GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 89


__ADS_3

Irsyan baru saja sampai di halaman rumah dan di tangannya menenteng pesanan Aurora.


"Sayang!" teriak Irsyan berharap sang istri mendengar teriakannya.


Irsyan meletakan makanan yang ia bawa di atas meja dapur, kemudian Irsyan berjalan ke arah halaman belakang rumah untuk menemui Aurora.


Ia melihat Aurora sedang sibuk menggunting tangkai-tangkai bunga mawar. Irsyan tersenyum memandangi wanita cantik yang tengah berbadan dua itu, ia berjalan perlahan tanpa membuat suara.


Irsyan langsung memeluk Aurora dari belakang membuat wanita itu terperanjat.


"Lagi apa sih sayang? Serius banget," tanya Irsyan sambil mencium leher istrinya.


"Ya Allah Mas! Bikin aku kaget aja, kalau aku kena serangan jantung gimana?" kesal Aurora sambil menyikut pelan perut Irsyan.


"Hehe iya maafin Mas, sayang," ucap Irsyan mengecup pipi Aurora.


"Mas mau cium aroma bunga mawarnya dong," pinta Irsyan. Aurora mengarahkan setangkai bunga mawar ke arah hidung suaminya.


"Harum, seperti kamu sayang."


"Iya lah Mas, aku kan pakai parfum mawar. Enak kan wanginya, Mas?" tanya Aurora.


"Hem, jadi pengen nyium kamu juga deh," ujar Irsyan sambil mengeratkan pelukannya.


"Ya tinggal cium aja apa susahnya sih."


"Mas pengen cium kamu dari atas sampai bawah tanpa penghalang," ucap Irsyan yang hasratnya mulai memuncak.


"Maksud Mas apa?"


Irsyan membalikan tubuh Aurora untuk menghadapnya, lalu memegang kedua pipi Aurora, "Boleh nggak sayang?"


Dahi Aurora mengkerut, ia tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suaminya itu.


"Maksud Mas apa sih? Aku nggak ngerti."


"Kita gelut di ranjang sayangku," ucap Irsyan memperjelas membuat mata Aurora seketika membulat.

__ADS_1


"Nggak! Aku capek Mas, ini juga masih siang ya!" tolak Aurora.


"Ya udah deh, nanti malam aja. Kamu nggak kasihan apa sama Mas? Kita bakalan nggak ketemu selama dua minggu loh sayang," tutur Irsyan dengan nada mendramatisir agar istrinya itu menyetujui ajakannya.


"Nanti aja deh kita liat."


CUP!


Tanpa aba-aba Irsyan meraup bibir mungil Aurora, lidahnya dengan lincah bermain di dalam mulut istrinya. Aurora dengan hati membalas ciuman Irsyan, ia menjatuhkan bunga mawar yang ia bawa dan mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Cukup lama mereka saling menukar saliva hingga Aurora menarik kepalanya saat ia merasa pasokan oksigen dalam tubuhnya menipis.


"Mas mau lagi sayang." Aurora memundurkan wajahnya saat Irsyan akan menciumnya lagi.


"Nggak! Aku laper, Mas udah belikan pesanan aku kan?"


"Udah sayang, makanannya ada di dapur," jawab Irsyan dan dengan tanpa basa-basi, ia mengangkat tubuh Aurora seperti mengendong bayi koala.


“Mas kebiasaan deh kalau mau gendong itu nggak ngomong dulu!” Aurora mengigit leher Irsyan gemas, kelakukan Irsyan sangat membuatnya ingin menukar tambah suaminya itu dengan oppa-oppa korea.


“Awwshh sakit sayang,” ucap Irsyan meringis, namun begitu ia masih sempat-sempatnya tertawa setelah Aurora melepas gigitannya.


“Kenapa?”


“Tadi aku dikirimi bunga lagi sama orang itu.” Aurora melirik ke arah buket bunga mawar yang ia taruh di atas meja tadi, Irsyan pun ikut melirik ke arah buket bunga tersebut.


“Nanti buang bunga itu! Mas nggak mau ada orang lain yang memberikanmu bunga selain Mas!” ucap Irsyan posesif.


Irsyan juga sangat heran dengan orang yang sering mengirimkan bunga ke istrinya, apa dia seorang laki-laki atau perempuan? Kalau orang itu adalah laki-laki, apa dia tidak tau jika Aurora itu sudah menikah? Irsyan harus segera menyelidikinya, jangan sampai hal ini bisa merusak keharmonisan keluarga kecilnya dengan Aurora.


Sedangkan jika orang itu adalah seorang perempuan, apa iya dia mengirimkan bunga ke sesama perempuan dengan kata-kata yang romantis, Irsyan bergidik geli jika itu benar.


“Iya terserah Mas aja, aku sih ngikut aja,” balas Aurora yang tak mempermasalahkan hal itu.


“Oke sayang, nanti biar kang ujang yang membuangnya.” Irsyan membawa Aurora masuk ke dalam, berjalan menuju ke dapur.


Irsyan mendudukkan Aurora di kursi meja pantry dan ia ikut duduk di samping istrinya itu. Mata Aurora langsung berbinar melihat rujak manga didepannya, tangannya hendak mengambil kresek yang berisikan rujak itu, namun dengan cepat ditahan oleh Irsyan.


“Makan nasi dulu, kalau makan rujak duluan nanti perut kamu sakit,” usul Irsyan yang menjauhkan kresek tadi dari hadapan Aurora.

__ADS_1


Aurora memanyunkan bibinya sambil melipat tangannya di depan dada, seraya berkata, “Aku mau makan itu Mas,” rengeknya dengan suara manja sambil menggoyangkan lengan Irsyan berharap suaminya itu mau menuruti keinginannya.


“Makan nasi dulu ya sayang?’ ujar Irsyan dengan lembut sambil mengecup singkat kening Aurora. Aurora pun langsung mengangguk patuh.


Irsyan mulai menyuapi nasi ditambah dengan ayam penyet kepada Aurora, “Ayamnya banyakin, sambalnya juga. Tapi aku nggak mau pakai mentimun, aku nggak suka,” pinta Aurora yang memang tidak menyukai mentimun, padahal banyak sekali manfaatnya, diantaranya kaya antioksidan, mengontrol kadar gula darah, mengontrol tekanan darah dan lain sebagainya.


“Iya sayang, aku tau semua yang kamu suka dan nggak kamu suka,” balas Irsyan.


“Tapi Mas nggak tau kan kalau aku itu nggak suka sama Mas."


Tanpa menatap Aurora, Irsyan langsung menghentikan pergerakan sendoknya, tangannya seketika gemetaran mendengar ucapan Aurora tadi.


“Oh,” jawab Irsyan singkat dan dengan nada yang datar.


Aurora tertawa kecil, padahal tadi ia hanya bercanda namun Irsyan yang mungkin tengah sensitive apa gimana dengan mudahnya memasukan ucapan Aurora ke dalam hati. Aurora segera melingkarkan tangannya ke pinggang Irsyan dari samping sambil menatap mata suaminya dari bawah.


“Aku bercanda Mas, mana mungkin sih aku nggak suka sama Mas, aku aja udah cinta mati sama Irsyan Haris Candra,” ucap Aurora meyakinkan Irsyan sambil mengelus perut suaminya dari dalam baju.


“Sumpah bercandaan kamu nggak lucu sayang,” lirih Irsyan dengan mata yang berkaca-kaca. Aurora melepas pelukannya dan beralih duduk mengangkang di pangkuan Irsyan, lalu memeluk erat leher suaminya. Irsyan pun membalas pelukan aurora tak kalah eratnya.


“Jangan ngomong kayak gitu lagi, Mas nggak suka dengernya.”


"Iya, janji nggak akan lagi.” Aurora melepaskan pelukannya dan mencium ujung hidung Irsyan yang mancung itu. Hati Irsyan langsung bergemuruh saat aurora menciumnya seperti tadi.


“Yang ini juga dong sayang,” pinta Irsyan sambil menunjuk bibirnya.


“Nanti, aku mau makan dulu.” Aurora turun dari pangkuan Irsyan dan mulai memakan makanannya lagi tanpa disuapi Irsyan.


Tanpa mereka berdua sadari sedari tadi Harun dan Jihan melihat dan mendengar obrolan sang putra dan menantunya itu.


"Semoga mereka selalu bahagia dan langgeng ya Pa," ucap Jihan sambil memeluk suaminya dari samping.


"Aamiin. Kalau ada orang yang berani menganggu atau merusak kebahagiaan anak-anak kita, aku nggak akan segan-segan membuat dia menyesal dan jera," timpal Harun dengan nada serius. Bahkan yang membuat ayah dari Nina masuk ke penjara itu karena Harun yang melaporkannya bukan Jihan. Harun melaporkan Doddy itu sebab Doddy memang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan merugikan negara.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2