
Kejadian semalam membuat Aril yang dulu kembali, dingin dan datar. Caca menduga ini karena perihal semalam, ia menyesal karena telah mengeluarkan kata-katanya yang membuat Aril sakit hati.
Aura di dalam mobil begitu dingin, bukan karena dinginnya AC tapi karena dia manusia beda kelamin tengah saling diam, tak ada yang sepatah katapun mereka keluarkan. Caca begitu canggung bersama Aril. Ia yang biasanya ceria dan penuh dengan pernyataan, seakan bungkam dan takut mengeluarkan suaranya.
"Ril, aku mau--"
"Kita sudah sampai, Nona," sela Aril tanpa menatap Caca. Ia keluar dari mobil berjalan memutar sembari membukakan pintu mobil untuk Caca. Sementara Caca hanya bisa menghela napas panjang.
Masuk ke dalam gedung, Caca sudah di sapa Lucas yang memang berniat menunggunya. Raut wajah Aril semakin dingin dan menyeramkan ketika melihat Lucas.
"Selamat pagi, Nona Caira," sapa Lucas dengan senyum yang lebar.
"Pagi juga kak Lucas," balas Caca. Matanya melirik ke arah sudut bibir Lucas yang membiru. "Wajah kakak sudah baikan kan?"
"Oh ini." Lucas memegang sudut bibirnya lalu berkata, "Aku gapapa kok, hanya kemarin sedikit perih."
"Sudah di obati?" tanya Caca.
Lukas menggeleng, "Belum, kemarin aku cuma kompres pakai es batu aja."
"Gimana kalau aku--"
"Saya permisi, Nona," potong Aril tanpa menyapa Lukas.
Caca menatap sendu kepergian Aril, tatapan Caca kepada Aril tak luput dari perhatian Lukas. Lukas begitu yakin jika Caca memiliki perasaan kepada Aril. Tapi ia tidak boleh goyah dan putus asa, Lukas harus bisa memenangkan hati Caca.
Di dalam meeting, walaupun marah dengan Caca, Aril telah profesional dalam pekerjaan dan mengesampingkan urusan pribadi. Caca begitu kagum dengan cara Aril menjelaskan tentang beberapa perhiasan terbaik dari YH GROUP yang akan di pamerkan pada pameran perhiasan internasional yang akan dilangsungkan tinggal 2 minggu lagi. Perusahaan mengundang orang-orang penting dan pengusaha berpengaruh di Indonesia hingga mancanegara.
Suara riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan tersebut setelah Aril selesai presentasi. Entah kenapa Lucas tidak suka melihatnya.
"Ril, kita makan siang bareng yuk," ajak Caca.
"Maaf saya tidak bisa, Nona. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Aril lalu keluar dari ruang meeting.
Caca membuang napas berat, Aril sepertinya sedang menghindarinya. Semalam itu ucapannya memang sudah keterlaluan. Sebuah usapan di kepalanya membuat Caca tersentak.
__ADS_1
"Kita makan siang yuk," ajak Lucas.
Caca mengangguk dan tersenyum. Ia dan Lucas keluar dari ruang meeting, berjalan beriringan menuju ke kantin. Banyak karyawan berbisik-bisik tentang kedekatan mereka. Banyak dari mereka mendukung hubungan Caca dan Lucas, tapi tentu juga ada yang tidak menyukainya. Lucas dikenal sebagai salah satu orang paling populer di YH GROUP karena ketampanan dan kebaikannya kepada semua karyawan disana.
"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" tanya Caca sedikit risih.
"Mungkin mereka iri dengan kecantikan mu," jawab Lucas sekenanya.
"Cih jawaban apaan itu?" ucap Caca sambil tertawa kecil.
"Kamu memang cantik bahkan dari masih kecil sampai aku selalu memikirkan mu."
Caca mendelik, "Kakak bercanda?"
"Ngapain kakak harus bercanda," ujar Lucas sambil mencubit gemas pipi Caca.
"Sakit kak!" sungut Caca membuat Lucas tertawa.
Aril dan Naufal pergi ke kantin untuk makan siang. Tak sengaja Aril menatap ke meja yang berisikan Caca dan Lucas. Ia mengepalkan tangannya saat melihat dengan beraninya Lucas menyentuh dan menyeka bibir Caca yang terdapat bekas saus.
Aril menggeleng, "Gapapa."
Naufal hanya manggut-manggut. Walau sebenarnya ia tau jika sahabatnya itu tengah memendam sesuatu.
Kabar duka dari keluarga kecil Mila. Sang suami, Satria telah gugur saat menjaga di pedalaman pulau P sana. Ia tertembak saat bertugas oleh orang-orang kelompok kriminal bersenjata. Satria telah berpulang ke pangkuan Tuhan, meninggalkan istri dan satu anak laki-laki yang baru berusia 6 tahun diberi nama Rafqi Alvino Adikarya.
Satria dimakamkan di pemakaman pahlawan yang berada di kota M atas perintah dari orang tuanya, tentunya dengan aturan pemakaman secara kedinasan. Di atas pusara Satria, Mila terus nangis sejadi-jadinya, ia begitu terpukul atas kepergian suaminya. Mila tak menyangka Satria akan pergi meninggalkan dirinya dan anaknya selama-lamanya.
"Mas, kenapa kamu harus pergi meninggalkanku dan Vino untuk selama-lamanya. Vino masih membutuhkanmu," isak Mila sambil mengusap batu nisan yang berisikan nama sang suami. Ia kembali mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Satria.
Aurora, Irsyan dan para sahabatnya yang datang mengantarkan Satria ke peristirahatan terakhir ikut menangis. Mereka merasa kehilangan dan iba, apalagi melihat Vino yang masih kecil harus ditinggalkan oleh ayahnya.
"Mila, pulang yuk nak. Ini sudah mau magrib," ucap Rahma membujuk putrinya.
Mila menggeleng, "Mila masih mau disini, Ma."
__ADS_1
"Iya benar kata Mama mu. Jangan terlalu berlarut-larut meratapi kepergian Satria, dia disana bisa sedih," sahut Lena mencoba untuk tegar.
"Tapi Bun--"
"Ikhlaskan kepergiannya, nak. Agar Satria tenang di sana. Ingat ada Vino yang masih harus kamu perhatikan juga," ucap Lena.
Mila semakin nangis sesenggukan, dengan sigap Lena memeluk menantunya itu. Setelah merasa lebih tenang, Mila pun bisa di ajak untuk pulang.
Di rumah Wildan, orang tua Satria mengadakan pengajian setelah selesai sholat magrib. Banyak dari keluarga sahabat Satria dan sahabat Mila datang ke acara tersebut. Aurora, Irsyan dan lainnya yang ikut ke pemakaman tadi tidak pulang, melainkan mereka langsung ke rumah orang tua Satria.
Setelah selesai pengajian, Vino pergi ke arah belakang rumah kakeknya. Ia duduk di bangku taman sambil menatap ke atas langit yang penuh dengan bintang-bintang.
"Ayah... Apa Ayah bahagia di atas sana? Vino merindukan Ayah," lirih Vino. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar juga.
"Kakak sedang apa disini?" tanya Alina membuat Vino tersentak dan buru-buru menghapus air matanya.
"Kamu yang ngapain disini?" tanya balik Vino dengan tatapan sinis.
"Aku kesini mau temani kakak," jawab Alina tersenyum manis.
"Pergi sana! Aku mau sendirian disini," usir Vino.
Alina menggeleng cepat, "Tidak mau. Alina mau temani kakak! Kakak habis nangis ya?" tebaknya.
"Nggak kok!" elak Vino.
"Kalau mau nangis, nangis saja kak. Alina akan menemani dan mendengarkan cerita kakak," ucap Alina. Bocah yang sebentar lagi berumur 4 tahun itu seperti mengerti apa yang dirasakan oleh Vino. Mata Vino kembali berembun dan akhirnya air matanya tumpah lagi.
Alina mengusap punggung Vino, "Kakak yang sabar ya. Kakak boleh bersedih, tapi jangan lama-lama. Nanti om Satria di surga juga ikut sedih."
Di belakang mereka, ada Irsyan dan Aurora yang tersenyum melihat serta mendengar ucapan kedua bocah itu.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1