
Tolong di tandai jika ada kata-kata yang typo🙏
...Happy reading☘️...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'Apa aku keterlaluan sama dia?' Tapi kan- ah sudahlah,' batin Aurora yang gelisah melihat Irsyan yang sepertinya marah dengannya.
"Mas," panggil Aurora dengan lembut.
"Hem."
"Ih mas Irsyan!" kesal Aurora.
"Kenapa sih?" Baru saja Irsyan akan menatap Aurora, gadis itu sudah mengecup pipinya.
CUP!
Irsyan cukup terkejut mendapatkan kecupan dari calon istrinya, ia yang tadinya kesal langsung menampilkan senyum sumringahnya.
"Udah berani ya sekarang?" goda Irsyan pada Aurora.
"Nggak ya," elak Aurora tersipu malu dan mengalihkan pandangannya, pipinya pun langsung memerah akibat perbuatannya tadi. Irsyan terkekeh geli melihatnya.
"Gemes banget sih," ucap Irsyan mengecup puncak kepala Aurora.
"Mas aku mau ke kamar mandi bentar ya?" Aurora mencoba menutupi rasa malunya.
"Iya sayang." Aurora berjalan terburu-buru menuju ke kamar mandi. Irsyan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah calon istrinya.
Drtt.. Drtt.. Drtt..
Handphone Aurora berdering, Irsyan mengambil handphone milik Aurora dan hatinya memanas ketika melihat siapa yang menelepon calon istrinya.
"Rivan? Ngapain tu cowok nelpon Aurora lagi," geram Irsyan. Tanpa basa-basi lagi ia langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum Ra," ucap Rivan lembut.
"Waalaikumsalam, mau ngapain lo nelpon Aurora?" tanya Irsyan sewot.
"Lo siapa? Berani-beraninya angkat telpon milik Aurora!"
"Gue itu calon suaminya Aurora, mau apa lo?" sarkas Irsyan.
"Heh lo nggak usah ngaku-ngaku deh, orang Aurora itu belum punya calon suami."
"Oh gitu ya cara kamu berbicara dengan atasan kamu sendiri." Irsyan merubah cara bicaranya.
"P-pak Irsyan?" tanya Rivan gugup setelah menelaah suara orang yang nelpon bersamanya saat ini.
"Iya saya Irsyan. Saya peringatkan ke kamu, untuk jangan pernah menelepon Aurora lagi. Karena sebentar lagi Aurora akan jadi istri saya. Kalau saya tau kamu masih menelpon Aurora, saya nggak akan segan-segan memecat kamu dari HC Propertie's!" ancam Irsyan.
"B-baik Pak," ucap Rivan ketakutan. Irsyan langsung mematikan telepon tersebut dengan perasaan yang jengkel.
Aurora yang kembali menuju ke ruang TV langsung mengerutkan keningnya melihat raut wajah Irsyan yang kusut.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" tanya Aurora sambil duduk di samping Irsyan.
"Tadi MANTAN kamu nelpon," jawab Irsyan kesal dengan menekankan mantan di ucapannya.
Aurora mengerutkan keningnya, "Rivan maksudnya Mas?"
"Iya siapa lagi, ternyata masih nyimpen nomornya mantan ya?" sindir Irsyan.
Aurora menghela napasnya, lalu memegang kedua pipi Irsyan untuk melihat ke arahnya.
"Tatap aku Mas." Irsyan pun menatap ke arah Aurora.
"Mas di hati aku sekarang cuma ada nama kamu aja. Rivan itu masa lalu aku dan kamu itu masa depan aku, please percaya sama aku Mas," ucap Aurora serius menatap dalam mata Irsyan.
Hati Irsyan berbunga-bunga mendengar ucapan Aurora, mungkin ia harus lebih percaya lagi dengan calon istrinya.
"Maafin Mas ya sayang karena udah cemburu," ucap Irsyan menyesal.
"Gapapa Mas, cemburu itu kan tandanya Mas sayang sama aku," ucap Aurora.
Irsyan tersenyum, "Apa boleh Mas peluk?"
'Ngapain sih pakai izin segala,' batin Aurora.
"Boleh nggak sayang?" tanya Irsyan sekali lagi.
Aurora mengangguk malu-malu, "Iya boleh Mas."
Setelah mendapatkan izin, Irsyan langsung membawa Aurora ke dalam dekapannya.
"Rasanya udah nggak sabar nikahin kamu, biar lebih enak mau ngapain-ngapain," ucap Irsyan.
"Mesum itu hal yang normal sayang," ucap Irsyan santai. Aurora berdecak sebal di pelukan Irsyan.
Handphone Aurora kembali berdering, Aurora melepaskan pelukan Irsyan, dengan segera ia beranjak mengambil handphonenya dan mengangkat telpon tersebut yang ternyata dari Aril, sang adik.
"Iya halo Ril?"
"Kakak kapan pulang? Udah di tanyain sama Ibu nih," tanya Aril.
Aurora terkesiap kaget, saat Irsyan mencekal salah satu tangannya dan menarik Aurora hingga terjerembab duduk di pangkuan laki-laki itu. Irsyan memeluk pinggangnya hingga membuat Aurora tidak bisa beranjak kemana-mana.
Aurora pun kembali fokus pada panggilan telepon dari Aril. "Iya ini sebentar lagi kakak akan pulang."
"Ya sudah kak, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aurora mematikan telepon dari adiknya. Ia menatap dua lengan kokoh yang melingkar pinggangnya, Aurora menoleh ke arah pundaknya yang menjadi sandaran kepala Irsyan.
"Mas aku mau pulang, soalnya udah jam setengah 11 malam lebih," ucap Aurora. Ia berusaha melepaskan tangan Irsyan. Bukannya terlepas, tangan laki-laki itu semakin erat melingkar di pinggang Aurora.
"Kayak gini sebentar sayang, habis ini aku antar kamu pulang," lirih Irsyan. Aurora mengangguk dan membiarkan laki-laki itu memeluknya.
Beberapa saat kemudian..
"Udah Mas?" tanya Aurora. Irsyan menghembuskan napas pelan, Aurora merasakan jika laki-laki itu mencium sekilas pundaknya dan Irsyan pun mulai melepaskan tangannya dari pinggang Aurora.
__ADS_1
Aurora refleks langsung berdiri dan mengambil tasnya yang berada di atas meja.
"Ayo Mas," ajak Aurora. Irsyan mengangguk, lalu mengandeng tangan Aurora keluar dari apartemennya dan menuju ke basemen parkiran.
Kurang lebih 20 menit mereka sampai didepan gerbang rumah Aurora.
"Aku turun ya Mas?" Aurora membuka pintu mobil Irsyan
"Tunggu dulu." Irsyan mencekal tangan Aurora.
"Kenapa Mas?" tanya Aurora bingung.
Irsyan memajukan wajahnya, lalu mencium kening Aurora sedikit lama. Membuat jantung sang empu berdegup kencang mendapat ciuman dari calon suaminya.
"Nanti kamu langsung tidur ya sayang?" ucap Irsyan setelah melepaskan ciumannya.
"Iya, Mas juga langsung tidur, jangan begadang main game!" titah Aurora.
"Iya siap sayang." Aurora pun turun dari mobil Irsyan, ia tak langsung masuk melainkan tetap menunggu sampai Irsyan kembali melajukan mobilnya. Setelah mobil Irsyan hilang dari pandangannya, Aurora langsung masuk ke dalam rumahnya.
...****************...
Sepulang dari kantor, Aurora janjian untuk hangout berdua dengan Kiran di salah satu restoran masakan Korea.
"Hei udah lama datangnya?" tanya Kiran yang baru saja sampai dan duduk di kursi depan Aurora.
"Nggak kok Ki," jawab Aurora.
Kiran manggut-manggut, "Oh ya, lo udah pesan makanan Ra?"
"Udah tadi, ya udah gih lo pesan makanan dulu."
Sambil menunggu pesanan Kiran datang, mereka berdua banyak mengobrol. Ada saja yang dua gadis itu bahas, mulai dari yang penting sampai yang tidak penting. Di tengah obrolan mereka, handphone yang Aurora taruh di atas meja tiba-tiba berdering.
"Assalamualaikum sayang," ucap Irsyan di ujung telpon sana.
"Waalaikumsalam Mas, kenapa?"
"Lagi dimana?"
"Aku lagi di restoran Korean Food's sama Kiran," jawab Aurora.
"Ya udah Mas nyusul kamu kesana sekarang."
"Tapi Mas-"
Sambungkan telpon terputus dan Irsyan lah yang mematikan telepon tersebut, membuat Aurora menghela napas.
"Kenapa Ra?" tanya Kiran.
"Mas Irsyan mau kesini."
"Lah terus kenapa muka lo kayak nggak suka gitu kalau dia kesini?" tanya Kiran heran.
"Bukannya gitu Ki, tapi di itu- Ah sudahlah," ucap Aurora. Kiran langsung menaikkan bahunya acuh. Mereka berdua pun melanjutkan obrolannya sembari menunggu Irsyan datang.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.