
Aril membukakan pintu mobil untuk Caca, mereka telah sampai di halaman rumah mewah milik Tuan Ibrahim, tak lain adalah kakek dari Caca.
Caca turun dari mobil, ia menatap ke sekeliling rumah kakeknya. Di depan pintu utama mereka berdua telah ditunggu oleh Bimo, asisten pribadi Tuan Ibrahim.
"Selamat datang di rumah, Nona Caira," sapa Bimo.
"Terima kasih, paman Bimo," balas Caca tersenyum. Aril pun ikut menyapa Bimo dengan menundukkan kepalanya.
"Meskipun sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu, tapi Nona Caira, anda tidak perlu bersikap sopan terhadap saya," ucap Bimo sungkan.
"Baik, Paman. Oh ya, bagaimana dengan keadaan kakek?" tanya Caca.
"Keadaan Ketua sudah jauh lebih membaik dan tadi pagi beliau bangun dari komanya, mungkin beliau mengetahui jika cucu kesayangannya akan kembali kesini," jelas Bimo. Caca dan Aril sangat lega mendengar Tuan Ibrahim telah sadar dari komanya.
"Alhamdulillah, apa aku boleh pergi jenguk kakek?"
"Tentu saja Nona, tapi alangkah baiknya sekarang anda beristirahat terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit. Saya yakin Nona saat ini cukup lelah dari penerbangan jauh di tambah anda tadi pergi ke perusahan."
Caca mengangguk, "Iya Paman, aku istirahat dulu."
Bimo menatap ke arah Aril, "Aril, tolong antarkan Nona Caira ke kamarnya," perintahnya.
"Baik, Pak. Mari Nona."
Caca hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut. Di bawah tangga, Caca dan Aril melihat Kalina, ibu Arsal atau anak kedua dari Tuan Ibrahim akan turun.
"Nyonya Kalina," sapa Aril. Kalina tidak membalas, tapi matanya menatap ke arah Caca dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti tatapan tidak suka dengan kedatangan gadis itu ke rumah ini.
"Caca?"
"Tante Kalina," balas Caca tersenyum.
"Lama tidak bertemu, ternyata kamu sudah besar ya," ucap Kalina.
"Iya Tante. Tante Kalina apa kabar?" tanya Caca.
"Baik," jawab Kalina singkat. Caca bingung akan bertanya apalagi, sebab ia memang tidak dekat dengan adik dari Mommy-nya ini. Aril yang mengerti situasi pun mengalihkan topik pembicaraan dengan mengajak Caca menuju ke kamarnya.
"Nona, mari saya antarkan ke kamar anda," ujar Aril.
Caca mengangguk, "Aku izin ke kamar dulu Tante," ucap Caca menatap Kalina. Kalina tidak membalas dan mengacuhkan Caca.
Caca hanya bisa menghela napas melihat sifat Tantenya. Ia berjalan di belakang Aril, karena melamun, Caca sampai menubruk punggung Aril yang berhenti di depannya.
"Astaga maaf, Ril. Aku nggak sengaja," ucap Caca.
Aril mengangguk, kemudian ia membukakan pintu kamar Caca, "Ini kamar anda, Nona."
"Terima kasih, Aril."
__ADS_1
Aril mengangguk. Pria itu meninggalkan depan kamar Caca untuk mengambil koper milik Caca yang ada di bagasi mobil. Caca masuk ke dalam kamar tersebut, luasnya hampir sama dengan kamarnya yang ada di rumah Turki.
Caca berjalan ke arah wardrobe atau ruang ganti. Ternyata kakeknya telah menyiapkan segala kebutuhannya, dari skincare, pakaian, sepatu, perhiasan, tas dan lain sebagainya.
TOK! TOK! TOK!
"Nona ini koper anda," ucap Aril setelah mengetuk pintu kamar Caca.
"Masuk aja, Ril," suruh Caca. Aril membuka pintu seraya menarik koper.
"Kopernya saya taruh dimana?" tanya Aril.
"Di atas sofa aja, nanti biar aku yang beresin," jawab Caca.
Aril mengangguk patuh, lalu menaruh koper tersebut di atas meja.
"Nanti malam, saya balik lagi kesini untuk mengantar anda ke rumah sakit," ucap Aril.
"Kamu nggak diem disini aja, Ril?" tanya Caca.
Aril mengerutkan keningnya, "Maaf saya tidak bisa, Nona. Ada tugas yang harus saya selesaikan di kantor."
"Oh gitu, ya udah deh." Padahal Caca ingin mengobrol banyak dengan Aril.
Malam harinya, Caca yang ditemani Aril pergi ke rumah sakit menjenguk tuan Ibrahim. Aril membukakan pintu ruangan VVIP tempat rawat tuan Ibrahim untuk Caca. Disana ada Bimo dan seorang pria yang tidak Caca ketahui karena pria tersebut berdiri membelakanginya.
"Assalamualaikum," ucap Caca dan Aril bersamaan.
"Kak Lucas?" lirih Caca.
Kalian ingat saat Caca dan Aril dikepung oleh geng anak motor pada malam itu? Terus ketika Aril tengah melawan geng anak motor tersebut, Caca pernah menyebut nama Lucas? Yah, dialah pria yang disebut oleh Caca itu.
Lucas Arthayasa, anak dari Bimo Arthayasa, asisten pribadi Tuan Ibrahim. Kini pria itu berprofesi sebagai Direktur bagian desain di YH GROUP, dia juga salah satu orang kepercayaan tuan Ibrahim.
Dulu saat Caca berusia 7 tahun dan Lucas 10 tahun, mereka berdua pernah diculik. Waktu itu Caca dan kedua orangtuanya masih tinggal di kota Y, asal tuan Ibrahim. Lucas sering disiksa oleh preman-preman yang menculik mereka, sehingga itulah yang membuat Caca trauma akan kekerasan sampai detik ini.
"Kamu apa kabar, Ca?" tanya Lucas.
"Aku baik kak, kakak bagaimana kabarnya?" tanya balik Caca.
"Aku baik, apalagi setelah bertemu denganmu. Kamu tambah dewasa tambah cantik aja," ucap Lucas memuji Caca, membuat gadis itu salah tingkah. Sedangkan Aril, entah kenapa tidak menyukai interaksi antara dua manusia berbeda jenis itu.
"Kakak bisa aja."
"Ekhem! Nona Caca, tuan Ibrahim sepertinya ingin berbicara dengan anda," ucap Aril mengalihkan topik. Caca melihat ke arah sang kakek, tuan Ibrahim tersenyum kepadanya. Caca mendekati brankar tuan Ibrahim dan duduk di kursi yang berada di samping brankar.
Bimo dan Lucas pun pamit keluar dari ruang rawat tuan Ibrahim, hanya menyisakan Aril, Caca dan tuan Ibrahim di dalam sana.
"Gimana keadaan kakek saat ini?" tanya Caca seraya menggenggam tangan tuan Ibrahim.
__ADS_1
"Alhamdulillah keadaan kakek jauh lebih membaik, nak. Di tambah lagi menatap cucu kesayangan kakek disini, kakek semakin sehat," ucap tuan Ibrahim.
"Kakek bisa aja. Syukurlah keadaan kakek sudah mulai membaik, Caca sangat lega mendengarnya," ujar Caca.
Aril hanya tersenyum tipis mendengar interaksi antara kakek dan cucu itu.
...****************...
Irsyan pergi mengantar Hansel ke sekolahnya, putranya kini duduk di bangku kelas 2 SD.
"Anak Papa, jangan nakal-nakal ya disekolah. Harus patuh sama guru," peringat Irsyan pada Hansel.
"Iya, Pa." Hansel mencium tangan kanan Irsyan. Tangan kiri Irsyan, mengusap lembut kepala sang putra.
"Bye Pa, Papa hati-hati di jalan," ucap Hansel.
"Iya nak."
Hansel turun dari mobil sang papa. Irsyan pun kembali menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan pekarangan sekolah.
"Hansel!" panggil Zhafira. Dibelakang gadis kecil itu ada Jendra, mereka berdua sahabat dari Hansel.
Zhafira Shakila, anak dari pasangan Wawan dan Nina. Sedangkan Ahmad Rajendra Husein, anak dari pasangan Andre dan Kiran.
"Kenapa, Fira?" tanya Hansel.
"Ayo masuk!" ajak Zhafira. Hansel hanya mengangguk. Zhafira mengambil tangan kedua sahabatnya, lalu menggandengnya menuju ke kelas. Sementara kedua bocah laki-laki itu hanya bisa pasrah.
Belum masuk ke dalam kelas, Hansel di panggil oleh seseorang.
"Hansel!"
Hansel melihat ke arah sumber suara, ia menatap gadis kecil yang umurnya diatasnya. Gadis itu merupakan kakak kelasnya. Hansel tau jika gadis itu menyukainya, tapi ia tidak pernah menggubrisnya.
Haish, Hansel tidak habis pikir dengan gadis-gadis yang sering mengejarnya itu. Padahal umur mereka terbilang masih sangat kecil, orang bilang sih masih bau kencur, tapi herannya mereka sudah mengerti cinta-cintaan seperti itu.
"Kenapa?" Hansel memasang wajah dinginnya. Dengan orang lain, Hansel memang dikenal anak yang dingin, beda lagi jika bersama keluarga dan kedua sahabatnya. Mungkin karena sering bergaul dengan Aril, bocah laki-laki itu mengikuti sifat sang paman.
"Ini untuk kamu," ucap gadis kecil itu dengan malu-malu menyodorkan sebatang cokelat pada Hansel. Hansel menerimanya dan gadis itu langsung berlari kesenangan setelah Hansel mengambil cokelatnya.
"Ini untukmu." Hansel memberikan cokelat itu pada Zhafira.
"Lah kok untukku? Ini kan punyamu, Hans," ucap Zhafira heran.
"Ya sudah kalau nggak mau, biar aku yang ambil." Jendra merebut cokelat tersebut dari tangan Zhafira.
"Hei Jendra! Itu punyaku, Hansel memberikan itu padaku!" teriak Zhafira.
"Ini ambil kalau bisa!" ucap Jendra sambil berlari. Zhafira yang kesal langsung berlari mengejar Jendra. Hansel hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.