
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena malam minggu kemarin Aurora menolak ajakan Rian, laki-laki itu kembali kekeh mengajaknya untuk keluar makan malam, dengan berat hati Aurora pun menerima ajakan Rian.
Malam ini Aurora dan Rian tengah berada di rooftop salah satu restoran ternama di kota M. Laki-laki itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu kepada Aurora.
"Aurora," panggil Rian menatap Aurora.
"Ya Mas?"
"Em aku mau kasi tau sesuatu ke kamu ini tentang perasaanku ke kamu." Rian mengubah cara bicaranya menjadi aku-kamu ke Aurora. Aurora yang mendengar ucapan Rian menjadi sedikit parno.
'Semoga aja dia nggak nembak gue,' doa Aurora dalam hatinya.
"Aku suka sama kamu Ra," ungkap Rian.
DEG!
Jantung Aurora berdetak lebih cepat setelah mendengar ucapan Rian, padahal tadi dia berdoa agar laki-laki itu tidak mengungkapkan perasaan padanya.
"Aku udah lama suka sama kamu, dari awal kamu bekerja di kantor walikota. Mungkin orang bilangnya jatuh cinta pada pandangan pertama." Tangan Rian menyentuh tangan Aurora.
"Aurora, kamu mau nggak jadi pacar aku? Maaf jika aku tidak seromantis laki-laki lain."
Kini Aurora dilanda dilema, ia bingung akan menjawab apa ke Rian.
"Kok diam Ra?" tanya Rian yang melihat Aurora diam saja.
"Em mas Rian ..."
"Kenapa Ra? Kamu nggak mau ya jadi pacar aku?" tanya Rian dengan suara lirih.
"Bukannya begitu Mas, tapi maaf aku nggak bisa nerima perasaan kamu," ucap Aurora tak enak hati.
"Kenapa? Apa ada laki-laki lain yang kamu suka?" tanya Rian. Aurora yang ditanya seperti itu hanya diam saja sambil menunduk. Karena memang di hati Aurora yang terdalam ada satu nama laki-laki yang tersimpan disana.
"Apa dia laki-laki yang menjadi perawat itu?" tebak Rian. Tebakan dari laki-laki itu membuat Aurora menatap ke arahnya. Ternyata selama ini Rian diam-diam mencari tau tentang Irsyan.
"Jadi benar laki-laki itu Ra?" tanya Rian tersenyum getir.
"Bukan dia Mas, aku nggak terima perasaan Mas itu karena aku belum siap membuka hati untuk siapapun," jelas Aurora agar Rian tidak salah paham padanya.
"Kamu nggak bisa buka hati buat aku, Ra?"
Aurora menggeleng pelan, "Maaf aku nggak bisa Mas, karena hati tidak bisa di paksakan." Rian hanya tersenyum miris mendengarnya. Perasaan Aurora sudah tak nyaman lagi, ia memilih untuk pergi saja dari restoran tersebut.
"Aku pulang dulu ya Mas?"
"Kok pulang? Kamu nggak nyaman ya gara-gara ucapan aku tadi?" tanya Rian.
Aurora menggeleng, "Bukan seperti itu Mas, tadi Ibu suruh aku cepat-cepat untuk pulang," elaknya tak mungkin Aurora berkata jujur pada Rian, takutnya nanti akan membuat laki-laki itu sakit hati.
__ADS_1
"Ya sudah ayo aku antar."
"Nggak usah Mas, aku pulang naik ojek online aja."
"Tapi kan tadi kamu perginya sama aku, jadi pulangnya sama aku juga dong," ucap Rian.
"Gapapa Mas, biar aku pulang naik ojek online aja." Aurora kekeh agar tidak di antar pulang oleh Rian.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya di jalan?" Rian menyerah dan membiarkan Aurora untuk pulang sendiri.
"Iya Mas."
...****************...
Kini Aurora berada di depan restoran, baru saja ia akan memesan ojek online, tiba-tiba handphone Aurora ditelpon oleh laki-laki yang telah mengisi hari-harinya selama 2 bulan belakangan ini.
"Assalamualaikum Dek."
"Waalaikumsalam Mas."
"Kamu lagi dimana? Kok Mas dengernya kamu kayak lagi di jalan."
"Iya Mas, aku sekarang lagi di depan JC Restauran."
"Itu kan salah satu restoran milik mama, kamu ngapain disana?" tanya Irsyan penasaran karena gadis pujaan hatinya itu berada di salah satu restoran milik mamanya.
"Wah ternyata restoran ini miliknya tante Jihan."
"Iya, pertanyaan Mas yang tadi belum di jawab loh."
"Kamu disana ngapain dan sama siapa?" Irsyan sudah seperti laki-laki yang sedang mengintrogasi kekasihnya.
"Oh itu, aku disini tadi dinner sama teman kantor aku Mas," jelas Aurora.
"Cewek atau cowok?"
"Cowok." Hati Irsyan langsung panas mendengar jawaban dari Aurora.
"Ya sudah kamu tunggu disana, Mas akan jemput kamu!"
"Eh nggak us--"
TUT..
TUT..
TUT..
Belum selesai Aurora berbicara telpon tersebut sudah dimatikan sepihak oleh Irsyan.
Aurora menghela napas, "Kenapa lagi dah sama tu cowok? Suaranya sih tadi kayak orang lagi kesal gitu, ah sudah lah."
Beberapa menit kemudian, sebuah motor Ninja ZX 10-R merah datang menghampiri dan berhenti di depan Aurora. Lalu pemilik motor tersebut membuka kaca helmnya.
"Ayo naik."
__ADS_1
"Mau kemana Mas?" tanya polos Aurora.
"Mau ke KUA, ya aku antar kamu pulang lah," ucap Irsyan greget. Aurora mendengus kesal, lalu ia pun naik ke atas motor Irsyan.
"Nih helm." Irsyan menyodorkan sebuah helm pada Aurora. Aurora menerima dan mengenakan helm tersebut.
"Udah siap?" tanya Irsyan.
"Hem," jawab Aurora singkat. Irsyan menyalakan motornya, lalu melajukan nya dengan kecepatan tinggi. Sontak Aurora yang tadinya tidak berpegangan langsung memeluk perut Irsyan.
"Kalau mau mati, jangan ngajak-ngajak dong!" teriak Aurora kesal.
Irsyan menghiraukan ucapan Aurora, ia sangat kesal dengan gadis itu karena terlalu friendly terhadap semua orang terutama pada laki-laki. Sepertinya Irsyan sedang cemburu buta.
"Mas jangan kebut-kebut ih!" teriak Aurora lagi. Irsyan pun memelankan laju kendaraannya dan mencoba menurunkan amarahnya.
Tiba-tiba saja hujan turun mengguyur kota M. Irsyan menepikan motornya ke tepi jalan yang terdapat sebuah ruko yang sudah tutup. Lalu mereka berdua berteduh disana.
Aurora menggigil kedinginan, Irsyan yang melihat itu langsung membuka dan memakaikan jaketnya pada tubuh Aurora.
"Eh." Aurora terkejut dengan perlakuan Irsyan terhadapnya.
"Kenapa kasi ke aku Mas? Pasti Mas juga kedinginan."
"Gapapa, kamu pakai aja." Irsyan mengucapkan hal itu dengan wajah datar. Aurora sangat bingung dengan sikap Irsyan malam ini.
"Mas kenapa?" tanya Aurora.
"Gapapa," jawab Irsyan singkat.
Aurora menghela napas, 'Apa gue ada salah sama dia? Gue liat dia kayak orang lagi marah gitu,' batinnya bertanya-tanya
"Mas lagi marah ya sama aku?" Irsyan langsung menatap Aurora setelah mendengar ucapan gadis itu.
"Nggak kok."
"Beneran? Kalau aku ada salah, tolong maafin aku, Mas. Walaupun aku tidak tau kesalahan aku dimana."
'Astaghfirullah, kok gue jadi marah dan kesal gini sih sama Aurora. Padahal kan gue bukan suami atau pacarnya yang bisa larang-larang dia dekat sama siapapun,' batin Irsyan merasa bersalah.
"Kamu nggak ada salah apapun kok Dek," ucap Irsyan tersenyum.
"Tapi tadi aku liat Mas kayak orang lagi marah gitu."
"Nggak kok, mungkin karena tadi ada sedikit problem di rumah sakit makanya rasa kesal Mas masih kebawa sampai sekarang," ucap Irsyan berbohong pada Aurora.
"Oh gitu, kirain Mas marah sama aku tadi."
"Ya nggak mungkin lah Mas marah sama kamu," ucap Irsyan seraya mengacak rambut Aurora.
"Ih jangan di acak rambut aku!" kesal Aurora sambil memanyunkan bibirnya. Irsyan langsung terkekeh melihat wajah kesal Aurora. Rasa kesal dan marah Irsyan tadi seketika menguap begitu saja, Aurora memang pembawa kebahagiaan untuknya.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1