GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 92


__ADS_3

Sore harinya Aurora memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke taman yang dekat dengan komplek perumahan mertuanya, disana banyak anak-anak kecil tengah bermain dan ditemani oleh orang tuanya. Aurora yang memperhatikan itu membuat bibirnya tertarik ke atas menjadi senyuman, sebentar lagi ia juga akan merasakan hal seperti itu.


"Sehat-sehat terus ya di perut Mama, sayang," ucap Aurora lirih sambil mengelus perutnya.


Saat Aurora hendak akan berjalan menuju ke salah satu bangku taman, ia tak melihat jika ada batu di depannya, Aurora tidak sengaja menginjak batu tersebut dan hampir terpeleset jika tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya.


"Kamu gapapa kan?" tanya seseorang dengan suara bariton nya. Aurora memperbaiki cara berdirinya, lalu berbalik menghadap ke belakang.


"Aku gapapa, makasih udah--" Ucapan Aurora disela oleh orang yang menyelamatkannya itu.


"Aurora!"


Aurora mengerutkan kening, kenapa namanya bisa dikenal oleh lelaki di hadapannya ini? Laki-laki ini langsung menyebutkan namanya saat melihat wajah bingung Aurora.


"Gue Juno, yang pernah balapan sama lo dulu itu, masa lo lupa?" tanya Juno. Jika diputar kembali, laki-laki ini rekan balapan Aurora dulu sewaktu Andre sedang dirawat di rumah sakit. Aurora mencoba mengingat Juno kembali.


"Oh iya astaga gue lupa, sorry ya Jun? Dan makasih udah nolongin gue," ucap Aurora tersenyum.


"Sama-sama, lain kali lo hati-hati kalau jalan," balas Juno.


"Iya Jun."


"Oh ya, lo masih suka balapan, Ra?" tanya Juno.


"Nggak lah Jun, mana mungkin gue dikasih, yang ada nih bisa-bisa gue dikurung di kamar sama suami gue kalau ketahuan balapan," jelas Aurora sedikit bercanda. Juno tersenyum miris, ternyata gadis yang membuatnya langsung terpesona itu sudah memiliki pawang, tak ada celah dirinya untuk memiliki Aurora.


Malam harinya, Irsyan dan Aji duduk di depan teras mess mereka ditemani oleh gelapnya langit, terangnya cahaya bulan, jutaan bintang serta suara jangkrik yang saling bersahutan.


"Syan," panggil Aji.


"Kenapa?"


"Enak nggak nikah itu?" tanya Aji membuat Irsyan menaikan satu alisnya, tumben sekali sahabatnya ini bertanya seperti itu, pikirnya.


"Enak, enak banget malahan. Ada temen sholat berjamaah kalau dirumah, temen tidur, ada yang masakin, siapin baju kerja, pokoknya enak deh. Makanya lo nikah biar tau rasanya!" suruh Irsyan.


"Iya tenang gue bakal nikah, gue juga lagi nungguin seseorang," papar Aji.


"Lo lagi nunggu siapa?" tanya Irsyan penasaran, pantas saja sahabatnya itu sampai sekarang masih jomblo, ternyata lagi nunggu seseorang.


"Ada deh seseorang, lambat laun lo akan tau kok," jawab Aji. Irsyan langsung mendengus dan coba memikirkan siapa orang yang ditunggu oleh sahabatnya itu.


"Terus biasanya lo menyelesaikan masalah dengan Aurora itu bagaimana sih?" tanya Aji lagi.


"Ya tinggal minta maaf, kasi hadiah, atau biasanya gue tarik ke ranjang terus main, pasti masalah langsung selesai," jelas Irsyan santainya.

__ADS_1


"Coba makanya nikah biar lo rasain sendiri," sambung Irsyan sambil menyesap teh chamomile yang ia bawa dari rumah, karena teh tersebut sangat memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Irsyan lebih suka teh daripada kopi.


"Iya sabar nunggu jodoh gue datang dulu," balas Aji malas.


...****************...


Suara adzan subuh berkumandang dari toa masjid membuat Irsyan terbangun dari tidurnya, ia merubah posisi menjadi duduk untuk mengumpulkan sebentar nyawanya yang belum terkumpul, setelah itu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Irsyan memakai baju koko, sarung dan tak lupa peci, perlengkapan sholat yang biasanya sudah disiapkan oleh Aurora kini ia harus mengambilnya sendiri seperti masih lajang dulu. Setelah itu Irsyan memilih untuk pergi ke masjid yang kebetulan cukup dekat dengan mess tempat tinggalnya, ia pergi dengan Aji dan dua rekan kerjanya yang lain.


Kurang lebih 15 menit Irsyan ke masjid dan kembali ke mess, ia mengambil handphone, mengotak-atik mencari nomor telepon Aurora dan akan melakukan video call, ia yakin sekarang istrinya itu juga sudah bangun.


"Assalamualaikum Mas," sapa Aurora setelah panggilan video call telah tersambung.


"Waalaikumsalam sayang," balas Irsyan tersenyum saat terpampang wajah cantik nan teduh milik istrinya apalagi kini Aurora tengah mengenakan mukena, membuat kecantikannya semakin bersinar.


"Kamu baru selesai sholat subuh ya?" tanya Irsyan.


"Iya nih Mas, Mas juga habis sholat subuh ya?" tanya balik Aurora saat dirinya melihat sang suami masih mengenakan baju koko dan peci.


"Iya sayang, Mas baru pulang sholat subuh berjamaah di masjid," jelas Irsyan dan Aurora langsung manggut-manggut.


"Mas mulai kerjanya jam berapa disana?"


"Jam 9 sayang, tapi berangkatnya jam setengah 8, 30 menit itu untuk melakukan pengarahan dan 30 menitnya lagi untuk siapkan alat-alat dan yang lainnya," kelas Irsyan.


"Iya pasti sayangku."


Setelah 1 jam lebih mereka ngobrol dan bersenda gurau di video call, Irsyan mematikannya dengan alasan ia harus mandi dan siap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya dan Aurora pun memakluminya.


"Salam untuk si kecil ya sayang? Bilang kalau Papanya rindu dengannya," ucap Irsyan.


"Iya pasti Mas," balas Aurora tersenyum.


"Ya sudah aku matikan ya? Assalamualaikum sayang."


"Waalaikumsalam Mas."


Setelah mematikan sambungan video call tersebut, Irsyan langsung beranjak ke kamar mandi.


Aurora yang tengah menyiram tanaman itu langsung terperanjat sampai selang untuk dia menyiram tanaman terjatuh akibat teriakan menggema dan cempreng dari seorang gadis, yang tak lain adalah Vania. Gadis itu datang untuk menemui Om, Tante serta Aurora yang ia sebut kakak ipar.


"Yuhuuu Vania yang cantik membahana datang!!!"


Dengan langkah yang lebar Aurora menghampiri Vania ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kamu?!" ucap Aurora tambah terkejut melihat kedatangan gadis yang berpelukan dengan suaminya dulu.


"Halo kakak ipar," sapa Vania dengan riangnya.


"Hai, kamu kan yang di--"


"Iya aku yang di Korea waktu itu, nama aku Vania ," potong Vania tersenyum, ia mengerti apa yang akan di katakan oleh Aurora, maka dari itu Vania langsung menyela ucapan istri dari kakak sepupunya itu.


Aurora tersenyum kikuk, untung saja Irsyan langsung menjelaskan siapa sebenarnya gadis di hadapannya ini, jika tidak dia akan memberi pelajaran kepada Vania karena telah berani memeluk suaminya.


"Kamu mau ketemu Papa dan Mama ya?" tanya Aurora.


"Iya aku mau ketemu semuanya dan kakak ipar juga," jelas Vania. Aurora manggut-manggut mengerti.


"Kamu jangan panggil kakak ipar dong, panggil aku Aurora aja, aku yakin kita itu seumuran," suruh Aurora.


"Oke Aurora," balas Vania yang tak mempermasalahkan itu.


"Oh ya, kamu jangan salah paham ya, aku ini sepupunya kak Irsyan, bukan selingkuhannya," sambung Vania menjelaskan.


"Iya aku tau kok, mas Irsyan pernah kasi tau kalau kamu itu sepupunya, walaupun aku sempat salah paham, siapa sih yang nggak kaget suami kita sendiri dipeluk sama perempuan yang nggak kita kenal?" ucap Aurora yang menceritakan kejadian saat dirinya salah paham dengan Irsyan yang memeluk Vania.


"Maaf ya aku nggak sempat memperkenalkan waktu itu, pasti kalian sempat berantem gara-gara aku" sesal Vania. Aurora menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, lalu menggeleng.


"Gapapa Van, ini juga salah aku yang langsung pergi tanpa menanyakan siapa dirimu terlebih dulu."


Vania ikut mengembangkan senyumannya, pantas kakak sepupunya jatuh cinta dengan Aurora, bukan hanya cantik parasnya tapi juga hatinya.


"Kamu tadi lagi ngapain Ra?" tanya Vania.


"Aku lagi nyiram bunga dan mau menanam bunga," jawab Aurora.


"Kamu suka nanam bunga?"


Aurora mengangguk, "Semenjak aku hamil, aku jadi suka nanam bunga, mungkin bawaan bayi," jelasnya


"Selamat ya atas kehamilan mu, Ra. Benih kak Irsyan tokcer juga," ujar Vania terkekeh, Aurora pun ikut tertawa kecil mendengar ucapan Vania.


"Ya gitulah."


"Aku boleh ikut nanam nggak? Daripada nggak ada yang aku kerjakan disini," pinta Vania.


"Boleh dong, ayo kita belakang," ajak Aurora. Vania mengangguk antusias, lalu mereka berdua berjalan ke arah halaman belakang rumah. Baru saja mereka berkenalan sudah secepat itu mereka akrab.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2