GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 118


__ADS_3

Setelah kejadian itu sudah 3 hari Caca tidak masuk sekolah. Kata Lala, Caca sedang sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit. Aril berniat untuk menjenguk Caca, karena menurutnya Caca sakit gara-gara dia.


Aril membeli sebuket bunga lily untuk Caca, entah gadis itu akan menyukainya atau tidak yang terpenting ada sesuatu yang ia bawa kesana.


Sesampainya di rumah sakit, Aril pergi menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan kamar rawat Caca, setelah mengetahuinya Aril berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit.


Tepat di ruang VVIP 1 Bougenville, Aril mengetuk pintu kamar rawat tersebut sebelum masuk karena attitude itu sangatlah penting.


"Masuk!"


Setelah seseorang menyuruhnya untuk masuk barulah Aril membuka pintu kamar rawat Caca dan berjalan masuk.


"Assalamualaikum," ucap Aril.


"Waalaikumsalam," balas semua yang ada di kamar tersebut. Disana hanya ada orang tua dari Caca saja yang menjaga. Caca yang melihat Aril menjenguknya kaget sekaligus senang.


"Aril!" pekik Caca. Aril tersenyum ke arah Caca.


"Permisi Om, Tante. Saya Aril, temannya Caca," ucap Aril memperkenalkan diri pada orang tua Caca sambil menyalami tangan pasangan suami-istri paruh baya yang masih terlihat cantik dan gagah itu.


"Saya Wilson, Daddy dari Caca," balas Wilson.


"Saya Ranti, Mommy nya Caca," timpal Ranti tersenyum. Ia mengingat jika sang putri pernah mengatakan bahwa Caca menyukai seseorang yang bernama Aril, apakah laki-laki di hadapannya saat ini adalah laki-laki yang disukai oleh anaknya? Tampan, itulah yang pertama kali terlintas dipikiran Ranti saat melihat Aril.


"Ca ini bunga untuk lo." Aril menyodorkan buket bunga Lily yang ia beli tadi pada Caca, dengan senang hati gadis itu menerimanya.


"Wah makasih Ril, lo tau aja bunga kesukaan gue itu bunga Lily," ucap Caca sambil memeluk erat buket bunga yang diberikan oleh Aril tadi.


"Syukurlah kalau lo suka."


Wilson dan Ranti yang tak ingin mengganggu waktu putrinya dengan Aril, mereka pun sengaja izin pergi ke cafetaria yang ada di rumah sakit.


"Ca, Mommy dan Daddy ke cafetaria bentar ya? Kalian mau pesan apa? Nanti biar sekalian Mommy belikan," tanya Ranti.


"Caca mau milkshake strawberry ya Mom," pesan Caca dengan antusias.


"Jangan minum es dulu, kamu masih sakit!" tegur Ranti membuat Caca mendengus, padahal tadi Mommy-nya yang menawarkan ingin memesan apa, sekarang malah dilarang.


"Ya sudah Caca pesan hot cokelat aja," pesan Caca pada akhirnya.

__ADS_1


"Nak Aril mau apa?" tanya Ranti menatap Aril.


"Apa saja Tan," jawab Aril.


Ranti mengangguk, "Oke, Mommy dan Daddy pergi dulu."


Caca dan Aril hanya mengangguk kemudian pasangan suami-istri itu keluar dari ruang rawat Caca.


"Gimana kabar lo, Ca?" tanya Aril.


"Alhamdulillah gue udah agak mendingan," jawab Caca tersenyum saat lelaki yang ia sukai menanyakan tentang kabarnya.


"Syukurlah, maaf ya lo sakit gara-gara gue," ucap Aril merasa bersalah.


Caca menaikan satu alisnya, "Ini bukan salah lo kok, gue sakit karena udah takdir," tukas Caca.


"Tapi itu karena kejadian--" Ucapan Aril langsung disela oleh Caca. Ia benar-benar tidak menyalakan Aril atau siapapun penyebab dari sakitnya ini.


"Udah jangan di bahas, yang penting gue udah sehat sekarang. Mungkin besok lusa gue udah sekolah lagi."


Aril mengangguk pelan, "Lo mau gue jemput?" tawarnya membuat mata Caca langsung berbinar-binar.


"Iya gue serius, lo mau nggak?" tawar Aril lagi, mungkin dengan cara itu salah satu untuk menebus kesalahan Aril pada Caca.


"Ih mau banget lah Ril," ucap Caca senang. Aril tersenyum tipis melihat wajah Caca yang senang itu.


...****************...


Aurora dan kedua sahabatnya yang tak lain adalah Mila dan Kiran sedang hang out bersama di cafe langganan mereka. Untuk Cafe yang Aurora bangun tersebut sebentar lagi akan rampung, mungkin sekitar 90%.


Mila kini telah mantap berhijab semenjak gadis itu pulang ibadah umroh. Kiran, tengah menantikan kehadiran sang buah hati, karena sudah 3 bulan lebih ini ia tak kunjung hamil.


"Sabar ya Ki, mungkin Allah masih ingin lo sama Andre menikmati masa-masa berdua dulu," ucap Aurora menenangkan Kiran.


"Iya bener kata Aurora, yang penting tetap ikhtiar dan berdoa Ki," timpal Mila dan Kiran hanya mengangguk membenarkan ucapan sahabat-sahabatnya itu.


"Kalau lo sama mas Satria bagaimana, Mil?" tanya Kiran.


Memang sejak pulang dari Mekkah hubungan antara Mila dan Satria menjadi dekat, tapi dekat dalam artian teman. Mungkin hanya Mila yang berharap pada pria itu, sedangkan Satria yang biasa-biasa saja apalagi ketika membalas pesan darinya.

__ADS_1


"Ya nggak ada peningkatan, mungkin gue yang terlalu berharap sama dia," lirih Mila. Aurora langsung mengelus punggung sahabatnya itu.


"Sabar ya Mil, jodoh itu tak akan kemana. Kenapa lo nggak sama si duda aja?" usul Aurora sambil terkekeh di akhir ucapannya.


Siapa duda? Tentu saja dia adalah Raka. Aurora dan Kiran sangat mengetahui bagaimana kisah cinta antara Mila dan Raka dulu, bahkan mereka berdua sangat marah saat mengetahui alasan Raka memutuskan hubungannya dengan Mila.


"Nah iya sama Raka aja Mil, masih ganteng terus mana kaya lagi. Menikah sama dia langsung dapat anak lo," sahut Kiran.


Mila menghela napas berat, "Gue bimbang guys, soalnya rasa sakit hati gue saat orang tuanya menghina gue masih ingat sampai sekarang, itu selalu terbayang-bayang dibenak gue," ucap Mila pelan.


"Ikuti saja kemauan hati lo Ra, kita sebagai sahabat hanya bisa mendoakan supaya lo bisa mendapatkan jodoh yang tepat dan terbaik," imbuh Kiran dan Aurora mengangguk menyetujui ucapan Kiran tadi.


Aurora sedari tadi mengecek ponselnya dengan wajah yang gelisah, ia tengah menunggu Irsyan menelponnya hal itu membuat Kiran dan Mila saling pandang.


"Lo kenapa, Ra? Gue liat lo liatin handphone terus," tanya Kiran penasaran.


"Nungguin telpon dari suami lo ya?" tebak Mila.


"Iya gue lagi nungguin telpon dari mas Irsyan, nggak tau dia udah sampai belum di kota S," jawab Aurora lemas.


"Ngapain suami lo disana?" tanya Mila


"Ada proyek sekaligus mau liat perkembangan perusahaan Papa Harun disana."


Kiran dan Mila yang tidak tau menahu soal bisnis properti dan sebagainya hanya bisa manggut-manggut saja.


Di kota S, seorang pria di dalam kamar hotelnya bersama dengan asisten pribadinya tengah memikirkan cara untuk mencelakakan orang yang ia benci.


"Kamu tau cara biar dia bisa celaka atau kalau bisa dia pergi dari dunia ini?" tanya pria itu kepada asistennya.


"Saya tau, Tuan."


"Bagaimana?" tanya pria itu dengan antusias. Lalu asistennya itu membisikkan sesuatu padanya, membuat pria itu langsung tersenyum menyeringai karena ide dari asistennya itu cukup bagus.


"Good, kamu nanti bisa sewa orang untuk melakukan itu."


"Baik Tuan."


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2