GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 185


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Caca pulang dan di jemput ke kantor kini di antar Elang yang dulu biasanya di antar Aril. Aril benar-benar menghindari Caca.


Caca pergi berjalan kaki membeli kopi di cafe depan kantornya. Elang menawarkan diri untuk membelikan atasannya itu, tapi langsung ditolak Caca. Alasannya Caca sekalian ingin menenangkan diri di sana, Kepalanya begitu mumet dengan pekerjaan di kantor ditambah lagi sikap Aril yang dulu cuek dan dingin kepadanya kembali lagi.


Caca menengok ke kanan dan kiri, saat melihat jalanan terlihat sepi, ia mulai berjalan menyebrangi jalan. Tapi entah dari mana datangnya, sebuah motor begitu kencang melaju dan akan menabrak Caca.


Caca berteriak sambil menutup mata dan telinganya. Dari arah belakangnya, seseorang segera menarik Caca dan pada akhirnya mereka terjatuh ke aspal dengan Caca berada di atas orang yang menolongnya itu


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanyanya.


Caca yang tadinya menutup mata langsung membuka matanya ketika mendengar suara orang yang sudah hampir seminggu ini menghindarinya.


"Aril?" gumam Caca mendongak menatap Aril. Kenapa pria itu selalu menolongnya disaat seperti ini. Sudah berapa kali nyawa Caca di tolong oleh Aril.


"Anda tidak apa-apa kan, Nona?" tanya Aril lagi. Elang memberitahukan kepada Aril, jika Caca pergi ke cafe sendirian dan tidak mau di kawal olehnya. Dengan langkah yang cepat, Aril segera menyusul Caca kesana. Dan matanya terbelalak sempurna begitu melihat sebuah motor melaju dengan kencangnya dan akan menabrak Caca. Aril berlari sekencang mungkin untuk menolong atasannya itu.


Caca menggeleng, "Aku gapapa." Caca turun dari tubuh Aril dan berdiri. Lalu ia membantu Aril untuk berdiri.


"Terima kasih, sudah tolongin aku, Ril. Aku berhutang nyawa sama kamu," ucap Caca tulus.


Aril mengangguk, "Lain kali anda lebih berhati-hati lagi. Saya permisi."


Tangan Caca dengan sigap menggapai tangan Aril saat pria itu akan pergi. "Please jangan acuhkan aku, Ril. Aku nggak bisa diginiin," lirihnya.


Aril memejamkan matanya sejenak, meredam rasa kecewanya kepada Caca. Ia segera membalikkan badannya menghadap Caca. Tak lupa Aril melepaskan genggaman tangan Caca.


"Maaf, Nona saya tidak ingin karyawan disini membuat gosip yang tidak-tidak tentang kita. Saya disini hanyalah asisten anda dan saya ingin bekerja dengan nyaman disini," ucap Aril dengan tatapan dingin. Caca merasa tersinggung mendengar ucapan Aril dan hatinya begitu sesak, air matanya seakan tumpah membasahi pipinya.


Aril pergi meninggalkan Caca. Sedangkan Caca mengambil ponselnya dan segera memesan taksi online. Entah kemana ia akan pergi, yang penting bisa sedikit menenangkan hatinya.


Hingga malam hari, Caca belum juga pulang. Tuan Ibrahim begitu khawatir dengan Caca. Hampir semua pengawalnya dikerahkan untuk mencari keberadaan Caca. Tak lupa juga beliau menghubungi Aril.


Sementara Arsal dan Ibunya tersenyum bahagia mendengar jika Caca tidak pulang ke rumah. Bahkan mereka berharap Caca tidak balik ke rumah lagi.


"Aril, apa kau tau dimana keberadaan Caca?" tanya tuan Ibrahim.


"Maaf saya tidak tahu, Tuan. Maaf Tuan, kalau saya boleh tahu, memangnya Nona Caira belum pulang?"


Tuan Ibrahim menggelengkan kepalanya, "Saya sudah menghubungi nomor teleponnya tapi malah tidak aktif. Saya begitu cemas memikirkannya."


Aril ikut khawatir karena Caca yang belum pulang sampai sekarang. Ia berpikir keras, dimana saja tempat yang biasanya Caca kunjungi disini. Terlintas di kepala Aril, jika Caca sekarang berada di rumah pohon. Tempat tersebut merupakan tempat biasanya dulu Aril, Caca dan sahabat-sahabatnya menghilangkan penat setelah pulang sekolah.


"Kalau begitu saya permisi mencari nona Caira dulu, Tuan," ucap Aril.

__ADS_1


Tuan Ibrahim mengangguk, "Saya mohon cari Caca sampai ketemu!"


"Baik Tuan, saya akan cari Nona Caira sebisa saya."


Aril berjalan keluar menuju ke pekarangan rumah besar tuan Ibrahim dan langsung menaiki motor sportnya, ia melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Membutuhkan waktu 30 menitan, akhirnya Aril sampai di tempat tujuan. Ia melihat ke atas, tepatnya ke arah rumah pohon dan disana terlihat lampu menyala, yang berarti ada seseorang disana.


Aril membuka helmnya, turun dari motor, berjalan menuju rumah pohon tersebut. Dan betul saja, wanita yang dicari ternyata berada disana.


"Nona Caira," panggil Aril. Caca sangat terkejut melihat kedatangan Aril.


"Kamu ngapain disini?" tanya Caca.


"Saya sedang mencari anda. Tuan Ibrahim begitu mencemaskan anda. Pulanglah..." suruh Aril.


Caca menggeleng, "Nggak aku mau disini!" tolaknya. Aril menghela napas, wanita di depannya ini masih saja kekanak-kanakan. Ia merangkak mendekati Caca dan duduk di sebelah wanita itu.


"Pulanglah, Nona. Jangan membuat semua orang mengkhawatirkan anda," ucap Aril.


Sebenarnya Caca juga merasa bersalah kepada kakeknya, karena telah membuat kakeknya menjadi khawatir. Tapi ego Caca terlalu tinggi, yang membuatnya mengikuti pikiran bukan hatinya.


"Aku masih mau disini, Ril. Kalau aku pulang malah membuatku bertambah pusing," balas Caca tanpa menatap Aril.


Caca menatap ke arah Aril, "Kekanak-kanakan kayak gimana maksud kamu, Ril? Inilah aku, kalau kamu nggak suka. Lebih baik kamu pergi aja dari sini!" ucapnya sinis.


Oke, Aril tidak boleh terbawa emosi.


"Terserah, anda. Kalau begitu saya permisi."


Setelah Aril mengatakan itu, Caca langsung menangis tersedu-sedu. Aril sempat tersentak mendengar tangisan Caca membuat dirinya harus kembali mendekati wanita itu.


"Kenapa nangis?" tanya Aril.


Caca hanya menggelengkan kepalanya. Hati dan pikiran sangat lelah saat ini. Ia lelah pada pekerjaan, keluarga yang tidak menyukainya, yang dimaksud disini adalah Arsal dan Ibunya. Terutama ia lelah karena Aril terus-menerus menghindarinya.


Aril membuang napas berat. Ia bingung dengan jalan pikiran para wanita.Ia memegang kedua bahu Caca, "Ca, liat aku!"


Caca menggeleng dan menunduk sambil terus menangis. Aril yakin Caca sedang tidak baik-baik saja dan butuh support dari orang-orang terdekatnya.


Aril pun membawa Caca ke dalam dekapannya. Caca tersentak, sedetik kemudian ia nangis semakin kencang.


"Kamu kenapa hem?" tanya Aril dengan lembut.

__ADS_1


"Aku capek, Ril," jawab Caca membalas pelukan Aril. Dia benar-benar sangat membutuhkan sandaran dan aroma tubuh Aril membuatnya sedikit tenang.


"Kenapa?"


Caca melepaskan pelukannya dan menatap Aril. "Aku capek dengan pekerjaan di kantor, capek dibenci sama keluarga sendiri... Dan terakhir aku capek lihat kamu yang selalu menghindari ku," ungkapnya.


Aril sedikit tertegun mendengarnya. Ia kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin. "Itu karena kamu yang menyuruh ku menghindar."


"Kapan aku suruh kamu menghindar? Aku nggak pernah suruh kamu begitu."


"Dengan kamu mengatakan jika aku hanya asisten mu dan menyuruhku untuk tidak ikut campur urusanmu, itu yang membuat aku sadar diri kalau kita ini hanya sebatas rekan kerja aja dan tidak lebih," kata Aril.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakan itu ..." lirih Caca.


"Ya aku tau. Tapi ucapanmu kemarin memang benar, aku ini hanya asisten mu."


Caca menggeleng cepat, "Kamu bukan hanya asistenku tapi juga pria yang aku ..." Caca menjeda ucapannya.


"Yang aku apa?" tanya Aril penasaran.


"Nggak jadi," ucap Caca.


Aril menghela napas, "Lebih baik kita pulang sekarang!"


Caca mengangguk. Mereka berdua pun turun dari rumah pohon tersebut dan Aril mengantarkan Caca pulang.


...****************...


Hansel dan Alina memutuskan tidur bersama dengan kedua orang tuanya. Kedua bocah itu sudah tertidur pulas di tengah-tengah orang tuanya, sementara Irsyan dan Aurora masih terjaga.


"Kasian banget Mila sama Vino," lirih Aurora. Ia membayangkan jika dirinya berada di posisi Mila, pasti ia akan sangat terpukul.


Irsyan turun dari ranjang menghampiri Aurora, ia duduk di samping Aurora dan bersandar pada headboard ranjang, untung ranjang tersebut king size jadi mereka tidur tidak merasa kesempitan.


"Mas juga kasian sama mereka. Tapi ini sudah takdir dari Allah, kita tidak mungkin menyalahkan qodarullah dari-Nya."


Aurora membenarkan ucapan Irsyan. Matanya melihat ke arah kedua anaknya. "Semoga nanti kita bisa menemani anak-anak hingga mereka dewasa ya, Mas? Aku sangat ingin melihat mereka bertumbuh dewasa dan bahagia dengan pasangan mereka masing-masing," ucapnya dan di aminkan oleh Irsyan.


"Ayo kita tidur sayang," ajak Irsyan dan Aurora hanya mengangguk. Kemudian mereka mulai memejamkan mata mengikuti kedua anaknya pergi ke alam mimpi.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2