GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 38


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 petang, Irsyan pamit untuk pulang.


"Dek, Mas pulang dulu ya?" Belum sempat Aurora menjawab, Nuri sudah menyela duluan.


"Eh nak Irsyan sudah mau pulang?"


"Iya Bu, saya mau pulang," jawab Irsyan.


"Ini sudah magrib loh nak, kamu sholat maghrib dan makan malam saja dulu disini," ucap Nuri.


"Tapi saya belum mandi, Bu. Pakaian saya juga sudah kotor," balas Irsyan dengan sopan.


"Nanti Ibu coba carikan baju bapak untukmu, siapa tau ada yang cocok."


"Memangnya boleh, Bu?" tanya Irsyan sungkan.


"Tentu saja boleh nak," jawab Nuri.


Irsyan pun mengangguk mengiyakan permintaan Nuri. Nuri pun pergi ke kamarnya untuk mencarikan baju suaminya yang cocok buat Irsyan kenakan.


Beberapa saat kemudian, Nuri kembali ke ruang tamu.


"Nah ini baju dan juga pakaian dalam yang belum pernah dipakai sama sekali oleh bapak alias masih baru. Semoga saja pas di kamu." Nuri menyodorkan baju dan pakaian dalam untuk Irsyan kenakan.


"Terima kasih, Bu," ucap Irsyan sungkan.


"Sama-sama nak, sekarang kamu mandi dulu gih. Pakai saja kamar mandi yang ada di kamar Aurora," titah Nuri.


"Baik Bu," ucap Irsyan.


"Ayo Mas aku antar," ucap Aurora. Irsyan hanya mengangguk.


Setelah masuk ke kamar Aurora, Irsyan menelisik kamar Aurora yang bernuansa pink dan abu-abu, di temboknya banyak terpasang foto Aurora dari masih kecil hingga dewasa serta foto-foto Aurora bersama keluarga dan sahabatnya. Irsyan tersenyum tipis melihatnya, apalagi saat melihat wajah Aurora ketika kecil yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Itu kamar mandinya, Mas." Aurora menunjukkan pintu kamar mandinya.


"Iya Dek, makasih."


"Sama-sama, kalau gitu aku tunggu di ruangan khusus sholat ya?"


"Di sebelah mana ruangannya?" tanya Irsyan.


"Ruangannya itu dekat dengan dapur Mas," jawab Aurora.


Irsyan pun hanya mengangguk mengerti. Lalu Aurora keluar dari kamarnya, sedangkan Irsyan masuk ke dalam kamar mandi.


Adzan magrib pun telah berkumandang, setelah mandi dan mengenakan pakaian yang diberikan oleh Nuri tadi, Irsyan pun keluar dari kamar Aurora, lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruangan minimalis yang di khususkan untuk tempat beribadah dan ruangannya itu dekat dengan dapur.

__ADS_1


Irsyan diutus oleh Alfian untuk menjadi imam sholat. Irsyan langsung menyetujuinya. Mungkin sekalian belajar menjadi imam untuk Aurora nantinya, pikirnya.


Irsyan menjadi imam, lalu di belakangnya ada Alfian, Aril, Nuri serta Aurora yang menjadi makmumnya. Sholat magrib berjamaah pun dimulai.


Suara merdu milik Irsyan yang tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an begitu mengalun indah di telinga orang yang mendengarnya. Alfian sampai meneteskan air mata saking menghayati ayat-ayat suci Al-Qur'an yang Irsyan lantunkan.


Setelah selesai sholat, Irsyan menghadap ke belakang, lalu menyalami Alfian dan Aril. Kemudian di lanjutkan dengan baca doa, Irsyan lah yang merapal kan doa dan diaminkan oleh semuanya.


"Masya Allah, suara kamu merdu sekali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an tadi nak," puji Nuri pada Irsyan, setelah selesai baca doa tadi.


"Alhamdulillah, terima kasih Bu," balas Irsyan tersenyum. Aurora pun sampai tersentuh mendengarnya.


"Ka-mu cocok jadi mantu Ayah," ucap Alfian sedikit terbata karena penyakit yang di deritanya masih belum sembuh 100%. Irsyan tersenyum bahagia mendengarnya, sekarang dia sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua Aurora. Tinggal dia saja yang harus gencar mendapatkan hati Aurora.


"Alhamdulillah, Bapak bisa aja," ucap Irsyan.


"Pa-panggil saya Ayah," ucap Alfian. Irsyan tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah Ayah." Lalu Irsyan menatap ke arah Aurora, ternyata Aurora juga tengah menatap ke arahnya. Senyuman langsung terpatri di bibir keduanya.


"Kalau gitu, gimana kalau sekarang kita makan malam?" ucap Nuri. Semuanya mengangguk menyetujui ucapan Nuri.


Di meja makan sudah banyak lauk pauk yang terhidang disana. Dari ikan goreng, ayam goreng, tumis kangkung dan masih banyak lagi.


"Maaf ya nak Irsyan, Ibu sama Aurora hanya masak ini saja dan maaf jika masakannya tidak sesuai dengan seleranya nak Irsyan," ucap Nuri.


"Gapapa Bu, ini sudah lebih dari cukup kok dan ini semua juga termasuk makanan kesukaan saya kok Bu," balas Irsyan tersenyum.


"Ayo kita mulai makannya," sambungnya. Semuanya mengangguk mengiyakan ucapan Nuri. Aurora berinisiatif untuk mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Irsyan.


"Sini biar aku ambilkan Mas," ucap Aurora, Irsyan menyodorkan piring miliknya kepada Aurora.


"Mau lauk apa aja Mas?" tanya Aurora.


"Apa saja, semua Mas suka kok," jawab Irsyan. Aurora mengangguk, lalu mengambilkan beberapa lauk pauk untuk Irsyan. Nuri dan Alfian yang melihat itu hanya tersenyum.


"Ini Mas," ucap Aurora menyodorkan piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk pauk kepada Irsyan.


"Makasih Dek."


"Sama-sama Mas."


Lalu semuanya menyantap makanannya dengan khidmat tanpa bersuara hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar saling bersahutan.


...****************...


Di dalam ruang rawatnya Andre tengah dilema dan uring-uringan, ia ingin sekali untuk menyatakan perasaannya pada Kiran tapi dirinya masih ragu, takut jika Kiran menolak.


Kiran yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di dalam ruangan Andre. Ia mengerutkan keningnya, ketika melihat ke arah Andre yang tengah gelisah itu. Kiran pun segera menghampiri Andre dan duduk di samping brankar.


"Lo kenapa Ndre? Kok keliatannya gelisah banget," tanya Kiran.


"Ah gu-gue gapapa kok," jawab Andre gugup. Kiran hanya mengangguk tanpa bertanya lagi. Andre merubah posisinya menjadi duduk.

__ADS_1


"Kiran," panggil Andre. Ia harus mengungkapkan perasaannya pada Kiran yang selama ini terpendam. Bodo amat lah kalau Kiran menolaknya, yang terpenting ia mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.


"Kenapa Ndre?" tanya Kiran menatap Andre.


"Em gue sebenarnya--"


"Lo sebenarnya kenapa Ndre? Kenapa lo gugup, dah kayak maling ayam yang ketangkap basah aja lo!" celetuk Kiran.


"Gue sebenarnya suka sama lo, Kiran," jawab Andre yang akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Kiran.


DEG!


Jantung Kiran berdegup kencang ketika mendengar pengakuan dari Andre.


"Sejak kapan?"


"Sudah lama, sejak kita kelas 2 SMA," jawab Andre jujur.


"Terus kenapa baru sekarang lo kasi tau ke gue?"


"Karena gue takut lo bakal nolak dan marah sama gue, bahkan gue takut jika pengakuan gue ini bakal membuat persahabatan kita hancur," jelas Andre menunduk. Kiran langsung terdiam, ia memandang ke arah lain.


"Kenapa lo nggak kasi tau dari dulu aja sih Ndre? Jadi gue kan pacarannya sama lo bukan sama Kevin," lirih Kiran. Andre yang tadinya menunduk langsung menatap Kiran.


"Maksud lo gimana Ki?" tanya Andre.


Kiran menghela napas panjang, "Sebenernya gue suka sama lo sejak pertama kali kita MOS waktu SMA dulu," ucapnya kembali menatap Andre. Andre sangat terkejut mendengar ucapan Kiran.


"Jadi lo--" Ucapan Andre disela oleh Kiran.


"Iya Ndre, gue suka sama lo sejak pertama kali kita bertemu."


"Berarti lo mau cari pacar gue?" tanya Andre dengan mata yang berbinar-binar.


"Ish! Masa masa nembak nya di rumah sakit, nggak romantis banget sih," ucap Kiran cemberut.


"Terus maunya dimana sayang?" tanya Andre begitu lembut, pipi Kiran menjadi merah merona dibuatnya, apalagi Andre memanggilnya dengan kata sayang.


"Di pantai atau taman kek."


"Oke. Besok kalau aku sudah sembuh, aku bakal nembak kamu lagi deh pake cara yang romantis," goda Andre.


"Beneran ya? Awas saja kalau bohong," ucap Kiran.


"Iya sayang, tapi sekarang kita udah jadian kan?" tanya Andre dengan menaik turunkan alisnya.


"Em gimana ya?" ucap Kiran seperti sedang berpikir. Tanpa berpikir panjang Andre menarik tangan Kiran dan memeluknya dengan erat. Kiran pun membalas pelukan Andre tak kalah eratnya.


"Akhirnya cinta aku terbalaskan juga," lirih Andre.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2