
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Untung saja kata Dokter bekas sayatan di pipi kamu tidak terlalu dalam sayang," ucap Irsyan menatap sekilas ke arah Aurora dan kembali fokus ke jalanan.
Mereka berdua baru saja balik dari rumah sakit untuk mengobati luka pada wajah Aurora.
"Tapi Mas bakalan tetap suka kan sama aku, walaupun di wajah aku ada bekas lukanya?" tanya Aurora.
Irsyan mengernyitkan keningnya, "Kenapa kamu bilang seperti itu sayang?" tanyanya bingung.
"Ya takutnya nanti Mas cari perempuan lain," ucap Aurora sedih.
"Pemikiran macam apaan itu? Bahkan Mas sama sekali tidak pernah memikirkan seperti yang kamu pikirkan itu loh," ucap Irsyan tak suka dengan ucapan Aurora tadi.
"Ya siapa tau kan, apalagi Mas tampan dan kayak pasti banyak yang menyukai mas Irsyan."
Karena omongan Aurora sudah tidak kondusif lagi, Irsyan segera menepikan sejenak mobilnya.
"Sayang," panggil Irsyan menghadap dan memegang kedua bahu Aurora.
"Walaupun wajah kamu ada bekas lukanya, rasa sayang dan cinta Mas nggak pernah luntur ke kamu sayang. Memang nggak munafik, waktu pertama kali Mas bertemu dengan kamu dulu, Mas suka karena kecantikan kamu," jelas Irsyan.
"Tapi setelah cukup lama Mas mengenal kamu, Mas jadi lebih suka dengan sifat kamu yang baik, mandiri dan pemberani. Apalagi setelah Mas tau kamu yang nolongin Mama, Papa dan Alvaro waktu itu. Intinya Mas cinta kamu apa adanya dan sama sekali Mas tidak berpikiran untuk mencari perempuan lain atau apalah itu. Jadi, jangan pernah berpikiran yang macam-macam, paham?" lanjut Irsyan panjang lebar agar Aurora tidak over thinking atau berpikiran yang tidak-tidak. Aurora tersentuh mendengar ucapan Irsyan.
"Iya aku paham Mas," ucap Aurora tersenyum.
"Mas aku lapar dari tadi siang aku belum makan," rengek Aurora. Memang Aurora tadi tidak diberikan makan sama sekali oleh anak buah Sukma. Kejam memang.
"Ya Allah, ayo sekarang kita ke restoran," ucap Irsyan panik. Aurora melirik jam tangannya.
"Tapi ini sudah jam sepuluh malam Mas, memangnya masih ada restoran yang buka?" tanya Aurora.
"Ada kok sayang, kamu tenang aja." Irsyan kembali melajukan mobilnya mencari restoran terdekat.
...****************...
Sembari menunggu pesanan datang, Irsyan dan Aurora berbincang-bincang mengenai pernikahan mereka yang akan dilangsungkan 17 hari lagi.
"Sayang, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat saja?"
"Loh memangnya kenapa Mas?" tanya Aurora bingung.
__ADS_1
"Soalnya Mas nggak mau sesuatu seperti tadi menimpa kamu lagi sayang, gimana kamu mau kan?"
Takut Aurora kenapa-napa lagi itu alasan kedua kenapa Irsyan ingin segera melangsungkan pernikahannya dengan Aurora, agar Irsyan juga nanti bisa mengawasi dan menjaga calon istrinya itu mungkin dengan bantuan bodyguardnya.
Alasan pertama Irsyan yakni karena ia tak ingin diganggu oleh Nina. Akhir-akhir ini wanita itu sering sekali menghubungi Irsyan lagi, walaupun Irsyan bilang jika dirinya sudah memiliki calon istri tapi wanita itu masih sangat kukuh mendekatinya.
"Iya aku mau kok Mas," ucap Aurora tersenyum. Irsyan merasa lega mendengarnya.
"Alhamdulillah, seminggu lagi kita menikahnya," ucap Irsyan.
"Cepet banget sih Mas? Kan belum fitting baju, beli cincin dan lain sebagainya," ucap Aurora yang terkejut mendengar ucapan Irsyan tadi.
"Loh memangnya kenapa? Mas malah maunya besok lusa nikahin kamu. Untuk masalah fitting baju, catering dan lain sebagainya kita serahkan semua pada Mama dan Ibu. Untuk cincin, besok siang kita beli," jelas Irsyan.
"Ih tapi kan masih ada luka di wajah aku Mas, masa pas jadi pengantin ada luka di wajahnya," ucap Aurora cemberut.
"Kamu tenang saja sayang, tadi Mas sudah belikan kamu obat salep paling ampuh dan mahal supaya luka kamu itu cepat mengering," balas Irsyan.
Aurora menghela napas lalu mengangguk, "Ya sudah aku ikut Mas aja."
"Nah gitu dong," ucap Irsyan tersenyum.
"Ini pesanan anda Tuan, Nona." Tiba-tiba seorang waiters menghampiri Irsyan dan Aurora sambil mendorong troli makanan. Lalu waiters itu menaruh beberapa pesanan mereka berdua.
"Terima kasih," ucap Aurora.
"Iya Mas," ucap Aurora ramah. Sedangkan Irsyan memasang wajah masamnya.
"Kamu kenapa sih Mas?" tanya Aurora heran.
"Aku nggak suka aja liat tatapan waiters tadi ke kamu," kesal Irsyan.
"Cemburu ya?" goda Aurora.
"Tentu saja aku cemburu sayang, siapa sih yang suka calon istrinya ditatap seperti itu?"
"Iya aku tau sayang, udah jangan marah gitu dong," ucap Aurora tersenyum sambil mengelus tangan Irsyan yang berada di atas meja. Entah sadar atau tidak Aurora memanggil Irsyan dengan panggilan sayang.
"Kamu tadi panggil aku apa sayang?" tanya Irsyan.
"Panggil apa?" tanya Aurora bingung.
"Tadi kamu panggil aku dengan kata sayang loh," ucap Irsyan.
"Oh itu memangnya nggak boleh ya?"
__ADS_1
"Ya boleh dong sayang, aku malah seneng banget dengernya," ucap Irsyan tersenyum bahagia.
Setelah selesai makan, Irsyan langsung mengantarkan Aurora pulang. Di depan teras rumah, Aurora sudah di tunggu oleh kedua orang tua dan adiknya. Mereka sangat khawatir dengan kondisi Aurora.
"Ibu Ayah kok diluar? Udah jam 11 loh ini," tanya Aurora menghampiri kedua orang tua dan adiknya diikuti juga oleh Irsyan. Nuri segera memeluk putrinya sebentar.
"Kami nungguin kamu nak. Ya ampun wajah kamu banyak luka kayak gini, udah di periksa ke Dokter kan?" Nuri sangat terkejut sekaligus khawatir melihat wajah Aurora yang terluka.
"Sudah kok Bu, lukanya juga tidak terlalu serius."
"Syukurlah nak, kami sangat khawatir denganmu, Ibu dari tadi menangis mengkhawatirkan kondisi kamu," timpal Alfian.
"Kok bisa kakak diculik gitu?" sahut Aril penasaran.
"Ceritanya panjang dek, intinya orang yang menculik kakak itu iri dan cemburu melihat kakak akan menikah dengan mas Irsyan," jelas Aurora.
"Kok bisa kak?"
"Ya karena perempuan yang menculik kakak itu suka dengan mas Irsyan," ucap Aurora. Nuri dan Alfian menatap ke arah Irsyan untuk menjelaskan ucapan Aurora tadi.
"Nak Irsyan coba jelaskan itu ke kami," titah Alfian.
"Em apa kita boleh masuk dulu Yah? Nggak enak kalau nanti didengar oleh tetangga," ucap Irsyan.
"Oh ya ampun, sampai lupa suruh kalian masuk. Ayo masuk nak," suruh Nuri. Irsyan dan Aurora mengangguk, lalu mereka semua masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ayo nak, ceritakan ke kami siapa perempuan itu!" titah Alfian tegas.
Irsyan mengambil napas lalu menghembuskan secara perlahan. Ia pun menceritakan siapa Sukma dan alasan kenapa Sukma sampai melakukan tindakan kriminal seperti itu, Irsyan menceritakan semuanya sehingga Nuri, Alfian dan Aril pun mengerti.
"Nak, Ayah mohon sama kamu, jaga putri Ayah baik-baik dan jangan pernah kamu sakiti dia ketika kalian telah menikah nanti. Kalau kamu menyakiti Aurora itu sama saja kamu menyakiti Ayah dan Ibu," pesan Alfian. Mata Aurora langsung berkaca-kaca mendengar ucapan ayahnya.
"Irsyan janji akan selalu menjaga dan tidak akan pernah menyakiti Aurora serta akan selalu mencintainya sampai kapanpun," ucap Irsyan berjanji dengan nada yang serius.
"Ayah pegang janji kamu nak," balas Alfian menepuk-nepuk pundak Irsyan.
"Nak Irsyan malam ini nginap saja ya disini? Soalnya sudah hampir jam 12 malam loh," ucap Nuri. Irsyan menatap Aurora meminta persetujuan dan Aurora hanya mengangguk yang berarti menyetujui ucapan ibunya tadi.
"Ya sudah Bu, aku nginap malam ini."
"Nah nanti kamu tidur bareng Aril ya?"
"Baik Bu."
...----------------...
__ADS_1
To be continued.