
4 hari kemudian...
Aurora sekarang tengah gugup, bahkan keringat di pelipisnya terus berjatuhan.
"Mbak!"
"Panggil Aurora aja, saya bukan mbak-mbak minimarket!"
"Ya terserah eyke dong, itu loh jangan terlalu gugup mbaknya, soalnya nanti bikin make-up nya jadi luntur," ucap seorang MUA laki-laki namun lemah gemulai dan kemayu.
"Mas nggak tau aja kalau mau nikah itu bikin deg-degan!" kesal Aurora.
"Jangan panggil saya Mas, panggil eyke dengan sebutan tante Merry," ucap MUA yang- bernama asli Bobby ini.
"Dih lupa gender ya Mas?" sindir Aurora.
"Usstt diem deh Mbak, mending sekarang kamu berdoa soalnya calon suami saya udah--"
"Itu calon suami saya Mas, astaghfirullah!" ucap Aurora kesal dan langsung meralat ucapan MUA itu, masa iya calon suaminya yang gantengnya Masya Allah itu mau di rebut sama pria jadi-jadian yang berada di belakangnya ini sih.
"Nah itu maksud eyke Mbak, calon suami kamu," balas Bobby cengengesan. Aurora mendengus kesal.
Wajah Aurora kini bertambah ayu dan bersinar. Dalam bayangan di cermin, tangan dan kakinya terasa bergetar. Jantung Aurora bergemuruh, sungguh ia sangat deg-degan saat ini.
Aurora telah selesai di rias, kini tinggal menunggu acara ijab kabul saja. Setelah itu baru Aurora boleh keluar dari kamarnya menuju ke halaman depan rumahnya.
Pintu kamarnya terbuka, menampilkan wajah kedua sahabatnya yang tak kalah cantik. Mila tersenyum lebar ketika melihat Aurora yang begitu cantik dengan balutan baju pengantin. Setitik air mata jatuh dari mata Mila.
Gadis itu langsung memeluk Aurora dengan erat diikuti oleh Kiran.
"Hiks, gue belum siap kehilangan lo, sugar babi."
"Gue juga Ra hiks, nanti nggak ada yang temenin gue ke Mall lagi," timpal Kiran yang ikut menangis.
Bukannya bersedih, malah Aurora ingin menggigit bahu milik kedua sahabatnya itu. Dikira dirinya akan mati apa sampai takut kehilangan gitu?
"Heh gue mau nikah ya, bukan mau mati!" kesal Aurora. Mila dan Kiran menguraikan pelukannya.
"Siapa yang bilang lo mau mati?" tanya Kiran bingung.
"Tau ah omongan kalian berdua bikin ambigu!"
"Sugar babi, gue nggak nyangka loh. Sumpah ini bener-bener kayak mimpi, lihat sahabat sendiri nikah. Rasanya baru saja kita lulus SMA dan kuliah bareng, terus kerja bareng, pasti lo nanti bakalan jauh dari gue--" Mila menjeda ucapannya sambil menatap dalam Aurora.
__ADS_1
"Gue harap lo jangan lupa sama gue ya? Gue mau terus bareng-bareng sama lo, soalnya sangat susah mencari sahabat sejati seperti lo, Ra." Mata Aurora berkaca-kaca mendengar ucapan Mila, sedangkan Kiran semakin menangis sesenggukan.
"Mila, Kiran. Dengerin gue ya, setelah gue nikah nanti, gue juga punya kesibukan sendiri. Nggak 24 jam ngurusin rumah tangga, tapi gue juga punya waktu untuk bekerja dan kumpul bareng sahabat-sahabat gue, tapi nggak sesering dulu. Pasti mas Irsyan juga bakal ngertiin gue kok," jelas Aurora.
"Sudah jangan sedih-sedih lagi, nanti makeup kalian pada luntur loh," goda Aurora. Mila dan Kiran segera menghapus air matanya.
"Lo nggak deg-degan apa, Ra?" tanya Kiran.
"Banget malah! Gue deg-degan sumpah!"
"Baru gini aja takut, gimana nanti kalau di unboxing sama mas Irsyan," celetuk Mila yang membuat pipi Aurora memerah.
"Apaan sih lo Mil!"
CEKLEK!
"Ibu?"
"Masya Allah cantik sekali anak ibu ini," puji Nuri pada putrinya.
"Makasih Bu," balas Aurora tersenyum malu.
"Oh ya Bu, acaranya belum dimulai ya?" tanya Aurora.
"Iya Bu."
Sedangkan diluar halaman rumah orang tua Aurora telah di dekorasi dengan sederhana dan elegan seperti permintaan Alfian, semua orang telah berkumpul disana.
Setelah selesai akad nikah nanti, malamnya akan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang diadakan di ballroom salah satu hotel bintang lima sesuai permintaan orang tua Irsyan.
Di kursi yang telah ditentukan, Irsyan duduk berhadapan langsung dengan penghulu dan calon mertuanya. Disampingnya ada Harun dan Bilal, paman dari Aurora sebagai saksi pernikahan ini.
Wajah Irsyan begitu datar, seperti tidak ada raut wajah kebahagiaan disana. Bukannya tidak senang, tapi Irsyan merasa gugup. Hal baru yang ia rasa kali ini begitu dirundung rasa kepanikan, apalagi ketika nanti salah berucap, pasti itu akan mempermalukannya.
Irsyan menghela napas panjang, matanya terpejam sejenak sebelum ia menerima jabatan tangan dari calon mertuanya.
"Bagaimana nak? Apa bisa kita mulai?" tanya bapak Penghulu.
Irsyan mengangguk mantap, "Bisa Pak."
"Baik, ikuti arahan dari bapak Alfian." Lalu bapak Penghulu memberikan mic pada Alfian, calon mertua Irsyan.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Irsyan Haris Candra bin Harun Candra dengan putri saya Aurora Putri Ramadhina binti Alfian Hadi dengan mas kawin uang sebesar lima ratus dua belas juta dan emas 24 karat seberat 30 gram dibayar tunai," ucap Alfian dengan tegas.
Tetangga-tetangga di tempat tinggal Aurora menganga lebar mendengar mahar yang diberikan keluarga mempelai pria kepada mempelai wanita yang Sultan abis!
"Saya terima nikah dan kawinnya Aurora Putri Ramadhina binti Alfian Hadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," timpal Irsyan lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak Penghulu.
"SAH!"
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin," ucap pak Penghulu dan di akhiri dengan doa.
Air mata Aurora langsung mengucur dengan derasnya saat melihat tayangan ijab kabul tersebut. Ia sangat lega dan bahagia, kini Aurora telah sah menjadi seorang istri dari Irsyan.
Tangis haru dan bahagia dari keluarga kedua mempelai menjadikan suasana begitu terasa. Di televisi itu, Aurora dapat melihat wajah Irsyan yang bahagia dan berseri saat keluarga dan sahabat-sahabatnya memeluk tubuh laki-laki yang tegap itu.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!"
Terpampang lah dua sosok laki-laki gagah dengan setelah jas hitam yang melekat di tubuh mereka masing-masing. Mereka berdua tersenyum manis yang ditunjukkan pada Aurora.
"Ayah, Aril!"
"Masya Allah, anak Ayah ini kok cantik banget sih," puji Alfian.
"Makasih Ayah."
"Ayo nak kita turun," ucap Alfian. Aurora mengangguk dan tersenyum. Lalu kedua tangannya digandeng oleh Ayah dan Ibunya. Aril dan kedua sahabatnya mengikuti Aurora di belakang.
Semua orang terpesona akan kecantikan Aurora yang kelewat cantik. Sampailah mereka di hadapan Irsyan. Aurora duduk di samping laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
Irsyan mendekatkan bibirnya ke telinga Aurora, "Sumpah, Mas nggak suka liat para lelaki itu memandangi wajah cantik kamu dengan penuh pujaan sayang, rasanya ingin Mas colok mata mereka satu-persatu," bisiknya dengan penuh penekanan dan kekesalan di dalam ucapannya.
Aurora terkekeh geli sambil mengelus tangan suaminya dengan lembut, "Mas nggak usah cemburu, aku kan sekarang cuma punya Mas seutuhnya," balasnya untuk menenangkan Irsyan.
"Sudah bisik-bisik nya nanti lagi di lanjutin di kamar," goda Jihan.
"Apaan sih Ma," ucap Aurora tersipu malu.
"Baiklah, sekarang nak Irsyan dan nak Aurora silahkan kalian menandatangani buku nikahnya," ucap pak Penghulu sambil memberikan buku nikah masing-masing. Setelah itu pemasangan cincin nikah, kemudian mereka berdiri untuk menyalami para tamu undangan.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.