GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 54


__ADS_3

Irsyan sekarang sedang.di perjalanan setelah selesai mengantarkan Aurora pulang. Lalu terdengar bunyi handphonenya, Irsyan merogoh saku celananya melihat siapa yang menelpon. Nama 'Nina' lagi lah yang terpampang disana. Wanita itu tak lain adalah masa lalu dari Irsyan.


"Mau ngapain sih tu cewek nelpon gue lagi? Nggak puas apa nyakitin gue dulu?" monolog Irsyan yang sakit hatinya masih membekas karena perbuatan Nina dulu padanya.


Irsyan langsung menolak panggilan tersebut. Namun lagi-lagi Nina meneleponnya. Mau tak mau Irsyan pun mengangkat telpon tersebut.


"Halo Mas," ucap Nina lembut.


"Hem, ada apa nelpon saya? Ingat kita itu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi," ucap Irsyan dengan nada yang tak suka.


"Iya aku tau Mas, tapi apa kita bisa ketemu Mas? ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," pinta Nina.


"Nggak, saya lagi sibuk!"


"Please, Mas. Sebentar saja," ucap Nina dengan nada memelas. Irsyan menghela napas panjang.


"Oke, mau ketemu dimana?"


"Di cafe langganan kita dulu, Mas."


"Hem, saya akan kesana sekarang."


Irsyan langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia sangat bimbang saat ini, apakah ia harus kesana dan bertemu dengan Nina? Wanita yang pernah menyakitinya, sedangkan kini dirinya sudah memiliki calon istri.


"Opi, sekarang kita ke cafe Gold," titah Irsyan pada Opi.


"Siap Tuan." Opi segera melajukan mobil menuju ke cafe yang disebut oleh Irsyan tadi.


Irsyan pun sampai di cafe Gold, ia masuk ke dalam cafe tersebut dan mengedarkan pandangannya mencari Nina, ternyata wanita itu belum sampai disana. Lalu Irsyan memilih salah satu meja di pinggir jendela, setelah itu ia duduk sambil menunggu kedatangan Nina.


"Hai Mas," sapa Nina yang baru saja datang setelah lebih dari 10 menit Irsyan menunggunya.


"Hem, silahkan duduk," ucap Irsyan datar, walaupun ia sedikit terpana melihat penampilan Nina saat ini yang semakin dewasa dan anggun. Namun dengan cepat ia menepis pikiran tersebut, karena dihatinya sekarang cuma ada nama Aurora.


"Kamu apa kabar Mas?" tanya Nina yang sudah duduk di hadapan Irsyan.


"Saya baik," jawab Irsyan singkat. Nina tersenyum getir mendengar ucapan Irsyan yang singkat.


"Sekarang to the point aja, apa maksud kamu mengajak saya ketemu?" tanya Irsyan.


"Aku mau kita bersama lagi Mas," ucap Nina mencoba menggenggam tangan Irsyan yang berada di atas meja, namun langsung dengan cepat Irsyan menjauhkan tangannya.


"Heh bersama lagi? Saya nggak salah denger?" tanya Irsyan sinis.

__ADS_1


"Iya Mas, aku pengen kita kayak dulu lagi."


"Kayaknya otak kamu perlu di ruqyah deh. Inget kamu itu udah nikah dan punya suami, Nina!" sentak Irsyan yang tak habis pikir dengan ucapan Nina tadi.


"Tapi aku udah nggak cinta lagi sama dia Mas, dia sering melakukan tindakan KDRT sama aku," ucap Nina sedih. Irsyan sedikit iba melihat mantan kekasihnya itu, tapi hatinya tidak boleh goyah begitu saja.


"Maaf saya tidak bisa, karena saya sudah memiliki calon istri dan untuk masalah rumah tangga kamu, kamu selesaikan sendiri. Saya tidak mau ikut campur," balas Irsyan tegas.


"Beneran kamu udah punya calon istri, Mas?" tanya Nina cukup terkejut.


"Iya, dia lebih cantik dan lebih baik dari kamu."


Hati Nina langsung sakit dan sesak mendengarnya, ingin rasanya ia memutar waktu, jika bisa ia akan memilih ketika dirinya dan Irsyan masih bersama serta masih saling mencintai.


"Dia sangat beruntung memiliki, Mas."


"Kamu salah besar, malah saya yang sangat beruntung memilikinya dan saya sangat berterima kasih karena dia sudah hadir di hidup saya," ucap Irsyan meralat ucapan Nina sambil membanggakan Aurora di depan Nina.


"Jadi, apa kita nggak bisa bersatu lagi Mas? Aku tau Mas masih Cinta kan sama aku?" tanya Nina dengan percaya dirinya.


"Iya benar, tapi itu dulu Nina. Hati saya sekarang sudah menjadi milik calon istri saya seutuhnya," jawab Irsyan yang geram dengan ucapan Nina. Nina langsung terdiam mendengarnya, setetes air mata pun jatuh dari pelupuk matanya.


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi saya pergi dulu." Irsyan beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke pintu keluar meninggalkan Nina yang menatap sendu punggungnya.


Tiba-tiba saja handphone Irsyan berdering, namun bukan Nina yang menelponnya melainkan moodbooster alias penyemangat hidupnya.


"Tau aja aku lagi badmood," ucap Irsyan tersenyum melihat nama Aurora lah yang tertera di handphonenya membuat emosi Irsyan sedikit mereda, tanpa basa-basi lagi ia segara mengangkat telpon dari calon istrinya.


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsalam sayang, kok belum tidur?" tanya Irsyan dengan suara lembutnya.


"Ih ini kan baru jam setengah 10 Mas, aku juga belum ngantuk."


"Sana tidur cepet, nggak baik perempuan begadang," titah Irsyan.


"Iya aku mengerti. Oh ya, Mas udah di rumah?"


"Belum sayang ini masih di jalan, tadi Mas ketemu sebentar sama temen di cafe," jawab Irsyan.


"Siapa? Cewek atau cowok?" tanya Aurora selidik.


Irsyan terdiam, apakah ia harus jujur pada Aurora jika tadi dirinya bertemu dengan Nina?

__ADS_1


"Mas kok diem!"


"Ah ya, tadi Mas ketemu sama Rilen," jawab Irsyan berbohong.


"Oh mas Rilen, kirain ketemu sama siapa tadi."


"Iya, sekarang kamu tidur gih sayang, ingat kita harus menjaga kesehatan sampai hari H pernikahan kita nanti".


"Iya Mas, ya sudah aku tutup ya telponnya? Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam sayang."


Aurora mematikan sambungan teleponnya. Irsyan menaruh handphonenya di samping, ia sangat bersalah karena telah berbohong pada calon istrinya.


"Maafkan aku sayang," lirih Irsyan.


Beberapa saat kemudian, Irsyan sampai di rumahnya. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.


"Irsyan," panggil Harun yang sedang menonton TV bersama Jihan di ruang keluarga.


"Ya Pa?" Irsyan menghampiri kedua orangtuanya dan duduk di sofa.


"Habis darimana?" tanya Harun.


"Habis dari apartemen sama Aurora," jawab Irsyan.


"Kamu nggak apa-apakan calon mantunya Mama kan?" tanya Jihan selidik.


"Mau di apa-apakan juga gapapa Ma, jugaan sebentar lagi kan aku sama Aurora akan menikah," jawab Irsyan santai. Jihan langsung menatap tajam putranya.


"Jangan macam-macam kamu, Irsyan!" geram Jihan.


"Ya ampun aku bercanda kok, Ma. Mana berani aku apa-apakan Aurora sebelum kami nikah nanti."


"Bagus nak, pertahankan sampai kalian sudah menikah," timpal Harun menepuk-nepuk pundak Irsyan.


"Iya siap Pa."


"Ingat setelah kalian sudah menikah nanti, kamu harus perlakukan istri kamu seperti ratu," titano Harun.


"Iya pastinya Pa, aku bakal buat Aurora bahagia sampai dia lupa caranya untuk bersedih," ucap Irsyan dengan serius. Harun dan Jihan tersenyum mendengar ucapan putranya.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2