GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 191


__ADS_3

Pagi harinya, di halaman belakang rumah besar Irsyan...


Aurora mengajak kembali para sahabatnya berkumpul bersama mumpung weekend. Tak lupa juga mereka membawa anak-anak mereka kesana. Para orang tua bercengkrama di gazebo sedangkan anak-anak mereka bermain di taman.


"Kapan nih kalian nambah anak?" tanya Irsyan. Diantara mereka, hanya ia dan Aurora lah yang memiliki anak lebih dari satu.


"Secepatnya," sahut Wawan sambil mengelus perut Nina.


"Jangan bilang istri lo lagi bunting?" tebak Mila.


"Buaya kali bunting!" celetuk Andre.


"Itu buntung, gila!" balas serempak para wanita. Andre langsung terbahak melihat wajah protes dari para wanita itu.


"Doakan saja," sahut Nina tersenyum.


"Berarti bener kalau istri lo lagi hamil?" tanya Kiran.


Wawan dan Nina mengangguk dengan serempak membuat mereka heboh dan bertepuk tangan.


"Selamat sebentar lagi kalian kembali akan menjadi orang tua!" seru Aurora.


Sementara Mila hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba ia mengingat suaminya dan hatinya terasa sesak. Mila teringat perkataan Satria jika suaminya itu menginginkan anak lagi. Satria berjanji setelah kembali bertugas dari pulau P, ia dan Mila akan melakukan program kehamilan. Tapi takdir sudah berkata lain...


Wajah Mila yang sedih itu tak luput dari perhatian Andre. Pria itu segera memberitahukan istrinya dengan menyikut pelan lengan Kiran.


"Kenapa sayang?" tanya Kiran heran. Andre memberi isyarat lewat dagunya yang mengarah ke Mila. Kiran langsung melihat Mila yang duduk di samping Aurora.


"Mil, besok kalau Vino masuk SD, masukin aja ke SD Antariksa. Biar samaan kayak anak-anak kita," ujar Kiran mencoba menghibur Mila.


"Insya Allah, Ki. Memang gue juga lagi nyari SD yang bagus buat Vino."


"Iya masukin aja kesana. Itu sekolah favorit disini," timpal Andre.


Alina bermain istana pasir bersama Jendra, Vino bermain sepak bola. Sedangkan Hansel dan Zhafira saling kejar-kejaran, karena kejahilan Zhafira menaruh krim cupcake ke pipi Hansel membuat Hansel kesal dan mengejar Zhafira.


"Ayo kejar aku!" teriak Zhafira sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu, Zhafira! Kalau ketangkap aku gelitikin kamu!" balas Hansel.


"Ihh takut! Hahaha ..."


Saking kencangnya Zhafira berlari ia tidak melihat ada batu di depannya membuat dirinya tersandung dan terjatuh.


"Aduhh!" ringis Zhafira menekuk kedua lututnya. Hansel segera menghampiri Zhafira, berjongkok di depan gadis kecil itu dengan wajah khawatir.


"Kamu gapapa kan?"


"Kaki aku sakit Hans," keluh Zhafira.


Hansel kaget melihat lutut Zhafira yang berdarah. Ia membalikkan badannya, menyuruh Zhafira untuk naik ke atas punggungnya. "Ayo naik!"

__ADS_1


"Tapi nanti kamu keberatan," ucap Zhafira.


"Gapapa. Ayo naik! Lutut kamu harus segera di obati, takutnya nanti terkena infeksi."


Akhirnya Zhafira mengangguk, lalu dengan tertatih ia menaiki punggung Hansel. Hansel segera mengangkat tubuh Zhafira.


Alina, Vino dan Jendra yang melihat mereka berdua, sontak terkejut. Mereka bertiga langsung mengikuti Hansel dan Zhafira. Sama dengan para bocah itu, para orang tuanya pun ikut terkejut dan khawatir.


"Zhafira sayang, kamu kenapa nak?" tanya Nina. Hansel menurunkan Zhafira dengan pelan.


"Zhafira tadi nggak sengaja tersandung batu pas berlari, Tante," jawab Hansel.


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi, nak. Jangan ceroboh seperti tadi," nasehat Wawan pada putrinya.


"Iya, Yah."


Aurora datang membawa kotak P3K dan memberikannya kepada Nina. Nina segera mengobati luka di lutut putrinya.


"Sttt sakit, Bu. Pelan-pelan," pinta Zhafira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya nak, ini Ibu sudah pelan-pelan. Kamu tahan ya?"


Zhafira hanya mengangguk.


...****************...


Berbeda di tempat lain setelah kejadian di kantor kemarin, semua orang berkumpul di kamar Caca. Dari tuan Ibrahim, Arsal, Kalina, Aril, Naufal, Elang, Lucas dan Bimo. Mereka disana berkumpul atas suruhan tuan Ibrahim. Kakek tua itu sangat marah dan kecewa karena insiden di kantor tadi, sampai membuat cucu kesayangannya hampir sekarat.


"Bahkan cucuku sampai dikorbankan!" Tuan Ibrahim menunjuk Caca yang masih pingsan di atas ranjang. Caca kembali pingsan saat tim penyelamat membawanya keluar dari YH GROUP dan belum sadar hingga saat ini.


"Dengarkan semua. YH GROUP memang bisa dijatuhkan. Tetapi, jika terjadi sesuatu pada cucuku, kalian semua harus bertanggung jawab!" tegas tuan Ibrahim sambil menunjuk semua orang yang ada di kamar tersebut.


Mereka semua hanya bisa diam dan menunduk saat tuan Ibrahim mengeluarkan amarahnya. Kecuali Arsal dan Ibunya, yang sangat iri dan semakin geram melihat Caca yang selalu dibela serta diutamakan oleh tuan Ibrahim daripada mereka berdua.


"Kakek ..." Caca mulai sadar dari pingsannya.


Tuan Ibrahim menoleh ke arah Caca, "Caca." Beliau segera menghampiri cucunya berjalan menggunakan tongkat dan duduk di single sofa yang berada di samping kiri ranjang.


'Syukurlah nona Caira udah siuman,' batin Aril, Naufal dan Elang merasa lega.


"Caca cucuku ..." Tuan Ibrahim memegang tangan Caca.


"Gimana keadaanmu? Apakah kamu sudah merasa baik?" tanya tuan Ibrahim, dari wajah yang penuh keriput itu terlihat sangat khawatir.


"Caca baik-baik saja, kek. Caca hanya sedikit pusing," jawab Caca lemah.


"Dokter kemarin memeriksa mu, dia mengatakan kamu menghirup terlalu banyak asap, membuat dirimu harus mendapatkan luka bakar di tenggorokan dan saluran pernapasanmu... Apakah kamu merasa baik sekarang? Atau kakek panggilkan Dokter lagi?" tanya tuan Ibrahim.


"Tidak usah, kek. Caca benar baik-baik saja," tolak Caca.


"Benarkah? Jangan membuat kakek menjadi khawatir... ketika kakek mendengar tentang mu kemarin, kakek tidak bisa tidur sepanjang malam," kata tuan Ibrahim lirih. Caca sedikit merasa bersalah karena dirinya, kakeknya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Kakek... maafkan, Caca. Karena sudah membuatmu khawatir."


"Caca... kamu adalah segalanya bagi keluarga Harsa. Karena kamu ada, keluarga Harsa ada. Jika sesuatu terjadi padamu, keluarga Harsa akan hancur."


Arsal tidak terima dengan ucapan kakeknya tadi, seperti tidak menganggap keberadaan dirinya dan ibunya di keluarga Harsa. "Kakek memangnya kami--"


Kalina menahan lengan putranya yang ingin protes kepada tuan Ibrahim, walau sebenarnya ia juga sangat marah dengan ucapan ayahnya tadi. Arsal menghembuskan napas kasar, ia mencoba menahan emosinya.


"Kakek... Aku telah membuat kalian semua khawatir, maafkan aku. Tapi sekarang Caca baik-baik saja. Kakek harus istirahat juga."


Tuan Ibrahim mengangguk, "Karena kamu sudah bangun kakek merasa sangat lega," ucapnya. Dengan sigap Bimo membantu beliau untuk berdiri.


"Aril!" panggil tuan Ibrahim. Aril yang memang sedari tadi berdiri di samping ranjang Caca sebelah kanan langsung menatap ke arah tuan Ibrahim.


"Saya, ketua," ucap Aril dengan sopan.


"Kamu menikahlah dengan cucuku!" ucap tuan Ibrahim dengan tegas. Beliau sudah mengetahui jika cucunya itu menyukai Aril sejak dulu. Mungkin dengan cara ini, tuan Ibrahim bisa menyatukan dua insan itu dan beliau percaya jika Aril bisa melindungi Caca.


Ucapan tuan Ibrahim tadi membuat semua orang di dalam ruangan sangat syok, terutama Aril, Caca dan Lucas. Lucas tidak terima jika wanita yang ia cintai sejak dulu harus menikah dengan laki-laki lain. Rasanya ia ingin protes kepada tuan Ibrahim, tapi ia harus menjaga image ayahnya di depan kakek tua itu.


Caca mencoba untuk duduk dan Bimo segera membantunya, "Kakek ..."


"Saat ini YH GROUP, seperti ayam tanpa kepala. Bahkan jika Caca menggantikan ku sebagai presiden, akan ada orang yang tidak dapat menerimanya. Aku akan mengatur pernikahan Caca dan Aril serta mengadakan pesta pernikahan besar-besaran," ucap tuan Ibrahim.


"Ini akan menunjukkan kepada mereka yang mengincar YH GROUP untuk membuka mata dan melihat bahwa Caca adalah pemilik baru YH GROUP!" sambungnya dengan tegas.


Sebelum keluar dari kamar Caca, tuan Ibrahim menghentikan sejenak langkahnya. "Orang tuamu sedang perjalanan kesini dan akan sampai esok hari untuk membicarakan tentang pernikahan kalian!" Beliau memang sudah merencanakan hal ini dengan Ranti dan Wilson, mereka berdua pun setuju dengan rencana dari tuan Ibrahim tersebut.


Semua orang keluar dari kamar meninggal Caca dan Aril berdua disana. Kedua insan itu saling pandang dan merasa canggung.


Aril berjalan pelan menuju ke samping kiri Caca, "Aku sudah mengambil perhiasan yang akan di pamerkan. Itu telah di desain ulang. Aku sudah meminta Elang untuk mengirimkannya ke pameran perhiasan. Aku yakin YH GROUP tidak akan jatuh ke dalam perangkap lagi," ucapnya lalu duduk di sofa single tempat tuan Ibrahim duduki tadi.


Caca merasa kagum dengan tindakan cepat yang Aril lakukan. Bahkan ia tidak bisa berpikir sejauh itu.


"Tidak ada kebakaran di perusahaan kemarin. Sebaliknya, seseorang telah menaruh kepulan asap yang menjalar ke semua saluran udara dan alirannya di arahkan ke ruangan mu," jelas Aril. Caca terkejut dengan penuturan Aril tadi. Siapa yang tega melakukan hal itu kepadanya?


"Aku sudah menempatkan tim keamanan baru dan mengirim rekaman Cctv ke Naufal untuk diselidiki sebelum dibawa ke pihak berwajib. Aku berjanji ini tidak akan terulang lagi," ucap Aril bersungguh-sungguh.


Caca tersenyum dan mengangguk, "Aku percaya padamu."


Aril mengangkat tangannya lalu mengarahkan punggung tangannya ke dahi Caca membuat sang empu tertegun.


"Masih pusing? Haruskah aku menelepon ..." Ucapan Aril terhenti saat ia dan Caca saling pandang dari jarak dekat.


Aril yang sedikit salah tingkah pun langsung menjauhkan tangannya dari dahi Caca dan membuang pandangannya ke arah lain. "Aku akan menelepon Dokter untukmu."


Saat Aril akan pergi, dengan cepat Caca menahan tangannya.


"Ayo kita menikah!"


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2