GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 53


__ADS_3

Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏


...Happy reading☘️...


...****************...


Dengan langkah yang cepat Irsyan berjalan menuju ke meja Aurora dan Kiran diikuti oleh sopir pribadi keluarganya yang bernama Opi, sepertinya laki-laki itu baru pulang dari perusahaan papanya karena masih mengenakan setelan jas.


"Hai apa kabar Kiran?" sapa Irsyan pada Kiran.


"Alhamdulillah baik mas Irsyan," jawab Kiran, ia cukup terkejut dengan sapaan Irsyan tadi.


Setelah itu Irsyan duduk di samping Aurora mendaratkan ciumannya di pipi calon istrinya.


"Udah selesai makannya, sayang?" tanya Irsyan. Aurora susah menelan ludahnya. Meskipun sudah sore seperti ini aroma parfum milik Irsyan mengacaukan pikiran Aurora dan membuatnya menjadi gugup.


Aurora melirik sekilas ke arah Kiran, Kiran menunjukkan wajah terkejutnya lalu kemudian secepat mungkin ia ubah menjadi ekspresi biasa saja.


"Sudah kok Mas, baru aja selesai. Mas nggak pesan makan dulu?" tanya Aurora memiringkan badan untuk menghadap Irsyan. Dan ternyata kesalahan besar saat ia memiringkan badan ke arah Irsyan, karena laki-laki itu tampak menatap Aurora dengan lekat yang semakin membuatnya semakin gugup.


"Nggak sayang, Mas masih kenyang. Mau pulang jam berapa?" tanya Irsyan melirik jam tangannya, lalu bergantian menatap Aurora dan Kiran.


Kiran yang menyadari ada nada 'mengusir' secara halus, ia kemudian menjawab pertanyaan dari Irsyan.


"Ini bentar lagi kita pulang kok Mas, ya kan Ra?"


"Entar dulu lah, masih jam segini juga Ki," ucap Aurora.


"Gue lupa tadi ada janji mau pergi sama Mami mau antar dia ke rumah temannya." Aurora menyipitkan matanya menatap Kiran, bukannya tadi dia sudah izin kepada orangtuanya untuk pergi hangout bersama Aurora hingga malam. Ada yang tidak beres, pikir Aurora.


"Udah ya, gue mau pulang dulu. Entar kapan-kapan kita sambung lagi. Gue duluan ya?" pamit Kiran setelah cipika-cipiki dengan Aurora. Lalu Kiran keluar dari restoran tersebut.


"Udah kan sayang? Atau masih mau makan lagi?" Irsyan bertanya pada Aurora karena melihat calon istrinya itu tidak juga beranjak dari tempat duduk.


"Nggak lah Mas, aku udah kenyang banget. Ayo kita pulang." Aurora mengemasi handphone dan power bank ke dalam tas. Irsyan pun berdiri sambil menunggunya berkemas.


Aurora mengedarkan pandangannya ke sekeliling dalam restoran tersebut, untung saja restoran dalam keadaan sepi dan setiap bangkunya diberi sekat-sekat, jadi tidak banyak orang yang melihatnya dicium oleh Irsyan tadi.


Aurora berjalan menuju ke kasir untuk membayar makanan, namun Irsyan malah menarik tangannya menuju ke pintu keluar.


"Loh aku belum bayar Mas!" protes Aurora.

__ADS_1


"Nggak usah, tadi udah di bayar kok sama Opi."


Aurora hanya bisa melongo, entah sejak kapan Opi pergi membayar makanannya, perasaan laki-laki itu hanya diam saja sedari tadi.


Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil, Irsyan menyuruh Opi untuk menjalankan mobilnya. Aurora memang tidak membawa kendaraannya ke kantor, karena Irsyan yang akan selalu mengantar dan menjemputnya.


"Langsung anterin aku pulang Mas?" tanya Aurora.


Bukannya menjawab Irsyan malah menyenderkan kepalanya di bahu Aurora. Aurora menahan napas sejenak, karena cukup terkejut dengan tindakan Irsyan yang tiba-tiba.


"Mas jawab dong ucapan aku tadi," ucap Aurora.


"Bentar sayang, Mas capek banget pengen senderan," lirih Irsyan. Aurora yang mengerti pun langsung membiarkannya, tangan kanannya terulur untuk mengelus rambut calon suaminya.


"Gimana kalau kita ke rumah atau ke apartemen Mas aja dulu?" tawar Irsyan.


"Nggak ah, anterin aku pulang aja. Jugaan Mas capek dan butuh istirahat kan?"


Sejak kejadian Aurora mencium pipi Irsyan waktu di apartemen, Irsyan jadi lebih berani melakukan skin ship dengannya.


"Ya karena Mas capek, makanya pengen kamu ke apartemen atau rumah biar kamu yang masakin Mas makan malam," ucap Irsyan.


"Nggak mau sayang, Mas bosen. Pengen ngerasain masakan kamu lagi, mau ya?" tanya Irsyan mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap Aurora.


"Iya deh Mas," ucap Aurora pasrah.


Mereka berdua terdiam, Irsyan masih menyenderkan kepalanya di bahu Aurora. Kini tangan mereka berdua saling menggenggam.


Tak lama terdengar bunyi handphone Irsyan, ia merogoh saku celananya melihat siapa yang menelpon. Kemudian ia mengabaikan panggilan tersebut dan memasukkan kembali handphonenya.


"Kok nggak di angkat telponnya Mas?" tanya Aurora penasaran, sekilas tadi ia melihat nama peneleponnya "NINA". Entah siapa dia? Mungkin saja teman atau sekretaris di perusahaan papanya.


"Nggak penting," jawab Irsyan singkat, padat dan jelas dengan nada suara yang tidak suka ketika mengetahui nama si penelepon tadi.


'Siapa ya Nina itu?' batin Aurora bertanya-tanya.


...****************...


"Mas mau di masakin apa?" tanya Aurora begitu ia dan Irsyan sampai di apartemen.


"Nasi goreng aja sayang."

__ADS_1


"Emang nasinya sudah matang?" tanya Aurora lagi.


"Ada kok sayang, tadi siang bi Aci datang kesini untuk bersih-bersih sekalian aja Mas suruh bi Aci buat masak nasi karena memang Mas sengaja mau ajak kamu kesini untuk masakin Mas. Coba aja kamu cek rice cooker nya," jawab Irsyan yang tengah duduk di ruang TV.


Aurora mendengus mendengar ucapan Irsyan, lalu ia membuka rice cooker tersebut dan ternyata benar saja sudah ada nasi yang sudah ready disana.


"Gimana sayang, ada nggak?"


"Ada kok Mas."


"Ya sudah kalau gitu Mas tinggal mandi sebentar ya? Soalnya badan Mas gerah banget," ucap Irsyan. Aurora melihat Irsyan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Oke, nanti selesai Mas mandi, nasi gorengnya sudah siap," sahut Aurora.


"Siap sayang," balas Irsyan memberikan dua jempolnya.


Aurora membuka kulkas mencari bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Ia melihat ada udang, sosis dan bakso sebagai tambahan toping nasi goreng nantinya.


Saat sedang menyelesaikan masakannya, Aurora mendengar suara derap langkah menuruni anak tangga, tanpa menoleh pun ia sudah tau jika itu adalah Irsyan. Aroma parfum maskulin milik laki-laki itu menguar memenuhi area sekitar dapur.


"Masih belum selesai sayang?" tanya Irsyan.


Aurora menoleh ke arah Irsyan dan menyesali detik itu juga. Ia merasa salah tingkah saat melihat penampilan Irsyan sekarang. Laki-laki yang saat ini sedang duduk di kursi kitchen island, dengan rambut yang masih setengah basah terlihat masih acak-acakan karena tidak disisir, membuatnya terlihat lebih menggoda.


"Udah mau selesai kok Mas, tunggu sebentar." Aurora buru-buru meyelesaikan masakannya, ia mengaduk-aduk nasi goreng itu sebentar lalu menaruhnya di atas piring.


"Ayo pindah ke meja makan Mas," ajak Aurora pada Irsyan.


Begitu Aurora menaruh piring yang berisi nasi goreng tersebut di depan Irsyan, mata laki-laki itu langsung berbinar.


"Enak banget sayang," ucap Irsyan saat satu sendok nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulutnya.


"Beneran Mas?" Tentu Aurora sangat senang jika masakannya itu disukai sama calon suaminya itu.


"Iya seriusan sayang."


"Syukurlah kalau enak," ucap Aurora tersenyum lega.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2