
DUG!
Aril terkena basket saking tidak fokus dirinya bermain. Semenjak kakaknya menghilang Aril suka tidak fokus melakukan sesuatu dan dia juga jarang beristirahat untuk mencari keberadaan Aurora. Gino mengerti masalah yang terjadi pada sahabatnya itu pun menyuruh Aril untuk beristirahat. Aril yang memang membutuhkan itu langsung pergi beristirahat di tribun penonton yang tak jauh dari lapangan.
"Aril!" panggil Caca.
"Ya Ca?" ucap Aril. Mata laki-laki itu sayu dan sendu.
"Lo baik-baik saja kan?" tanya Caca. Dari kejauhan Caca memang mengamati Aril, ia melihat laki-laki itu bermain seperti tak minat dan tak fokus bahkan sampai membuatnya terkena bola. Caca yang merasa khawatir pun langsung menghampiri Aril.
Aril hanya menggeleng. Caca merasa iba dengan Aril. Ini pertama kalinya Caca melihat laki-laki itu terlihat lemah seperti bukan Aril yang dulu ia kenal.
"Kak Aurora belum ditemukan ya?" tanya Caca dengan hati-hati.
Aril mengangguk, "Iya Ca, entah dimana para penculik itu menyembunyikan kakak gue. Gue dan keluarga, terutama kak Irsyan sampai menggila mencari keberadaan kak Aurora. Kalau nanti gue menemukan kak Aurora, gue bersumpah akan menghabisi orang yang menculiknya itu!" geram Aril, seketika aura mengerikan yang Caca rasakan saat melihat raut wajah Aril saat ini.
"Apa boleh gue bantuin cari kak Aurora? Nanti gue juga suruh anak buah Daddy untuk ikut cari kak Aurora," ucap Caca menawarkan bantuan.
Aril menatap ke arah Caca, "Nggak usah Ca, gue nggak mau ngerepotin lo sama Daddy lo," tolak Aril.
"Nggak ngerepotin sama sekali Ril, pasti Daddy gue juga mau kok bantuin lo," imbuh Caca.
Aril menggeleng sambil tersenyum tipis, "Beneran nggak usah Ca. Gue minta doa aja sama lo, semoga kakak gue secepatnya bisa ketemu dalam keadaan sehat walafiat," ucap Aril.
Caca tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Gue akan selalu mendoakan agar kak Aurora segera ketemu," ucapnya.
"Oh ya aku sampai lupa, ini minum dulu." Caca menyodorkan sebotol air mineral untuk Aril.
"Ini untuk gue?" tanya Aril.
"Iya ini untuk lo, ambilah lo pasti haus."
__ADS_1
Aril mengangguk lalu membuka botol air mineral tersebut dan menenggaknya, sebelum itu ia berterima kasih terlebih dahulu pada Caca.
...****************...
"Mil!"
"..."
"Mila!" panggil Satria dengan suara yang sedikit keras membuat Mila tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Eh ya kenapa, Mas?" tanya Mila gelagapan.
"Kamu kenapa dari tadi diem mulu terus seperti orang melamun gitu?" tanya balik Satria. Bahkan calon istrinya itu sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, mereka sekarang sedang makan siang di salah satu restoran setelah mereka pulang dari fitting baju pengantin.
"Aku lagi mikirin Aurora, Mas," jawab Mila dengan raut wajah sedih. Mila menjadi merasa bersalah atas kehilangan Aurora, akibat Aurora sedang menunggunya lah yang membuat wanita hamil itu diculik.
Satria menghela napas, ia dan tim kepolisian lainnya pun sudah berusaha keras mencari keberadaan Aurora, namun sampai sekarang belum mendapatkan titik keberadaan istri dari sahabatnya itu. Tapi Satria dan tim kepolisian lainnya tak pernah berputus asa dan akan terus gencar mencari Aurora, ia tak ingin membuat Irsyan dan lainnya sedih, terutama calon istrinya karena memikirkan keberadaan Aurora.
Mila hanya mengangguk lemah.
Pernikahannya dengan Satria akan berlangsung 5 hari lagi, sedangkan sahabat baiknya entah dimana keberadaannya, Mila sangat berharap sebelum pernikahannya nanti, Aurora bisa ditemukan dalam keadaan sehat dan tidak lecet sekalipun.
Kiran, Andre dan Wawan pun ikut mencari keberadaan Aurora. Mereka sama khawatirnya dengan Mila. Andre sampai mengerahkan semua teman-teman di geng motornya untuk mencari Aurora.
...****************...
"Jangan sentuh aku!" teriak Aurora mencoba menghindar dari sentuhan pria yang ada di hadapannya.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Kamu adalah milikku dan selamanya kamu menjadi milikku, Aurora. Bukan pria brengsek yang berkedok sebagai perawat gadungan itu!" geram pria yang sedang duduk di tepi ranjang itu.
"Kenapa kamu lakukan hal ini padaku? Dengan sangat jelas dari dulu aku mengatakan jika aku tidak pernah mencintaimu! Tidak mencintaimu!" teriak Aurora.
__ADS_1
PLAKKK!
Tamparan keras jatuh di pipi mulus Aurora, hingga membuat tanda kemerahan pada wanita hamil itu.
"Ma-maaafkan aku sayang, sumpah tadi aku nggak sengaja melakukan itu. Apa itu sangat sakit?" tanyanya. Ia menangkup wajah Aurora, pria itu sangat menyesal karena telah menamparnya.
Aurora mencoba untuk menghindar darinya. Tapi ia tidak bisa, karena tangan beserta kakinya di ikat dengan tali dan diikat ke setiap sudut ranjang. Hingga membuatnya terlentang. Pergelangan tangan dan kakinya terasa sangat sakit serta perih akibat ikatan itu.
"Aku sudah sangat sabar dengan semua ini dan sekarang kesabaran ku telah habis. Aku nggak peduli jika kamu telah menikah dan mengandung anak dari pria munafik itu, yang terpenting kamu akan jadi milikku!" ungkap pria itu dan pergi meninggalkan Aurora sendirian.
"Kamu memang laki-laki brengsek, Rian!" teriak Aurora menggebu-gebu. Ia yakin pasti pria itu yang selama ini yang selalu mengiriminya bunga, meneror, bahkan mencelakakan Irsyan. Pria itu memang benar-benar licik dan bedebah sialan.
Aurora berharap Irsyan bisa menemukan keberadaannya, jujur ia sangat merindukan suaminya itu, rindu dengan dekapan, senyuman dan lelucon yang di lontarkan Irsyan untuk menghiburnya.
Walaupun saat ini Irsyan sedang memiliki masalah, namun ia tetap bersikap profesional dalam bekerja. Hanya saja, emosinya yang mudah terpancing jika terdapat sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh karyawannya, maka dia akan marah besar yang tidak bisa di kontrol.
Saat ini Irsyan sedang berada di ruang meeting dengan karyawan-karyawannya untuk membahas masalah pendapatan perusahaan propertinya yang berada di kota S menurun karena kalah bersaing dengan perusahaan property yang bernama JK Holdings.
Walau Irsyan bisa saja menyuruh Harun untuk menyelesaikan masalah tersebut, tapi Papanya itu juga harus menyelesaikan masalah yang ada di perusahaan travel miliknya. Oleh karena itu, ia tidak bisa egois dan membiarkan begitu saja masalah yang di alami anak perusahaanya itu.
"Maaf Pak. Saya mohon, beri kami waktu untuk menyelesaikan masalah ini," mohon Ardi, selaku manager marketing dari anak perusahaan HC PROPERTIE'S di kota S.
Irsyan mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja sambil menatap wajah pria paruh baya itu membuat orang yang ditatapnya merasa takut.
"Maksudmu sampai uang perusahaan habis? Apa kamu tidak sadar, berapa banyak kerugian yang ditimbulkan JK Holdings pada HC PROPERTIE'S?" tanya Irsyan dingin.
Ardi terdiam, karena ia memang sadar dengan kerugian besar perusahaan akibat JK Holdings.
Semua yang ada di dalam ruangan itu pun bergumam untuk berdiskusi mencari solusi untuk perbaikan perusahaan, karena Irsyan meminta mereka untuk segera menyelesaikan masalahnya, ia tidak mau menundanya lagi.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.