GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 8


__ADS_3

Pukul 12 malam, Irsyan pulang ke rumahnya. Ia melangkah kan kakinya ke dalam rumah. Tapi aneh, biasanya jika sudah jam 11 malam semua lampu di rumahnya pasti dimatikan, ini kok masih menyala? Pikirnya.


Ketika melewati ruang keluarga, ternyata disana masih ada kedua orang tuanya tengah menonton televisi.


"Mama, Papa. Kok kalian belum tidur?" tanya Irsyan pada kedua orang tuanya.


"Mama sama Papa belum bisa tidur, Nak." Mata Irsyan memicing, tidak biasanya Mama dan Papanya belum tidur di jam segini.


"Kenapa, Ma?" Irsyan duduk di samping Jihan.


"Tadi Mama sama Papa hampir kena begal," jawab Harun, tak pelak membuat Irsyan terkejut mendengarnya.


"Astaghfirullah, terus Mama sama Papa nggak kenapa-napa kan?" tanya Irsyan khawatir.


"Alhamdulillah kami nggak kenapa-napa nak. Untung ada seorang gadis cantik yang nolong Mama sama Papa tadi," jawab Jihan.


"Syukurlah kalau Mama sama Papa nggak kenapa-napa. Tapi kenapa nggak telpon Irsyan aja tadi? Biar Irsyan yang datang kesana menolong kalian."


"Maafin Mama, Nak. Pikiran Mama terlalu kalut, jadi nggak sempat kepikiran untuk menelpon kamu."


Irsyan menghela napas panjang, untung saja mama kandungnya kalau tidak, mungkin sudah dari tadi ia tenggelamkan di rawa-rawa dan langsung di makan oleh buaya. Dasar anak durjana.


"Coba ceritakan Irsyan bagaimana kronologi kejadiannya." pinta Irsyan. Ia ingin tau bagaimana kronologi kejadian orangtuanya hampir dibegal dan di tolong oleh seorang gadis.


Harun pun menceritakan kronologisnya dari awal kejadian, hingga Aurora datang menolongnya.


"Kau tau? Bela diri Aurora sangat hebat, Papa aja sampai melongo melihat dia lawan 4 preman itu sendirian," ucap Harun membanggakan Aurora di depan putranya.


"Jadi nama gadis itu Aurora?" tanya Irsyan.


Jihan mengangguk, "Dia sangat cantik sama seperti namanya. Besok deh kapan-kapan Mama kenalin ke kamu," jawab Jihan. Irsyan hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan mamanya.


Dia juga sangat penasaran dengan gadis yang bernama Aurora itu. Jika nanti dia bertemu dengan gadis itu, dia bakal berterima kasih karena sudah menolong kedua orangtuanya.


"Oh ya, kamu besok libur kan, Nak?" tanya Harun.


Irsyan mengangguk, "Iya, Pa. Memangnya kenapa?"


"Kamu besok ke HC Propertie's ya? Soalnya ada sedikit masalah di perusahaan travel dan itu harus Papa yang tangani," jelas Harun pada putranya.


"Iya tenang aja, Pa. Besok Irsyan kesana."


Irsyan tak hanya belajar ilmu keperawatan saja, tetapi ia juga belajar ilmu bisnis dan manajemen karena ia tau kelak semua bisnis kedua orangtuanya jatuh kepadanya dan pasti mereka akan menyuruh Irsyan untuk meneruskan semua bisnisnya itu.


"Makasih, Nak. Kamu memang bisa Papa andalkan," puji Harun.

__ADS_1


"Iya sama-sama Pa. Kalau gitu Irsyan mau ke kamar dulu Ma, Pa," pamitnya pada orangtuanya. Harun dan Jihan mengangguk.


"Iya, Nak. Mama sama Papa mau ke kamar juga," ucap Jihan.


Irsyan mengangguk, "Selamat malam Ma, Pa."


"Selamat malam juga," balas Jihan dan Harun.


Irsyan pun melangkah kan kakinya menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2. Setelah sampai, ia langsung merebahkan diri di kasur sembari menatap langit-langit kamar, memikirkan kucing manisnya.


"Hah ... ini pertama kalinya gue langsung jatuh cinta sama cewek. Padahal banyak banget cewek yang ngedeketin gue, tapi entah kenapa mereka nggak bisa buat gue langsung suka atau cinta sama mereka, beda dengan gadis itu ..." Irsyan bermonolog sambil membayangkan wajah cantik Aurora.


"Dah lah gue mau tidur, semoga saja dia masuk ke dalam mimpi gue."


Irsyan pun mencoba memejamkan mata untuk segera bergelut dengan alam mimpinya.


...****************...


Irsyan baru saja menyelesaikan ritual mandinya, ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bulir-bulir air masih menetes di leher hingga ke perut kotak-kotak miliknya, dia terlihat errr ... So sexy.


Seperti janjinya semalam dengan dengan sang papa, hari ini Irsyan berencana untuk pergi ke HC Propertie's, yakni perusahaan milik papanya.


Setelah memberikan kunci mobilnya pada security untuk di parkir kan. Irsyan melangkah kan kakinya menuju ke dalam gedung perusahaan.


Banyak pasang mata yang melihat kedatangan anak atasan mereka. Tampan, berkharisma dan berwibawa, itulah yang gambaran karyawan-karyawan itu pada sosok Irsyan.


"Selamat pagi, pak Irsyan," sapa Aris, sekretaris papanya.


"Pagi juga, pak Aris. Oh ya, apa ada tugas yang harus saya kerjakan?" tanya Irsyan.


"Ada, Pak, bahkan banyak berkas yang harus periksa dan tandatangani," jawab Aris.


"Kalau gitu berkasnya di antar ke ruangan saja, Pak."


"Baik, Pak."


Irsyan pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruangan milik papanya.


Di hari libur yang seharusnya di jadikan untuk bermalas-malasan dan berdiam diri di dalam kamar, namun itu tidak berlaku untuk Irsyan, kini ia tengah di hadapkan dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya.


"Allahuakbar, banyak banget dah," keluh Irsyan.


TOK!


TOK!

__ADS_1


TOK!


"Masuk!"


CEKLEK!


Masuklah seorang office boy mengantarkan secangkir kopi untuk Irsyan.


"Permisi, Pak. Ini kopi pesanan Bapak," ucap office boy itu.


"Taruh saja di atas meja," titah Irsyan. Office boy itu mengangguk, lalu menaruh secangkir kopi yang dibawanya di atas meja kerja Irsyan.


"Terima kasih, Malik," ucap Irsyan pada office boy itu.


"Sama-sam, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Malik dan hanya dapat anggukan dari Irsyan.


Irsyan kembali fokus di depan komputer dan sesekali menyesap kopinya. Namun tiba-tiba saja ia kepikiran si gadis yang dia sebut kucing manis.


"Ya ampun, kok bisa-bisanya gue kepikiran terus sama cewek yang baru gue jumpai cuma sekali!" ucapnya frustrasi.


"Apa dia pake susuk ya? Makanya bikin gue jadi terus kepikiran dia kayak gini?"


"Haish, bikin jadi gue ngomong sendiri kayak orang gila gini kan!" kesal Irsyan.


Setelah 2 jam berkutat dengan tumpukan berkas, akhirnya semua selesai juga Irsyan kerjakan.


"Uh, akhirnya penderitaan ini selesai juga," ucap Irsyan sambil merenggangkan otot-ototnya.


Irsyan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11, sekitar 1 jam lagi waktunya untuk istirahat. Lalu ia berpikiran untuk berkeliling melihat keadaan perusahaan papanya sembari menunggu jam istirahat.


Ketika Irsyan melewati ruang marketing, ia mendengar suara karyawan-karyawan disana sedang tertawa bersenda gurau.


Irsyan coba membuka pelan pintu ruang marketing agar karyawan-karyawan disana tidak mengetahui kedatangannya.


"Cih, ngapain sih papa merekrut karyawan seperti mereka yang kerjaan cuma bermalas-malasan saja," cibir Irsyan dengan bergumam.


Irsyan mengedarkan pandangannya, melihat satu-persatu wajah karyawan marketing tersebut, tiba-tiba saja ia membelalakkan matanya ketika melihat dua karyawan berbeda jenis sedang bermesraan di sofa dalam ruangan tersebut.


"Itu kan laki-laki bajing*n yang nampar kucing manis gue kemarin malam," gumam Irsyan menatap tajam ke arah laki-laki yang tengah bermesraan itu.


Kalian tau itu siapa? Ya benar, itu Rivan. Dia tengah bermesraan dengan Marissa, selingkuhannya. Dan sudah Irsyan duga, ternyata Rivan bekerja di perusahaan milik papanya. Pantas saja Irsyan seperti pernah melihat laki-laki itu.


"Well, gue nggak bisa biarkan hal ini. Gue bakal kasi lo pelajaran karena lo udah berani nampar pipi dan selingkuhi kucing manis gue!" batin Irsyan sambil mengeluarkan senyum seringainya seraya menatap tajam ke arah Rivan yang sedang bermesraan dengan Marissa.


...----------------...

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2