
Para warga langsung berbondong-bondong datang ke tempat posko relawan tim medis, apalagi gadis-gadis mata mereka langsung berbinar-binar saat melihat ketampanan dari tim medis tersebut.
"Saya cek tensi darahnya dulu ya mba?" ucap Aji.
"Cek hati saya juga boleh Mas," ucap seorang gadis dengan suara centilnya. Aji hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan gadis di depannya ini.
Sedangkan Irsyan tengah memeriksa gula darah seorang wanita paruh baya yang mungkin berumur 50 tahunan.
"Mas," panggil wanita paruh baya itu.
"Ya Bu?" tanya Irsyan dengan ramah.
"Kamu tampan sekali, nak. Kayak artis Korea mah kalau anak saya bilang," ucap wanita paruh baya itu terus menatap Irsyan.
Irsyan tertawa renyah, "Ibu bisa aja."
Irsyan tidak suka jika ada orang yang memujinya, apalagi tanpa menyebutkan nama Allah didepannya, takut ia akan terkena penyakit ain. Semoga saja ia tidak terkena penyakit itu, doa Irsyan dihatinya jika ada seseorang yang memujinya secara berlebihan.
"Beneran nak, coba aja Ibu masih muda mungkin sudah Ibu jadikan kamu suami," papar wanita paruh baya itu sambil tertawa kecil di akhir ucapannya. Irsyan menangapi ucapan Ibu itu dengan senyuman tipis.
"Mas ganteng udah punya istri belum?"
"Alhamdulillah sudah Bu," jawab Irsyan jujur.
"Yah padahal Ibu mau menjodohkan kamu dengan putri Ibu, itu dia anak ibu!" Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah putrinya yang tengah duduk menunggu giliran di periksa. Irsyan ikut menatap ke arah putri dari ibu itu, tapi belum lima detik ia langsung mengalihkan pandangannya.
"Cantik kan anak Ibu?"
"Semua perempuan terlahir cantik, Bu," balas Irsyan yang mulai risih dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting seperti itu.
Sorenya, Aurora tengah bersiap-siap di depan meja riasnya, ia akan pergi ke cafe sunshine untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya sekaligus Wawan akan memperkenalkan calon istrinya pada mereka.
Aurora mengoleskan make up yang tipis pada wajahnya, mengenakan dress ibu hamil yang kemarin ia beli dengan ibu mertuanya, dress tersebut memiliki aksen bunga-bunga pada bawahnya lalu dipadukan dengan sepatu flatshoes berwarna krem.
"Mau kemana sayang?" tanya Jihan saat Aurora berjalan ke arahnya yang berada diruang tengah atau keluarga.
"Mau ketemu sama teman sebentar di cafe, Rora juga udah izin tadi sama mas Irsyan, bolehkan Ma?"
"Iya boleh nak, kamu juga kan udah izin sama suamimu, yang penting kamu hati-hati dan harus di antar oleh pak Maman," suruh Jihan.
"Siap Ma, Aurora pergi dulu ya?" pamit Aurora sambil menyalami dan mencium tangan Jihan.
"Iya nak, ingat pesan Mama, kamu harus hati-hati."
__ADS_1
"Iya Ma."
Aurora mengedarkan pandangan ke arah sekeliling cafe, di ujung sana Mila tengah melambaikan tangan padanya, Aurora melangkahkan kakinya menuju ke meja tempat para sahabatnya berada.
"Sorry telah guys," ucap Aurora sambil duduk di kursi.
"It's okey kita juga baru datang kok," sahut Andre.
"Lo hari ini nggak masuk kerja ya Ra? Soalnya gue nggak liat lo di kantor," tanya Mila yang langsung ke cafe setelah pulang kerja.
"Iya Mil, kan hari ini suami gue pergi ke desa U," jelas Aurora. Ketiga sahabatnya itu langsung manggut-manggut.
"Pasti nggak enak banget ya di tinggal jauh sama suami, apalagi tengah hamil," ucap Kiran.
"Iya gitu deh Ki, tapi mau gimana lagi panggilan negara dan kemanusiaan," balas Aurora.
"Ngomong-ngomong Wawan belum datang?" tanya Aurora.
"Iya, katanya dia lagi on the way kesini sama calon istrinya," jelas Andre yang diberitahu oleh Wawan melalui pesan. Aurora hanya manggut-manggut, tangannya terulur mengambil egg tart kesukaannya di atas meja yang memang sudah dipesankan terlebih dulu oleh Kiran.
"Nggak nyangka tu bocah diam-diam udah punya calon istri aja," celetuk Kiran.
"Ya kan dia pakai gaya sat-set sat-set itu sayang," sahut Andre.
Dari arah belakang, persisnya di pintu masuk Wawan datang dengan Nina sambil bergandengan tangan. Wawan tersenyum saat melihat keberadaan para sahabatnya, Aurora tidak mengetahui Wawan dan Nina yang datang karena dia duduk membelakangi mereka.
"Hai guys," sapa Wawan.
"Hai Wan," balas Andre, Kiran dan Mila. Pada saat Aurora akan berbalik untuk menyapa Wawan dan calon istrinya, betapa terkejutnya ia saat melihat wanita yang akan menjadi calon istri dari sahabatnya itu.
"LO!" teriak Aurora berdiri sambil menunjuk ke arah Nina. Nina yang melihat Aurora pun tak kalah terkejutnya.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Wawan heran.
"Iya aku--" Nina mengucapkan dengan terputus-putus, Aurora pun langsung menyela ucapannya.
"Dia wanita yang buat gue dan mas Irsyan bertengkar! Dia itu pelakor yang mencoba merusak rumah tangga gue dengan suami gue!" hardik Aurora emosi membuat keempat sahabat terutama Wawan sangat terkejut mendengarnya. Atensi orang-orang disana pun langsung ke arah mereka.
"Jangan mengada-ada deh lo Ra!" ucap Wawan masih tak percaya sedangkan Nina langsung menunduk. Mila, Andre dan Kiran masih dengan wajah terkejut mereka.
"Kalau nggak percaya, lo bisa tanya langsung dengan wanita itu!" Aurora sangat malas menyebut nama Nina. Wawan dan lainnya menatap ke arah Nina untuk mendengar penjelasannya. Nina hanya bisa mengangguk pelan dan masih menundukkan kepalanya, Wawan dan lainnya lagi-lagi terkejut.
Aurora tersenyum miring, "Nah kan lo liat? Dia pun jujur kalau dia pernah jadi duri dalam rumah tangga gue! Gue harap lo nggak usah berhubungan dengan dia lagi, Wan."
__ADS_1
"Tapi gue dan dia udah mau tu--"
"Oke kalau lo lebih memilih dia, persahabatan kita sampai di sini!" potong Aurora, lalu melangkahkan kakinya menuju keluar dari cafe, ia sangat kecewa dengan sahabatnya itu karena Wawan lebih memilih wanita yang notabennya baru beberapa minggu ia kenal daripada milih sahabat yang sudah lebih dari 7 tahun lamanya.
...****************...
Malam harinya setelah selesai mandi, Irsyan duduk di tepi ranjang seperti biasa ia akan melakukan video call dengan istrinya, mungkin itu yang akan menjadi rutinitasnya selama 2 minggu ke depan.
"Assalamualaikum sayang," ucap Irsyan lembut, sedetik kemudian ia heran saat melihat sang istri menyembunyikan wajahnya di dalam selimut, hanya bagian kening dan rambut saja yang terlihat.
"Waalaikumsalam Mas," jawab Aurora serak.
"Kamu kenapa sayang? Dingin ya disana?" tanya Irsyan. Aurora hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus kamu kenapa, kok muka kamu ditutupi gitu? Kan Mas nggak bisa liat wajah cantik kamu," ucap Irsyan sedikit menggoda Aurora. Dengan pelan Aurora membuka selimut yang menutupi wajahnya, seketika Irsyan terkejut melihat mata istrinya yang bengkak habis menangis dan hidungnya yang memerah.
"Kamu kenapa sayang? Siapa yang membuat kamu menangis hah? Kasi tau Mas!" tanya Irsyan marah.
"Mas ..." Memang setelah pulang dari cafe tadi, Aurora langsung menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
"Kenapa sayangku? Cepat kasi tau Mas, kalau nggak malam ini Mas balik ke kota M sekarang!" ancam Irsyan.
Aurora mengambil napas lalu menghembuskan perlahan sebelum ia bercerita, setelah itu Aurora menceritakan kejadian waktu di cafe saat Wawan memperkenalkan Nina sebagai calon istrinya. Irsyan langsung terdiam saat mendengar cerita dari Aurora, apa ada maksud tertentu Nina mendekati Wawan?
"Pokok aku nggak terima Wawan sama wanita penggoda itu Mas!" sarkas Aurora berapi-api. Irsyan meringis mendengar ucapan istrinya.
"Iya sayang, tapi kamu kontrol emosi kamu, nggak baik untuk ibu hamil," ucap Irsyan lembut.
"Tapi Mas dia itu nggak cocok untuk Wawan!"
"Iya Mas tau sayang, tapi kita nggak bisa berbuat apa-apa, jodoh itu sudah di tangan Allah. Mungkin Wawan memilih Nina itu karena menurutnya dia wanita yang tepat untuk dirinya," jelas Irsyan agar istrinya itu mengerti.
"Mas membela wanita itu?!" tuduh Aurora.
"Astaga ya nggak lah sayang," ucap Irsyan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Halah bilang aja Mas bela dia! Udah lah jangan ganggu aku dulu!"
Aurora mematikan sambungan video call tersebut tanpa mengucap salam, membuat Irsyan kelimpungan. Irsyan kembali mencoba menelpon istrinya itu, namun nihil handphone Aurora tidak aktif, Irsyan pun frustasi dibuatnya.
"Ya Allah, salah lagi kan gue!" ucap Irsyan sambil menjambak rambutnya.
...----------------...
__ADS_1
To be continued.