GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 170


__ADS_3

Lucas dihubungi oleh ayahnya tak lain adalah Bimo. Pria paruh baya itu menyuruh sang putra untuk menemui seorang wanita yang merupakan adik dari partner bisnisnya. Dia berniat menjodohkan Lucas dengan wanita itu.


Lucas sempat menolak, tapi Bimo tetap bersikukuh dan membuat alasan jika hal tersebut demi kebaikan diri Lukas sendiri, YH GROUP dan almarhum sang ibu. Mau gak mau Lucas pun menyetujui keinginan ayahnya apalagi sudah bersangkutan dengan sang ibu.


Lucas masuk ke dalam cafe tempat dirinya akan bertemu dengan wanita yang dikatakan Bimo. Ia melirik kanan-kiri mencari keberadaan wanita itu. Lucas melihat seorang wanita menggunakan dress ungu sedang duduk membelakanginya. Ia yakin itu lah wanita yang dimaksud.


Lucas berjalan menuju ke meja dimana wanita itu berada. Saat sudah di depan meja wanita yang dimaksud, Lucas terkejut melihatnya. Ternyata wanita itu adalah wanita yang pernah ia temui di bar dan Lucas pernah ditawarkan untuk bergabung di perusahaan perhiasan milik wanita itu. Bisa di bilang perusahaan milik wanita itu merupakan rival bisnis YH GROUP.


"Maaf, saya salah orang. Permisi."


"Anda tidak salah." Wanita itu membuka kacamata hitam yang dikenakannya. "Teman ayahmu, adalah saudaraku. Duduklah," suruhnya. Wanita itu tersenyum lalu menyodorkan segelas kopi yang telah dipesannya tadi untuk Lucas.


Untuk menghargai wanita itu, Lucas pun duduk di depannya. "Maaf. Saya pikir--"


"Anda mengira saya akan mengikuti ke dalam hidup Anda? Karena kami tidak mencapai kesepakatan pada pekerjaan waktu itu?" sela wanita itu menatap Lucas. Lucas memang menolak untuk bekerja sama dengan wanita itu karena menurutnya YH Group lah tempat terbaik baginya.


Lucas menghela napas pendek dan mengalihkan pandangannya membuat wanita itu terkekeh kecil.


"Ketika kakak saya menyebut nama anda, dia mengatakan anda sangat pandai dalam hal design. Dan yah... Perkataannya memang benar, dia juga sepertinya ingin menjodohkan kita," ujar wanita itu. Lucas kembali menatapnya setelah wanita itu mengatakan hal tadi.


"Tapi saya menolaknya, karena anda bukan tipe saya. Saya tidak mempunyai niat untuk bersama anda. Jadi kita tidak akan pernah bersama... Karena terakhir kali anda menolak bekerja sama dengan saya, jadi sekarang saya yang akan menjadi orang yang menolak Anda kali ini," sambungnya.


Lucas terkekeh kecil mendengarnya. "Baiklah. Saya juga tidak berniat bersama Anda. Kalau begitu saya pergi." Lucas berdiri dan ingin pergi, tapi ucapan wanita itu membuat dirinya harus kembali duduk.


"Menolak anda dalam hidup saya bukan berarti saya menolak anda dalam hal bekerja sama. Tuan Lucas, perusahaan perhiasan saya masih tertarik dengan desain perhiasan anda," ujar wanita itu.


"Jika memungkinkan, saya berharap Anda dapat meninggalkan YH GROUP dan bekerja di perusahaan saya," lanjutnya. Wanita itu sangat bersikukuh agar Lucas bisa bekerja di perusahaan milik keluarganya.


Lucas membuang napas, "Saya pikir ucapan saya terakhir kali itu terdengar jelas di telinga anda. Jadi, saya tidak perlu menjelaskannya lagi."


"Itu kan dulu dan situasinya sekarang sudah berbeda. Setahu saya, YH GROUP sedang mengalami krisis hipotek di luar negeri. Kami bahkan tidak mengetahui apakah Nyonya Ranti yang akan mengambil alih dan mampu mengelola perusahaan itu agar kembali seperti semula... Apakah anda masih mampu mau bertahan disana?" tanya wanita itu menatap lekat Lucas. Lucas langsung menghindari tatapan wanita itu.


"Tuan Lucas, saya yakin tujuan anda bukanlah di YH GROUP. Tetapi pada penghargaan internasional dalam industri desain."


Ucapan wanita itu sontak membuat Lucas membulatkan matanya, dari mana wanita itu tau impiannya selama ini? Lucas memang sangat ingin desain perhiasannya mengikuti ajang penghargaan internasional dalam industri desain di Eropa dan Amerika, tapi belum juga terlaksana sampai sekarang.

__ADS_1


Wanita itu mengambil kartu namanya dari dalam tas, "YH GROUP tidak akan bisa mewujudkan impian anda. Tapi jika anda bekerja dengan perusahaan saya, saya bisa membuat anda menjadi desainer perhiasan terkenal di dunia." Wanita itu menaruh kartu namanya di atas meja.


"Saya akan memberikan anda kesempatan lagi. Tolong beri saya balasan 48 jam dari sekarang," ucap wanita itu seraya tersenyum ke arah Lucas. Kemudian ia memasang kembali kacamata hitamnya dan berdiri meninggalkan Lucas.


Lucas mengambil kartu nama yang di taruh wanita tadi. Vanya Smith, wakil direktur utama di Smith Jewelry. Salah satu perusahaan perhiasan terbaik setelah YH GROUP. Itu lah tulisan di kartu nama tersebut.


"Oh God. Sebentar lagi rapat pemegang saham di YH GROUP akan di laksanakan! Kenapa gue bisa lupa begini sih!" Lucas langsung bergegas meninggalkan cafe tersebut dan segera pergi menuju ke YH GROUP.


Caca telah siap dengan pakaian kerjanya. Hari ini merupakan hari pertama dirinya menjadi CEO di YH GROUP. Suara pintu kamarnya di ketuk dari luar dan itu suara Aril. Caca pergi membukakan pintu untuk Aril.


"Selamat pagi, Nona. Anda sudah siap?" sapa Aril.


Caca mengangguk, "Aku sudah siap. Tapi aku deg-degan banget, Ril," keluhnya. Tangannya saling remas yang artinya Caca tengah dilanda kecemasan. Aril pun tak luput melihat tingkah wanita yang menjadi atasannya itu.


"Anda tenang saja, Nona. Saya akan membantu dan berada di samping anda saat meeting nanti," ujar Aril mencoba sedikit menenangkan Caca. Semalam ia sempat berbicara empat mata dengan tuan Ibrahim. Tuan Ibrahim berpesan kepada Aril, untuk selalu menjaga dan membantu Caca di perusahaan.


Tuan Ibrahim mengetahui jika cucu pertamanya ini kurang paham mengenai dunia bisnis. Sebab saat kuliah, Caca mengambil jurusan fashion design bukan manajemen bisnis. Oleh karena itu tuan Ibrahim meminta Aril yang sudah fasih dalam dunia bisnis untuk membimbing Caca di kantor. Dengan senang hati Aril menerima permintaan tuan Ibrahim.


"Kalau nanti aku salah bicara gimana, Ril?" tanya Caca ragu.


"Beneran ya, Ril?"


Aril mengangguk dan tersenyum tipis. Caca merasa sedikit lega karena ada Aril membantunya. Aril menatap ke bawah, tepat ke arah kaki Caca yang mengenakan sepatu heels yang sangat tinggi menurutnya.


"Anda nyaman menggunakan sepatu heels seperti itu?" tanya Aril.


Caca mengerutkan keningnya, matanya melirik ke arah sepatunya. "Aku nyaman. Memangnya kenapa?"


Caca menggunakan heels yang berbentuk Stiletto yang sangat runcing dan berukuran 10 cm. Tapi ia sering menggunakan sepatu heels tersebut saat pergi bekerja.


Sebagai seorang perancang busana, tentu saja Caca harus memerhatikan penampilannya. Di Turki, Caca memiliki butik yang cukup terkenal. Ia berniat membuka beberapa cabang lagi. Tapi sayangnya, kini dirinya harus memimpin perusahaan sang kakek yang berada di ujung tanduk.


"Apakah boleh saya menyuruh anda untuk menggantinya? Saya takutnya akan menyusahkan anda saat berjalan nanti."


Seperti anak yang disuruh ayahnya, Caca langsung mengangguk menyetujui permintaan Aril. "Tapi kamu yang pilihin sepatunya ya?" pinta Caca.

__ADS_1


Aril mengangguk dan Caca tersenyum senang. Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arah ruang wardrobe. Caca duduk di mini sofa, sedangkan Aril pergi mencari sepatu yang cocok untuk Caca.


Aril memilih sepatu berbentuk kitten heels dengan hak yang cukup pendek yakni 5 cm. Tapi Aril yakin menggunakan sepatu ini membuat Caca menjadi nyaman nantinya.


Aril mendekati Caca dan berjongkok di depan wanita itu membuat Caca sangat terkejut.


"Kamu mau ngapain, Ril?" tanya Caca.


"Saya mau pakaikan anda sepatu ini. Saya yakin ini lebih nyaman dari sepatu yang tadi," jawab Aril.


"No, biar aku aja," tolak Caca. Ia tidak enak jika Aril yang memakaikannya sepatu.


"Tidak apa-apa, Nona."


Aril mengambil salah satu kaki Caca dan mulai memakaikan sepatu yang telah ia ambil tadi. Caca merasa sekarang dirinya seperti seorang Cinderella yang tengah di pasangkan sepatu kaca oleh sang pangeran tampan. Ia sampai meleleh dengan perbuatan Aril ini. Caca berharap bisa menghentikan waktu, ia ingin berlama-lama dengan Aril.


"Sudah, Nona." Aril telah selesai memasangkan sepatu di kaki mulus Caca. Ia mendongak menatap Caca, namun yang di tatap seperti orang melamun.


"Nona ..."


"Ah iya?" Caca tersentak dengan wajah memerahnya. Ia malu tertangkap basah menatap Aril seperti itu


"Wajah anda kenapa memerah seperti itu? Anda sakit?" tanya Aril yang kurang peka.


Caca memegang kedua pipinya, ia merasakan wajahnya memanas. "Gapapa kok, Ril. Ayo kita berangkat," ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik, Nona."


Mereka berdua keluar dari kamar, berjalan beriringan menuju ke depan halaman yang disana sudah terparkir sempurna mobil yang akan mereka kenakan ke kantor.


Hari ini juga merupakan hari pertama bagi Lala untuk bekerja sebagai karyawan magang di YH GROUP pada bagian desain. Wanita itu seorang animator, sangat suka menggambar karakter animasi.


Lala kini sudah berada di depan gedung YH GROUP. "Wah, kenapa banyak orang disini? Sepertinya akan ada pertemuan penting... Oke Lala, ini hari pertama lo kerja. Lo nggak boleh mengecewakan!" Lala menyemangati dirinya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan langkah yang percaya diri.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2