
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...****************...
Jika kemarin hari jumat berarti hari ini adalah hari sabtu dan hari ini juga Aurora libur bekerja. Ia saat ini berada di salah satu pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan makanan. Aurora lebih memilih belanja di pasar tradisional karena menurutnya harganya lebih terjangkau daripada di supermarket. Yah, walaupun uang suaminya banyak, tapi Aurora tidak boleh boros karena itu sudah diajarkan sedari kecil oleh kedua orang tuanya.
Aurora berencana akan membuatkan makan siang untuk sang suami dan membawakannya ke rumah sakit.
"Cuminya berapa ya sekilo, bang?" tanya Aurora pada penjualnya.
"Untuk neng Geulis mah gratis, kalau mau jadi istri ke lima 'Aa," jawab penjual itu mencoba menggoda Aurora.
Aurora melongo mendengar ucapan penjual itu, ia bingung harus menangis atau tertawa. Bukannya mau menghina fisik atau gimana, masalahnya perbedaan antara Irsyan dengan penjual itu sangatlah jauh berbeda. Seperti kata orang mah, bagaikan langit dan bumi.
"Mohon maaf nih Pak, saya udah nikah dan udah punya anak 7 dirumah," ucap Aurora dengan sedikit bumbu kebohongan di dalamnya, daripada harus terus-menerus digoda oleh penjual itu.
"Yah, ternyata neng Geulis udah nikah ya?"
"Iya Pak, saya beli cuminya 2 kilo. Cepetan ya Pak, soalnya anak-anak saya udah pada nunggu dirumah," ujar Aurora mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Baik Neng."
Setelah semua bahan makanan sudah dibeli, Aurora pun balik ke rumah.
"Kamu sudah belanja dimana, sayang?" tanya Jihan yang melihat menantu dan sopirnya membawa banyak kantong plastik belanjaan.
"Belanja di pasar Ma," jawab Aurora.
"Kok belanja di pasar, kenapa nggak di supermarket aja yang lebih higenis?" Jihan memang tidak pernah berbelanja di pasar tradisional sebab menurutnya tempat itu kotor dan semua makanannya tidak higenis.
"Hem kalau belanja di pasar lebih murah, Ma. Semua yang di jual juga bersih, segar dan higenis kok, jadi Mama nggak usah khawatir," balas Aurora menenangkan mertuanya.
"Beneran?" tanya Jihan memastikan.
"Iya Ma, nanti Aurora bakal cuci dulu semuanya baru di olah atau di masukin ke dalam kulkas," jelas Aurora. Jihan sedikit bernapas lega.
"Ya sudah, Mama mau ke restoran dulu, mau liat laporan keuangan bulan lalu," pamit Jihan.
"Iya silahkan Ma. Oh ya nanti siang Aurora mau ke tempat kerja mas Irsyan ya Ma, mau antarkan makanan untuk dia," ucap Aurora harus tetap izin dulu kepada mertuanya.
"Iya sayang, kamu ini istri idaman banget sih," balas Jihan sambil mencubit gemas pipi menantunya. Aurora hanya tersenyum mendengarnya.
"Kalau gitu Mama pergi dulu ya?"
"Iya Ma."
Setelah Jihan pergi, Aurora melangkahkan kakinya menuju ke dapur dan mulai bergelut dengan alat-alat masak.
"Nyonya muda lagi apa?" tanya bi Aci yang tiba-tiba datang ke dapur.
"Saya lagi masak untuk mas Irsyan, Bi." Aurora memotong cumi-cumi tersebut menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
"Mau masak apa, Nya?" tanya bi Aci lagi.
"Sepertinya saya mau buat cumi tumis pedas manis sama capcay deh, Bi."
"Wah apa boleh Bibi bantu?" tawar bi Aci.
"Boleh dong Bi, saya malah senang kalau ada yang bantu," jawab Aurora mempersilahkan bi Aci untuk membantunya.
"Apa yang harus Bibi kerjakan?"
"Bibi bisa bantu saya potong-potong sayurannya," jelas Aurora.
"Baik, Nya."
Setelah bertarung dengan alat-alat masak hampir 1 jam-an, akhirnya masakan Aurora yang dibantu oleh bi Aci pun telah siap.
"Makasih ya Bi, udah tolongin saya," ucap Aurora tersenyum.
"Sama-sama Nyonya muda," balas bi Aci ramah.
"Kalau begitu saya ke kamar dulu ya Bi?"
"Sok atuh silahkan Nyonya," ujar bi Aci.
Aurora pergi dari dari, lalu menuju ke kamarnya untuk mandi sekaligus siap-siap pergi ke tempat suaminya bekerja.
...****************...
Irsyan sedang senyum-senyum sendiri saat Aurora mengirimkan foto saat dirinya tengah berada di pasar dan memasak. Sangatlah cantik menurutnya, tidak peduli orang mengatakan jika dirinya bucin atau budak cinta, toh dia bucin dengan istrinya sendiri.
Tiba-tiba Aji masuk ke dalam ruangan perawat dengan wajah orang yang tengah memendam emosi.
"Kenapa lo? Datang-datang kok ngamuk!" tanya Irsyan heran dan sedikit kesal.
"Lo disuruh buat ke ruangannya si ulet bulu!" Bukannya menjawab, Aji malah menyuruh Irsyan ke ruangan Nina. Irsyan yang mengetahui siapa pasien yang dikatakan oleh Aji tadi, langsung menolaknya mentah-mentah.
"Dih ogah!"
"Ck! Tu cewek lagi misuh-misuh di ruangannya, nyuruh lo buat dateng! Sumpah kalau gue yang punya rumah sakit, udah gue usir dia dari sini!" geram Aji.
"Bodo amat! Diemin aja sudah, gue nggak peduli!" balas Irsyan acuh.
Lagi-lagi Irsyan ditambah Aji dikejutkan dengan suara pintu di banting, sekarang Budi lah yang membanting pintu tersebut dengan napas yang ngos-ngosan. Lama-lama perawat disana kena serangan jantung jika terus-terusan dikejutkan seperti itu.
"Kenapa lo?" tanya Aji ketus.
"Hah... Hah... Syan, lo dicari sama pasien VIP di ruang cempaka 1 itu," ucap Budi dengan suara terputus-putus.
"Nggak! Gue nggak mau!" tolak Irsyan.
"Tapi kalau kamu nggak kesana, dia ngancem mau bunuh diri," jelas Budi agar Irsyan segera menuju ke ruangan Nina.
Irsyan meraup kasar wajahnya, "Si babi memang meresahkan!" geramnya, dulu
__ADS_1
sewaktu dirinya dan Nina masih berpacaran, sifat Nina sangatlah baik, sopan, dewasa dan anggun itulah yang membuat Irsyan luluh dan jatuh cinta kepadanya. Namun sekarang, entah kenapa sifat wanita itu jauh berbeda, malah membuat Irsyan muak dan jijik dengan tingkah lakunya.
"Please Syan, temui dia. Kalau nggak kita bisa di marahi sama pak Gusti," ucap Budi memohon. Pak Gusti merupakan kepala rumah sakit terbaru.
Irsyan menghela napas berat, " Oke gue kesana sekarang." Dengan sangat terpaksa Irsyan mengikuti kemauan Budi.
Irsyan berjalan dengan langkah yang malas menuju ke ruang rawat Nina. Sebelum itu ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi."
"Ya masuk!"
Irsyan membuka pintu ruang rawat dengan pelan.
"Mas Irsyan!" Nina yang tadinya menangis sesenggukan langsung berubah ceria saat melihat Irsyan datang, sepertinya wanita itu tengah membuat sandiwara.
"Makasih nak Irsyan, udah mau kesini. Kalau nggak Nina nekat mau bunuh diri," ucap Doddy dengan suara lirihnya, ayah dari Nina.
"Iya Om, ini kan udah tugas saya," balas Irsyan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Pah, kita keluar bentar yuk. Mama mau cari makan di kantin," ujar Zara yang sengaja memberikan waktu putrinya untuk berduaan dengan Irsyan. Doddy yang mengerti pun langsung mengiyakan ajakan istrinya.
Irsyan menghampiri Nina di brankar sambil mengambil pisau buah dari tangan wanita nekat itu dan segera menaruh pisau itu jauh dari jangkauan Nina.
"Ngapain sih kamu pakai ngancam segala? Murahan banget sih cara kamu!" bentak Irsyan.
"Kamu kira saya akan iba gitu sama kamu? Oh tentu saja tidak, saya malah bertambah muak dan jijik dengan semua tingkah laku kamu itu!" sambung Irsyan. Bibir Nina bergetar dan pelupuk matanya sudah akan siap mengucurkan air mata. Ucapan Irsyan tadi membuat hati Nina menjadi sangat sakit, seperti tercabik-cabik.
"Please Mas, kasi aku kesempatan lagi untuk kembali bersama kamu," ucap Nina memohon.
"Heh kembali? Itu tidak mungkin terjadi, karena saya sudah MENIKAH!" balas Irsyan dengan menekankan kata menikah.
"A-pa? M-menikah?" Nina terkejut dan tidak percaya.
"Ya saya sudah menikah dan saya harap kamu berhenti menganggu hidup saya lagi!"
"Mas bohong kan?"
"Ngapain saya bohong, ini dan ini buktinya." Irsyan menunjukkan cincin kawin dan bekas kiss mark Aurora dilehernya yang ditutupi oleh kerah bajunya. Nina semakin syok, seketika air matanya kembali mengalir deras.
"Nah udah liat kan buktinya? Jadi saya harap kamu berhenti menganggu hidup saya lagi!" sentak Irsyan dan ingin pergi namun tertahan oleh tangan Nina yang mencekal tangannya.
"Mau apa lagi kamu?!" Irsyan menghempaskan tangan Nina dengan kasar.
"Aku mau kok jadi istri kedua kamu Mas," ujar Nina.
"Heh istri kedua? Jangan mimpi ketinggian kamu! Saya ini sangat cinta dengan istri saya, nggak mungkin bakal menikah lagi, apalagi sama kamu!" sarkas Irsyan berapi-api. Saat ingin pergi, lagi-lagi Nina menahannya.
"Mau apa-" Belum selesai Irsyan berbicara Nina langsung menarik tengkuknya dan menciumnya. Mata Irsyan seketika membulat sempurna.
"Apa-apaan kalian!" teriak seseorang dari ambang pintu.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.