GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 35


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hai," sapa laki-laki itu dengan senyuman manisnya.


"Mas Irsyan ngapain disini?" tanya Aurora bingung pada laki-laki yang ternyata adalah Irsyan.


"Aku mau liat kamu tanding."


Aurora mencoba melepaskan tangan Irsyan dari pinggangnya, namun Irsyan malah semakin mengeratkan rangkulannya. Aurora hanya bisa menghela napas dan membiarkan Irsyan merangkul pinggangnya.


"Baru mau ngajak jalan udah punya pawang aja," ucap Gilang lesu. Reyhan langsung menepuk-nepuk punggung Gilang.


"Sabar bro."


"Tapi dia itu bukan pac--" Lagi-lagi ucapan Aurora terpotong oleh Irsyan.


"Ayo sayang lebih baik kita pulang sekarang udah malam, nggak baik cewek pulang malam-malam begini."


Irsyan segera membawa Aurora pergi dari sana, semua menatap kepergian mereka berdua, tak terkecuali Juno menatap dengan tatapan yang penuh arti kepada Aurora.


Setelah lumayan jauh dari orang-orang tadi, dengan cepat Aurora melepaskan tangan Irsyan dari pinggangnya.


"Ngapain sih bilang kalau aku itu pacarnya, Mas?" kesal Aurora menatap tajam ke arah Irsyan.


"Ya Mas cuma pengen aja," ucap Irsyan santai.


"Cih alasan macam apaan itu," gumam Aurora sambil mengerucutkan bibirnya. Irsyan yang mendengar gumaman Aurora hanya terkekeh geli.


"Kalau gitu aku pulang dulu, Mas."


"Eh biar aku yang antar pulang," sambar Irsyan dengan cepat.


"Tapi gimana motor sama mobil--" Irsyan memang sangat suka menyela pembicaraan Aurora.


"Udah nggak usah dipikirin, nanti biar motor sama mobil hadiahnya biar orang suruhan Mas yang bawa ke rumah kamu," ucapnya.


"Eh jangan dibawa ke rumah, yang ada nanti tetangga-tetangga aku pada heboh liat ada motor dan mobil mewah dirumah. Terus pasti ibu sama ayah nanyain dari mana aku dapatkan semua ini," ucap Aurora.


"Ya bilang aja hasil balapan."


Aurora memutar matanya, "Bisa-bisa langsung di coret dari kartu keluarga aku sama ibu dan ayah kalau bilang seperti itu," ucapnya. Irsyan terkekeh mendengarnya.


"Em bagaimana kalau hadiah-hadiah kamu itu kamu titipkan saja di basemen parkiran apartemen milik Mas?" tawar Irsyan.


"Memangnya boleh, Mas?" tanya Aurora dengan mata berbinar-binar.


Irsyan mengangguk, "Tentu saja boleh. Ya sudah nanti Mas suruh mereka taruh hadiah-hadiah kamu itu disana, sekalian motor yang kamu pakai tadi," ucapnya.


"Oke," ucap Aurora senang.


"Ayo sekarang aku antar pulang."


"Iya Mas." Mereka berdua masuk ke dalam mobil Irsyan.


"Mas."

__ADS_1


"Kenapa Aurora?" Irsyan melirik sekilas ke arah Aurora dan kembali fokus ke jalanan.


"Kok bisa tau kalau aku ikut balapan?" tanya Aurora penasaran.


"Oh itu karena tadi waktu di rumah sakit, Mas nggak sengaja denger obrolan kamu sama sahabat-sahabat kamu," jelas Irsyan.


Tadi pagi ketika Aurora masih di ruang rawat Andre, Irsyan yang memang akan mengganti cairan infus untuk Andre tiba-tiba diurungkannya, saat ia mendengar obrolan Aurora dan kedua sahabatnya.


Betapa terkejutnya Irsyan ketika mendengar jika Aurora akan mengikuti balapan. Dia pun berniat untuk menonton dan memantau gadis itu, takut nanti terjadi sesuatu pada Aurora.


"Oh gitu," ucap Aurora manggut-manggut.


"Sejak kapan kamu ikut-ikut balapan motor seperti itu?" tanya Irsyan.


"Dari SMA, tapi udah 3 tahunan nggak balapan, nah baru sekarang lagi aku ikut balapannya," jelas Aurora.


"Ternyata udah lama juga kamu nggak balapan, tapi skill balapan kamu masih bagus ya," ucap Irsyan.


"Nggak juga sih, Mas."


"Kamu multitalenta ya, pintar bela diri dan balapan. Bakat apa lagi yang kamu punya selain itu yang belum aku tau?"


"Multitalenta darimana nya sih Mas, nggak kok," ucap Aurora tak suka di puji.


"Kalau udah nikah nanti jangan ikut-ikutan balapan kayak tadi lagi," ucap Irsyan.


Aurora mengerutkan kening sedikit bingung dengan ucapan Irsyan, "Iya pasti lah, aku juga tadi balapannya karena mau bantu sahabat aku aja kok."


"Oh gitu bagus lah."


Seketika hening suasana di dalam mobil.


"Kenapa Mas?" tanya Aurora menatap Irsyan.


"Em kamu nggak ada keinginan untuk menikah?" tanya Irsyan sedikit ragu dengan pertanyaannya.


"Pastinya ada lah Mas. Waktu aku sama Rivan dulu, malah aku yang ngebet pengen nikah sama dia," jawab Aurora dengan terkekeh kecil di akhir ucapannya. Irsyan sedikit tak suka dengan jawaban Aurora, dia merasa cemburu terhadap Rivan karena bisa membuat Aurora sangat bucin terhadapnya.


"Kalau sekarang masih ada keinginan untuk menikah?" tanya Irsyan lagi.


"Masih, ya kalau jodoh udah ada sih, Mas."


"Kalau misal sekarang ada yang lamar kamu, kamu bakal terima nggak? Walaupun kamu sama laki-laki itu baru saling kenal?" tanya Irsyan dengan nada serius.


"Em, kalau laki-laki itu mau terima aku dan keluargaku apa adanya, aku akan terima dia," jawab Aurora mantap. Irsyan hanya manggut-manggut sebagai jawabannya.


'Aku mencintaimu apa adanya, Aurora. Jadi aku nggak peduli kamu dari kalangan keluarga atas atau bawah. Aku akan perlahan-lahan mendekati kamu, agar kamu yakin bahwa aku lelaki yang tepat untukmu,' batin Irsyan.


...****************...


Pagi harinya, Aurora pergi menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Andre. Sebelum itu dia juga memberitahukan kepada Kiran untuk datang kesana juga.


Kini Aurora dan Kiran sudah berada di dalam ruang rawat inap Andre.


"Gimana pertandingan lo kemarin, Ra?" tanya Andre.


"Gue kalah, Ndre," ucap Aurora menunduk menyesal, dia ingin mengerjai kedua sahabatnya itu.


"Ya sudah gapapa, Ra. Belum rezeki namanya," ucap Andre.

__ADS_1


"Iya Ra, mungkin itu belum rezeki kita," timpal Kiran.


"TAPI BOHONG!" ucap Aurora dengan tertawa terbahak-bahak diakhir ucapannya. Andre dan Kiran menatap memutar matanya.


"Gue udah tau, Ra. Gue yakin pasti lo menang," ucap Andre.


"Terus lo dapat hadiah apa aja, Ra?" tanya Kiran penasaran.


"Nih, hadiahnya." Aurora menaruh 2 kunci di samping Andre, yakni 1 kunci mobil dan 1 kunci motor.


"Kunci motor dan mobil?" pekik Kiran terkejut dengan hadiah yang didapatkan oleh Aurora.


"Yoi, sama ini nih." Aurora kembali mengeluarkan cek yang berisi lima ratus juta. Kiran langsung mengambil cek dari tangan Aurora dan melihat nominal yang tertera di cek tersebut.


"What lima ratus juta? Are you serious?" Lagi-lagi Kiran terkejut dengan hadiah yang didapatkan oleh Aurora.


Aurora mengangguk, "Ah iya, di rekening gue ada nih tinggal tujuh ratus juta, nanti gue transfer ke rekening lo," ucapnya.


"Wah gila sih, hadiahnya nggak main-main," ucap Kiran tak percaya.


"Sumpah banyak banget hadiahnya, Ra. Untuk yang di rekening lo itu, buat lo aja. Yang lima ratus juta ini aja sudah lebih dari cukup buat gue. Dan untuk mobil dan motor itu terserah deh lo mau apakan karena itu hak lo," ucap Andre.


"Beneran buat gue?" tanya Aurora, padahal kan hadiah yang dia dapatkan dari balapan semalam itu akan diberikan semuanya kepada Andre.


"Iya buat lo aja, kan lo yang tanding. Thank you banget untuk hadiah ini, mungkin uang lima ratus juta ini bisa gue pakai untuk usaha mama buat butik," ucap Andre.


"Iya sama-sama, Ndre. Ini juga berkat doa dari kalian berdua," ucap Aurora sambil memeluk tubuh Kiran.


"Terus mobil sama motornya lo taruh dimana, Ra? Nggak mungkin kan lo taruh di rumah," tanya Kiran.


"Gue titip di rumah temen," jawab Aurora.


"Temen lo yang mana dulu?" tanya Kiran lagi dengan penuh selidik.


"Ada lah pokoknya, semalam dia ikut tanding juga, terus gue temenan deh sama dia," elak Aurora, tidak mungkin dia memberitahu jika motor dan mobil itu berada di basemen parkiran apartemen milik Irsyan bisa-bisa heboh kedua sahabatnya itu.


"Oh gitu," ucap Kiran manggut-manggut.


"Tapi kayaknya gue mau jual aja tu motor sama mobil," ucap Aurora.


"Kenapa Ra?" tanya Andre bingung.


"Karena motor dan mobil itu terlalu mewah buat gue, bisa-bisa kena gosip gue sama tetangga gara-gara bawa motor dan mobil mewah," jelas Aurora.


"Iya bener sih kata Aurora. Gimana kalau motor sama mobil itu dijual aja?"


"Boleh tu, Ki. Nanti uangnya untuk kita buat Cafe terus sisanya untuk kita sedekahkan ke panti asuhan, panti jompo dan ke orang-orang yang membutuhkan, gimana?"


"Boleh tuh, gue setuju Ra," ucap Kiran setuju dengan pendapat dari Aurora, Andre pun juga menyetujuinya.


"Nanti kalian berdua bantu gue untuk jualin motor dan mobil itu ya?"


"Siap," ucap Andre dan Kiran serempak.


"Terus kalau Mila sama Wawan tanya tentang kita yang buat Cafe itu, bagaimana?" tanya Kiran.


"Tenang, nanti itu urusan belakangan," ucap Aurora meyakinkan Kiran. Kiran hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan Aurora.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2