
Malam harinya Aurora di ajak kumpul oleh sahabat-sahabatnya di cafe sunshine.
"Oh ya guys, kita mau kasi tau sesuatu ke kalian," ucap Andre, dia akan memberitahukan tentang hubungannya dengan Kiran kepada ketiga sahabatnya. Oh ya, Andre sudah pulang dari rumah sakit setelah 5 hari dirawat.
"Apaan Ndre?" tanya Wawan penasaran. Andre menatap ke arah Kiran meminta persetujuan, Kiran yang ditatap hanya mengangguk seperti mengatakan jika Andre boleh mengatakan yang sejujurnya tentang hubungan mereka.
"Sebenarnya gue sama Kiran udah jadian," ucap Andre. Sontak ketiga sahabatnya terkejut dan tak percaya dengan ucapan Andre.
"Serius lo Ndre?" tanya Aurora.
"Iya Ndre, lo nggak lagi prank kita kan?" tanya Mila.
Andre menggeleng, "Gue seriusan, tanya aja Kiran kalau kalian nggak percaya," ucapnya. Lalu Aurora, Mila dan Wawan menatap ke arah Kiran untuk meminta penjelasan.
"Iya guys, gue sama Andre pacaran," ucap Kiran.
"Sejak kapan?" tanya Wawan menatap datar Andre dan Kiran.
"Sejak 2 minggu yang lalu," jawab Andre.
"Kok kalian baru kasi tau ke kita sih?" ucap Mila sedikit kesal dengan dua sahabatnya yang sudah menyembunyikan hubungannya.
"Sorry guys, soalnya baru saat ini kita berani kasi tau ke kalian," ucap Kiran menunduk, dia merasa bersalah pada ketiga sahabatnya itu.
"Iya gapapa Ki, kita ngerti kok. Oh ya, selamat ya atas hubungan kalian, semoga hubungan kalian selalu langgeng hingga ke jenjang yang lebih serius," ucap Aurora.
"Makasih Rora," ucap Andre dan Kiran serempak.
"Gimana kalau kalian berdua traktir kita makan, sebagai pajak jadian kalian berdua," seru Wawan, Aurora dan Mila pun menyetujui ucapannya.
"Oke gue bakal traktir kalian makan sepuasnya," ucap Andre.
"Yey, makan gratis!" seru Aurora dan Mila, si penyuka hal-hal yang berbau gratisan.
...****************...
Di kantor, Aurora selalu berusaha untuk menghindari Rian. Entah kenapa benaknya selalu berkata, jika laki-laki itu kurang baik. Apalagi setelah dia tau jika Rian adalah ketua geng motor yang sangat ditakuti.
Walaupun Aurora menghindar, tetap saja Rian selalu mendekatinya. Seperti sekarang ini dia coba mengajak Aurora untuk bermalam mingguan.
"Aurora," panggil Rian. Mereka sedang berada di dalam ruangan.
"Ya mas Rian?"
__ADS_1
"Besok malam kamu ada acaranya nggak?" tanya Rian.
"Memangnya ada apa ya Mas?" Bukannya menjawab, Aurora malah balik bertanya pada Rian.
"Hem, saya mau ajak kamu keluar jalan-jalan. Kamu mau nggak?"
'Duh males banget kalau dia yang ajakin,' batin Aurora.
"Em, gimana ya Mas? Besok malam itu saya ada acara keluarga, jadi sepertinya saya nggak bisa, maaf ya?" balas Aurora dengan wajah yang sengaja dibuat seperti orang telah melakukan kesalahan.
"Ya sudah gapapa," ucap Rian senyum terpaksa, lalu ia pun kembali ke mejanya.
Aurora menghela napas lega, 'Untung aja dia nggak maksa,' batinnya.
Sepulang kerja, Aurora mengendarai motor maticnya membelah jalanan ibu kota M. Pandangannya tak sengaja menatap ke arah taman yang terlihat sepi, ia menaikkan satu alisnya ketika melihat seorang anak laki-laki yang hendak di culik oleh preman. Anak laki-laki itu terlihat meronta-ronta.
Aurora yang tidak tega langsung menepikan motornya di tepi jalan, lalu ia berlari ke arah anak itu.
"Lepas hiks, tolong lepaskan Alvaro. Al anak baik kok, Al nggak nakal. Paman jelek jangan apa-apakan Al," ucap anak laki-laki yang bernama Alvaro itu sambil terisak.
"Paman akan lepaskan adik ganteng kalau papa adik ganteng mau berikan uang yang banyak ke Paman," ucap preman itu sambil membekap mulut Alvero.
Alvaro pun langsung mengigit tangan preman yang membekap mulutnya.
"Arrgghh brengsek!"
Preman itu langsung melepaskan Alvaro dari gendongannya dengan cara sedikit melempar.
"Huwaaaa Mami sakit, pantat Alvaro yang montok ini jadi tepos, hiks," jerit Alvaro menangis.
"Dasar bocah sialan! Berani lo gigit tangan gue, rasakan ini!"
BUGH!
Belum sempat preman itu melayangkan tamparannya pada Alvaro, seseorang telah lebih dulu menendang perut preman itu hingga terlempar ke belakang.
"Berani kok sama anak kecil. Nggak malu sama tato naga di lengan lo?" Preman itu mencoba untuk berdiri, dia menatap nyalang orang di depannya.
"Cih lo nggak usah ikut campur jal*ng! Ini urusan gue sama ni bocah."
"Dek, kamu pergi dari sini. Biar dia jadi urusan kakak." Alvaro yang sedang bersembunyi di belakang gadis cantik penyelamatnya yang tak lain adalah Aurora, hanya mengangguk pelan. Alvaro berlari menuju ke arah semak-semak dan bersembunyi disana.
Preman itu menelisik Aurora dari atas sampai bawah, dengan pandangan mesum.
__ADS_1
"Kalau dilihat lo cantik juga. Eh tidak-tidak, tapi lo sangaaaat cantik."
"Lebih baik lo jadi pacar gue atau jadi istri gue yang keempat, gimana?" Aurora mengalihkan kembali pandangannya ke arah preman dengan wajah pas-pasan itu.
"Cih najis!"
PLAKKK!
Preman itu menampar pipi Aurora. Aurora mengepalkan tangannya erat.
"Jal*ng kayak lo nggak usah sok jual mahal! Berapa sih permalamnya? Biar gue bel-"
BUGH!
Belum selesai preman itu berucap, bogeman dari Aurora langsung mendarat ke wajahnya hingga preman itu jatuh terkapar.
"Bajing*n sinting! Jangan macem-macem ya lo sama gue! Jangan sekali-kali lo samain gue dengan jal*ng-jal*ng di luar sana!" hardik Aurora naik pitam.
ARRGGHH!
Aurora menginjak perut preman itu, sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyuman menyeringai. "Lo juga bisa gue beli, dengan ..."
"Nyawa lo, gimana?" Wajah preman itu langsung pucat pasi mendengar ucapan Aurora. Badannya bergetar hebat, kedua tangannya mengatupkan menjadi satu.
"To-long lepasin gue, uhuk... uhuk... gue minta maaf. Gu-gue janji nggak akan ganggu lo dan menculik anak-anak lagi."
Aurora menaikkan satu alisnya, "Sudah terlambat," gumamnya pelan. Kemudian terdengar suara sirene mobil polisi yang membuat preman itu semakin ketakutan dan berkeringat dingin.
...****************...
Dirumah sakit, Irsyan sedang panik karena kakak perempuannya yang bernama Fani itu menelpon dan mengatakan jika dia kehilangan anak laki-lakinya.
"Kok bisa hilang sih kak? Kok nggak becus banget sih pengasuh yang kakak kerjakan!" bentak Irsyan pada kakaknya.
"Hiks, please bantuin kakak mencari keponakan kamu, Syan," ucap Fani terisak.
"Iya kak, nanti aku suruh semua anak buah papa untuk mencarinya, kakak nggak usah khawatir," ucap Irsyan mencoba untuk menenangkan kakaknya.
"Iya Syan, kakak sama kak Adit mau lanjutin cari keponakan kamu dulu. Assalamualaikum."
"Iya kak, waalaikumsalam."
Irsyan menghela napas berat, ia sangat frustrasi sekarang karena keponakan kesayangannya hilang entah kemana. Irsyan pun kembali mengotak-atik handphonenya menelpon salah satu anak buah papanya untuk membantunya mencari keberadaan keponakannya itu.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.