
"Surprise!" Suara ledakan party popper confetti saat Aurora masuk ke dalam ruang kerjanya, ketiga rekan kerjanya itu memberikan Aurora kejutan ulang tahun.
"Selamat ulang tahun Aurora!" ucap Dona, Sam dan Zain dengan serempak. Aurora terharu karena ketiga rekan kerjanya itu mengingat hari ulang tahunnya. Tadi juga saat sarapan, kedua mertuanya memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya, bahkan mama mertuanya memberikannya cincin berlian sebagai hadiah dan harga berlian tersebut cukup fantastis.
"Terima kasih semua," ucap Aurora tulus.
"Ayo tiup lilinnya, nak. Eh tapi sebelum itu make a wish dulu," ujar Dona. Zain menyodorkan kue tart tersebut ke depan Aurora.
Aurora tersenyum dan mengangguk, lalu memejamkan mata dan berdoa dalam hatinya. Aurora berdoa, agar ketiga rekan kerjanya ini selalu dalam lindungan Tuhan dan selalu diberikan kesehatan. Setelah itu Aurora membuka mata dan seperti biasa dia tidak meniup lilin tersebut, Aurora malah mengipasi nya sampai api itu mati.
"Sekali lagi selamat ulang tahun anakku, semoga apa yang kamu inginkan cepat dikabulkan oleh Allah SWT," ucap Dona yang menganggap Aurora sudah seperti anak kandungnya sendiri.
"Aamiin terima kasih Ibu," balas Aurora sambil memeluk Dona. Sam dan Zain hanya tersenyum haru melihat kedekatan dua wanita beda generasi itu yang sudah seperti ibu dan anak.
"Ini hadiah untukmu dari Bapak, nak," ucap Sam sambil menyodorkan kado untuk Aurora.
"Makasih pak Sam." Dona dan Zain pun tak mau kalah memberikan Aurora kado.
Disebuah ruangan yang bernuansa Eropa klasik, seorang pria dengan perawakan campuran antara timur tengah dan Indonesia sedang mengetuk-ngetuk kan pulpen di meja kerjanya sambil memikirkan apa hadiah yang cocok untuk wanita yang sudah lama dia kagumi.
"Apa ya hadiah yang tepat untuk dia?" pikir pria itu.
"Raffi!" panggil pria itu pada asisten pribadi sekaligus sekretaris nya.
"Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Raffi dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Kamu punya pacar kan?" tanya pria itu. Raffi mengerutkan keningnya, tumben sekali Tuannya ini menanyakan hal ini kepadanya.
"Iya saya punya, Tuan. Maaf kalau boleh tau, ada apa ya Tuan?"
"Saya ingin memberikan wanita saya hadiah, dia berulang tahun hari ini dan saya minta saran sama kamu, hadiah apa yang cocok untuknya," jelas pria itu. Raffi langsung melongo, Tuannya itu memanggil dirinya hanya untuk menanyakan hal sepele seperti itu.
"Biasanya saya memberikan dia hadiah tas, sepatu atau perhiasan seperti kalung atau cincin, Tuan. Dengan tambah buket bunga mawar atau bunga lainnya juga boleh," saran Raffi.
"Oh oke, terima kasih atas saran kamu. Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan mu," ujar pria itu.
"Baik Tuan." Raffi pun kembali ke ruangannya.
"Oke aku sekarang ke toko perhiasan mau belikan dia kalung, semoga saja dia suka," ucap pria itu tersenyum.
__ADS_1
...****************...
"Komandan!" sapa seorang polisi memanggil komandannya yang tak lain adalah Satria.
"Eh iya Ton?"
"Melamun saja, Ndan. Ada apa gerangan yang membuatmu melamun seperti itu?" tanya Anton.
"Biasanya nyokap dan bokap gue, suruh buru-buru gue buat nyari calon bini," jelas Satria. Sebelas dua belas, dengan nasib Irsyan dulu yang selalu diteror untuk segera membawa dan memperkenalkan calon istri ke orang tua.
"Ya komandan cari aja, gue yakin pasti banyak cewek yang klepek-klepek dengan lo, Ndan. Apalagi setau gue nih, zaman sekarang tuh cewek carinya cowok yang berseragam. Masa lo kalah sama gue, gue aja punya pacar 3 loh, Ndan," ujar Anton dengan penuh percaya dirinya menceritakan bahwa dia memiliki 3 kekasih.
"Ye itu sih lo nya yang buaya!" ucap Satria sambil menoyor kepala Anton. Anton langsung nyengir tanpa dosa.
"Memangnya nggak ada gitu cewek yang lo suka, Ndan?" tanya Anton. Jangan heran, kenapa Anton sangat berani menggunakan panggilan tidak formal ke Satria notabene sebagai seniornya yang memiliki pangkat lebih atas darinya, karena Satria sendiri yang menyuruhnya dan memang umur mereka juga tidak beda jauh.
"Ada, tapi dia keduluan di ambil sama sahabat gue sendiri," jawab Satria tersenyum kecut. Aurora lah perempuan yang dikira oleh Satria, walaupun dia sudah mengikhlaskan Aurora bersanding dengan sahabatnya, tapi rasa itu ada masih terpendam di hatinya.
"Yah lo sih kurang gerak cepat, Ndan. Jadi keduluan sahabat lo kan."
"Ya mungkin gue bukan jodohnya, kan jodoh, rezeki dan maut sudah Allah tentukan sebelum kita lahir di dunia ini," ucap Satria. Anton mengangguk menyetujui ucapan Satria tadi.
"Iya bener sih, Ndan. Atau kenapa lo nggak sama salah satu polwan disini, pada cantik-cantik dan bohay-bohay loh, Ndan," saran Anton lagi.
"Terserah lo deh, Ndan," ucap Anton yang turun tangan dalam masalah percintaan dari komandan nya ini.
Sore harinya, Aurora pulang kerja bersama dengan Irsyan yang menjemputnya ke kantor, karena hari ini Irsyan mendapatkan shift pagi.
"Nyonya Aurora," panggil pak Deden. Aurora yang baru saja turun dari mobil, langsung berbalik menatap pak Deden.
"Ya Pak?"
"Ini ada kiriman bunga dan hadiah untuk Nyonya," ucap pak Deden sambil membawa sebuah kotak berukuran kecil dan buket bunga Lily yang cukup besar.
"Ini dari siapa ya Pak?" tanya Aurora seraya mengambil kotak dan buket bunga itu dari tangan pak Deden.
"Saya tidak tau, Nyonya. Tadi kurirnya tidak kasi tau nama pengirimnya," jelas pak Deden yang langsung disuruh tanda tangan oleh kurir tanpa memberitahukan siapa pengirimnya.
"Mungkin itu teman kamu yang mengirim, sayang," sahut Irsyan.
__ADS_1
"Sepertinya begitu Mas. Makasih ya pak," ucap Aurora.
"Sama-sama Nyonya."
Irsyan dan Aurora masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke kamar.
"Ini dari siapa ya?" ucap Aurora bertanya-tanya.
"Coba periksa kartu ucapan di bunga itu, pasti ada nama pengirimnya, sayang," saran Irsyan. Aurora mengangguk, lalu memeriksa kartu ucapan itu.
'Happy birthday cantik, semoga suka dengan hadiah yang aku kirimkan ke kamu.'
Itulah isi dari kartu ucapan tersebut tanpa ada nama pengirimnya, hal itu membuat Aurora terheran-heran, apakah dia memiliki penggemar rahasia?
"Siapa yang ngirim?" tanya Irsyan. Aurora mengangkat kedua bahunya.
"Nggak tau Mas, soalnya nggak ada nama pengirimnya," jawab Aurora.
"Mungkin dia penggemar rahasia kamu," goda Irsyan.
Aurora mendengus, "Mana ada aku punya penggemar, Mas. Aku kan bukan artis."
"Kamu punya penggemar kok sayang," ucap Irsyan.
"Siapa?"
"Aku. Aku adalah penggemar berat nomor satu kamu," ucap Irsyan.
Aurora terkekeh, "Mas bisa aja."
"Mas mau mandi dulu sayang, mau ikut?" tawar Irsyan dengan cepat Aurora menggeleng.
"Duluan saja Mas." Irsyan mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Aurora lanjut membuka-buka kado dari rekan-rekan kerjanya tadi. Aurora membuka kado dari Dona yang berisikan beberapa gaun malam alias baju dinas untuk Aurora.
"Ya ampun Ibu Dona, hadiahnya sungguh membangongkan," ucap Aurora terkekeh dan geleng-geleng kepala. Lalu Aurora membuka kado dari Sam yang berisikan tas dan kado dari Zain berisikan case handphone.
"Tau aja kalau aku lagi butuh case handphone." Aurora membuka case handphonenya yang dulu dan menggantinya dengan hadiah dari Zain. Aurora lupa, dia memiliki satu kado lagi, dari orang yang tidak dikenal itu. Aurora pun membuka kotaknya, ternyata berisikan kalung emas yang memiliki berliontin kan bulan sabit.
"Ya ampun, kalung ini cantik sekali. Siapa sih yang ngirim, jadi penasaran." Daripada terus-terusan penasaran, Aurora memilih membereskan kado-kadonya tersebut dan sambil menunggu giliran untuk mandi.
__ADS_1
...----------------...
To be continued.