
Caca menunggu Aril di gerbang sekolah, lelaki itu sedang mengambil motornya di parkiran, mereka berdua akan pergi ke rumah Aril atas suruhan dari Nuri yang penasaran dengan Caca.
Sedari tadi Caca terus membuang napas, dirinya sangat grogi karena ini untuk pertama kalinya bertemu dengan calon ibu mertuanya. Eh ralat, ibu dari cowok yang ia sukai maksudnya.
Caca memikirkan bagaimana sikap dan perilaku yang harus ia tunjukkan ada orang Aril nantinya, apa dia harus kalem atau tingkah dirinya seperti biasa yang pecicilan? Dan Caca berharap orang tua Aril baik, ramah, dan tidak dingin seperti Aril.
Tiba-tiba Lala datang menghampiri Caca dengan motornya, "Loh Ca, kok lo belum pulang?"
"Iya gue lagi nungguin Aril mau ke rumahnya," jawab Caca.
"Cieee yang mau dibawa ke rumah calon mertua," goda Lala membuat Caca tersipu dan salah tingkah.
"Apaan deh lo La!"
"Gercep ya lo Ca, langsung dikenalin ke orang tuanya," ucap Lala.
"Ya dong, Caca gitu loh," balas Caca membanggakan dirinya sambil terkekeh di akhir ucapannya dan Lala pun ikut terkekeh dibuatnya.
Orang yang ditunggu pun akhirnya datang, Aril menghentikan motornya di dibelakang motor Lala. Lala yang mengerti pun langsung pamit pulang kepada mereka berdua.
"Nih, pakai." Aril menyodorkan helm ke Caca, Caca mengambil dan menggunakannya. Setelah itu ia naik ke atas motor dengan memegang bahu Aril.
"Udah siap?" tanya Aril.
"Udah, Ril."
Selang beberapa waktu, mereka tibalah di rumah orang tua Aril. Caca dan Aril turun dari motor sambil membuka helm yang mereka kenakan.
"Assalamualaikum," ucap Aril saat masuk ke dalam rumahnya.
Nuri keluar sambil membalas salam sang putra, "Waalaikumsalam. Eh udah pulang, nak?" ujar Nuri. Aril hanya mengangguk seraya menyalami tangan sang Ibu dan ikuti oleh Caca.
"Eh gadis cantik ini nak Caca ya?" tanya Nuri.
Caca mengangguk lalu tersenyum, "Iya benar Tante, Tante gimana kabarnya?" tanya Caca sopan.
"Alhamdulillah baik, jangan panggil Tante, panggil Ibu aja. Biar enak didengar," suruh Nuri. Caca sempat tertegun sejenak ketika Nuri mengatakan itu. Tentu dengan senang hati Caca akan memanggil Nuri dengan panggilan Ibu, siapa tau nanti bisa jadi Ibu mertuanya beneran. Eh?
"Baik Bu," ujar Caca kikuk.
"Nah gitu kan enak Ibu dengarnya. Eh ayo duduk dulu nak," suruh Nuri.
__ADS_1
Caca mengangguk lalu ia duduk bersama Nuri di sofa ruang tamu, sedangkan Aril pergi untuk mengganti seragam sekolahnya dan suasana canggung pun mulai Caca rasakan, ia bingung akan memulai pembicaraan dari mana dulu.
"Udah lama sekali Ibu mau ketemu sama nak Caca, tapi Aril selalu bilang kalau nak Caca sibuk terus, memangnya kamu sibuk kenapa nak?" tanya Nuri. Caca tersenyum canggung dan merutuki Aril, sejak kapan ia bilang jika dirinya tengah sibuk? Wah, Aril harus Caca kasi sedikit pelajaran nih.
"Nggak terlalu sibuk sih Bu, ya paling Caca ikut bimbingan belajar di hari senin sampai rabu," jelas Caca. Gadis itu bertekad menjadi rajin belajar untuk mendapatkan nilai bagus dan rangking di kelasnya, mungkin itu ia bisa membuatnya setara dengan Aril dalam bidang akademik.
Nuri manggut-manggut mengerti, Aril pun kembali ke ruang tamu.
"Kalian udah makan siang?" tanya Nuri.
"Udah kok Bu," jawab Aril dan Caca.
"Ibu lagi buat apa di dapur? Tadi Aril liat kok ada tepung, mentega serta telur gitu," tanya Aril.
"Oh itu Ibu mau buatkan kakakmu brownies, katanya dia lagi ngidam brownies buatan Ibu," jelas Nuri. Aril hanya ber-oh ria sambil manggut-manggut.
"Assalamualaikum," ucap Aurora yang baru datang.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya. Aurora menyalami tangan sang Ibu dan Aril mencium punggung tangan sang kakak.
Caca terkesima dengan kecantikan Aurora yang natural, padahal dirinya juga termasuk cantik tapi entah kenapa ia merasa minder dengan kecantikan wajah dari kakaknya Aril itu. 'Masya Allah cantiknya,' batin Caca.
"Ya pakai mobil lah di anterin sama pak Nudi, kalau pakai motor bisa-bisa kakak di kurung sama mas Irsyan di rumah nggak bakal pernah dikasi keluar," sungut Aurora.
Aurora mengalihkan pandangannya menatap gadis cantik yang duduk di sebelah ibunya, "Hai, kamu teman sekolahnya Aril ya?" tanyanya.
"Iya kak, kenalkan aku Caca," ucap Caca.
"Oh Caca, teman dekatnya Aril itu?"
Aril mendelik tajam ke arah Aurora, "Kakak, jangan mulai deh," tegurnya.
Aurora terkekeh kecil, tangannya terulur menjabat tangan Caca, "Kenalkan nama kakak, Aurora. Kakak dari cowok dingin itu," ucapnya sambil menunjuk Aril menggunakan dagunya. Aril mendengus sebal sementara Caca hanya terkekeh dan langsung membalas jabat tangan Aurora dengan cara mencium punggung tangan ibu hamil itu.
"Astaga Ibu sampai lupa buatkan minuman untuk Caca!" pekik Nuri.
"Nggak usah Bu, ngerepotin saja," ucap Caca sungkan.
"Gapapa nak, ya kali Ibu nggak menjamu tamu dengan baik. Mau minum apa nak?" tanya Nuri.
"Apa saja Bu," jawab Caca.
__ADS_1
"Kalau gitu Ibu buatkan minuman dulu ya?"
Caca tersenyum dan mengangguk, ia merasa lega ternyata benar yang dipikirkannya tadi jika keluarga Aril begitu baik dan hangat, rasa grogi dan gelisah nya langsung menguap begitu saja.
Caca tengah membantu Nuri membuat brownies. Caca cukup cekatan dalam membuat adonan, terlihat dirinya seperti orang sudah mahir. Aril yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum tipis.
"Cantik ya Caca," bisik Aurora tiba-tiba di telinga Aril membuat sang empu tersentak kaget.
"Kakak! Bikin kaget aja!" kesal Aril.
Aurora tertawa kecil, "Kalau suka tinggal bilang aja, dek. Nggak usah di pendam, nggak enak soalnya."
Aril memutar matanya malas, "Sudah berapa kali aku bilang sama kakak, aku belum mau pacaran kak, karena pacaran itu bisa membuatku nggak fokus buat belajar dan hanya membuang waktu saja," jelasnya malas.
"Ya udah sih, tapi jangan sampai menyesal kalau Caca diambil sama cowok lain ya," ucap Aurora menggoda sang adik, setelah mengatakan itu Aurora pergi mendekati Nuri dan Caca membantu mereka membuat brownies.
Aril terdiam sejenak memikirkan ucapan sang kakak tadi, apa iya dirinya akan menyesal jika nanti Caca dimiliki oleh laki-laki lain? Tapi tetap saja Aril membentengi diri untuk tidak berpacaran saat ini.
Sore harinya, Irsyan pulang bekerja dan langsung pergi menuju ke rumah mertuanya sekaligus untuk menjemput sang istri yang berada disana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Mas," balas Aurora sambil mencium punggung tangan Irsyan dan Irsyan mencium kening sang istri.
Lalu Irsyan bergantian menyalami tangan kedua mertuanya dan adik iparnya. Lagi-lagi Caca terpesona melihat ketampanan dari suami Aurora ini, ia sampai menganga lebar. Apa ini yang namanya keluarga visual semua?
"Gue tau kalau kakak ipar gue ganteng, jangan sampai menganga gitu juga kali, awas nanti yang ada lalat bisa masuk tuh ke dalam mulut lo!" bisik Aril di telinga Caca. Caca langsung merapatkan bibirnya dan mendelik ke arah Aril.
"Eh ini siapa? Apa ini pacar kamu, Ril?" tanya Irsyan saat melihat Caca.
"Bukan kak, dia teman aku," ucap Aril malas. Nggak kakak, nggak kakak iparnya sama saja sangat suka menggoda dirinya.
"Hai kak, aku Caca temannya Aril," ucap Caca memperkenalkan dirinya.
"Oh hai, saya Irsyan suami dari Aurora," balas Irsyan tersenyum dan Caca membalasnya dengan senyuman juga.
Tak lama Caca pun berpamitan kepada keluarga Aril untuk pulang, dengan berat hati Nuri mengizinkannya, wanita paruh baya itu sudah menyukai Caca. Caca pulang dengan diantar oleh Aril.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1