GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 179


__ADS_3

Menempuh perjalanan panjang hingga kurang lebih 3 jam lamanya, akhirnya mereka berdua pun sampai di Villa milik keluarga Irsyan. Aril memajukan sedikit badannya ke arah Caca dan berniat akan membangunkannya. Tapi ia gunakan kesempatan sebentar saja untuk melihat wajah ayu wanita yang sedang tertidur itu.


Tangan Aril begitu gatal ingin menyentuh wajah Caca. Pada saat Aril akan menyentuh pipi Caca, tiba-tiba wanita itu membuka mata. Caca terkejut menatap wajah Aril yang cukup dekat dengannya. Mereka berdua pun saling pandang, tapi tak lama suara ketukan dari jendela mobil membuat keduanya tersentak dan mengalihkan pandangannya.


"Ekhem! Ayo turun, Ca!" ajak Aril.


Caca hanya mengangguk. Pipi keduanya masih memerah karena salah tingkah. Saat keluar mobil, Aril dan Caca disambut oleh Aurora dan Irsyan. Caca menyapa pasangan suami-istri itu dengan sopan.


"Kak Aurora dan kak Irsyan. Kalian apa kabar?" tanya Caca.


"Alhamdulillah kami baik. Kalau kamu apa kabar? Betah banget di Turki," tanya balik Aurora.


"Aku baik juga, kak. Ya mau gimana lagi kak, sudah perintah dari orang tua dan mau tak mau aku harus menuruti kemauan mereka. Balik ke Indonesia juga atas suruhan mereka. Ya walaupun ada juga seseorang yang membuat aku ingin kembali kesini lagi ..." jelas Caca.


"Siapa orangnya?" tanya Aurora. Caca tidak menjawab, tapi matanya melirik ke arah Aril yang sedang mengobrol dengan Irsyan. Aurora mengikuti arah pandangan Caca. Sedetik kemudian, ia langsung tersenyum.


"Om kok lama datangnya?" tanya Alina tiba-tiba keluar dari dalam Villa sambil membawa boneka kesayangannya.


"Iya soalnya Om tadi jemput Tante Caca dulu," jelas Aril sambil mencubit pipi tembem keponakannya itu.


Caca jongkok di depan Alina dan tersenyum, "Hai cantik, aku Caca."


"Aku Alina, Tante. Tante cantik sekali seperti barbie," celetuk Alina polos. Celetukan Alina tadi membuat semua terkekeh. Jelas perkataan anak kecil itu tidak pernah bohong. Caca memang begitu mirip dengan salah satu jenis boneka itu. Mulai dari mata hazel, kepalanya yang kecil, hidung mungil namun mancung dan bibir yang tipis. Persis seperti ciri-ciri Barbie.


"Kamu bisa aja deh."


Irsyan pun menyuruh Aril dan Caca untuk masuk ke dalam. Di ruang tengah sudah banyak orang yang berkumpul dari orang tua Aurora, orang tua Irsyan, Fani, Adit, Alvaro dan Hansel.


Aril dan Caca menyapa mereka. Lalu menyalami mereka satu-persatu.


"Ini calon istrinya Aril, jeng?" tanya Jihan pada Nuri.


Nuri tersenyum, "Doakan saja mbak."


Lama-lama disini akan membuat wajah Caca terbakar karena panas dan tersipu mendengar ucapan orang-orang disini yang memuji serta mendukung dirinya bersama Aril. Sedangkan Aril sedari tadi hanya diam dan sibuk bermain dengan anak-anak kecil itu.

__ADS_1


"Kapan-kapan main ke rumah Ibu ya? Ibu rindu mencicipi masakan kamu," kata Nuri.


"Insya Allah Bu. Nanti Caca masakin makanan yang enak-enak untuk Ibu," imbuh Caca.


Setelah puas mengobrol dengan para orang tua. Aril membawa Caca ke kamar yang akan di tempati Caca.


"Kamu istirahat aja. Nanti jam makan siang aku panggil kamu," ucap Aril.


Caca mengangguk, "Iya, Ril. Terima kasih"


Aril hanya mengangguk. Lalu pergi dari kamar Caca. Caca melihat ke sekeliling kamar, walaupun minimalis tapi begitu nyaman untuk di tempati.


Caca duduk di ayunan panjang yang berada di belakang Villa seorang diri sambil menghirup udara segar disana.


"Tante yang bernama Caca?" tanya Hansel yang tiba-tiba datang menghampiri Caca. Cukup membuat Caca tersentak, tak lama ia mengangguk dan tersenyum ke arah Hansel. Sedari awal ia datang, wajah bocah laki-laki itu selalu terlihat dingin apalagi saat menatapnya. Persis seperti Aril.


"Iya aku, Caca. Kamu Hansel ya? Ayo duduk disini." Caca menepuk-nepuk space kosong di sampingnya. Hansel hanya mengangguk dan duduk disana.


"Kamu sudah kelas berapa?" tanya Caca berbasa-basi.


"Jangan pernah sakiti hati Om Aril," celetuk Hansel. Lagi-lagi Caca menatap keheranan ke arah Hansel.


"Maksud kamu apa, Hans?" tanyanya tidak mengerti.


"Tante akan mengetahuinya nanti," jawab Hansel. Ia berdiri dan meninggalkan Caca sendirian yang terdiam memikirkan ucapan ambigu darinya.


"Apa maksud Hansel tadi?" gumam Caca.


Hansel tau bahwa Caca merupakan wanita yang disukai oleh pamannya. Darimana ia mengetahui hal itu? Tentu dari foto Aril bersama Caca yang terpajang di kamar pamannya.


Pernah sekali Hansel memergoki pamannya berbicara pada foto yang ada gambar Caca disana dan mengatakan bahwa pamannya itu begitu rindu dengan wanita yang ada di foto tersebut. Dari sanalah yang semakin membuat Hansel yakin bahwa Aril menyukai wanita yang ada di foto tersebut yang tak lain merupakan Caca.


Sore harinya ditemani Aril, Caca berkeliling di kebun teh milik keluarga Irsyan. Mereka jalan berdampingan dan masih saling diam. Mereka bingung harus mengawali obrolan seperti apa, hanya ada rasa canggung yang tercipta.


"Aku kira Sasha itu pacar kamu," ucap Caca tiba-tiba membuat Aril melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Bukan. Dia hanya temanku saat kuliah dulu. Ya walaupun dia dulu pernah menyatakan perasaan kepadaku. Tapi aku menolaknya," jelas Aril. Caca menghentikan langkahnya menatap Aril dengan wajah keheranan.


"Kenapa ditolak? Padahal dia sangat cantik."


"Kecantikan bukan berarti aku suka kepadanya. Dibalik itu semua, ada seseorang yang aku suka selama ini."


"Siapa?" tanya Caca penasaran. Aril terdiam sejenak sambil menatap dalam wajah wanita di hadapannya ini.


"Kamu tidak perlu tahu!" cetus Aril.


Caca mendengus. "Pelit amat!" cibirnya.


Aril hanya mengangkat bahunya acuh.


Mereka kembali berjalan mengitari perkebunan tersebut. Karena tidak fokus saat berjalan, Caca tidak melihat akar pohon di depannya dan membuatnya tersandung. Untung dengan sigap Aril menahan pinggangnya agar tidak terjatuh. Bahkan sekarang tubuh Caca berada di dekapan Aril, punggungnya bisa merasakan dada bidang milik pria itu.


Jantung mereka berdua sama-sama berdegup begitu kencangnya dan lidah mereka begitu kelu, sehingga tak satupun kata-kata yang keluar dari bibir mereka.


"Kamu gapapa?" tanya Aril begitu lembut terdengar di telinga Caca. Caca menggeleng, kepalanya berbalik ke belakang dan lagi-lagi wajah Aril begitu dekat dengannya. Jika orang lain yang melihat mereka, pasti orang tersebut mengira jika mereka berdua seperti orang yang akan berciuman.


"Cie cie, Om!" ucap Alvaro dan Alina membuat kedua orang yang sedang saling bertatapan itu tersentak dan saling menjauhkan tubuh mereka masing-masing.


"Kalian sedang berpacaran ya?" goda Alvaro. Bocah yang dulu menggemaskan itu kini sudah beranjak remaja.


"Nggak lah! Ngawur kamu!" ucap Aril.


"Ya sudah kalau begitu, Tante Caca buat aku aja. Boleh kah?" Alvero kembali menggoda Aril.


Aril tidak menjawab dan malah mengalihkan topik pembicaraan, "Ayo kita balik. Hari sudah mau magrib!"


Semuanya mengangguk dan berjalan kembali menuju Villa.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2