudah tangga lantai ke berapa mereka naiki.


"Saya berlari karena anda mengejar saya! Saya benar-benar tidak melakukan apapun. Saya hanya mengambil tambahan 50 juta untuk gaji saya," ujar Frans yang masih mengelak.


"Gaji tambahan? Seseorang pasti telah memberikannya kepadamu! Siapa yang memberikanmu uang tersebut, hah?" tanya Caca. Tak mungkin karyawan mendapatkan gaji tambahan atau bonus disaat perusahan sedang berada di ambang batas.


"Tidak ada yang memberikan saya uang," jawab Frans. Karena lelah atau memang tidak disengaja, kaki pria itu tersandung di salah satu anak tangga paling atas. Frans beringsut mundur ketika Caca semakin mendekatinya.


"Saya mohon, Nona Caira. Berikan saya pergi," ucap Frans dengan napas yang terengah-engah ditambah lagi raut wajah ketakutannya.


"Karena anda sudah mengetahui saya. Cepat berikan saya pernyataan aset luar negeri itu!" ujar Caca sambil menodongkan tangannya kepada Frans. Dengan sigap, Frans memeluk erat tas kerjanya.


"Pernyataan aset luar negeri apa?"


"Cepat berikan kepada saya! Dan saya janji akan melepaskan mu," ucap Caca kesal.


"Nona Caira, itu bukan saya yang melakukannya. Ini tidak ada hubungan dengan saya. Mereka hanya ingin aku pergi," jelas Frans. Caca menghela napas kasar, ia begitu jengah dengan pria bermulut besar ini. Caca tau jika Frans tengah berbohong.


"Saya mohon padamu, Nona. Biarkan aku pergi. Saya mohon ampuni aku ...," ucap Frans dengan nada memelas sesekali menatap tas kerjanya. Caca yang sudah lelah dan tak tahan dengan tingkah pria di depannya ini langsung maju mendekatinya.


"Baik, baik! Aku akan memberikannya kepadamu," ujar Frans bergetar ketakutan. Caca menyodorkan satu tangannya. Dengan ragu Frans memberikan tas kerjanya pada Caca. Belum sampai di tangan Caca, Frans malah membuang jauh tas tersebut dari atas.


"Yak! Kenapa kau malah membuangnya!" sentak Caca menatap garang Frans. Ia berbalik dan ingin turun mencari tas tersebut.


Caca mengurungkan niatnya untuk turun saat melihat seorang pria sedang menuju ke arahnya. Dia tak lain dan tak bukan adalah Aril. Setelah berhasil menyingkirkan sopir taksi itu, Aril segera berlari kencang mencari keberadaan Caca dan Frans. Aril sangat takut jika Frans nanti melakukan sesuatu hal kepada Caca.


Sambil menaiki anak tangga, Aril membuka dasinya. Caca bernapas lega melihat kedatangannya Aril. Aril menatap tajam ke arah Frans. Tanpa aba-aba, Aril mengaitkan dasinya ke leher Frans yang sedang menatap ke bawah mencari keberadaan tas kerjanya.


Tentu hal itu membuat Frans terkejut dan berteriak. Aril tidak mempedulikannya, pria itu bahkan menarik dan menurunkan Frans dari pagar besi, hingga membuat tubuh Frans terjengkang ke bawah tapi Aril masih menahannya dengan dasi miliknya.

__ADS_1


"Aaaa tolong lepaskan saya!" teriak Frans sambil mencoba menggapai tangan Aril.


"Katakan! Dimana daftar pernyataan aset luar negeri itu?!" tanya Aril dengan wajah datarnya. Orang yang melihat kejadian ini pasti akan mengira Aril seperti seorang psikopat gila. Caca pun sampai takut melihatnya.


"Daftar pernyataan aset luar negeri itu berada di dalam tas saya dan saya sudah memberikannya kepada, nona Caira," jelas Frans bertambah ketakutan. Apalagi tempatnya kini mungkin berada di lantai 5.


Caca mendelik ke arah Frans setelah mendengar penuturan pria licik itu.


Aril melepaskan sedikit pegangannya pada dasi tersebut dan semakin membuat tubuh Frans akan terjatuh ke bawah. Napas Caca tercekat melihatnya, Aril memang benar-benar menakutkan jika sudah marah.


"Aarrgghh tolong selamatkan saya!" teriak Frans.


"Saya akan bertanya lagi. Dimana daftar pernyataan aset luar negeri itu?" desak Aril. Napas Frans semakin tersendat karena tarikan dasi Aril bertambah kuat di lehernya.


"Itu... itu... Berada di dalam saku pakaian dalam ku. Ada sebuah flashdisk berwarna silver. Semua daftar aset YH GROUP di luar negeri ada di dalamnya. Kau bisa memiliki," ucap Frans.


"Tolong selamatkan saya. Saya sudah tidak tahan," ucap Frans dengan napas yang semakin terputus-putus sambil batuk-batuk. Caca yang kasihan pun ingin menyelamati Frans. Belum sempat Caca menyelamati, Aril langsung menarik Frans ke atas. Frans langsung terjatuh ke lantai dengan napas memburu.


Aril menyodorkan tangannya. Dengan tubuh yang masih bergetar, Frans merogoh saku pakaian dalamnya, mengambil flashdisk dan segera memberikannya kepada Aril. Pada saat itu juga, Frans langsung pingsan karena tenaganya terkuras habis.


Aril memberikan flashdisk tersebut kepada Caca, "Ambil ini!"


"Nona tenang saja. Elang akan kesini dan membawa pak Frans ke rumah sakit," jelas Aril membuat Caca sedikit bernapas lega. Setidaknya Frans di selamatkan.


...****************...


Makan malam yang biasanya ramai dengan perdebatan antara Hansel dan Alina, kini terasa sangat sepi. Hansel sedari pulang sekolah, menjadi pendiam. Entah apa yang bocah laki-laki itu pikirkan.


"Abang," panggil Irsyan melihat yang gerak-gerik tak biasa dari putranya, ia yakin ada sesuatu hal yang disembunyikan Hansel.


"Ya Pa?"


"Abang kenapa? Kok diam aja dari tadi?" tanya Irsyan.


"Nggak kenapa-napa kok, Pa. Pa, boleh Abang bicara berdua dengan Papa?" pinta Hansel. Irsyan menaikan satu alisnya, lalu menatap Aurora dan sang istri hanya menggeleng dan mengangkat bahunya.

__ADS_1


Irsyan kembali menatap putranya, "Baiklah, nak. Nanti habis makan, Abang ke ruang kerja Papa ya?"


Hansel hanya mengangguk.


Benar saja setelah selesai makan malam, Hansel melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja sang papa yang berada di lantai satu dekat dengan ruang perpustakaan. Hansel mengetuk pintu ruang kerja Irsyan terlebih dahulu.


"Masuk aja, nak!"


Hansel membuka pintu ruang kerja sang Papa. Ia melihat Irsyan sedang berkutat dengan beberapa berkas di depannya.


"Pa," panggil Hansel.


"Abang duduk dulu di sofa," suruh Irsyan.


Hansel mengangguk, ia duduk di sofa dan diikuti Irsyan. Irsyan menatap putranya itu.


"Abang mau bicarakan apa dengan Papa, hem?" tanya Irsyan lembut namun tetap tegas.


"Apa Papa sayang dengan Mama?" tanya balik Hansel. Raut wajah bocah laki-laki itu begitu datar di depan papanya sendiri.


Irsyan mengerutkan keningnya, "Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja Papa sangat sayang dengan Mama mu," jawabnya sambil mengelus rambut putranya. Hansel bernapas lega setelah mendengar ucapan papanya.


"Tadi di sekolah, ada tante-tante aneh yang menghampiri Abang. Terus dia bilang kalau dia akan jadi ibu sambung Abang," jelas Hansel. Irsyan tercengang mendengar penuturan putranya.


"Siapa nama orang yang mengatakan hal itu ke Abang?" tanya Irsyan.


"Kalau tidak salah namanya, Ghea."


Irsyan mengepalkan tangannya, berani-beraninya wanita itu mengatakan hal yang tidak mungkin akan terjadi pada putranya. Irsyan harus melakukan sesuatu agar Ghea tidak berani mendekati dirinya dan keluarganya lagi.


"Abang tenang saja. Sampai kapan pun yang menjadi istri Papa dan ibumu hanya Mama Aurora, bukan orang lain," ucap Irsyan menenangkan putranya.


"Papa tidak bohong kan? Abang akan pegang janji, Papa."


"Iya, kamu pegang janji, Papa. Papa tidak pernah berpikiran untuk mengkhianati bahkan meninggalkan Mamamu karena Papa begitu mencintai Mamamu. Dulu Papa sampai bersusah payah untuk mendapatkan hati Mamamu. Jadi, tidak mungkin Papa akan melakukan hal yang menyakiti hati Mamamu," jelas Irsyan. Hansel yang tadinya berwajah datar, langsung tersenyum mendengar ucapan papanya tadi. Jadi tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2