GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 31


__ADS_3

"Ayo duduk." Irsyan menarik kursi untuk Aurora. Mereka berdua kini berada di salah satu restoran cepat saji yang ada di dalam Mall tersebut.


"Makasih Mas."


Irsyan mengangguk, "Kamu mau makan apa?" tanyanya.


"Burger yang big mac, kentang goreng sama cola," pesan Aurora.


"Itu saja? Nggak pesan fried chicken juga? Kamu belum makan nasi loh," ucap Irsyan.


"Nggak Mas, itu aja. Soalnya lagi nggak makan nasi kalau malam."


"Kenapa? Lagi diet ya?" tanya Irsyan dengan nada sedikit menggoda.


"Dih nggak ya," bantah Aurora.


"Bagus jangan diet, kamu udah cantik begitu, jangan di kurusin lagi," ucap Irsyan membuat Aurora tersipu malu mendengarnya.


"Ya sudah kalau gitu kamu tunggu ya?"


"Iya Mas, tapi aku mau ke toilet sebentar," ucap Aurora, Irsyan hanya mengangguk. Aurora beranjak dari kursi menuju ke arah toilet berada.


Setelah beberapa saat, Aurora pun selesai dari urusannya di toilet, sebelumnya ia mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel toilet. Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang menyapanya.


"Heh lo!"


Aurora melihat samping kiri, kanan dan belakang nya, mungkin perempuan itu menyapa orang lain, bukan dia. Setelah tidak melihat siapapun di dalam toilet itu selain dia dan perempuan itu, lalu Aurora pun mengerti jika perempuan itu memang menyapa dirinya.


"Gue mbak?" tanya Aurora menunjuk dirinya.


"Iya lah masa setan!" ketus perempuan itu. Aurora tidak boleh terbawa emosi, ia harus tenang menanggapi emak lampir yang menjelma sebagai manusia ini.


"Oh gitu, ada apa ya Mbak?"


"Lo siapanya mas Irsyan?" tanya perempuan itu sewot.


'Ah i see, rupanya dia salah satu penggemar beratnya mas Irsyan,' ucap Aurora dalam hatinya. Ia harus hati-hati, sepertinya perempuan ini orangnya sedikit nekat.


"Gue itu cuma temannya mas Irsyan aja kok, nggak lebih," jawab Aurora dengan santai.


"Cih lo kira gue nggak liat cara mas Irsyan perlakukan lo hah? Mas Irsyan itu suka sama lo dan gue nggak suka itu!" sentak perempuan itu, lalu dia menelisik wajah Aurora.


"Oh ya gue inget, bokap lo yang pernah di rawat di ICU yang hampir koma itu kan? Terus sok-sokan dirawat dirawat di ruang VIP padahal orang miskin itu kan?" sambungnya mencibir memandang remeh Aurora.


Kalian tau dia siapa? Ya, dia adalah Sukma. Sukma mengikuti Irsyan dan Aurora menuju ke restoran cepat saji tersebut. Ketika melihat Aurora berjalan menuju ke toilet ia pun mengikutinya.


Oke, jika sudah menjurus ke pembahasan apalagi menjelekkan keluarganya, Aurora tidak boleh membiarkan hal ini, Aurora kini sudah mulai mengeluarkan tanduk dan taringnya ingin segera menerkam perempuan di depannya ini.


"Terus urusan lo apa sama gue apa Mbak? Dan jangan bawa-bawa nama keluarga gue, gue nggak suka itu," ucap Aurora dingin.


Seketika melihat aura mencekam di sekeliling Aurora, Sukma sedikit bergidik ketakutan melihat wajah Aurora. Tapi dia mencoba untuk tidak takut dan biasa saja dengan perempuan di depannya ini.


"Cih, memang orang miskin tidak tau diri," cibir Sukma lagi.


"Gue harap lo jangan deket-deket lagi sama mas Irsyan!" titahnya lagi.


"Memangnya kenapa kalau gue deket sama mas Irsyan? Ada yang marah?"


"Ya gue lah yang marah! Mas Irsyan itu milik gue, lo jangan deket-deket lagi sama dia! Karena lo sama mas Irsyan itu kastanya sangat jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi!" sentak Sukma dan terus mencibir Aurora.


Aurora sedikit sakit hati mendengar ucapan Sukma, tapi itu memang kenyataannya.

__ADS_1


"Kalau gue nggak mau gimana?" tantang Aurora.


"Gue bakal buat muka sok cantik lo ini jadi rusak!" ancam Sukma.


"Cih emang lo berani?" Aurora semakin menantang Sukma. Sukma yang ditantang seperti itu semakin emosi.


PLAKKK!


Sukma langsung menampar pipi Aurora dengan cukup keras.


"Berani ya lo sama gue?" sentak Sukma menatap


"Ngapain gue harus takut sama lo? Emang lo Tuhan apa yang harus di takuti segala?" sentak Aurora dengan sinis sambil memegang pipinya yang terkena tamparan dari Sukma tadi.


SETTT!


Sukma yang semakin terbawa emosi itu kini menjambak rambut Aurora.


Aurora langsung mengumpat mengeluarkan nama-nama hewan dari bibir mungilnya, "Babi, kambing, buaya, bekicot, lepasin rambut gue emak lampir!" teriaknya.


"Gue nggak bakal lepasin rambut lo, sebelum lo menjauhi mas Irsyan."


'Oke, sepertinya dia pengen gue ngeluarin jurus bela diri gue. Siap-siap saja emak lampir!' batin Aurora yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Tangan Aurora pun langsung mencengkeram kuat tangan Sukma, lalu melintir tangan Sukma ke belakang, membuat sang empu kesakitan.


"Aarrgghh jal*ng lepasin gue!" teriaknya.


"Udah cukup gue kasi lo menghina dan merendahkan gue, sekarang lo harus mendapat balasannya!"


"Lepasin gue, kalau nggak gue bakal kasi tau ke mas Irsyan tentang hal ini," ancam Sukma. Ancaman Sukma membuat Aurora terkekeh.


Tak puas hanya melakukan itu saja, Aurora membalikkan badan Sukma, lalu menendang perut Sukma dengan lumayan keras.


BUGH!


"Arrgghh! Uhuk, uhuk, uhuk." Sukma terjatuh dan kesakitan sampai terbatuk-batuk akibat tendangan dari Aurora.


"Untung gue baik, kalau nggak udah gue buat lo sampai koma emak lampir" ucap Aurora menatap sinis dan dingin Sukma sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Setelah merasa puas telah melakukan hal itu pada Sukma, Aurora pun keluar dari toilet.


"Awas lo cewek miskin!" teriak Sukma di dalam toilet.


Aurora tidak memperdulikan teriakan dari Sukma, ia terus saja melangkah kan kakinya kembali menuju ke meja tempatnya tadi. Disana sudah ada Irsyan yang tengah menunggunya dan di atas meja pun sudah tersedia banyak makanan dan minuman yang mereka pesan.


Irsyan yang melihat kedatangan Aurora dengan pipi memerah dan rambut yang sedikit berantakan, tentu sangat terkejut dan khawatir dengan keadaan Aurora seperti itu.


"Kamu kenapa dek? Kok bisa pipi kamu memerah gini? Perasaan tadi kamu nggak seperti ini," ucap Irsyan khawatir, tak sadar tangannya memegang dan mengelus pipi Aurora.


"Ah tadi ini karena aku habis berdebat dan bertengkar sama emak lampir di toilet," jawab Aurora dengan santai. Irsyan greget dengan gadis itu, terlalu santai jika sudah berkaitan dengan keselamatannya.


"Siapa yang buat kamu kayak gini hah? Beritahu Mas, biar Mas kasi dia pelajaran!" ucap Irsyan dengan nada sedikit meninggi, rahangnya sampai mengeras dan tangannya mengepal kuat. Aurora menggeleng dan mengelus tangan Irsyan yang mengepal.


"Aku nggak apa-apa kok Mas, malah aku udah balas tendang perutnya tadi sampai dia terjatuh dan batuk-batuk," ucap Aurora dengan bangga.


Irsyan menghela napas berat, "Kamu ini buat Mas khawatir aja."


"Kok bisa khawatir?"


"Ya karena Mas-" Irsyan tak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Karena apa Mas?" desak Aurora.


"Ah nggak usah di pikirin, ayo kamu makan dulu," ucap Irsyan mengalihkan pembicaraan. Aurora mengerucutkan bibirnya, tak ayal ia juga mengangguk mengiyakan ucapan Irsyan.


...****************...


Pukul 11 malam, Aurora tiba di rumahnya. Dia masuk ke dalam rumahnya, ternyata sudah sepi dan gelap. Sepertinya semua penghuninya sudah tertidur.


Lalu Aurora melangkah kan kakinya menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, ia pun melemparkan tubuhnya di atas kasur, rasa lelahnya langsung hilang seketika.


"Sumpah gue masih gedek sama cewek tadi, untung gue masih baik kalau nggak, udah gue bikin tambah jelek tuh mukanya," cibir Aurora berbicara sendiri.


Drtt, Drtt, Drtt


Tiba-tiba handphone Aurora berdering menandakan bahwa ada orang yang menelponnya. Tanpa basa-basi lagi, Aurora segera mengangkat telpon tersebut, walaupun tidak melihat siapa nama peneleponnya.


"Selamat malam, dengan Aurora cantik disini." Terdengar suara decakan kesal dari seberang telpon.


"Lo dimana?"


"Gue dirumah, kenapa Wan?" Ternyata orang yang menelpon Aurora itu adalah Wawan, sahabatnya.


"Gue mau kasi tau, kalau Andre sekarang lagi di rawat di rumah sakit." Sontak Aurora terkejut dan merubah posisinya menjadi duduk.


"Hah? Lo nggak bercanda kan Wan?"


"Ngapain gue harus bercanda sama hal seperti itu Aurora, nggak ada untungnya."


"Kok bisa Andre masuk rumah sakit? Kenapa?"


"Dia habis kecelakaan tunggal."


"Kok bisa?" tanya Aurora penasaran.


"Iya dia habis latihan buat balapannya, tapi mungkin karena nggak fokus dia jadi oleng dan menabrak pembatas sirkuit," jelas Wawan.


Selain bekerja di hotel, Andre memiliki pekerjaan sampingan, yakni suka balapan motor. Ya, walaupun itu disebut juga sebagai balapan liar.


Aurora menghela napas panjang, "Terus gimana keadaan Andre sekarang? Dan dia di rawat di rumah sakit mana?"


"Dia cukup terluka parah, tulang kakinya sedikit bergeser karena tertimpa badan motornya dan dia di rawat di rumah sakit Atma jaya," jelas Wawan diseberang sana.


"Ya Allah, kasian banget Andre. Gue kesana sekarang."


"Nggak usah, ini udah malam. Besok pagi aja lo kesini, jugaan ada gue disini yang jaga Andre."


"Ya sudah besok pagi gue kesana, mumpung hari sabtu."


"Oke, lo sekarang tidur aja."


"Iya Wan, jagain Andre baik-baik. Assalamualaikum."


"Tanpa lo suruh gue juga bakal jaga dia baik-baik, waalaikumsalam Ra."


TUT, TUT, TUT.


Panggilan pun berakhir. Aurora menghela napas panjang, mungkin malam ini ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keadaan sahabatnya itu.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2