GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 83


__ADS_3

Sore harinya, Aurora sedang berada di mini garden yang ada di lantai tiga rumah mertuanya. Ia tengah memberikan umpan pada ikan-ikan Koi peliharaan ayah mertuanya yang harganya mencapai jutaan bahkan ada yang sampai puluhan juta rupiah yang memang beliau import dari Jepang.


Saat tengah memberi umpan pada ikan-ikan tersebut Aurora merasakan kepalanya seperti berputar-putar.


"Ya Allah pusing sekali," lirih Aurora sambil memegang pelipisnya. Irsyan yang baru saja keluar dari ruang gym tersebut langsung berlari menghampiri istrinya, ketika ia melihat tubuh Aurora limbung.


"Sayang." Irsyan langsung menahan tubuh Aurora agar tidak terjatuh.


"Mas kepala aku pusing," lirih Aurora mengadu pada Irsyan.


"Ayo kita ke kamar." Irsyan membopong tubuh Aurora ala bridal menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, Irsyan segera membaringkan Aurora di atas ranjang.


"Kamu tidur saja sayang, Mas telpon Dokter dulu untuk memeriksa kamu," ucap Irsyan. yang tengah mencari nomor Dokter Sulton, yakni Dokter pribadi keluarganya.


"Iya Mas," balas Aurora mengangguk lemas dan mulai memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian Dokter Sulton datang, dia pergi ke kamar Irsyan bersama dengan Jihan yang penasaran dengan apa yang terjadi pada menantu kesayangannya.


"Gimana keadaan istri saya Dok?" tanya Irsyan saat istrinya telah selesai diperiksa oleh Dokter Sulton.


"Istri anda tidak kenapa-napa Tuan, ini hal biasa dirasakan oleh wanita yang tengah mengandung," jelas Dokter Sulton tersenyum.


"Apa! Hamil Dok?" ucap Irsyan dan Jihan terkejut bercampur bahagia saat mendengar Aurora tengah hamil.


"Iya Nyonya, Tuan. Untuk lebih jelasnya Tuan bisa mengajak Nyonya muda untuk periksa ke Dokter spesialis kandungan," ucap Dokter Sulton yang menyarankan untuk Irsyan membawa Aurora ke Dokter kandungan atau obgyn.


"Alhamdulillah Ya Allah. Baik, terima kasih, Dok."


"Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi, karena ada pasien yang harus saya periksa kondisinya di rumah sakit," pamit Dokter Sulton.


"Silahkan Dok."


"Mama mau antar Dokter Sulton ke depan dulu," ucap Jihan dan Irsyan hanya mengangguk. Setelah kepergian Jihan serta Dokter Sulton dari kamarnya, Irsyan pun menghampiri dan duduk di pinggir ranjang.


"Terima kasih Ya Allah, engkau telah mengabulkan doa hamba dan mempercayai kami untuk memiliki keturunan," ucap Irsyan sambil menatap Aurora yang masih memejamkan matanya itu.


"Mas akan selalu menjaga kamu dan calon anak kita sayang," lanjut Irsyan sambil mengecup punggung tangan Aurora.


"Eeuugghh." Aurora mulai terusik dan membuka matanya.


"Mas," panggil Aurora dengan suara lirihnya.


"Kenapa sayangku?" tanya Irsyan dengan suara lembutnya sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Aurora.


"Aku udah di periksa sama Dokter?" tanya balik Aurora.


"Sudah sayang, Dokter baru aja keluar dari kamar kita," jelas Irsyan yang terus tersenyum.


"Kamu kenapa sih Mas? Dari tadi senyum-senyum terus," ucap Aurora yang aneh melihat suaminya yang terus-menerus tersenyum.


"Mas lagi bahagia sayang," balas Irsyan.


"Mas bahagia kenapa?" Aurora merubah posisinya menjadi duduk, dengan sigap Irsyan membantunya.


"Mas bahagia karena sebentar lagi Mas akan menjadi seorang ayah," ucap Irsyan sambil mengelus perut Aurora yang masih datar. Aurora mencoba mencerna ucapan suaminya.


"Maksud Mas, aku hamil?" tanya Aurora dengan nada yang bergetar.


"Iya sayang, terima kasih sudah memberikan Mas keturunan," ucap Irsyan sambil mencium kening Aurora. Aurora pun meneteskan air mata saking bahagia mendengar jika dirinya tengah berbadan dua.


'Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Engkau telah memberikan dan mempercayai kami untuk memiliki keturunan. Semoga hamba dan mas Irsyan bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kami nantinya, aamiin,' doa Aurora dalam hati. Ternyata gejala pusing, mual serta muntah yang dia rasakan beberapa minggu belakangan ini karena dirinya tengah mengandung, entah kenapa Aurora tidak kepikiran ke arah sana.


"Besok kita cek kandungan kamu ke Dokter kandungan ya sayang?"


Aurora mengangguk, "Iya Mas."


...****************...

__ADS_1


"Eugghh." Aurora menggeliat saat terusik dengan kilauan cahaya yang memasuki celah-celah jendela kamar.


Perlahan Aurora membuka matanya dan menatap suaminya yang masih tertidur pulas.


"Masih tidur," gumam Aurora lirih.


Bibir wanita itu tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya dari dekat seperti ini.


'Tampan banget sih suami aku,' batin Aurora seraya membelai lembut wajah suaminya.


"Mas bangun yuk, udah pagi nih," ucap Aurora membangunkan Irsyan. Tapi suaminya itu tidak terusik sama sekali.


"Mas sayang ayo dong bangun." Aurora kembali membangunkan Irsyan dengan cara  sehingga membuat laki-laki itu pun membuka matanya. Aurora tersenyum tatkala ia menatap muka bantal dari suaminya.


"Mas ngantuk sayang," lirih Irsyan yang masih mengantuk.


"Udah pagi. Aku mau mau mandi," ucap Aurora lembut.


Irsyan malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Nanti aja mandinya sayang, kita tidur lagi ya?"


"Ih Mas! Katanya kita mau ke rumah sakit, mau antar aku cek kandungan!" kesal Aurora seraya mengerucutkan bibirnya. Irsyan langsung mengecup bibir Aurora karena tak tahan melihat bibir istrinya seperti itu.


"Ih kok dicium sih?" tanya Aurora kesal sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Ya karena Mas nggak tahan melihat bibir kamu yang menggemaskan itu," jawab Irsyan greget.


"Tapi aku belum sikat gigi Mas."


"Ya gapapa, kalau candu tetap akan tetap jadi candu walaupun kamu nggak sikat gigi sekalipun."


"Ih jijik tau!" Aurora mencoba untuk bangun, Namun Irsyan malah menariknya dan kembali tertidur di samping Irsyan.


"Tidur dulu sayang." Irsyan menenggelamkan kepalanya di dada Aurora. Aurora menghela napas dan membiarkan Irsyan seperti itu untuk beberapa saat.


"Udah Mas, nanti lama kita ngantrinya disana." Aurora mencoba mendorong pelan kepala Irsyan dari dadanya.


"Mas!" tegur Aurora. Irsyan mendongak menatap istrinya.


"Kenapa?"


"Lepasin! Aku mau mandi," ujar Aurora.


"Cium dulu baru Mas lepasin kamu?" Pinta Irsyan dengan senyum tengilnya. Ingin sekali rasanya Aurora menukar tambah suaminya dengan oppa-oppa Korea, tapi sayang Aurora sudah mencintai pria lokal berotak mesum di pelukannya ini.


Mau tak mau Aurora menuruti permintaan Irsyan, ia memajukan wajahnya untuk mencium Irsyan. Dengan sigap, Irsyan menarik tengkuk Aurora dan mencium bibir Aurora dengan rakus. Setelah merasakan oksigen ditubuhnya berkurang, Aurora segera mendorong dan melepaskan ciuman suaminya.


"Hah... Hah... Udah Mas, aku nggak kuat," ucap Aurora terengah-engah. Terkadang dia tidak bisa menyeimbangi ciuman maut suaminya itu.


"Makanya atur napas kamu, biar bisa menyeimbangi ciuman dari Mas," ucap Irsyan menyentil pelan kening Aurora. Aurora hanya mendengus kesal.


"Udah lah, aku mau mandi dulu." Aurora turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Tepat pukul 10 pagi Aurora dan Irsyan akan pergi ke rumah sakit tepatnya di Dokter obgyn untuk memeriksa kandungan Aurora.


Mereka segera masuk ke dalam ruangan periksa setelah mendaftar dan giliran nama Aurora yang dipanggil.


Aurora langsung ditimbang berat badan serta di cek tekanan darahnya dan sekian dari rentetan pemeriksaan selesai dilakukan, saat ini Irsyan dan Aurora tengah duduk berhadapan dengan Dokter.


"Ibu dan bayinya sehat, ya. Usia kehamilan Nyonya Aurora sudah memasuki usia 5 minggu, apa ini kehamilan pertama?" Tanya Dokter.


"Iya Dok," jawab Irsyan dan Aurora dengan serempak. Dokter itu pun mengangguk.


"Tolong dijaga ya asupan gizi ibunya, karena itu akan berpengaruh pada sang bayi. Di kehamilan trimester pertama ini jangan terlalu lelah dan tidak boleh banyak pikiran. Jadi, tolong di jaga baik-baik ya Nyonya?" Nasihat Dokter dan Aurora mengangguk menyetujui ucapan Dokter tadi.


"Ini saya resep kan beberapa vitamin untuk ibu hamil, silahkan ditebus di bagian farmasi dan jangan lupa untuk rutin di minum. Bantu juga dengan susu ibu hamil, itu lebih bagus. Dan jangan lupa untuk rutin cek kandungan setidaknya satu bulan sekali," sambung Dokter itu lagi.

__ADS_1


Aurora dan Irsyan mendengar dengan seksama ucapan Dokter itu.


"Em Dokter, apa boleh saya bertanya?"


"Silahkan Tuan."


"Apa kami boleh berhubungan suami-istri?" tanya Irsyan ragu walaupun sebenarnya ia juga sedikit mengetahui tentang hal itu karena waktu kuliah dulu Irsyan pernah di jelaskan oleh dosennya, dia sengaja bertanya agar tidak salah nantinya.


Aurora mendelik tajam ke arah Irsyan, sedangkan Dokter itu tersenyum karena pertanyaan tersebut memang sudah umum ditanyakan oleh suami-suami pasien yang diperiksanya.


"Untuk berhubungan intim dianjurkan setelah kehamilan menginjak 16 minggu atau 4 bulan agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, apalagi usia kandungan istri anda baru berusia 1 bulan akan sangat rentan mengalami keguguran," jelas Dokter itu.


Irsyan langsung mengendurkan bahunya lesu jadi selama 3 bulan ia akan berpuasa menahan hasrat seksualnya? Oh big no.


"Seminggu sekali bisa kali Dok," tawar Irsyan.


Aurora yang mendengar itu seketika mencubit paha Irsyan.


"Awww sakit sayang." Irsyan meringis dan mencoba melepaskan cubit maut Aurora dari pahanya.


"Orang Dokter bilang nggak boleh, ya nggak boleh. Ini malah nawar lagi!" Kesal Aurora.


"Aku hanya bertanya sayang, siapa tau kan di bolehin," ujar Irsyan menatap Dokter meminta jawaban yang pasti.


Dokter itu tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan suami-istri di hadapannya ini.


"Kalau seminggu sekali terlalu beresiko Tuan, nah kalau 2 minggu sekali bisa asal jangan mainnya jangan yang kasar-kasar ya," usul Dokter membuat senyum Irsyan seketika mengembang, setidaknya ia mempunyai jatah walaupun hanya 2 kali dalam sebulan.


Setelah selesai mereka menuju ke bagian farmasi untuk menebus beberapa vitamin yang sudah diresepkan oleh Dokter tadi.


"Ingat pesan Dokter tadi, kamu nggak boleh kecapekan sayang," ujar Irsyan.


"Iya aku mengerti, Mas."


"Dengan Nyonya Aurora Candra," panggil petugas farmasi. Aurora pun segera menghampirinya. Petugas itu menjelaskan berapa dosis yang dianjurkan untuk Aurora meminum vitamin-vitamin tersebut.


"Iya mbak, terima kasih."


"Sama-sama Nyonya," balas petugas farmasi itu. Setelah selesai, Aurora dan Irsyan pun menuju ke parkiran.


Tiba-tiba saja Aurora mengelus perutnya saat sudah masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Kenapa sama perut kamu sayang? Sakit?" Tanya Irsyan cemas. Aurora menggeleng.


"Terus kenapa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Irsyan lagi, karena ia yakin istrinya itu pasti sedang mengidamkan sesuatu. Aurora langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Memang kamu mau apa?"


"Aku mau makan asinan Bogor," jawab Aurora sambil mengelus perutnya. Ia tengah membayangkan bagaimana rasa asinan Bogor yang segar, asin dan pedas membuat air liurnya seperti akan keluar dibuatnya.


"Ya sudah aku suruh pak Maman buat belikan kamu di restoran," ujar Irsyan mengambil ponselnya untuk menelpon supir pribadi papanya.


"Aku nggak mau di restoran," lirih Aurora.


"Terus kamu mau yang dimana sayang?"


"Aku maunya di pinggir jalan dekat komplek perumahan mini Golden itu dan aku mau Mas yang pergi beli," pinta Aurora.


"Tapi itu nggak higenis sayang, apalagi di pinggir jalan terus kena debu dan polusi." Irsyan selalu mewanti-wanti istrinya itu agar tidak membeli makanan atau jajanan yang ada dipinggir jalan.


"Tapi aku mau itu," lirih Aurora dengan raut wajah memelas. Irsyan menghela napas panjang, ia paling tidak bisa jika sudah melihat wajah Aurora seperti kucing yang minta di karungin.


"Ya sudah sekarang kita beli disana," ucap Irsyan pasrah dan mulai menyalakan mesin mobil.


"Yey makasih Mas, jadi tambah sayang deh." Aurora langsung mengembangkan senyuman bahagianya ketika Irsyan mengikuti keinginannya. Ia pun langsung memeluk erat Irsyan dari samping.


"Sama-sama sayangku," balas Irsyan sambil mengecup puncak kepala Aurora. Irsyan pun segera melajukan mobilnya menuju ke tempat asinan Bogor yang diinginkan Aurora tersebut.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2