
Caca sangat bosan di rumahnya, sedari tadi ia seperti cacing kepanasan di atas ranjangnya, sehingga membuat selimutnya tergeletak di lantai dan sprei ranjangnya menjadi kusut. Caca sangat ingin keluar, tapi saat dirinya mengajak Lala untuk keluar, gadis itu tidak bisa karena alasan ada acara keluarga.
Caca berpikiran jauh, siapa lagi yang harus ia ajak untuk keluar, tiba-tiba nama Aril terlintas di pikirannya. Dengan cepat Caca mengirimi pesan Aril dan berharap lelaki dingin itu bisa di ajak untuk keluar.
Tak lama pesan dari Aril pun masuk, ketika membaca pesan dari lelaki itu, Caca langsung melemas karena Aril menolak ajakannya.
"Yah, siapa lagi yang harus gue ajak keluar? Aaaa bosen banget gue!" teriak Caca sambil menatap langit-langit kamarnya. Begitulah tidak enaknya menjadi anak satu-satunya, pasti akan kesepian seperti dirinya sekarang ini.
Sekitar 15 menit kemudian, notifikasi pesan dari ponsel Caca berbunyi. Matanya terbelalak sempurna ketika membaca pesan yang ternyata dari Aril dan lelaki datar seperti triplek berjalan itu berada di depan rumahnya sekarang, entah apa yang sedang merasuki jiwa Aril. Karena masih tak percaya Caca pun menelponnya.
"Halo Ril, lo beneran di depan rumah gue?" tanya Caca setelah panggilannya tersambung.
"Hem, cepat keluar," ucap Aril datar.
"Serius Ril? Lo nggak lagi bohongi gue kan?" Caca masih tak percaya. Terdengar suara helaan napas panjang dari mulut Aril.
"Iya, ini gue udah sama nyokap lo." Aril langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
Caca langsung terduduk mendengarnya, sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum bahagianya, akhirnya ia bisa keluar dari kebosanan ini dan akan pergi bersama laki-laki yang ia sukai.
Gadis itu buru-buru mengganti pakaian dan memoles wajahnya dengan make up yang tipis, kan nggak elit banget, masa ketemu sama calon pacar kayak orang seperti baru kena angin topan, ups.
Setelah semuanya selesai, Caca sekarang sudah terlihat cantik dari yang tadi.Ia pun pergi meninggalkan kamarnya.
"Mommy!" teriak Caca membahana, suara dari gadis itu terdengar sampai ke penjuru rumah. Membuat siapa yang mendengar akan mengelus dadanya.
"Caca, jangan teriak-teriak, berisik!" pekik Ranti dari ruang tamu.
"Lah Mommy juga teriak!" balas Caca.
Aril hanya menatap ibu dan anak itu dengan tatapan melongo. Ranti seketika meringis ia lupa jika sekarang sedang ada tamu di rumahnya.
"Maaf ya Aril, Caca memang berisik anaknya," ucap Ranti.
Caca melotot tak terima dengan ucapan sang mommy, "Ish Mommy!"
"Iya gapapa Tante," ucap Aril tersenyum sopan walaupun tipis.
"Oh ya kalian mau kemana? Kok pada rapi banget," tanya Ranti.
"Saya mau ajak Caca keluar, apa boleh Tan?" izin Aril.
Ranti langsung tersenyum, "Tentu saja boleh, tapi jagain anak gadis Tante ya, Aril? Jangan sampai dia kenapa-kenapa," pesan Ranti.
Aril mengangguk dengan tegas.
"Kalau begitu Caca pergi keluar dulu Mom, assalamualaikum," ucap Caca.
"Saya juga Tan, assalamualaikum," timpal Aril. Lalu mereka berdua menyalami tangan Ranti.
"Waalaikumsalam, kalian hati-hati di jalan!"
Caca dan Aril mengangguk serempak, lalu berjalan beriringan keluar dari rumah untuk menuju ke tempat motor sport milik Aril berada.
__ADS_1
Ketika Caca sudah naik ke atas motor, Aril belum juga menjalankan motornya membuat Caca heran.
"Aril, kenapa kita belum jalan? Lo nungguin apa lagi?" tanya Caca sambil membuka kaca helm.
"Pegangan."
"Dih modus lo!" ucap Caca tapi dalam hatinya sangat kegirangan.
"Ya udah terserah lo, gue ngebut nih!" ancam Aril.
"Coba aja gue nggak takut," tantang Caca.
Tanpa aba-aba Aril langsung menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi membuat Mia ketakutan dan memeluk erat tubuh Aril. Di balik helm full face nya Aril tersenyum tipis.
"Aril jangan ngebut-ngebut! Gue takut!" teriak Caca.
Aril pun menuruti perintah dari gadis itu, ia memelankan laju kendaraannya. Karena jalanan terlihat sepi jadi Aril bisa dengan santai mengendarainya.
Namun secara tiba-tiba ada sebuah motor yang ingin menyerempet mereka.
Aril dapat melihat itu dari kaca spion, kenapa mereka harus mengalami situasi seperti ini lagi sih, pikirnya.
"Caca pegangan yang kuat!" suruh Aril.
"Kenapa Ril?" teriak Caca bingung.
"Ada yang ngikutin kita di belakang!"
Seketika Caca menolehkan kepalanya ke belakang. Benar saja ada yang mengikuti mereka berdua.
"Sabar, ini gue udah nambah kecepatan laju motor gue!"
Walaupun Aril sudah menambah laju kecepatan motornya tetap saja penguntit itu terus mengejarnya tidak mau kalah.
Sehingga kini mereka sama-sama sejajar, di balik helmnya penguntit itu tersenyum menyeringai ketika bisa menyalip Aril.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, si penguntit langsung menendang Aril, membuat Aril oleng.
"Sial!" umpat Aril.
Aril dan Caca pun jatuh terguling-guling ke aspal dengan sigap Aril melindungi Caca. Namun karena gadis itu mengenakan baju pendek, membuat siku Caca terluka.
Aril bangkit untuk mengecek Caca yang tengah menahan sakit, "Ca, lo gapapa?"
"Siku gue sakit, Ril," jawab Caca sambil meringis.
Aril langsung menggendong Caca ala bridal style sambil mencari warung terdekat untuk membeli air minum dan obat merah.
Caca yang tubuhnya tiba-tiba terbang, ia kaget dan langsung saja mencengkram erat baju milik lelaki itu.
Sampailah mereka di sebuah warung terdekat, Aril mendudukkan Caca pada bangku kosong yang berada di depan warung tersebut.
"Pak, saya beli air mineral, Betadine dan kapas," ujar Aril pada penjual.
__ADS_1
Sang penjual mengangguk lalu mengambilkan pesanan Aril, "Nih nak, air mineral, Betadine dan kapasnya."
"Makasih Pak, ini uangnya. Kembaliannya untuk Bapak aja," ucap Aril memberikan selembar uang kertas berwarna merah pada penjual tersebut.
"Makasih nak, semoga rezekinya lancar terus."
"Aamiin Pak."
Aril berbalik berjalan ke tempat Caca berada, dirinya langsung duduk di samping gadis itu.
"Ini minum dulu." Aril menyodorkan sebotol air mineral pada Caca. Caca mengambil dan langsung meminumnya, sebelum itu Aril telah membuka tutup botol dari air mineral tersebut.
"Sini tangannya," pinta Aril.
Caca mengerutkan keningnya, "Untuk apa?"
"Gue obati, biar nanti nggak infeksi," jelas Aril.
Caca langsung menyembunyikan tangannya ke belakang. "Nggak mau ih, nanti perih!"
"Mau sembuh nggak?" tanya Aril datar.
"Ya mau lah!" sewot Caca.
"Makanya siniin tangan lo!"
Dengan terpaksa Caca memberikan tangannya pada Aril untuk di obati.
Lagi dan lagi Caca harus terpesona melihat ketampanan manusia ciptaan Tuhan di hadapannya ini, emang ada ya manusia setampan ini?
Bahkan Caca sering menghayal jika kelak dirinya menjadi istri dari Aril, pasti akan banyak yang iri seperti yang baca.
"Udah puas liatin muka gue?" tanya Aril yang memang mengetahui jika Caca terus memperhatikannya.
Caca tersentak dan gelagapan saat ditanya seperti itu, "Eh enak aja, orang gue lagi ngeliatin pohon yang ada di belakang lo kok!" elaknya.
Aril menyentil pelan dahi Caca, "Nggak usah ngeles deh lo!" ucapnya dan di balas dengan dengusan sebal dari mulut Caca.
"Jadi mau jalan-jalan? Atau mau pulang aja?" tanya Aril setelah selesai mengobati siku Caca.
"Jalan-jalan lah, gue bosen di rumah," jawab Caca.
"Tapi lo gapapa kan?"
"Iya gue gapapa Ril, lo tenang aja."
"Memangnya lo mau kemana?" tanya Aril.
"Mau ke fun city!" seru Caca.
Aril mengangguk mengikuti keinginan gadis itu lalu mengajak Caca menuju ke motornya, untung saja motor miliknya itu tidak kenapa-napa mungkin hanya lecet saja.
Aril membantu Caca memasangkan helm ke kepala gadis itu, jika orang melihatnya pasti mereka akan mengatakan jika Aril dan Caca seperti orang berpacaran. Padahal hanya teman atau hubungan tanpa status? Eh..
__ADS_1
...----------------...
To be continued.