GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 80


__ADS_3

Seperti permintaan Aurora saat dinner di restoran Pierre Gagnaire a Seoul kemarin, ia ingin memakan rujak bangkok dan Irsyan pun menurutinya. Kini mereka berdua tengah mencari tempat penjual rujak bangkok tersebut.


"Mas itu penjual rujak bangkok nya," ucap Aurora sambil menunjuk penjual rujak bangkok yang berjualan menggunakan gerobak dan penjual itu berjualan di pinggir jalan yang dekat dengan sebuah taman.


"Tapi itu higenis kan sayang? Aku takut nanti kamu sakit perut apalagi orang itu berjualan di pinggir jalan seperti ini," tanya Irsyan sebelum benar-benar istrinya itu membeli rujak bangkok tersebut.


"Itu higenis kok Mas, percaya deh sama aku," ucap Aurora meyakinkan suaminya. Irsyan pun mengangguk dan segera menepikan mobilnya.


"Ayo Mas, nanti ramai!" ucap Aurora sambil menarik tangan Irsyan.


"Iya sabar dong sayang."


Sesampainya di depan gerobak penjual rujak bangkok tersebut, Aurora pun segera memesannya.


"Bang saya pesan satu rujak bangkok nya ya?"


"Mau pakai buah apa Mbak?" tanya penjual itu.


"Mas mau nggak?" tanya Aurora pada Irsyan.


Irsyan menggeleng, "Nggak sayang, kamu aja."


"Oke. Bang saya minta buahnya itu cuma mangga aja," pesan Aurora. Saat melihat warna mangga yang kuning itu membuat air liur Aurora hampir menetes.


"Siap Neng." Abang-abang penjual rujak bangkok itu pun mempersiapkan pesanan Aurora.


"Itu nggak pedas kan sayang? Ingat loh kamu punya asam lambung," tanya Irsyan.


"Nggak terlalu pedas kok Mas," jawab Aurora.


"Awas aja kalau pedas dan kamu sakit perut nantinya, Mas hukum kamu," balas Irsyan.


"Iya Mas."


"Ini Neng pesanannya," ujar penjual rujak bangkok itu menyodorkan pesanan Aurora.


"Berapa harganya Bang?" tanya Irsyan sambil mengeluarkan 1 lembar uang seratusan dari dompetnya.


"Cuma 20 ribu, Mas," jawab penjual itu. Irsyan pun memberikan uang bayar rujak bangkok tersebut dan tanpa mengambil uang kembaliannya.


"Ini Bang, kembaliannya Abang ambil saja," ucap Irsyan.


"Wah terima kasih, Mas. Mas sangat baik dan dermawan. Semoga rezekinya Mas selalu lancar dan barokah ya," balas penjual itu sangat senang.


"Aamiin."


Setelah selesai membeli rujak bangkok, Irsyan dan Aurora pun masuk ke dalam mobil. Aurora langsung membuka bungkusan rujak bangkok yang ia beli, lalu mulai memakannya dengan mencocolkan buah mangga ke sambal. Asam, pedas, asin dan manis bercampur jadi satu.


"Enak sayang?" tanya Irsyan yang menatap istrinya tengah memakan rujak itu.


"Mas mau?" tanya Aurora menawarkan Irsyan.


"Boleh." Aurora menyuapi Irsyan satu mangga yang sudah di cocol dengan sambal.


"Gimana Mas, enak kan?"


"Hah ini pedes banget sayang," ucap Irsyan kepedesan, padahal bagi Aurora sambalnya itu tidak terlalu pedas. Aurora segera menyodorkan air putih pada suaminya.

__ADS_1


"Ini minum dulu Mas." Irsyan mengambil dan meminum air putih tersebut.


"Udah jangan makan ini lagi sayang, ini pedes banget," ucap Irsyan. Dia memang tidak terlalu menyukai makanan pedas.


"Ih nggak mau, aku mau habiskan ini! Padahal nggak pedas sama sekali kok," ucap Aurora.


"Masa nggak pedas sih sayang? Itu pedas banget loh."


"Itu sih bagi Mas, kalau aku nggak!" ucap Aurora kesal.


"Ya udah terserah kamu saja lah." Irsyan sedang malas berdebat dengan istrinya, ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.


...****************...


Walaupun sudah dilarang keras oleh Irsyan, Aurora tetap menggunakan motor untuk ke kantor dengan alasan takut telat. Hari ini Irsyan tidak bisa mengantarkan istrinya ke kantor, karena ada pekerjaan urgent di rumah sakit yang menyebabkan Irsyan harus berangkat sangat pagi.


Setelah berpamitan dengan kedua mertuanya, Aurora melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat di perjalanan Aurora melihat seorang anak laki-laki sekitar 11 tahun yang sedang berjualan tissue, ia pun menepikan sejenak motornya dan menghampiri anak itu.


"Hai dek," sapa Aurora.


Anak laki-laki yang merasa diajak bicara itu pun membalas sapaan Aurora.


"Ya kak, kakak mau beli tissue?" tanya anak itu sambil menawarkan jualannya.


"Harga satu tissue berapa dek?" tanya Aurora.


"Harga satu tissue nya 15 ribu kak," jawab anak itu.


"Oh, kakak beli dua ya," ucap Aurora sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.


"Kok nggak sekolah dek? Ini kan hari kamis," tanya Aurora penasaran karena anak seumur itu yang seharusnya masih sekolah harus berjualan di jalan seperti ini.


"Aku lagi bantuin Ibu jualan kak, soalnya Ibu aku lagi sakit," jawab anak itu dengan nada sedih.


"Ibu kamu sakit apa dek?" tanya Aurora lagi.


"Ibu aku sakit jantung kak dan sering kambuh jika Ibu kelelahan, makanya sekarang aku yang gantikan ibu jualan," ucap anak itu lirih. Aurora sangat terkejut mendengar ucapan anak itu tentang penyakit Ibunya.


"Ibu kamu sudah di bawa periksa ke Dokter?"


Anak itu menggeleng, "Belum kak, kami tidak ada biaya untuk bawa ibu berobat ke Dokter."


Aurora sangat iba dengan anak itu, padahal sekarang udah ada jaminan kesehatan gratis dari pemerintah, apa keluarga anak itu belum mendapatkannya?


"Nama kamu siapa dek?"


"Nama aku Bima, kak."


"Kenalin nama kakak, Aurora. Oh ya, kalau kakak boleh tau ayah kamu mana?"


"Ayah aku udah lama meninggal dari aku kelas 2 SD, kak Aurora," jawab anak yang bernama Bima ini dengan raut wajah sendu. Hal tersebut membuat Aurora mengingat kedua orang tuanya yang ada dirumah. Dia sangat bersyukur orang tuanya masih lengkap, walaupun beberapa bulan yang lalu sang ayah diberikan ujian sakit, namun alhamdulilah sekarang keadaan Alfian sudah jauh membaik. Jadi sayangilah dan berbaktilah kepada kedua orang tua kalian selagi mereka masih ada di dunia ini sebelum kalian menyesal nantinya.


"Kakak boleh mengunjungi rumah kamu nggak nanti?"


"Untuk apa kak? Rumah Bima itu jelek, nanti kakak nggak nyaman disana," ucap Bima polos, karena jarang ada orang yang mau datang ke rumahnya sebab rumahnya jauh dari kata nyaman.


"Kakak mau jenguk Ibu kamu, sekalian mau bawa Ibu kamu berobat ke Dokter, bolehkan?" Aurora berniat membawa Ibu dari Bima untuk berobat ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kakak serius mau bawa ibuku berobat ke Dokter?" tanya Bima dengan mata berbinar-binar.


"Iya Bima, kakak serius. Alamat rumah kamu dimana?" tanya Aurora sambil mengelus rambut Bima.


"Di jalan Kamboja nomor Xx," jawab Bima dengan antusias menjawab alamat rumahnya.


"Oke, nanti habis istirahat kerja, kakak janji bakal ke rumah kamu dan bawa Ibu kamu berobat ke Dokter," ucap Aurora.


"Iya kak, terima kasih sudah mau bantu aku dan Ibu," ucap Bima yang mulai terisak. Aurora pun ikut menitikkan air mata dibuatnya.


"Sama-sama Bima. Oh ya, ini bayaran untuk tissue sekaligus buat kamu beli jajan nanti." Aurora memberikan pecahan uang seratusan sebanyak 7 lembar pada Bima.


"Ini kebanyakan kak," ujar Bima sungkan.


"Gapapa Bima, itu buat beli jajan atau bisa kamu tabung nantinya," timpal Aurora.


"Alhamdulillah terima kasih banyak kak, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik kak Aurora," ucap Bima tulus. Aurora tersenyum mendengar ucapan Bima.


"Ini sudah takdir dari Allah, dek. Makanya kita bisa bertemu seperti saat ini," balas Aurora tersenyum.


"Iya kak."


"Ya sudah kakak mau pergi ke kantor dulu ya? Sampai bertemu nanti," ucap Aurora.


"Iya kak, hati-hati di jalan." Aurora mengangguk, lalu menaiki motornya dan kembali mengendarainya menuju ke kantor.


Dari kejauhan seorang pria memperhatikan Aurora dan Bima sedari tadi dari dalam mobilnya.


"Nggak salah aku menyukaimu dari dulu, Aurora. Kamu bukan hanya cantik di wajah saja, tapi hatimu pun juga sangat cantik," ucap pria itu tersenyum.


Di kantor, Aurora terus saja melirik jam tangannya, takut telat untuk pergi ke rumah Bima karena jika sudah berjanji, Aurora harus segera menepatinya.


"Kenapa nak? Kok sedari tadi Ibu liat kamu melirik ke arah jam tangan kamu terus," tanya Dona.


"Em bu Ona, apa saya boleh izin kerja setengah hari nanti?" tanya Aurora hati-hati. Membuat atensi Sam dan Zain langsung beralih menatap ke Aurora.


"Kenapa? Kamu sakit, Ra?" sahut Sam.


"Bukan Pak, tapi saya mau lakuin sesuatu yang penting sekali," timpal Aurora.


"Apaan itu nak?" tanya Dona penasaran.


Aurora mengambil napas dan menghembuskan secara perlahan, lalu Aurora menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan Bima dan apa yang akan ia lakukan nanti dari mengunjungi rumah Bima sampai akan membawa ibu dari Bima ke rumah sakit. Karena waktu istirahat kerjanya sedikit, maka dari itu Aurora memutuskan untuk meminta izin pada Dona yang notabennya adalah atasan diruangannya untuk kerja hanya setengah hari saja.


"Subhanallah, anak itu sangat berbakti kepada ibunya," ucap Sam tersanjung saat Aurora selesai bercerita.


"Ya sudah Ibu izinkan kamu nak dan ibu punya sedikit uang untuk diberikan nanti ke Bima, mungkin uang ini tidak seberapa," ucap Dona sambil memberikan sejumlah uang pada Aurora untuk dititipkan pada Bima. Sam dan Zain pun ikut mengeluarkan sejumlah uang dompetnya.


"Maaf ya Mbak, saya cuma bisa memberikan uang segitu," ucap Zain.


Aurora tersenyum, "Gapapa Zain, ini pun sudah sangat berarti bagi Bima dan Ibunya nanti, terima kasih ya?"


"Sama-sama Mbak," balas Zain tersenyum.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2