GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 98


__ADS_3

2 hari pun berlalu Aurora dan Vania baru saja sampai di desa U setelah menempuh perjalanan hingga 5 jam lebih lamanya, Jihan dan Harun mengizinkan mereka pergi asal harus diantar oleh sopir, mereka berdua langsung menyetujuinya daripada tidak jadi dan itu jauh lebih baik, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nanti di jalan.


Setelah sesi bertanya-tanya pada orang-orang tempat keberadaan mess Irsyan dan timnya, akhirnya mereka sampai juga disana.


"Akhirnya sampai juga," ucap Vania sambil merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku akibat perjalanan cukup jauh.


"Iya alhamdulilah kita sampai juga disini," timpal Aurora.


"Tapi kayaknya kak Irsyan lagi di tempat kerjanya deh," sahut Vania saat melihat mess tersebut sangatlah sepi.


"Bener, tapi tempat posko mas Irsyan dimana ya?"


"Ada yang bisa saya bantu mbak-mbak ini mau kemana ya?" tanya seorang wanita paruh baya walaupun sudah berumur tapi masih cantik.


"Posko relawan tim medis dimana ya Bu?" tanya Aurora sopan pada wanita paruh baya itu.


"Oh dekat kok mbak, tinggal lurus nanti belok kanan nah disana lah tempatnya," jelasnya sambil menunjukkan arah jalan.


"Oh gitu Bu, terima kasih."


"Mohon maaf kalau Ibu lancang bertanya, mbak-mbak ini ada keperluan apa ya disini? Apa mbak-mbak ini juga seorang relawan?" tanya wanita paruh baya itu.


"Saya kesini mau mengunjungi kakak saya dan ini kakak ipar saya mau mengunjungi suaminya," jelas Vania.


"Memangnya siapa, mbak?"


"Namanya Irsyan, Ibu kenal dengan perawat yang namanya Irsyan?" tanga Aurora memberitahukan jika Irsyan adalah suaminya.


"Tentu saja Ibu tau, dia kan sangat terkenal di kampung ini semenjak mas Irsyan kesini. Mbak dua ini adik dan istrinya mas Irsyan toh?" tanya wanita paruh baya itu sedikit terkejut, ia mengira jika Irsyan belum menikah alias masih lajang.


"Iya benar Bu," jawab Aurora sedangkan Vania hanya mengangguk saja.


"Oh ya, kenalkan nama ibu Pipit, saya istri dari kepala desa disini," ujar Pipit memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya ke arah Aurora.


"Saya Aurora dan adik ipar saya namanya Vania, salam kenal Bu." Aurora menjabat tangan Pipit dan diikuti oleh Vania.


Kemudian mereka berdua pun pergi ke tempat posko relawan tim medis, sesampainya disana suasana cukup sepi mungkin para warga yang terdampak tengah berada di dalam tenda pengungsian mereka.


Terlihat disana Irsyan sedang berbincang-bincang dengan para rekan kerjanya, Aurora yang melihat suaminya itu tak sabar ingin berlari dan segera memeluknya, tapi ia harus tahan.


"Mas Irsyan!" panggil Aurora cukup besar membuat semua orang yang disana melihat ke arahnya.


"Aurora Vania!" seru Irsyan, ia sangat terkejut melihat keberadaan istri dan sepupunya itu. Irsyan segera menghampiri keduanya. Aji yang melihat itu pun tak kalah terkejutnya, apalagi saat melihat gadis yang ia tunggu selama 5 tahun ini.


"Vania!"


"Sayang, kok bisa ada disini?" tanya Irsyan sambil memegang kedua bahu Aurora.


"Aku kangen sama Mas," rengek Aurora. Irsyan tersenyum dan langsung membawa Aurora ke dalam dekapannya, seketika rasa rindunya itu sirna setelah bertemu dengan istrinya. Irsyan tak peduli dengan tatapan orang-orang disana.


Diujung sana Sari yang datang membawa rantang yang berisi makanan langsung terkejut hingga rantang yang dibawanya itu pun terjatuh dan isinya sampai berceceran, hatinya sangat sesak dan sakit saat melihat pria pujaan hatinya sedang memeluk wanita.


"Siapa wanita yang di peluk mas Irsyan itu?" lirihnya.

__ADS_1


"Mas juga kangen sama kamu," balas Irsyan mengelus surai hitam dan panjang milik Aurora. Vania yang melihat itu langsung tersenyum haru, lalu ia melirik ke arah seseorang yang sudah lama ia rindukan dan kebetulan Aji pun sedang menatap ke arahnya dengan tatapan sendu syarat akan kerinduan.


"Kak Aji," lirih Vania. Aurora mendengar suara Vania walaupun terdengar kecil, ia pun ikut melihat ke arah Aji, sedetik kemudian Aurora mengerti siapa laki-laki yang dimaksud Vania waktu itu.


"Kalian kesini hanya berdua?" tanya Irsyan saat sudah menguraikan pelukannya.


"Nggak kok kak, kami kesini sama pak Maman juga kok, dia yang antar. Soalnya kalau nggak di antar sama sopir Om Harun dan Tante Jihan nggak kasi izin kita untuk kesini," jelas Vania. Tangan Irsyan terulur untuk mengacak rambut Vania.


"Makanya kalian ini, ngapain sih jauh-jauh sampai kesini segala."


"Udah dibilangin sama Aurora kan tadi, kalau dia dan calon anak kakak itu rindu ketemu sama Papanya," bela Vania yang memang benar adanya. Hati Irsyan menghangat mendengarnya, apalagi saat sang calon anak disebut, tangannya mengelus perut Aurora.


"Anak Papa sehat-sehat kan disini?"


"Alhamdulillah aku sehat Papa," balas Aurora menggunakan suara anak kecil, membuat Irsyan dan Vania tertawa kecil mendengarnya.


"Terus kamu kapan pulang dari Aussie? Kok nggak kasi tau kakak?" tanya Irsyan menatap tajam sepupunya itu, Vania yang di tatap langsung nyengir kuda.


"Maaf kak, kan biar jadi kejutan buat kakak," jawabnya santai tanpa dosa. Irsyan mendengus kesal.


"Ayo duduk disana sayang, kamu pasti lelah," ajak Irsyan sambil menggandeng tangan Aurora.


"Ayo Van."


"Iya kak."


"Hai kak Aji," sapa Vania sedikit canggung saat sudah berapa di dalam tenda posko relawan. Rasanya Vania ingin memanggil Aji dengan sebutan 'Katak Gurun' tapi ia malu karena ada rekan-rekan kerja dari Aji.


"Lo apa kabar kak?" tanya Vania basa-basi padahal jantungnya sedari tadi sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Alhamdulillah gue baik, lo gimana? Betah banget tinggal di negaranya orang," ujar Aji dengan sedikit kata yang mengandung sindiran disana.


"Seperti yang lo liat kak, gue juga baik. Sebenernya udah lama banget gue pengen cepet-cepet balik ke Indonesia sekaligus mau nagih janji SESEORANG," balas Vania sambil menekankan kata seseorang di ucapannya.


DEG!


Ucapan Vania membuat jantung Aji berdetak dengan cepat, ia mengerti perkataan dari gadis itu adalah untuknya.


'Ternyata kamu mengingatnya, Van,' batin Aji.


"Mas udah makan siang?" tanya Aurora duduk di kursi plastik yang sudah di sediakan disana dan Irsyan duduk di samping istrinya.


"Udah tadi sama teman-teman, kamu sudah makan?" tanya balik Irsyan pada Aurora.


"Sudah tadi, stop bentar di rest area terus makan siang disana bareng Vania sama pak Maman."


"Syukurlah kalau gitu, anak Papa kan nggak kelaparan jadinya." Dengan santainya Irsyan mengelus perut Aurora membuat yang jomblo hanya bisa mengigit jari.


Tak lama, beberapa warga datang untuk memeriksakan kehamilannya. Irsyan menyuruh Aurora untuk menunggunya.


"Tunggu bentar ya sayang, Mas mau periksa mereka dulu."


"Iya Mas."

__ADS_1


Mata Aurora melirik ke arah anak-anak kecil yang tengah bermain dengan riang dan tanpa beban. Seorang anak perempuan terjatuh akibat tersandung batu membuat anak perempuan itu menangis histeris. Hati keibuan Aurora langsung membuatnya tergerak untuk menghampiri anak tersebut.


"Adek gapapa?"


"Kaki Aca sakit kak, huhuhu," tangis anak yang bernama Aca sambil memegang lututnya.


"Ayo ikut kakak, kita obati lukanya Aca," ajak Aurora.


"Nggak mau kak, nanti disuntik," tolak Aca sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak di suntik kok sayang, hanya diberi obat saja dan sakitnya cuma sebentar, nanti kakak bakal kasi permen ini nanti," bujuk Aurora sambil mengeluarkan permen lollipop dari dalam tasnya, ia sempat membeli permen itu di minimarket.


"Haikal juga mau permen kak!" pinta seorang anak laki-laki. Aurora mengeluarkan lagi permen lollipop dari dalam tasnya lalu memberikannya pada kedua bocah kecil itu.


"Nah ini untuk Aca dan ini untuk Haikal."


"Makasih kakak cantik!"


"Aca mau kan diobati kakinya? Nggak sakit kok, percaya sama kakak," bujuk Aurora lagi dengan nada lembutnya.


Aca mengangguk, "Aca mau kak."


"Ayo kita kesana, Aca bisa berjalan kan?" tanya Aurora.


"Bisa kak."


"Haikal, bantuin kakak bawa Aca kesana ya."


"Baik kak." Aurora membantu Aca untuk berdiri dan dibantu oleh Haikal, lalu memapahnya menuju ke posko. Irsyan yang melihat istrinya memapah Aca langsung menghampirinya.


"Aca kenapa sayang?" Irsyan sudah mengenal Aca dari awal ia jadi relawan disini.


"Aca tadi jatuh karena tersandung batu dan kakinya terluka, Mas," jelas Aurora. Tanpa berlama-lama lagi, Irsyan membopong Aca dan membawanya ke atas brankar untuk diobati.


"Nggak sakit kan sayang?" tanya Aurora saat kaki Aca telah selesai diobati oleh Irsyan.


"Iya nggak sakit kakak cantik," jawab Aca dengan wajah imutnya sambil menjilati permen lollipop yang Aurora beri tadi.


"Tuh kan kakak bilang apa nggak sakit," balas Aurora sambil mengelus rambut pendek Aca. Hati Irsyan berdesir dengan perlakuan Aurora kepada Aca.


"I love you sayang," bisik Irsyan ditelinga Aurora. Aurora langsung menatap heran ke arah suaminya itu.


"Kok tiba-tiba banget bilang gitu?"


"Ya Mas hanya ingin saja sayang," jawab Irsyan tersenyum manis.


"Kakak cantik ini siapanya abang tampan?" tanya Aca polos.


"Kakak cantik ini istrinya Abang," jelas Irsyan. Aca hanya manggut-manggut saja.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2