GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 13


__ADS_3

Aurora memelankan laju kendaraannya, karena pandangannya jatuh ke penjual martabak. Ia berniat untuk membeli jajanan favoritnya itu. Lalu Aurora turun dari motornya dan menghampiri penjual martabak tersebut.


"Permisi bang."


"Ya mbak?"


"Saya pesan martabak manis 1 sama martabak telurnya 1. Oh ya dua-duanya yang spesial ya bang?" pesan Aurora pada penjual martabak tersebut.


"Siap mbak, di tungguin ya?"


"Oke bang." Aurora pun duduk di kursi plastik yang sudah disediakan oleh penjual martabak.


Mata Aurora mengamati orang-orang yang berlalu lalang di depannya, banyak laki-laki yang lewat depannya yang tak segan-segan merayu dan menggodanya. Aurora hanya menanggapi mereka dengan senyuman tipis saja.


'Nasib jadi orang cantik ya gini banyak suka.'


Mata Aurora memicing setelah melihat orang yang sangat ia kenal sedang berboncengan dengan seorang perempuan dan perempuan itu memeluk perut laki-laki itu dengan sangat erat sampai dadanya menempel pada punggung laki-laki itu.


"Mas Rivan boncengan sama siapa?" Aurora menggelengkan kepalanya untuk segera mengenyahkan pikiran itu.


"Pasti itu bukan mas Rivan, mungkin hanya mirip saja," gumamnya untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Setelah martabak pesanannya telah siap, Aurora pun segera membayar dan segera meninggalkan tempat itu, lalu melajukan motornya menuju ke arah rumahnya.


...****************...


Pagi ini Aurora hanya sarapan dengan ibu dan adiknya saja, karena sang ayah tengah sakit, membuat kegiatan sarapan mereka terasa sangat hampa dan sepi tanpa ada suara tegas dan candaan dari Alfian.


"Ibu, Rora udah selesai sarapannya. Rora mau pamit sama ayah dulu," ucap Aurora beranjak dari kursi makan, lalu melangkah kan kakinya menuju kamar kedua orangtuanya untuk menemui Alfian.


CEKLEK!


Aurora masuk ke dalam kamar orang tuanya, terlihat disana Alfian tengah bersandar di headboard ranjang sambil menutup matanya.


"Ayah," panggi Aurora, mata Alfian yang tadi menutup sekarang terbuka dan menatap ke arah anak gadisnya itu.


"Ya nak?" Aurora pun menghampiri Alfian di ranjang.


"Ayah sakit apa?" tanyanya pada Alfian, Aurora duduk di pinggir ranjang sambil memegang tangan ayahnya.


"Ayah cuma pusing aja kok nak, sepertinya tekanan darah ayah sedikit naik," jawab Alfian dengan senyuman tipis terpatri di bibirnya yang terlihat sedikit pucat.


"Kita pergi ke rumah sakit ya, Yah?" ajak Aurora.


Ia hanya ingin ayahnya cepat untuk di periksa dan ditangani oleh Dokter, takut jika nanti ada penyakit yang serius pada ayahnya dan Aurora tidak ingin hal itu terjadi pada cinta pertamanya ini.


Alfian menggeleng, "Nggak perlu nak, Ayah hanya butuh istirahat," ucapnya lembut.


Ia hanya tidak ingin putrinya ini khawatir dengan keadaannya dan itu nanti bisa mengganggu pekerjaan putrinya. Ah, dia adalah salah satu ayah idaman semua anak di dunia ini.


"Tapi Yah..." ucapan Aurora disela oleh Alfian.


"Jangan khawatir nak, Ayah nggak apa-apa kok. Sekarang kamu berangkat kerja gih, nanti telat loh."


Aurora menghela napas, "Kalau begitu Aurora berangkat dulu, Yah," pamitnya dengan nada tak ikhlas seraya menyalami Alfian.


Alfian mengangguk, "Kamu hati-hati di jalan ya nak? Yang fokus kerjanya," titahnya sambil mengelus rambut panjang Aurora.

__ADS_1


"Siap Yah. Aurora pergi dulu Yah, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu Aurora berjalan keluar dari kamar orangtuanya dengan langkah yang tidak ikhlas. Sungguh hari ini ia tak ingin jauh-jauh dan ingin menemani ayahnya saja dirumah, tapi karena ada pekerjaan yang sedang menunggunya di kantor, mau tak mau ia harus pergi kesana untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang pegawai yang taat.


...****************...


Aurora tak fokus pada pekerjaannya, hanya ayahnya yang ada di pikirannya sekarang. Entah mengapa hatinya sangat tidak nyaman, ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi dengan segera ia menepis pikiran itu.


'Ya Allah, hapus lah pikiran buruk ku ini. Semoga tidak ada sesuatu yang terjadi,' batinnya berdoa.


"Nak," panggil Dona yang sedang berdiri di depan meja Aurora. Di depan meja Aurora juga ada Sam dan Rian.


"Eh iya Bu?" tanya Aurora sedikit kaget.


"Udah jam istirahat loh ini, kamu nggak ke kantin?" tanya Dona, memang waktu sudah menunjukkan waktu untuk istirahat.


"Ah iya, ini saya mau ke kantin Bu."


"Ayo kita barengan ke kantinnya," ajak Sam.


"Iya Pak." Aurora beranjak dari kursinya.


Aurora berjalan dibelakang Dona dan Sam. Ia berjalan berdampingan dengan Rian, senyum laki-laki itu selalu terpancar jika sudah bersama dengan Aurora.


Sesampainya di kantin, mereka berempat langsung mengambil tempat untuk duduk.


"Kalian mau pesan apa? Biar saya yang pesan kan," tanya Rian yang berinisiatif untuk memesankan ketiga orang depannya ini.


"Kamu diam aja disini, biar saya pesan kan," ucap Rian tak ingin di bantah.


"Kalau gitu saya pesan nasi campur sama air putih saja, Yan," pesan Sam pada Rian.


Rian mengangguk, "Kalau Ibu Dona?" tanyanya pada Dona.


"Ibu pesan soto daging sama jus jeruk aja, nak," pesan Ibu Dona.


Rian kembali mengangguk, "Kalau kamu, mau pesan apa Ra?" tanyanya pada Aurora dengan suara lembutnya, membuat dua orang paruh baya di depannya senyum-senyum tak jelas.


"Beneran Mas Rian yang pergi pesan?" tanya Aurora.


"Iya Aurora," ucap Rian gemas. Keinginannya untuk memiliki Aurora semakin besar, jika sudah melihat wajah gemas gadis itu.


"Em, saya pesan batagor sama jus alpukat aja, Mas," pesan Aurora pada Rian.


"Seneng banget sama jus alpukat," celetuk Sam.


"Hehe, iya Pak. Itu salah satu buah favorit saya selain durian," ucap Aurora cengengesan. Sam hanya manggut-manggut.


"Ya sudah, saya pergi pesan dulu."


"Makasih sebelumnya Mas," ucap Aurora. Rian hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu ia pun pergi untuk pesan semua makanan yang mereka pesan tadi padanya.


Beberapa menit kemudian, Rian pun kembali dengan membawa nampan yang berisi pesanan mereka dan di bantu bawa oleh Bibi kantin.


"Nah ini pesanan kalian," ucap Rian sambil menaruh nampan di atas meja dan di ikuti oleh Bibi kantin yang juga tadi membawa pesanan mereka.

__ADS_1


"Wah makasih Rian." Dona dan Sam mengucapkannya dengan serempak. Lalu mereka berdua mengambil makanan yang mereka pesan.


"Makasih Bi Hindun," ucap Aurora pada bibi kantin yang bernama Hindun itu.


"Sama-sama neng geulis," ucap Bi Hindun, lalu pergi dari meja mereka berempat.


"Ini pesanan kamu, Ra," ucap Rian sambil menaruh pesanan Aurora.


"Makasih mas Rian," ucap Aurora tersenyum manis.


Tangan Rian terulur untuk mengacak gemas rambut Aurora, "Iya sama-sama."


"Ish mas Rian ini seneng banget sih bikin rambut saya berantakan," ucap Aurora cemberut seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Rian terkekeh geli melihat wajah cemberut Aurora yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Iya siapa suruh jadi orang gemas banget," ucapnya dengan tampang tanpa dosa, membuat Aurora semakin memanyunkan bibirnya.


"Ekhem, ekhem. Mesra-mesraan nya nanti lagi di dalam ruangan, sekarang kita makan dulu," ucap Dona dengan nada menggoda.


"Ish apaan sih Ibu."


Lalu mereka berempat pun menyantap makanan yang mereka pesan tadi.


Aurora makan dengan tidak berselera, perasaan tak nyaman dalam hatinya itu masih sampai sekarang. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa minat dan membuat dirinya menjadi pusat perhatian ketiga orang yang duduk bersamanya itu.


"Aurora," panggil Rian.


"Eh iya kenapa Mas?"


"Kok makanannya cuma diaduk-aduk aja? Nggak enak ya? Mau saya pesan kan makanan yang lain?" tanya Rian bertubi-tubi.


Aurora menggeleng cepat, "Eh nggak usah Mas, saya cuma lagi nggak nafsu makan aja," jawabnya.


"Kamu kenapa nak? Lagi ada masalah?" tanya Dona, dia memang sudah memperhatikan Aurora yang melamun sejak masih di dalam ruangan tadi, entah apa yang dipikirkan gadis itu.


"Nggak kok Bu," jawab Aurora seadanya.


Dona hanya manggut-manggut, tak ingin terlalu banyak bertanya, mungkin itu masalah pribadi Aurora yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain, pikirnya.


Pukul 5 sore waktunya pulang bekerja, Aurora pun dengan cepat membereskan meja kerjanya, ia buru-buru ingin segera pulang ke rumahnya, karena pikirannya terus tertuju kepada ayahnya.


Baru saja Aurora keluar dari ruangannya, ia sudah di telpon oleh ibunya. Tak butuh waktu lama, ia pun mengangkat telpon dari ibunya.


"Assalamualaikum, nak."


"Waalaikumsalam, bu. Ibu kenapa kok suaranya kayak orang nangis gitu?" tanya Aurora khawatir, karena mendengar suara ibunya seperti orang sedang menangis. Membuat hatinya semakin tak nyaman dan pikirannya semakin bercabang kemana-mana.


"Ayah, nak. Hiks." Nah kan, pikiran Aurora semakin kalut, ketika ibunya menyebut ayahnya.


"Ayah kenapa Bu?"


"Ayah kamu..."


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2