
"Mila!" panggil seseorang, Mila yang tengah berbelanja jajanan di pinggir jalan itu langsung berbalik menghadap ke belakang.
Mila kaget saat melihat orang yang memanggilnya itu adalah mantan kekasihnya saat masa kuliah dulu bernama Raka, hubungan mereka kandas karena orang tua Raka yang tidak merestui hubungan mereka, sebab keluarga Mila tak sepadan dengan keluarga Raka. Dengan terpaksa Raka harus meninggalkan Mila dan memilih untuk dijodohkan dengan perempuan lain.
"Raka," lirih Mila. Saat hendak akan pergi, tangan Mila di tahan oleh Raka.
"Tunggu bentar Mil, gue mau ngomong sama lo."
"Gue sibuk!" jawab Mila dengan ketus tanpa menatap Raka.
"Please Mil, gue mau ngomong sebentar aja sama lo," pinta Raka dengan suara lirihnya.
Mila menghela nafas panjang dan mengangguk, "Hanya 5 menit!"
Raka langsung mengembangkan senyumnya, lalu mereka mencari tempat duduk.
"Lo apa kabar Mil?" tanya Raka basa-basi.
"Alhamdulillah baik," jawab Mila seadanya.
"Udah lama banget ya kita nggak ketemu, terakhir ketemu waktu kita wisuda 3 tahun yang lalu, apa sekarang lo sudah menikah?"
"Belum."
"Kenapa?" tanya Raka penasaran.
"Ya belum ketemu dengan jodoh yang tepat," jelas Mila dengan malas. Ia paling tidak suka jika orang yang bertanya kapan nikah padanya, coba sesekali mereka bertanya, apa hidupnya bahagia atau tidak?
Raka tersenyum lega, berarti ia punya harapan buat mendapatkan Mila kembali menjadi miliknya.
"Gue boleh minta nomor telepon lo nggak?" pinta Rian membuat Mila menatap ke arahnya.
"Buat apa? Yang ada nanti istri lo marah sama gue," ucap Mila. Jika mengingat masa-masa dulu bersama Raka membuat hati Mila terasa sesak yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi saat orang tua Raka yang menghina dirinya karena Mila dari keluarga yang kastanya jauh dari mereka.
"Istri gue udah nggak ada, Mil," sanggah Raka tersenyum getir. Mila syok mendengar ucapan Raka tadi, sungguh ia tidak mengetahui tentang itu.
"Dia ninggalin gue waktu dia melahirkan putri kami karena pendarahan hebat dan hari ini adalah hari peringatan 4 tahun kepergian istri gue," sambung Raka terpancar raut kesedihan dari wajah dan matanya.
"Innalilahi wainnailaihi roji'un, maaf gue nggak tau Ka," sesal Mila.
"Gapapa Mil, lo kan nggak tau," balas Raka tersenyum tipis. Dari arah kanan seorang anak perempuan berumur 4 tahunan berlari ke arah mereka, tepatnya ke arah Raka.
"Ayah!!!"
"Eh Aqila, jangan lari-lari gitu sayang!" tegur Raka kepada sang putri.
"Hihi maaf Ayah," ucap Aqila pada Raka.
"Mba Gisa mana nak?" tanya Raka sambil mendudukkan Aqila di tengah-tengah dia dan Mila. Gisa merupakan pengasuh Aqila sejak Aqila baru berumur 1 minggu.
"Mba Gisa ke toilet sebentar Yah, makanya Aqila ke Ayah saja." Mata bocah cantik itu menatap ke arah perempuan yang sedari tadi duduk bersama ayahnya.
"Tante siapanya Ayah? Apa Tante itu Buna nya Aqila?" tanyanya dengan polos. Pernyataan Aqila membuat mata Mila seketika membulat.
"Iya sayang dia itu calon--"
"Nggak cantik, Tante ini teman Ayah kamu," sela Mila dengan cepat.
__ADS_1
"Yah Aqila kira Tante itu Buna nya Aqila," ucap Aqila cemberut. Raka tersenyum dan mengelus rambut putrinya, duda tampan dan kaya itu tau jika putrinya sangat ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu karena tak jarang teman-temannya itu merundung Aqila sebab ia tak punya Ibu.
Mila pun merasa iba melihat Aqila, anak sekecil itu sudah ditinggal oleh ibunya sejak lahir.
"Insya Allah, Tante Mila akan jadi Buna nya Aqila," papar Raka membuat Mila melotot ke arahnya.
"Beneran Yah?" tanya Aqila dengan mata berbinar-binar.
"Iya sayang, doakan saja ya semoga Tante Mila bisa secepatnya jadi Buna nya Aqila," ucap Raka lembut.
"Jangan mengada-ada cerita deh, Ka!" kesal Mila.
"Asyik Aqila mau punya Ibu!" girang Aqila sampai ia memeluk Mila yang berada disampingnya.
"Eh?" Mila terkejut dengan tingkah Aqila yang tiba-tiba memeluknya. Tak lama Mila pun membalas pelukan Aqila dan mengelus rambut panjang milik bocah cantik itu.
Raka yang melihat itu hanya bisa tersenyum haru, apa dia boleh berharap jika suatu hari nanti Mila bisa menjadi ibu sambung dari putrinya.
"Aqila boleh manggil Tante dengan sebutan Buna tidak?" pinta Aqila berharap. Mila bingung harus jawab apa, ia menatap Raka dan pria itu mengangguk berharap Mila menyetujui keinginan Aqila.
"Iya Aqila boleh manggil Tante dengan sebutan Buna."
"Yey terima kasih Buna," seru Aqila kembali memeluk Mila. Mila melirik ke arah jam tangannya, disana sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Ia melepas pelukan Aqila dan memegang kedua bahunya.
"Buna pulang dulu ya Aqila? Takut Ayahnya Buna nyariin."
"Aqila ikut Buna!" seru Aqila.
"Em gimana ya?" Mila bingung harus menjawab apa, ia menatap ke arah Raka agar membantunya untuk berbicara.
"Beneran ya Ayah besok kita ketemu sama Buna lagi?" pinta Aqila.
"Iya Aqila, besok kita ketemu lagi. Kalau gitu Buna pulang dulu ya?" Mila beranjak dari kursi panjang yang terbuat dari besi itu.
"Mau gue antar?" tawar Raka.
"Nggak usah, Ka. Gue bawa motor kok. Dadah Aqila... Sampai ketemu lagi," ucap Mila sambil melambaikan tangannya dan dibalas oleh Aqila yang juga melambaikan tangannya.
"Dadah Buna."
"Ayo sekarang kita pulang sayang?" ajak Raka pada putrinya.
"Iya ayo Yah."
...****************...
Malamnya entah angin apa yang membuat Mila mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkumpul di cafe langganan mereka.
"Ada apa nih? Tumben banget ngajak kumpul tiba-tiba begini?" tanya Aurora.
"Iya bener, apa bentar lagi lo mau kawin?" celetuk Kiran.
"Nikah dulu sayang, baru kawin," sahut Andre membenarkan ucapan sang istri.
"Oh itu maksud aku sayang," balas Kiran cengengesan.
Andre memutar matanya, "Untung aja gue cinta," gumamnya lirih. Sedangkan Aurora dan Mila hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Tunggu Wawan dulu, baru gue kasi tau," ucap Mila. Semuanya langsung mengangguk.
Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wawan datang bersama Nina, mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra.
"Sorry lama guys," ucap Wawan dan hanya Aurora saja yang mengangguk, sedangkan Mila, Andre dan Kiran tubuh mereka menegang saat melihat Wawan datang bersama dengan Nina, mereka takut akan terjadi hal yang tak diinginkan nantinya.
"Woy kok wajah kalian semua kayak tegang gitu!" celetuk Aurora dengan nada bicara sedikit tinggi membuat ketiga sahabatnya itu langsung tersentak.
"Hah apa?" tanya Mila linglung seperti orang bodoh.
"Hah, heh, hoh! Kalian tenang aja, gue sama Nina udah baikan kok, sekarang gue sama dia temenan. Ya kan, Nin?" ucap Aurora sambil menatap ke arah Nina. Nina tersenyum dan mengangguk.
"Iya bener, gue sama Aurora sekarang udah temenan," timpal Nina. Mila, Andre dan Kiran langsung bernapas lega.
"Ngomong-ngomong ada hal apa yang akan lo sampaikan ke kita makanya suruh kita kesini tiba-tiba, Mil?" tanya Wawan pada Mila.
"Seminggu lagi gue mau ke Mekkah mau pergi ibadah umroh," ucap Mila.
"Wah serius lo, Mil?" tanya Kiran.
"Iya, gue perginya sama kedua orang tua gue. Alhamdulillah kami dapat panggilan untuk ke rumahnya Allah," jawab Mila.
"Alhamdulillah," ucap semuanya.
"Berapa hari lo disana?" tanya Wawan.
"Sekitar 10 hari deh kayaknya," jawab Mila. Semuanya manggut-manggut mengerti.
"Jaga kesehatan disana ya Mil, jangan lupa doakan kami supaya kami juga bisa segera berkunjung ke Baitullah," sahut Aurora.
"Aamiin, pasti Ra. Gue pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Jangan lupa oleh-olehnya!" celetuk Andre.
"Kalian mau dibawakan apa?"
"Apa-apa deh, yang penting oleh-oleh," papar Andre.
"Ya bener kata Andre, yang penting kamu nantinya pulang dengan selamat," timpal Kiran.
"Kalau kalian?" tanya Mila pada Aurora, Wawan dan Nina.
"Gue dan Nina juga sama seperti diminta oleh Andre," jawab Wawan sedangkan Nina hanya mengangguk, ia masih canggung dengan sahabat-sahabat dari calon suaminya itu.
"Gue mau minta oleh-oleh air zamzam, tapi langsung beli di Mekkah langsung, jangan beli di abang-abang di pinggir jalan!" pinta Aurora.
"Ye si bumil malah ngelunjak!" cetus Andre.
"Diemin! Pasti Mila menuruti permintaan Ibu hamil ini kan?" tukas Aurora sambil memeluk lengan Mila.
"Iya tenang aja gue pasti belikan lo air zamzam yang asli dari Mekkah, bukan yang abal-abal."
"Yey makasih Mila!" girang Aurora seperti anak kecil membuat semua sahabat-sahabatnya itu terkekeh kecil melihat tingkah Ibu hamil yang satu itu.
...----------------...
To be continued.
__ADS_1