
"Bi Irah, Bi Mimin!" teriak Caca memanggil dua pelayan nya. Suara gadis itu menggema di rumah besar tersebut.
"Kenapa sih sayang? Kamu kok teriak-teriak gitu?' tanya Ranti.
"Mommy liat Moly nggak? Hanya Milky saja yang ada di kandangnya," tanya Caca. Moly dan Milky merupakan kucing Persia berjenis kelamin betina dan jantan, kedua kucing itu peliharaan kesayangan Caca.
"Mommy nggak tau nak, kok Moly bisa nggak ada di kandangnya?"
"Caca juga nggak tau. Bantuin Caca mencari Moly, Mom," pinta Caca dengan wajah memelas nya.
Ranti mengangguk, ia tak bisa jika sudah melihat putrinya itu bersedih. Ranti pun segera mengerahkan semua pekerja di rumahnya untuk mencari keberadaan kucing betina tersebut.
Sudah hampir 1 jam lamanya mereka mencari keberadaan Moly di rumah, namun hasilnya nihil, entah kemana kucing itu pergi atau bersembunyi. Tapi Caca tetap kukuh menyuruh mereka terus mencari keberadaan kucingnya, bahkan sang Daddy ikut kelimpungan mencarinya.
"Maaf Tuan," ucap salah satu security.
"Gimana Deni?"
"Setelah kami cek cctv di rumah ini, sepertinya kucing milik Nona keluar dari rumah pada pukul 5 sore tadi," jelas Deni yang tadi mengecek cctv dan ternyata si Moly keluar tanpa ada yang mengetahuinya.
"Apa! Kok bisa? Apa pak Satpam lupa menutup gerbang?" tanya Caca dengan nada kesal.
"Maafkan atas keteledoran kami, Nona," ucap Ucup, Security lainnya.
"Daddy, ayo cari Moly, pasti dia kelaparan dan kedinginan di luar sana," rengek Caca. Seorang cat lovers atau pecinta kucing pasti tau gimana perasaannya ketika kucing mereka menghilang.
"Kita beli kucing yang baru saja ya nak? Nanti Daddy belikan kamu kucing yang lebih cantik dan mahal, gimana?" tawar Wilson membujuk Caca.
"Nggak mau, Dad. Caca udah sayang banget sama Moly," ucap Caca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Wilson menghela napas panjang, pria paruh baya keturunan Turki itu selalu tidak bisa tidak menolak permintaan anaknya, apalagi melihat sampai melihat sang putri akan menangis seperti itu. Caca memang sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
"Iya ayo kita cari di luar, siapa tau masih ada di sekitaran sini."
"Tapi ini sudah malam, Daddy," sahut Ranti.
"Gapapa sayang, dari pada Caca sedih. Mommy tau kan Daddy paling nggak bisa liat Caca sedih," kata Wilson, Ranti menghela napas dan mengangguk.
"Daddy dan Mommy memang yang terbaik. Ayo Dad, Mom," ajak Caca sambil menarik tangan kedua orang tuanya untuk keluar.
__ADS_1
Caca, kedua orang tuanya dan para pekerja dirumahnya, kecuali security pergi keluar mencari Moly. Mata Caca terus menatap kesana-kemari mencari keberadaan kucingnya itu, sesekali melihat ke atas pohon siapa tau saja Moly ada disana, bahkan sekarang mereka mencari Moly cukup jauh dari rumah.
Seketika mata Caca berbinar saat melihat Moly dan kucing itu sedang duduk dengan santainya di tengah jalan.
"Moly!" teriak Caca dengan berlari mendekati kucingnya itu.
"Hati-hati, sayang!" tegur Ranti.
Caca berjongkok mengambil Moly dan langsung memeluknya, "Ternyata kamu disini sayang, Mami lelah mencari mu," lirih Caca. Dia memang sering memanggil dirinya dengan sebutan Mami jika sudah bersama kucing-kucing nya, entah siapa yang menjadi Papinya.
Semua orang yang ikut mencari Moly akhirnya bisa bernapas lega, tapi tak lama mata mereka terbelalak saat melihat sebuah mobil melaju kencang ke arah Caca.
"Caca awas mobil!"
"Non Caca, awas!" teriak semuanya.
Caca melihat ke arah kanan dan ia pun berteriak, "Arrgghh!"
Dari arah kiri seseorang turun dari motornya bahkan ia tak memikirkan motornya yang jatuh begitu saja karena lelaki itu tidak menurunkan standar motornya, tak peduli dengan motor sport pemberian dari sang kakak akan lecet begitu saja.
Lelaki itu segera berlari lalu dengan cepat menarik tangan Caca, mereka limbung dan terjatuh dengan Caca menindih tubuh lelaki yang menolongnya itu.
"Kok nggak sakit sih?" gumam Caca masih memejamkan matanya.
"Aril!" seru Caca, lantas ia berdiri dari atas tubuh Aril dengan masih memeluk Moly. Aril pun juga ikut berdiri dengan sedikit ringisan keluar dari bibir lelaki itu.
"Lo gapapa kan?" tanya Aril.
"Gue gapapa cuma syok aja, makasih ya udah nolongin gue," ucap Caca tulus dan dibalas anggukan oleh Aril. Kedua orang tua Caca dan para pekerjanya langsung bernapas lega karena ada orang yang menolong Caca, mereka semua segera menghampiri Caca.
"Kamu nggak apa-apa kan nak?" tanya Ranti khawatir.
"Caca gapapa kok, Mom."
"Makasih ya nak Aril udah nolongin anak saya," ucap Wilson.
"Iya sama-sama Om," balas Aril. Caca terkejut melihat lengan baju kaos putih yang dikenakan Aril mengeluarkan darah.
"Tangan lo berdarah Ril?" pekik Caca. Aril menatap ke arah lengan kanannya dan benar saja mengeluarkan darah, pantas saja ia merasakan sakit di bagian itu, mungkin tadi lengan kanan bagian belakangnya itu terkena batu krikil yang ia tindih.
__ADS_1
"Ya Ca, mungkin tadi kena batu krikil yang gue tindih," jelas Aril.
"Ayo obati dulu nak, takutnya nanti luka kamu bisa infeksi," ujar Ranti khawatir melihat luka di lengan Aril. Aril mengangguk menerima ajakan Ranti, daripada darahnya keluar bertambah banyak nantinya.
Aril duduk di sofa ruang tamu bersama dengan orang tua Caca, sedangkan Caca sedang mengambil kotak P3K.
"Katanya Caca, kamu jago bela diri ya nak?" tanya Wilson.
"Iya bener Dad, dia juga selalu rangking satu di kelas dan jadi ketua tim basket di sekolah." Bukannya Aril yang menjawab, tapi Caca lah yang tiba-tiba menyahut sambil membawa kotak P3K.
"Wah pintar sekali kamu nak, pasti orang tuamu sangat bangga denganmu," timpal Ranti.
"Iya alhamdulilah Tante," balas Aril sungkan sebab ia tak suka jika sudah di puji berlebihan seperti itu.
"Kemarin aja dia yang ajarin Caca belajar sampai nilai ulangan Caca jadi bagus semua, Mom, Dad." Caca terus membanggakan Aril di depan orang tuanya.
"Makasih ya nak Aril, kami jadi berutang budi kepadamu," ucap Wilson. Aril semakin tak enak hati dibuatnya.
"Iya sama-sama Om, sesama teman kan harus saling membantu."
Wilson dan Ranti tersenyum mendengar kerendahan hati Aril.
"Sini Ril, gue obati luka lo." Aril menyerahkan tangannya yang luka tadi dan kedua orang tua Caca izin pergi ke kamar, jadi hanya mereka berdua saja di ruang tamu.
Dengan telaten Caca membersihkan luka Aril, entah mengapa jantung Aril berdegup kencang tak seperti biasanya saat dekat dengan Caca. Kulit putih bersih, hidung mancung, bulu mata lentik dan bibir ranum khas kecantikan perempuan timur tengah membuat Aril tersihir melihat wajah Caca sedekat ini.
Sampai aroma sampo yang digunakan Caca pun menguar masuk ke hidung Aril. Sial, semakin membuat Aril tidak bisa berpikir jernih saja.
"Sakit ya Ril?" tanya Caca. Aril yang ditanya seketika gelagapan takut ketahuan jika dirinya sedari tadi memerhatikan Caca.
"Ah itu hanya sedikit perih."
"Maaf ya karena gue, lo jadi luka begini?" sesal Caca.
"Udah gapapa Ca, ini lukanya nggak seberapa kok. Paling sembuhnya cuma sebentar," ucap Aril menenangkan Caca agar gadis itu tidak terlalu menyalahkan diri.
"Sekali lagi makasih Ril, mungkin kalau bukan lo yang nolongin gue, mungkin gue udah me--"
"Udah jangan di bahas, sekarang lo baluti luka gue," sela Aril dengan wajah datar. Dia tak suka jika gadis itu membahas tentang kematian. Caca mengangguk dan kembali fokus membalut luka pada lengan Aril.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.