GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 122


__ADS_3

Cukup lama sekitar dua mingguan orang-orang suruhan Irsyan menangkap pelaku yang membuat dirinya celaka, bahkan polisi pun tidak bisa menangkap orang tersebut.


Pelaku itu kini sedang di sekap di sebuah gedung yang bisa di katakan markas tempat orang-orang suruh Irsyan berada. Yang orang tau Irsyan adalah orang baik, supel dan ramah, tapi jika sudah ada orang yang berani menganggu dirinya dan orang-orang terdekatnya, ia menjadi orang yang berbeda, kasar dan tidak memberi kata ampun pada orang-orang yang mengusiknya tersebut.


"Siapa yang menyuruh lo ngelakuin itu?" tanya Irsyan dengan wajah dinginnya. Hanya satu mingguan yang ia butuhkan untuk pemulihan semua luka-lukanya itu, walau terkadang masih terasa nyeri di bagian tulang rusuknya.


"Cuih! Sampai mati pun gue nggak bakal kasi tau lo siapa yang nyuruh gue!" ujar pelaku itu sambil meludah ke arah samping, wajahnya penuh dengan luka lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Irsyan yang geram langsung menendang kursi tempat si pelaku duduk sehingga jatuh tersungkur. Irsyan berjalan menghampirinya dan menginjak bagian dadanya membuat si pelaku susah untuk bernapas serta kesakitan.


"Lo kasi tau siapa yang suruh lo atau lo mau gue buatin kuburan sekarang juga?" ancam Irsyan menatap tajam si pelaku.


"Bunuh aja gue karena gue nggak bakal kasi tau lo sampai kapanpun!" desis pelaku itu tersenyum miring, hal itu membuat Irsyan semakin naik pitam dan menendang, memukul tubuh si pelaku hingga sang empu hampir tidak sadarkan diri.


Jika saja Irsyan tidak mengingat Aurora apalagi istrinya yang sedang mengandung buah hatinya, mungkin ia akan membunuh orang tersebut.


"Kalian urus dia, setelah dia agak baikan, jebloskan dia ke penjara!" titah Irsyan dengan tegas. Ia lebih memilih polisi untuk menindak lanjuti kasusnya itu.


"Baik Tuan," jawab orang-orang suruhan nya itu.


Setelah urusannya selesai, Irsyan pun kembali ke rumahnya sebelum itu ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu, karena tak ingin bau dari pelaku yang Irsyan pukul tadi tercium oleh istrinya.


Sesampainya di rumah, Irsyan langsung berjalan menaiki tangga ke lantai dua dan menuju ke kamarnya. Membuka pintu kamar dengan perlahan, Irsyan melihat tidak ada istrinya disana. Ia mencari ke kamar mandi dan balkon tapi nihil Aurora tidak ada disana.


Irsyan pun keluar mencari istrinya ke perpustakaan pribadi, ruang kerjanya, dapur dan belakang rumah tidak ada kelihatan batang hidung Aurora disana bahkan ia bertanya ke beberapa pelayan di rumahnya dan mereka bilang tidak melihat Aurora hal tersebut membuat Irsyan menjadi panik.


"Ya Allah kamu kemana sih sayang?"


Saat Irsyan hendak akan keluar dari pintu utama, ia melihat Aurora tengah berjalan di halaman depan dan akan segera masuk ke dalam rumah. Irsyan segera berlari menghampiri istrinya dan langsung memeluk tubuh Aurora.


"Kamu kemana aja sih sayang?" tanya Irsyan. Aurora mendapat pelukan mendadak seperti itu cukup terkejut namun tak pelak ia membalas pelukan dari suaminya.


"Aku habis jalan-jalan ke taman," jawab Aurora. Irsyan menguraikan pelukannya, tangannya terulur menangkup kedua pipi Aurora sambil menatap lekat wajahnya.


"Kok nggak kasi tau Mas dulu sih kalau mau pergi ke sana hem?" tanya Irsyan dengan lembut.


"Hehe maaf Mas, aku lupa," jawab Aurora cengengesan.

__ADS_1


Irsyan menghela napas, "Lain kali kalau mau pergi kemana-mana kasi tau Mas dulu," tegurnya. Bukannya kenapa, Irsyan merasa ada seseorang yang ingin bermain-main dan mengusik keluarganya, tapi ia tidak tau siapa orang tersebut.


"Iya sayang," ucap Aurora berjinjit lalu mencium rahang Irsyan, senyuman manis seketika tersungging di bibir pria itu.


"Yang ini belum," pinta Irsyan sambil menunjuk bibirnya.


"Nggak ah males!" ujar Aurora berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Irsyan di luar.


"Sayang tungguin, Mas." Irsyan segera mengejar istrinya.


...****************...


"Saya duluan ya Bu," ujar Mila pamit pada salah satu rekan kerjanya.


"Silahkan nak Mila."


Mila pun memakai helm lalu menyalakan mesin motornya dan menjalankan motornya meninggalkan kantor. Saat di tengah jalan ia melihat nenek-nenek sepertinya susah untuk menyebrang, Mila memberhentikan motornya dan turun berniat membantu nenek tersebut.


"Ayo nek, saya bantu buat nyebrang," ucap Mila.


"Apa tidak merepotkan mu, Cu?"


Dari jarak jauh ada seorang pria yang memperhatikan kejadian itu, ia menatap Mila dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Masya Allah, gue salut sama cewek itu," gumam pria itu terus memperhatikan Mila sampai kembali lagi ke motornya.


Mila pun menjalankan motornya kembali untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


Tiba-tiba saja motor miliknya itu terhenti membuat Mila menggeram kesal.


"Ya Allah kenapa lagi dah ini motor, ada aja hambatan mau pulang," keluh Mila. Ia pun turun dari motor dan mengecek apa yang terjadi.


"Ah sial, bensin motor gue habis. Duh bisa-bisanya gue nggak sadar kalau motor gue kehabisan bensin," gumam Mila. Ia memerhatikan di sekitarnya, jalanan disini cukup sepi tidak ada pom bensin bahkan warung yang menjual bensin eceran tidak ada. Taksi pun tidak ada yang lewat, ingin memesan taksi online tapi sayang kuota ponselnya sudah habis dan ia lupa untuk membelinya.


Mila mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya tapi sialnya lagi daya baterainya habis.


"Aaaa rasanya pengen nangis aja!" teriak Mila.

__ADS_1


"Motor lo kenapa?"


Mila langsung mundur saat mendengar suara itu, "Astaghfirullah, ngagetin tau nggak!" kesalnya garang.


"Motor lo kenapa?" tanya orang itu lagi.


"Kehabisan bensin," jelas Mila 5 L, lemas, letih, lesu, lunglai dan letoy.


"Seharusnya liat dulu bensinnya di motor lo sebelum lo pakai."


"Ya mana gue tau Amiruddin!" kesal Mila.


"Nama gue Satria, enak aja main di ganti!" ujar Satria tak terima.


"Tau ah, bodo amat! Udah deh sana pergi," usir Mila.


"Heh lo harus sopan sama yang lebih tua!"


"Dih tua aja bangga," gumam Mila meledek Satria.


"Ikut gue!" ajak Satria.


"Hah apa?"


"Gue anterin lo pulang," jawab Satria malas.


"Nggak usah!" tolak Mila.


"Ya udah sih kalau lo nggak mau, padahal ini udah mau magrib biasanya disini banyak preman dan begal," ucap Satria mencoba menakuti-nakuti Mila, lalu mulai berjalan menuju mendekati mobil miliknya.


Mila berpikir keras, ia mendesah pelan lalu, "Iya deh gue ikut! Tapi motor gue gimana?"


"Nanti gue suruh anak buah gue bawain motor lo ke rumah," jelas Satria.


"Ya sudah." Mila mengunci stang motornya terlebih dahulu baru masuk ke dalam mobil Satria. Kemudian Satria mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah Mila.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2