
Kiran yang sedang tertidur pulas itu tiba-tiba terusik setelah mendengar dering ponselnya yang menganggu sedari tadi. Tangannya terulur meraba-raba keberadaan ponselnya. Matanya menyipit melihat siapa orang yang menelponnya malam-malam begini.
"Mama? Ada apa ya Mama nelpon?" lirih Kiran, apa mertuanya itu tau tentang masalahnya dengan Andre? Jantung Kiran mulai berdetak kencang, hatinya bimbang apa ia akan mengangkat telpon dari Santi atau tidak.
Tapi disisi lain Kiran sangat penasaran kenapa mama mertuanya itu menelpon, dengan tangan yang bergetar ia menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum Ma," ucap Kiran.
"Waalaikumsalam. Kamu dimana, nak?" tanya Santi dengan suara seperti habis menangis, Kiran mengernyitkan dahinya, kenapa dengan ibu mertuanya itu?
"Kiran di rumah Mila, Ma. Kiran menginap nemenin Mila yang sendirian dirumah karena orang tuanya pergi keluar kota. Mama kenapa? Suaranya seperti sedang menangis." elak Kiran berbohong kepada Santi. Dalam hati ia meminta maaf pada sahabatnya itu karena telah membawa-bawa namanya.
"Suami kamu nak, hiks..." Santi kembali menangis.
"Andre kenapa, Ma?"
Oke, Kiran mulai khawatir dan takut.
"Andre masuk ke rumah sakit nak," jelas Santi.
DEG!
Lagi-lagi jantung Kiran berpacu dengan sangat amat cepat setelah mendengar ucapan dari mama mertuanya, mungkin bila ia mempunya riwayat penyakit jantung maka saat itu juga ia akan di tanyakan meninggal.
Andre masuk rumah sakit? Mengapa bisa, setahu Kiran suaminya itu tadi baik-baik saja. Ia sampai tak bisa berkata-kata seakan tenggorokannya terasa tercekat. Walau Kiran kecewa dan marah terhadap Andre, tapi rasa pedulinya itu masih ada.
"A-andre masuk rumah sakit, Ma? Kenapa bisa?" kata Kiran terbata-bata.
"Sekarang kamu ke rumah sakit Atma Jaya, nanti Mama ceritakan. Mami dan Papi mu juga ada disini, nak."
"Baik Ma, Kiran segera kesana."
"Iya nak, kamu hati-hati dijalan soalnya ini sudah malam," pesan Santi.
"Iya pasti Ma, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Kiran mematikan sambungan telepon tersebut, tangan kanannya mengelus perutnya yang masih datar.
"Semoga Ayah kamu tidak kenapa-napa ya nak," lirih Kiran, setetes air mata jatuh di pipinya.
Kiran beranjak dari kasur, ia mengambil cardigan, tas selempang serta kunci mobilnya. Lalu berjalan cepat keluar dari apartemennya dan menuju ke basemen parkiran. Kiran mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi karena hatinya sudah tidak tenang.
Sesampainya di rumah sakit dan memarkirkan mobilnya, Kiran berjalan cepat bisa dikatakan seperti berlari menuju ke ruang IGD, disana ia melihat kedua orang tua, mertua dan kedua adik iparnya tengah menunggu.
"Kiran."
Kiran berlari dan memeluk sang mami, "Kamu yang sabar ya nak, Andre pasti cepat sadar," ujar Raina. Kiran hanya mengangguk pelan lalu menguraikan pelukannya.
"Ma." Kiran beralih memeluk ibu mertuanya.
"Kenapa Andre bisa masuk rumah sakit, Ma?" tanya Kiran. Santi melepaskan pelukan Kiran dan menyuruh Kiran untuk duduk.
Santi mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, kemudian ia menceritakan kejadian Andre yang menyiksa dirinya sendiri, tapi yang Santi ceritakan itu hanya apa yang ia liat saja. Sungguh Kiran syok mendengar cerita dari Mama mertuanya. Kenapa suaminya itu sangat nekat melakukan itu?
"Terus sekarang kondisi Andre bagaimana, Ma?" tanya Kiran.
"Andre masih di periksa sama Dokter, nak."
"Iya nak, apa yang sebenarnya terjadi? Apalagi kamu nggak ada dirumah dan bilang di rumah Mila, yang Mama tau kamu itu tidak pernah mau menginap di rumah temanmu," timpal Raina.
Baiklah mau tak mau karena didesak seperti itu Kiran pun menceritakan semuanya pada kedua orang tua dan ibu mertuanya, toh lambat laun akan terbongkar juga.
Mereka yang mendengar cerita Kiran langsung mengeluarkan ekspresi terkejut, marah, kecewa, saat Kiran menceritakan tentang dirinya akan menggugat cerai Andre dan mereka sangat juga merasa bahagia saat mengetahui Kiran tengah mengandung cucu mereka. Mereka tak menyalahkan Kiran maupun Andre karena ini adalah sebuah kesalahan pahaman.
Kiran menceritakan semua itu dengan derai air mata, Raina mengelus punggung sang anak untuk menenangkannya.
"Kurang ajar! Si Kevin perlu Papi kasi pelajaran!" geram Wilantara mengepalkan tangannya.
Santi memegang kedua tangan Kiran, Kiran yang tadinya menunduk langsung melihat ke arah mama mertuanya itu.
"Kiran, Mama mohon jangan menceraikan Andre, Mama tidak tau apa yang akan terjadi padanya jika kalian bercerai. Disaat kamu mengatakan ingin bercerai saja, dia melakukan seperti ini, bagaimana jika kalian benar-benar bercerai nanti. Mama sangat takut dia tambah berbuat nekat lagi, nak." Santi memohon agar Kiran mengurungkan niatnya untuk menceraikan Andre dan wanita paruh baya itu juga sangat menyayangi Kiran yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Ingat ada calon anak kalian, dia butuh orang tua yang lengkap," sambungnya.
__ADS_1
Kiran bingung harus akan menjawab apa, ia sangat bimbang saat ini. Ketika ia akan mengeluarkan suaranya tiba-tiba pintu IGD terbuka dan seorang Dokter keluar membuat semua yang menunggu langsung berdiri.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja kan?" tanya Santi.
Dokter itu menghela napas berat, "Keadaan pasien tadi sempat kritis karena kekurangan banyak darah--"
"Apa Dok, suami saya kritis?" ucap Kiran memotong ucapan Dokter itu.
"Iya Nona dan alhamdulillahnya sekarang suami anda melewati masa kritisnya," jelas Dokter itu. Mereka yang tadinya terkejut dan melemas saat mendengar Andre yang kritis, langsung lega seketika Dokter itu melanjutkan ucapannya.
"Apa kami bisa menjenguk nya Dokter?" tanya Raffa.
"Nanti ya setelah pasien kami pindahan ke ruang rawat biasa," jawab Dokter itu. Semuanya mengangguk dan Dokter itu pun kembali ke dalam ruang IGD.
Kiran kembali duduk dan menundukkan kepalanya, ia pun menangis lagi dan Rania segera memeluk putrinya itu, "Kiran jahat ya Mi? Gara-gara Kiran, Andre jadi begitu. Tapi sebenarnya Kiran juga sakit, Mi... Kiran harus gimana?" Kiran menahan dadanya dengan tangisan yang ia keluarkan, mata penuh dengan masalah itu menatap Rania penuh dengan amat pedih.
"Semuanya pasti nyalahin Kiran, kan? Kiran egois ya? Mama Santi, pasti benci kan sama Kiran, apalagi Raffa dan Siska. Kiran minta maaf karena Kiran, Andre sampai terluka," lanjutnya menatap orang-orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan bersalah. Wanita itu memang memiliki perasaan bersalah yang teramat besar, padahal dia disini yang paling tersakiti.
Santi memeluk Kiran, ia tak pernah menyalahkan Kiran, karena menurutnya Andre lah yang bersalah.
Kiran menangis kuat membalas pelukan Santi, "Maafin Kiran, Ma. Karena Kiran, Andre sampai begitu, Kiran minta maaf," lirihnya penuh ketakutan.
"Nggak nak, kamu nggak salah. Ini balasan untuk Andre karena udah bikin kamu harus ninggalin dia. Kamu nggak salah," balas Santi ikut menangis.
"Iya kak, kami tidak pernah membenci dan menyalahkan kak Kiran kok," timpal Siska, adik kedua dari Andre. Raffa hanya menganggukkan kepala menyetujui ucapan sang adik.
Kiran yang lelah menangis pun mulai mengantuk dan lelah, mungkin ini juga efek dari hormon kehamilannya.
"Mama, Mami, Papi. Nanti kalau Andre sudah mau dipindahkan ke ruang rawat, bangunin Kiran ya? Kiran capek banget mau tidur, tapi di pelukan Papi," pinta Kiran. Rania pun bergeser dan membiarkan suaminya di tempatnya yang tadi.
"Ayo sini Papi peluk." Wilantara segera membawa putri kesayangannya itu ke dalam dekapannya, Kiran langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang papi.
"Anaknya Papi udah mau jadi seorang Ibu dan bentar lagi Papi sama Mami segera menggendong cucu. Papi udah nggak sabar," ucap Wilantara yang begitu bahagia saat mengetahui sang putri sedang mengandung cucunya, Kiran hanya tersenyum tipis mendengarnya.
'Lo harus kuat, Ki. Ingat, Allah nggak akan kasih ujian pada hambanya melebihi batas kemampuannya,' batin Kiran, kemudian ia memejamkan matanya dan tertidur di pelukan Wilantara.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.