GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 174


__ADS_3

Aurora masuk ke ruang kerja suaminya sambil membawa secangkir kopi, ia melihat Irsyan begitu fokus pada komputer di depannya sampai-sampai Aurora masuk ke ruangannya, pria itu sama sekali tidak menyadarinya.


"Mas sibuk banget ya?" tanya Aurora. Irsyan cukup tersentak, laku menatap istrinya dengan tatapan lembut.


"Sedikit sayang."


"Ini kopinya." Aurora menaruh kopi yang ia bawa tadi di atas meja kerja Irsyan.


"Makasih, sayang."


Aurora mengangguk, ia menarik satu kursi di depan meja kerja Irsyan dan membawanya dekat dengan kursi suaminya.


"Oh ya, Mas. Tadi Hansel bertanya tentang apa ke Mas?" tanya Aurora penasaran.


"Kamu pengen tau?"


Aurora mengangguk. Irsyan pun menceritakan apa yang ia dan Hansel bicarakan tadi tanpa ada yang ditutup-tutupi. Irsyan dan Aurora sudah berjanji akan selalu terbuka mengenai apapun.


Aurora yang menyimak cerita Irsyan langsung naik pitam, berdiri dan menggebrak meja. "Sudah aku duga, wanita itu memang menyukaimu, Mas! Pokoknya Mas harus batalkan kerja sama dengan perusahaannya!" perintah Aurora dengan nada marah.


Irsyan mengelus punggung tangan Aurora, berniat menenangkan istrinya. "Jangan marah-marah, sayang. Kamu tenang aja, aku bakal batalkan kerja sama dengan perusahaan wanita itu," ucapnya. Irsyan tak ingin menyebut nama Ghea, takutnya malah membuat istrinya nanti semakin marah.


"Beneran ya? Awas aja kalau Mas berani main belakang sama dia. Aset-aset mu akan habis di tanganku!" ancam Aurora kembali duduk dan menatap tajam Irsyan. Irsyan sampai susah menelan ludahnya, ancaman Aurora memang tak main-main. Perlu di ketahui, aset yang dibeli Irsyan memang kebanyakan atas nama istri dan anak-anaknya.


"Iya, sayang. Mana mungkin aku meninggalkan bidadari surga dan lebih memilih bersama lucifer. Jangan marah-marah, nanti anak kita terganggu di dalam sini," ucap Irsyan sambil mengelus perut Aurora.


Tanpa Aurora ketahui dan sadari, Irsyan telah mengganti obat kontrasepsi miliknya dengan vitamin penyubur rahim yang bentuknya mirip namun jelas manfaatnya yang berbeda. Irsyan sangat ingin memiliki anak banyak, karena itu ia melakukannya.


Aurora melotot kan matanya setelah mendengar ucapan Irsyan tadi. "Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, Mas!"


Irsyan terkekeh, "Mas hanya bercanda, sayang."


Aurora mendengus, "Kapan pekerjaan Mas selesai?"


"Tinggal sebentar. Kenapa? Kamu udah mengantuk?" tanya Irsyan.


Aurora mengangguk, ia menguap sambil menutup mulutnya.


"Kamu tidur duluan aja. Nggak usah tungguin, Mas."


Aurora menggeleng, "Aku mau nungguin, Mas. Mau tidur sambil di peluk," rengeknya membuat Irsyan tertawa sambil mencubit gemas pipi istrinya.


"Ya sudah, Mas mau cepat-cepat bereskan pekerjaan ini dulu biar kita cepat tidur sambil pelukan."


"Oke Mas, aku tunggu disini." Aurora pindah tempat ke sofa.


1 jam kemudian, Irsyan pun telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia melihat ke arah Aurora yang ternyata sudah tertidur pulas disana. Pantas saja tidak ada suara dari istrinya itu.


Irsyan berdiri dan melangkahkan kakinya menuju sofa, mengangkat tubuh istrinya ala bridal. Lalu keluar dari ruang kerja, ke lantai atas menuju ke kamar.


Irsyan membaringkan tubuh Aurora di ranjang, ia membuka bajunya sebelum merebahkan diri di samping sang istri.

__ADS_1


...****************...


Setelah mengambil flashdisk di Frans tadi, mereka langsung kembali ke kantor. Aril menyuruh Salma untuk mencetak semua daftar pernyataan aset luar negeri tersebut dan membawanya ke ruang kerja Caca.


Setelah semua berkas yang dicetak Salma dibawa ke ruang kerja Caca. Mulai dari Caca, Aril, Naufal hingga Elang ikut memeriksanya.


"Ada aset tetap dan transaksi. Mereka tidak melakukan likuidasi terperinci. Jelas bahwa ketika tuan Ibrahim sakit kritis, perusahaan berada dalam kekacauan," ujar Naufal menyimpulkan apa yang telah ia baca.


Aril menatap Naufal sejenak dan kembali mencoba mencari kesalahan di pernyataan aset luar negeri yang ia periksa. Ada beberapa yang aneh dan Aril pun melingkarinya.


Sesekali Aril memutar-mutarkannya pergelangan tangan kanannya. Sepertinya tangan kanan pria itu bermasalah alias keseleo setelah kejadian menangkap Frans tadi. Gerak-gerik Aril tak luput dari perhatian Caca. Walau sedang membaca berkas yang ada di depannya, tapi sesekali wanita itu menatap ke arah Aril.


Merasa ada yang memandanginya, Aril pun melihat ke arah Caca. Namun Caca langsung mengalihkan pandangannya membuat Aril tersenyum di dalam hati.


"Aaa tidak! Gue nggak bisa membaca ini lagi. Gue rasanya akan gila!" jerit Naufal sambil memegang kepala dan menghadap ke langit-langit ruangan.


Naufal kembali menegakkan tubuhnya menatap Aril, "Ril, meskipun gue pandai dalam hal angka, tapi gue pandai di angka komputer bukan angka seperti ini. Kenapa lo nggak membunuh gue aja untuk menghibur semuanya?" keluh Naufal. Keluhan Naufal membuat Elang menahan tawanya.


"Ah ya, bagaimana kalau gue meminta kepada beberapa pengusaha yang gue kenal untuk melakukan investasi untuk membantu YH GROUP?" usul Naufal.


"Ini adalah rahasia dagang YH GROUP. Jadi tidak mungkin kita melakukan hal itu," tolak Aril. Bahu Naufal langsung melemas saat Aril menolak usulannya.


"Kita berempat tidak mungkin membaca semua ini!" ujar Naufal. Rasanya ia sangat mual melihat tumpukan berkas di hadapannya ini.


"Kita tidak perlu membaca semua. Kita hanya perlu menemukan lubang dalam perjanjian hipotek. Sebaliknya, jika kita dapat menggunakan dana untuk membayar hutang bank, kita dapat mengatasi krisis hipotek YH GROUP," jelas Aril sembari menatap ke arah Caca yang juga sedang menatapnya.


"Berapa banyak waktu yang masih kita miliki?" tanya Caca.


Caca terdiam dan memeras otak gimana caranya menangani permasalahan itu secepatnya.


Hingga malam hari Caca dan Aril masih berada di YH GROUP, mereka masih memeriksa semua pertanyaan aset luar negeri hanya saja kini mereka hanya berdua, sementara Naufal dan Elang sedang pergi membeli sesuatu. Caca berada di kursi kerjanya, sedangkan Aril di sofa.


Caca mengusap tengkuk dan memijat pelipisnya, ia begitu pusing melihat angka dan huruf-huruf yang ada di lembaran kertas di hadapannya ini. Caca mencoba melihat ke arah Aril, ternyata pria itu sedang tertidur sambil duduk sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


Caca mengingat jika lengan Aril tengah keseleo, ia mengambil kotak P3K di dalam lemari. Lalu Caca berjalan menghampiri Aril di sofa dan duduk di samping pria itu dengan perlahan agar tidak mengusik Aril.


Caca membuka kotak P3K tersebut, mengambil salep khusus keseleo. Ia mengambil tangan Aril yang sakit dengan begitu hati-hati. Baru saja Caca memegang tangan Aril, pria itu langsung tersentak dan terbangun. Caca pun ikut kaget dibuatnya. Daya insting dan kepekaan Aril memang tidak boleh disepelekan begitu saja.


"Aku nggak bermaksud apa-apa, Ril. Aku ngeliat tangan kananmu itu kayak keseleo, karena itu aku mau mengobatinya," ucap Caca menjelaskan sambil menunjukkan salep khusus keseleo tersebut pada Aril.


Aril menegakkan tubuhnya, "Ini hanya keseleo ringan."


"Jangan menyepelekan walaupun ini hanya keseleo ringan. Cedera tulang membutuhkan seratus hari untuk sembuh, jika kamu nggak merawatnya dengan baik. Maka itu akan mempengaruhi kondisi tubuhmu," jelas Caca.


"Saya memiliki ratusan luka seperti ini. Berhenti membuang-buang waktu anda," ujar Aril menolak untuk diobati Caca seraya kembali memasang kacamata bacanya.


Caca terkejut dengan penuturan Aril. Dulu ia memang sering melihat wajah dan tubuh Aril yang terluka. Apa selama 8 tahun belakangan ini Aril sering terluka? Pikir Caca.


"Ratusan? Apa saja yang telah kamu lalui?" tanya Caca. Aril menatap ke arah Caca dengan tatapan dingin.


"A-aku minta maaf karena menanyakan hal-hal yang seharusnya nggak aku tanyakan," ucap Caca sedikit gelagapan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"Prioritas utama kita adalah mengidentifikasi lubang dalam krisis hipotek untuk menyelamatkan YH GROUP. Kita memiliki kurang dari 40 jam tersisa," imbuh Aril sambil mengambil berkas di atas meja.


"Rekening yang dibekukan ada di halaman 121 sampai dengan halaman 150. Sedangkan aktiva tetap ada di halaman 85 sampai dengan halaman 110. Untuk transaksinya, mereka belum menghitung semuanya. Sudah di tengah jalan, kebanyakan dari mereka ada di akhir daftar," jelas Caca.


Aril cukup kagum dengan cara cepat Caca berpikir dan menganalisa. "Apakah anda tahu bagaimana menganalisis laporan?"


Caca menggeleng, "Nggak. Aku mengatur semuanya berdasarkan pesanan. Aku pikir akan lebih mudah bagi kita jika ada arah yang salah," jawab Caca. Aril manggut-manggut mengerti dengan jawaban Caca yang masuk akal.


Caca lebih mendekatkan tubuhnya pada Aril membuat pria itu sedikit kaget. "Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam perjanjian hipotek luar negeri. Halaman mana itu?"


Caca membuka berkas yang ada di tangan Aril dan mencari halaman yang dimaksud. Tanpa wanita itu sadari, Aril tengah menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.


"Ah ini dia. Ini--" Caca menolehkan wajahnya ke arah samping, betapa terkejutnya ketika wajahnya dan wajah Aril begitu dekat. Mungkin sekitar 1 jengkal tangan orang dewasa. Mereka saling bertatapan cukup lama, sebelum Aril memutuskan kontak mata tersebut.


Caca segera menjauhkan sedikit badannya, "Maafkan aku. Aku berbicara terlalu banyak. Aku akan pergi sekarang." Caca berdiri dari sofa mulai melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" ucap Aril. Caca pun menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap ke Aril.


Aril meletakkan berkas di atas meja, ia menyodorkan tangannya yang berarti Caca boleh mengobati lengannya. Tapi Caca yang tidak mengerti hanya bisa melongo dan bingung.


"Obati tangan saya." Aril membuka kancing lengannya dan menaikan lengan kemejanya hingga siku.


Caca tersenyum dan kembali duduk di samping Aril. Ia mulai memegang lengan Aril, mengobati, mengoleskan salep dengan lembut lalu meniupnya.


Tubuh Aril meremang dan panas dingin dibuatnya. Ia menatap ke arah Caca, tepatnya ke bibir ranum Caca yang tengah meniup tangannya.


'Sial! Lo harus tahan, ril!' batin Aril yang menjerit. Tangan kirinya pun sampai mengepal menahan nafsu jahanam dalam dirinya.


Sadar dirinya di tatap, Caca pun sedikit mendongak dan melirik ke Aril. Aril yang tertangkap basah menatap Caca pun langsung mengalihkan pandangannya.


Naufal datang sambil membawa beberapa camilan pesanan Caca. Belum sampai ia melangkah ke arah Aril dan Caca, Naufal seketika mundur dan bersembunyi dibalik tembok begitu melihat dua sejoli itu.


"Apa gue salah liat? Wah bentar lagi ada yang CLBK nih alias cinta lama belum kelar, hehehe," gumam Naufal. Ia mencoba mengintip, ia melihat Caca sedang meniup lengan Aril.


"Wah wah. Gue nggak tahan lagi liat pasangan ini. Kejombloan gue meronta-ronta dibuatnya," gumamnya lagi. Elang yang masuk sambil membawa kopi itu langsung ditarik oleh Naufal, ikut bersembunyi dibalik tembok.


"Lo nggak bisa kesana!" ucap Naufal.


"Kenapa?" tanya Elang bingung.


"Pria jomblo seperti kita dilarang masuk," ujar Naufal dengan suara berbisik.


Elang membuang napas kasar, ia tidak terlalu suka berbasa-basi. Ia mendorong sedikit tubuh Naufal agar menyingkir. Baru saja ia melangkah, sama dengan ekspresi Naufal, Elang pun juga tercengang melihat apa yang tengah dilakukan Caca dan Aril. Elang pun segera berbalik menghadap ke belakang.


Naufal yang melihat ekspresi Elang langsung tertawa pelan, "Udah gue bilang, orang jomblo seperti kita dilarang masuk."


Elang mendengus dan langsung keluar dari ruang kerja Caca.


"Eh tunggu! Gue ikut!" Naufal pun ikut keluar dan mengejar Elang.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2