
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
CEKLEK!
Masuklah Wawan dan Mila yang baru saja datang.
"Lagi obrolin apaan nih? Seru banget kayaknya," tanya Mila.
"Oh ini, kita lagi obrolin kucingnya si Kiran yang baru melahirkan," celetuk Aurora berbohong. Kiran dan Andre hanya bisa menahan tawanya mendengar celetukan sahabatnya itu.
"Oh gitu, kirain kalian omongin apaan tadi."
"Oh ya, kalian udah sarapan belum?" tanya Aurora pada keempat sahabatnya.
"Sudah," jawab Andre.
"Belum," jawab Mila, Kiran dan Wawan.
"Gue juga belum sarapan, lo berdua mau nitip makanan nggak? Gue mau ke kantin nih," tanya Aurora pada Kiran, Wawan dan Mila.
"Gue mau bubur ayam sama jus jeruk," pesan Kiran. Aurora menatap Wawan dan Mila.
"Gue samain aja kayak pesanannya, Kiran," pesan Wawan.
"Gue juga," ucap Mila.
"Oh ya ini uang buat bayar." Wawan menyodorkan 3 lembar uang lima puluh ribuan pada Aurora, namun Aurora menolaknya.
"Nggak usah, pakai uang gue aja. Biar gue yang traktir."
"Beneran nih, Ra?" tanya Wawan sungkan.
Aurora mengangguk, "Iya Wan, mumpung gue lagi banyak duit nih," ucapnya sedikit sombong.
"Wah sepertinya ada yang baru di kasi cuan nih sama daddy sugar nya," ejek Mila.
Aurora berdecak kesal, "Kalau mau gue gampar bilang, Mil. Nggak usah main nyindir gitu!" ucapnya kesal.
"Gue bercanda, Rora," ucap Mila terkekeh, ia sangat suka menggoda Aurora.
Aurora memutar matanya jengah, "Ya udah gue kantin dulu."
Aurora keluar dari ruang rawat inap Andre menuju ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan dan minuman.
"Aurora," panggil seseorang, Aurora berbalik menghadap ke belakang melihat orang yang memanggilnya.
"Eh mas Irsyan," sapa Aurora.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Irsyan.
"Dari jam 8 tadi."
"Kok nggak kasi tau--" ucapan Irsyan terpotong oleh seseorang.
"Aurora." Aurora menatap ke arah orang yang kembali memanggil dirinya.
"Eh bang Sat," ucap Aurora.
Satria yang di panggil seperti itu lantas melotot kan matanya ke Aurora. Aurora yang mengerti pun langsung cengengesan dan mengangkat kedua jarinya bentuk tanda damai.
__ADS_1
"Kalian saling kenal?" tanya Irsyan heran.
"Iya Syan, gue kan pernah cerita ke lo kalau ada cewek yang mau bunuh diri di atas rooftop itu dan dia ini orangnya, si Aurora,?" jelas Satria.
"Eh bang Sat, lo kemarin itu salah paham ya," ucap Aurora yang merubah panggilannya menjadi lo-gue ke Satria, mungkin itu agar dia dan Satria lebih akrab lagi, pikirnya. Satria pun tak keberatan sama sekali jika Aurora menggunakan kata-kata tersebut.
"Panggil gue Satria, Aurora. Orang bakal salah paham nantinya dengan ucapan lo," geram Satria, gadis itu memang sangat suka memancing emosinya. Sejak kejadian waktu di rooftop rumah sakit, Aurora dan Satria menjadi semakin akrab.
"Sorry bang Satria," ucap Aurora cengengesan. Satria hanya memutar matanya, Irsyan yang melihat tersebut sedikit tak suka jika sahabatnya itu akrab dengan Aurora, karena dia sudah mengklaim Aurora hanya miliknya.
"Lo mau ngapain disini?" tanya laki-laki yang berprofesi sebagai polisi itu pada Aurora.
"Mau cari masalah Bang. Malah nanya lagi, ya gue mau cari makan lah," ucap Aurora sewot.
"Jangan marah-marah gitu dong, nanti tambah keriput tu kulit wajah," goda Satria, tangannya ingin mengacak rambut Aurora namun dengan cepat tangan Irsyan mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Satria menatap heran Irsyan.
"Bukan mahram lo," ucap Irsyan datar. Padahal dia fine-fine aja kalau memegang tangan bahkan pipi Aurora. Cemburu Irsyan sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun.
"I-iya bener tuh kata mas Irsyan," ucap Aurora gugup setelah menatap wajah Irsyan yang menurutnya sangat menakutkan.
"Iya deh," ucap Satria cemberut.
"Lo jadi sarapan kan?" tanya Irsyan pada Satria dengan wajah yang masih datar.
"Iya jadi."
"Ya udah ayo, kita cari tempat duduk," ucap Irsyan.
"Iya Syan, lo mau ikut kita, Ra?"
"Nggak usah deh Bang, soalnya gue juga beli makanan buat sahabat-sahabat gue, jadinya nggak enak kalau gue makan duluan," jelas Aurora.
"Oh gitu ya sudah gapapa."
...****************...
Irsyan yang baru saja keluar dari ruang rawat pasien, tiba-tiba di panggil oleh Ewina, salah satu perawat disana sekaligus sahabat dari Sukma.
"Mas Irsyan."
"Ya Ewina?"
"Mas di panggil sama pak Surya di ruangannya," ucap Ewina. Pak Surya adalah kepala rumah sakit tempat Irsyan bekerja sekaligus ayah dari Sukma.
"Ada apa ya pak Surya cari saya?" tanya Irsyan, hatinya merasa tidak enak seperti sesuatu yang bakal terjadi disana nantinya.
"Nggak tau Mas, saya cuma disuruh untuk panggil Mas aja," ucap Ewina.
"Oh gitu, ya sudah sebentar lagi saya akan kesana."
"Baik, Mas. Saya permisi dulu," pamit Ewina.
Irsyan hanya mengangguk. Diam-diam Ewina mengeluarkan senyum smirknya.
'Selamat bersenang-senang, Sukma,' batinnya.
Irsyan melangkahkan kakinya menuju ke ruang kepala rumah sakit. Ia mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu.
TOK!
TOK!
__ADS_1
TOK!
"Masuk." Irsyan mendengar suara laki-laki tapi itu bukan suara milik pak Surya, seperti suara orang yang sengaja dibuat-buat. Dengan ragu Irsyan membuka pintu ruangan tersebut.
"Hai Mas."
"Sukma?" Irsyan terkejut melihat keberadaan Sukma di dalam ruangan tersebut. Apa Sukma yang membuat suara laki-laki tadi? pikirnya.
"Sini duduk," ucap Sukma sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Irsyan melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan.
"Pak Surya mana?" tanya Irsyan pada Sukma.
"Mau ngapain cari Ayah aku?"
"Katanya Ewina tadi pak Surya memanggil saya," jawab Irsyan.
"Please deh Mas, jangan terlalu formal gitu bahasa kamu ke aku," ucap Sukma dengan suara genitnya.
Irsyan menghela napas kasar, "To the point aja deh, Sukma. Saya kesini mau mencari ayah kamu," ucapnya dengan wajah datar. Sukma menghampiri Irsyan dengan 2 kancing bajunya yang paling atas di buka.
"Mau ngapain kamu, pakai buka-buka kancing baju segala?" tanya Irsyan was-was. Kini Sukma sudah berada tepat di hadapan Irsyan.
"Aku mau kita senang-senang disini, Mas. Aku bakalan puasin kamu, mumpung disini juga lagi sepi," bisik Sukma dengan nada sensualnya sambil meraba-raba dada Irsyan. Dengan cepat Irsyan menghempaskan tangan Sukma.
"Jangan lancang kamu, Sukma!" bentak Irsyan, wajahnya kini sudah memerah sampai rahangnya pun sampai ikut mengeras. Sukma terperanjat kaget mendengar bentakan Irsyan, namun ia tidak boleh menyerah untuk merayu laki-laki pujaan hatinya itu.
"Aku nggak bakalan begini kalau Mas nerima cinta aku," ucap Sukma dengan terus membuka kancing bajunya hingga bra berwarna merah pun terlihat dan dua gundukan gunung miliknya yang lumayan berisi itu sedikit menyembul keluar dari tempatnya.
Irsyan meneguk ludahnya dengan susah payah ketika melihat pemandangan di depannya ini. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, jangan sampai imannya sampai runtuh akibat kelakuan perempuan murahan itu.
"Jangan gila kamu, Sukma!" hardik Irsyan dengan mendorong tubuh Sukma, alhasil Sukma pun terjerembab jatuh ke lantai.
"Awwww sakit, kamu jahat banget sih, Mas. Pakai dorong aku segala," ucap Sukma kesakitan sambil mengelus pantatnya.
Irsyan tidak memperdulikan ucapan Sukma, ia harus segera pergi dari ruangan tersebut. Ketika Irsyan akan membuka pintu, sialnya pintu itu tidak bisa terbuka seperti ada yang menguncinya dari luar.
"Sial! Siapa yang berani main-main sama gue?!" gumam Irsyan geram.
"Pintu itu tidak ada bisa terbuka karena sudah ada orang yang menguncinya dari luar," ucap Sukma tersenyum miring.
"Kamu itu mau apa sih sebenernya hah?" sinis Irsyan seraya menghampiri Sukma.
"Kan sudah aku bilang, aku itu maunya kamu, Mas. Cuma kamu."
"Tapi bukan gini caranya, Sukma!" teriak Irsyan tepat di depan wajah Sukma.
"Tapi aku yakin dengan cara ini aku bisa mendapatkan kamu, Mas," ucap Sukma dengan percaya dirinya.
'Dasar murahan!'
"Ini adalah terakhir kalinya kita saling berbicara dan jangan berharap saya bakal ada rasa sama kamu," ucap Irsyan dingin. Lalu ia berbalik menuju ke arah pintu, namun dengan cepat Sukma memeluk tubuh Irsyan dari belakang.
"Lepaskan saya Sukma!" Irsyan mencoba melepaskan tangan Sukma dari perutnya. Namun nihil, pelukan Sukma terlalu erat.
"Nggak mau Mas," rengek Sukma sambil menggesek-gesekkan dadanya di punggung Irsyan. Irsyan semakin geram dengan tingkah Sukma itu.
"Sukma lepasin saya bilang!"
"Nggak mau, Mas. Aku maunya begini," kekeh Sukma.
Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dengan keras.
BRAKKK!
__ADS_1
...----------------...
To be continued.