GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 156


__ADS_3

"Kamu mau kemana siang-siang begini, Nak?" tanya Nuri pada Aurora. Sudah dua hari ini Aurora menginap di rumah orang tuanya.


"Rora mau bertemu dengan Kiran dan Mila, Bu."


Waktu telah menunjukkan pukul 1 siang. Aurora sudah rapi dengan pakaiannya, ia berniat untuk keluar bertemu dengan Kiran dan Mila. Walaupun sudah dilarang keras oleh Mila, namun Aurora tetap memaksa. Ia ingin bertemu sebelum dengan mereka berdua sebelum nanti Mila akan menikah dengan Satria.


"Lebih baik kamu di rumah aja, nak. Biarkan Mila dan Kiran yang datang kesini," ucap Nuri. Entah kenapa hatinya tidak tenang untuk mengizinkan putrinya itu keluar dari rumah.


"Tapi Rora ingin keluar jalan-jalan Bu. Ibu juga kan selalu bilang kalau sedang hamil besar itu harus sering berjalan-jalan. Kiran dan Mila sekarang lagi di perjalanan kesini untuk menjemput Rora," balas Aurora agar Nuri mengizinkannya.


Nuri menghela napas panjang, "Tapi kamu sudah izin ke suamimu, nak?" tanyanya.


"Sudah Bu," jawab Aurora jujur dia sudah menghubungi suaminya dari pesan karena setahunya Irsyan saat ini sedang melakukan meeting dengan kliennya, jadi Aurora memilih mengirimkan pesan daripada menelpon.


Nuri terlihat sedang berpikir sejenak, "Baiklah kalau begitu kamu hati-hati dijalan. Ingat pulang sebelum suamimu pulang kerja," perintahnya.


"Iya siap Bu, aku tunggu mereka di depan, assalamualaikum." Aurora menyalami tangan Ibunya sebelum keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam."


Aurora dengan semangatnya melangkahkan kakinya keluar dari rumah, ia akan menunggu kedua sahabatnya di depan gerbang.


Wanita hamil itu tak henti-hentinya tersenyum hanya karena membaca pesan dari suaminya yang over protektif itu. Sesekali Aurora mendongakkan kepalanya untuk memastikan jika kedua sahabatnya itu sudah sampai atau belum. Namun kedua sahabatnya itu belum datang juga, sehingga Aurora memainkan handphonenya kembali.


Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang berhenti di hadapannya, Aurora segera mendongakkan kepalanya dengan senyuman manis yang terpatri di wajah cantiknya.


Irsyan baru saja keluar dari ruang meeting, ia segera merogoh saku jasnya mengambil handphonenya.


"Yang benar saja, dia hanya membaca pesanku? Awas saja nanti sayang," gumam Irsyan melihat pesannya hanya dibaca saja oleh istrinya itu.


Irsyan segera menelpon Aurora, ia akan memarahi istrinya itu karena telah mengabaikan pesannya.


Terdengar suara nada sambung, namun Aurora tak kunjung menjawabnya. Lagi-lagi Irsyan menghubunginya, dia semakin kesal dengan Aurora karena masih tidak ada jawaban dari istrinya itu.


Irsyan pun masih keras kepala untuk kembali menghubungi Aurora, namun kali ini ia merasa gelisah. Entah apa yang membuat pria itu amat gelisah seperti ini.

__ADS_1


Baru saja nada sambung terdengar satu kali, terdengar di seberang sana ada yang menjawab panggilan tersebut.


"SAYANG KAMU KEMA--"


"Mas Irsyan," sapa seseorang diseberang sana terdengar sangat lirih.


"Mila?" gumam Irsyan mengernyitkan keningnya. Ia semakin gelisah, masih belum menemukan jawaban dari kegelisahan ini.


"Dimana Aurora? Kenapa malah lo yang menjawab telepon dari gue?" tanya Irsyan.


Hanya terdengar suara helaan napas Mila disana di seberang sana. Berserta isakan... What isakan?!


"Mila! Jawab pertanyaan gue, dimana Aurora?!" bentak Irsyan tidak sabar.


"Au-Aurora hilang, mas Irsyan!" jawab Mila dengan suara yang bergetar menahan isakan nya.


Irsyan mencengkram handphonenya dengan sangat erat. Sorot matanya sangat mematikan.


"Apa maksud lo, hah? Katakan sekali lagi!" geram Irsyan menahan amarahnya.


"TIDAK YAH, INI SALAH IBU! SEHARUSNYA IBU TADI NGGAK NGIZININ AURORA PERGI!" jerit Nuri menangis.


Tubuhnya gemetar, kakinya terasa lemas, detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Irsyan tak kuasa, ia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada istri dan calon anaknya. Secepat kilat sudah berada di basemen parkiran, bahkan Aris sedari tadi ikut mengejar Irsyan setelah melihat wajah panik atasannya itu.


"Pak Irsyan, anda mau kemana?" tanya Aris.


Irsyan menatap ke arah Aris, "Suruh semua anak buah Papa untuk berpencar mencari istriku! Cari di setiap sudut kota, saya tidak ingin mendengar hal buruk terjadi padanya dan calon anak saya!" perintah Irsyan pada Aris.


"Baik pak Irsyan."


Dengan langkah tergopoh-gopoh pak Nudi membukakan pintu mobil untuk majikannya itu dan sekarang tujuannya adalah rumah mertuanya.


"Bisakah Bapak berkendara lebih cepat lagi!" bentak Irsyan membuat pak Nudi terkesiap, ini pertama kali majikannya itu membentak dirinya. Pria paruh baya itu yakin Irsyan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, terlihat dari wajah paniknya.


"B-baik Tuan," ucap pak Nudi semakin menaikan kecepatan mobil.

__ADS_1


15 menit kemudian mobil Irsyan telah terparkir di halaman rumah mertuanya. Irsyan segera keluar dari dalam mobil.


Sesampainya di depan pintu rumah mertuanya yang terbuka, Irsyan langsung masuk ke dalam rumah itu. Ia bisa melihat, disana terdapat Nuri yang sedang menangis beserta Alfian, Mila dan Kiran yang menenangkannya.


"Nak Irsyan," lirik Nuri terisak saat melihat kedatangan menantunya.


Irsyan segera menghampiri Nuri yang sedang duduk di sofa, pria itu bersimpuh di hadapan Ibu mertuanya. Irsyan menggenggam tangan Nuri dengan erat.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanya Irsyan dengan nada yang rendah.


"Aurora menghilang, nak. Kami hanya menemukan handphone miliknya," sahut Alfian.


Irsyan semakin menggenggam erat tangan Nuri.


"Ini salah ibu, nak! Seharusnya Ibu tadi tidak mengizinkannya untuk keluar. Ini salah Ibu!" ucap Nuri terus menyalahkan dirinya dan semakin menangis.


"Tidak Bu, ini bukan salah Ibu, ini juga salah Irsyan yang juga sudah mengizinkan Aurora untuk keluar. Ibu dan Ayah tenang saja, Irsyan pasti akan segera menemukan Aurora. Irsyan yakin Aurora akan baik-baik saja." Irsyan menghapus jejak-jejak air mata di wajah ibu mertuanya. Ia mencoba menenangkan wanita paruh baya yang telah melahirkan istrinya itu, walaupun sebenarnya dirinya sendiri yang sangat merasa tidak tenang. Ia berjanji akan menghancurkan siapapun orang yang menculik Aurora.


"Aurora hilang dimana?" tanya Irsyan.


"Di depan gerbang rumah mas Irsyan, dia sedang menunggu gue dan Mila. Padahal gue sudah melarangnya menunggu disana, namun dia keras kepala dan tetap menunggu kami di depan gerbang," sahut Kiran dan di ikuti anggukan kepala dari Mila.


"Apa mengecek Cctv disekitar sana, Yah?" tanya Irsyan menatap Alfian.


"Sudah nak, kami mengecek Cctv yang ada di cafe depan milik Mamamu. Tapi mereka melarang kami untuk melihat Cctv, mereka mengatakan jika hal itu merupakan sangat privasi, yang boleh melihat hanya orang berwenang saja. Sedangkan kita belum bisa melapor ke polisi, karena kehilangannya belum 1×24 jam," jelas Alfian. Kebetulan di depan rumah orang tua Aurora, terdapat Cafe milik Jihan yang baru 3 bulan ini berdiri.


Hal itu berhasil membuat Irsyan semakin murka. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras hingga terlihat jelas otot-otot wajahnya.


"Ibu, Ayah, ayo kita cek Cctv, agar kita bisa dengan mudah menemukan Aurora," ajak Irsyan menarik tangan Nuri untuk berdiri.


"Bagaimana kalau mereka melarang kita lagi?" tanya Alfian.


"Itu tidak bakalan Ayah, kalau mereka masih ingin bekerja disana," ucap Irsyan menyakinkan kedua mertuanya.


Alfian dan Nuri pun menuruti apa yang dikatakan oleh Irsyan. Mila dan Kiran pun mengikuti mereka juga karena penasaran siapa yang telah menculik sahabatnya itu.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2