GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 73


__ADS_3

Dua orang wanita berbeda generasi, tengah menyeret koper. Mereka adalah Nina dan Mamahnya, setelah Doddy dipenjara, semua asetnya disita oleh negara dari rumah, mobil-mobil mewah bahkan butik yang dikelola oleh Zara juga ikut disita. Hanya tersisa baju-baju dan sejumlah uang yang tersisa.


"Sekarang kita akan tinggal dimana Mah?" tanya Nina.


"Kita akan tinggal di rumah kakek Tito dulu untuk sementara," jelas Zara. Tito merupakan ayah dari Doddy sedangkan ayah dari Zara bernama Putra.


"Tapi kan rumah itu udah lama tidak ditempati, Mah. Nina nggak mau, pasti disana kotor dan banyak debu," tolak Nina. Dia tak sudi untuk tinggal di rumah peninggalan almarhum kakeknya, karena pasti rumah itu sangat kotor sebab sudah lama tidak ditempati.


"Kalau tidak disana, kita akan tinggal dimana nak? Keluarga kita kebanyakan tinggal diluar kota, kalaupun ada keluarga kita disini, Mamah yakin mereka tidak akan membantu kita." Nina langsung terdiam dengan ucapan Zara.


"Atau kamu mau tinggal di kota S, dirumah kakek Putra?" tanya Zara.


"Nggak usah deh Mah, kita tinggal di rumah peninggalan kakek Tito aja." Dengan berat hati, Nina pun setuju untuk tinggal di rumah peninggalan kakeknya itu.


Dan benar saja, rumah kakek Tito sangatlah kotor walaupun masih bisa ditempati. Di luar banyak daun-daun yang berguguran dan di dalam rumah banyak debu bahkan sarang laba-laba dimana-mana.


"Ayo kita bersihkan, Nak."


"Kita yang bersihkan ini?" tanya Nina tak percaya.


"Iya lah nak, siapa lagi?"


"Kita sewa ART saja Mah, biar kita nggak capek," saran Nina.


"Bukannya Mamah nggak mau sewa ART, mulai saat ini kita harus hemat nak, kamu tau keuangan kita lagi bermasalah," jelas Zara agar putrinya itu mengerti.


"Iya sudah Mah," ucap Nina pasrah. Dengan malas-malasan, Nina membersihkan ruangan-ruangan yang ada di rumah peninggalan kakeknya itu.


Setelah selesai beberes, Nina memutuskan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan pokoknya. Saat akan membayar, Nina terkejut saat kasir itu berkata jika kartu kredit miliknya di blokir.


"Coba sekali lagi, Mbak," ucap Nina.


"Saya sudah mencobanya sampai tiga kali, Mbak. Tapi tetap tidak bisa," jelas kasir itu.


"Aduh, gimana nih? Mana belanjaan aku banyak lagi," gumam Nina.


"Bayar pakai ini saja, Mbak," ucap seseorang tiba-tiba menyodorkan kartu kreditnya pada kasir.


"Baik Mas."


"Eh nggak usah Mas," tolak Nina, Dia tak ingin berbalas budi kepada orang lain.


"Gapapa Mbak," ucap pria itu.


"Beneran gapapa Mas? Belanjaan saya banyak loh sampai 1 jutaan," ujar Nina sungkan.


"Iya beneran santai saja, anggap saja sedekah," ucap pria itu tersenyum.


"Iya Mas kartunya," ujar kasir mengembalikan kartu kredit milik pria itu.


"Makasih banyak Mas, sudah mau bayarin belanjaan saya."


"Sama-sama."


Setelah selesai belanja, Nina pun menunggu taksi. Kalau saja mobilnya tidak disita, mungkin saja dia sudah pulang sedari tadi.


"Mana sih taksinya, kok nggak datang-datang!" ucap Nina kesal.


"Kok kamu belum pulang?" tanya pria yang membayar belanjaan Nina tadi dengan tiba-tiba.


"Eh Mas! Iya nih, saya lagi nungguin taksi datang," jawab Nina.


"Bagaimana kalau saya antarkan kamu pulang?" tawar pria itu. Nina menatap pria itu dengan tatapan aneh.


"Kamu tenang aja, saya bukan orang jahat kok. Saya hanya ingin menawarkan kamu tumpangan aja," timpal pria itu yang mengerti dengan jalan pikiran Nina.


"Ya sudah Mas." Nina pun menyetujuinya, daripada harus menunggu taksi yang tak datang-datang itu, apalagi dia khawatir dengan sang Mama yang hanya sendiri di rumah.


Membutuhkan waktu 20 menit sampailah Nina dan pria itu di pekarangan rumah kakek Tito.


"Sekali lagi makasih ya Mas udah bantuin saya membayar belanjaan dan mengantarkan saya pulang," ucap Nina tulus.

__ADS_1


"Sama-sama Mbak. Oh ya kita belum berkenalan, nama saya Wawan, nama Mbak siapa?" Yah, pria yang menolong Nina itu adalah Wawan, salah satu sahabat dari Aurora.


"Saya Nina, Mas. Oh ya, silahkan mampir dulu ke rumah saya, Mas?" Nina menawarkan Wawan untuk bertamu ke rumah kakeknya.


"Tidak usah mbak Nina, waktu saya sudah mepet soalnya saya ada acara," tolak Wawan.


"Oh gitu ya sudah gapapa Mas," jawab Nina tersenyum.


"Kalau gitu saya permisi, mbak Nina."


"Iya Mas." Setelah itu Wawan pun meninggalkan pekarangan rumah kakek Tito.


Hari sudah malam, jam pun sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam dan Irsyan baru saja pulang kerja, pekerjaannya benar-benar numpuk hari ini, untung ada Aris yang membantunya, kalau tidak mungkin saja Irsyan akan menginap di kantor.


"Baru pulang nak?" tanya Harun yang keluar dari kamarnya.


"Iya Pa," jawab Irsyan. Terlihat wajah Irsyan sangat lelah, bahkan dia juga tadi tidak sempat untuk mandi.


"Maaf ya nak, udah merepotkan kamu," ucap Harun tak enak dengan putranya.


"Gapapa, Pa. Ini salah satu cara aku berbakti kepada Papa," balas Irsyan tersenyum. Harun terharu dan bangga dengan putranya itu. Berarti tak sia-sia cara didikan dia dan istrinya selama ini kepada anak-anaknya.


"Makasih nak, kamu memang selalu bisa diandalkan," ujar Harun menepuk-nepuk pundak Irsyan. Irsyan mengangguk dan tersenyum.


"Kok Papa belum tidur? Kan Papa lagi nggak enak badan," tanya Irsyan.


"Papa belum ngantuk dan alhamdulilah Papa sekarang sudah enakan," jelas Harun.


"Alhamdulillah syukurlah kalau Papa sudah baikan." Harun melirik ke arah buket bunga mawar merah dan sebuah kotak yang dibawa oleh Irsyan. Tadi Irsyan sempat menyuruh Aris untuk membelikan buket bunga di toko bunga langganannya dan tak lupa juga membelikan kue untuk sang istri.


"Bunga dan kue itu untuk istri kamu?" tanya Harun.


Irsyan mengangguk, "Besok ini Aurora ulang tahun, Pa."


"Oalah, mantunya Papa berulang tahun toh besok ini. Terus kamu beri hadiah apa ke istri kamu? Masa dikasih bunga dan kue saja, nggak modal banget kamu jadi suami," cibir Harun. Irsyan mendengus kesal.


"Tenang saja Pa, Irsyan sudah membelikan tiket ke Korea Selatan untuk Aurora sekalian kita bulan madu disana," jelas Irsyan. Harun manggut-manggut.


"Siap Pa, kalau itu sih wajib setiap malam," ucap Irsyan tanpa beban.


"Kamu ini, ya sudah kamu istirahat gih! Pasti istri kamu juga nungguin," titah Harun.


Irsyan mengangguk, "Papa juga istirahat, selamat malam."


"Malam juga nak," timpal Harun. Irsyan melangkah menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua, sebelum masuk ke dalam kamar, Irsyan menaruh buket bunga dan kue itu di kamar sebelah agar tidak ketahuan oleh Aurora. Membuka pintu kamar dengan pelan, Irsyan melihat sang istri sudah tertidur.


"Maaf ya sayang, pasti kamu bertanya-tanya kenapa dengan sikap dan tingkah Mas yang aneh hari ini," ucap Irsyan pelan sambil mengelus puncak kepala Aurora.


"Tidur nyenyak sayang," lanjut Irsyan seraya mencium kening Aurora. Irsyan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, karena badannya benar-benar lengket.


Sehabis mandi Irsyan tidak tidur, dia sengaja menunggu jam 12 untuk memberikan kejutan pada Aurora. Irsyan pergi ke kamar sebelah, membuka kotak dan mengeluarkan kue tersebut, lalu menaruh beberapa lilin di atasnya. Ketika waktu sudah menunjukkan jam 11 lebih 55 menit barulah Irsyan menyalakan lilin tersebut.


Irsyan kembali ke kamarnya dan beruntungnya Aurora tidak terbangun, dia berjalan ke arah istrinya sambil membawa kue di tangan kanan serta buket bunga di tangan kiri dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday."


Aurora mulai terusik dan membuka matanya, "Mas," ucapnya serak sambil merubah posisinya menjadi duduk.


"Happy birthday to my wife, ayo buat permohonan dulu sayang." Irsyan duduk di pinggir ranjang seraya menyodorkan kue tersebut pada Aurora. Aurora tersenyum dan mengangguk, lalu memejamkan sambil berdoa di dalam hatinya.


'Ya Allah, semoga di umur hamba yang ke 25 ini hamba menjadi pribadi yang lebih baik lagi, terutama hamba bisa menjadi istri yang baik untuk mas Irsyan. Semoga hadiah tahun ini, hamba dan mas Irsyan dipercayakan untuk segera memiliki momongan untuk melengkapi keluarga kecil kami, aamiin.'


Aurora mengingat saat dia berulang tahun ke 24 tahun kemarin, Aurora meminta agar segera dipertemukan dengan jodohnya dan Tuhan Maha baik, doa Aurora terkabulkan dia dipertemukan dengan Irsyan sebagai jodohnya, yang insya Allah menjadi jodoh dunia akhirat nya.


Setelah selesai berdoa Aurora kembali membuka mata dan mengipasi api yang membakar lilin-lilin itu dengan tangannya.


"Terima kasih Mas, aku kira Mas nggak ingat sama hari ulang tahunku apalagi kemarin Mas dingin sama aku," ucap Aurora sambil memanyunkan bibirnya. Irsyan menaruh kue itu di meja kecil samping ranjang.


"Maafin Mas ya sayang, Mas mendiamkan kamu seharian kemarin itu memang sengaja untuk mengerjai kamu karena Mas tau besoknya kamu ulang tahun, kalau anak zaman sekarang sih katanya di prank," jelas Irsyan dengan terkekeh diakhir ucapannya.


"Ih jahat banget sih! Apa Mas tau? Aku jadi nggak konsen tau kerjanya, terus tadi aku sempat nangis karena aku bingung kesalahan aku dimana," balas Aurora dengan mata yang berkaca-kaca. Irsyan langsung mendekap erat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Uh maafin Mas sayang. Kamu mau kan maafkan Mas?" tanya Irsyan sambil memegang kedua bahu Aurora.


"Karena aku baik, jadi aku maafkan Mas."


Ide jahil terlintas dipikiran Irsyan, dia mencolek krim kue menggunakan jarinya, lalu menaruhnya di pipi Aurora.


"Ish Mas, kan wajah aku jadi kotor!" kesal Aurora membuat bibirnya kembali maju lima centi. Irsyan pun tertawa melihat raut wajah Aurora.


"Maaf sayang ku." Irsyan segera menghapus krim di wajah Aurora itu dengan tissue.


"Oh ya Mas punya hadiah untuk kamu," ucap Irsyan.


"Apa?" tanya Aurora.


"Oke, tunggu sebentar." Irsyan pergi mengambil sesuatu untuk Aurora di dalam tas kerjanya, setelah itu dia kembali ke ranjang.


"Ini untuk kamu." Irsyan menyodorkan sebuah amplop cokelat untuk Aurora.


"Isinya apa, uang kah?" tanya Aurora.


"Bukan, coba kamu buka saja," titah Irsyan. Aurora mengangguk, dia membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Terkejut bercampur bahagia itulah yang Aurora rasakan saat ini. Bagaimana tidak, sang suami menghadiahkannya tiket liburan ke Korea Selatan, negara yang sedari dulu ingin ia kunjungi.


"Ini beneran kita akan ke Korea, Mas?" tanya Aurora dengan mata berbinar-binar.


"Iya bener sayang, sekalian kita honeymoon disana. Kamu suka?" tanya Irsyan.


"Suka Mas, sangat suka. Makasih Mas, ini hadiah yang tak pernah aku sangka," ucap Aurora dan langsung memeluk Irsyan.


"Sama-sama sayang, syukurlah kalau kamu suka dengan hadiah dari Mas." Irsyan membalas pelukan Aurora sambil mengecup puncak kepalanya.


"Kita kesana perginya berdua?" tanya Aurora.


"Nggak dong sayang, kita nanti kesana sama kak Fani, kak Adit dan Alvaro. Mas ajak mereka agar lebih ramai, apalagi kak Adit jago bahasa Korea karena dulu dia pernah kuliah disana," jelas Irsyan. Bukannya tak bisa membayar tour guide, Irsyan hanya tak ingin ada orang asing di antara dia dan Aurora nantinya.


"Oh ya? Syukurlah kalau kak Adit bisa bahasa Korea dan bakalan ramai juga karena ada Alvaro," ucap Aurora dengan nada senangnya.


"Tapi gapapa kan Mas ajak mereka?" tanya Irsyan.


Aurora mengernyitkan dahinya, "Iya gapapa lah Mas, malah aku senang ramai-ramai."


"Ya aku takut kamu nggak suka aja, karena akan menganggu acara honeymoon kita."


"Ih aku nggak pernah berpikiran seperti itu, Mas. Apalagi ada Alvaro disana pasti akan-"


"Jangan terlalu dekat-dekat dengan Alvero!" ucap Irsyan memotong ucapan Aurora.


"Loh kenapa Mas?"


"Mas cemburu, soalnya pasti kamu bakal lebih mementingkan Alvero daripada Mas!" jawab Irsyan dengan nada kesal. Aurora menghela napas panjang, bisa-bisanya Irsyan cemburu dengan keponakannya sendiri.


"Iya nggak kok Mas, aku janji bakal lebih mementingkan Mas dari segalanya." Aurora menjawab seperti itu agar tidak memperpanjang masalah.


"Terus kita perginya kapan ya Mas?" tanya Aurora.


"Tinggal 3 hari lagi sayang, soalnya besok ini Mas ada pengarahan dan ada tamu dari kota J yang akan berkunjung ke rumah sakit dan lusanya kita pergi ke Mall untuk membeli perlengkapan kita untuk ke Korea, gimana kamu mau kan?" ucap Irsyan.


"Iya aku mau Mas. Lebih baik sekarang kita tidur, pasti Mas ngantuk dan capek kan?"


"Iya bener sayang, Mas capek banget tadi pulangnya jam 11 dan nggak tidur," jelas Irsyan.


"Nah kan, ayo kita tidur."


Irsyan mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Mas tidur duluan ya? Aku mau taruh kue ini ke dapur dulu," ucap Aurora.


"Iya sayang." Irsyan mulai memejamkan mata dan mulai bergelut dengan dunia mimpi.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2