GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 129


__ADS_3

Kiran baru saja menapakkan kaki di rumah, semalam ia tidur di apartemen yang ia sewa kemarin karena tak ingin bertemu dengan Andre, rasa kecewa dan marah masih bersarang di hatinya.


Kiran tersentak saat mendapati Andre dan keempat temannya. Kiran mengingat jika mereka berempat itu merupakan teman suaminya di club motor dan Kiran cukup dekat dengan mereka semua. Mereka juga teman baik dari Aurora tapi dulu saat wanita itu masih suka ikut balapan. Kiran menetralkan degup jantungnya yang memompa cepat.


Andre dan teman-temannya yang melihat Kiran juga cukup terkejut sekaligus lega, karena semalaman mereka mencari keberadaan Kiran.


Mereka mencari Kiran dari rumah orang tua Kiran, rumah orang Andre, bahkan ke rumah sahabat-sahabatnya yang lain. Tapi Kiran tidak di temukan juga. Andre segera menghampiri Kiran.


"Kamu kemana aja, Kiran? Aku dan yang lain mencari mu kemana-mana semalaman, aku cari di rumah Papi, nggak ada. Kata bibi Romlah, Mami dan Papi sedang pergi ke luar kota dan nggak mungkin kamu ikut." Kiran menatap mata suaminya yang memerah dan bawah matanya menghitam, ia yakin Andre semalaman tidak tidur karena mencarinya.


"Aku ke rumah Mama nggak ada, rumah Aurora dan Mila pun juga nggak ada. Sebenarnya kamu kemana sih?" tanya Andre panjang lebar ke Kiran. Bahkan semalam Andre mendapatkan tamparan serta bogeman mentah dari Aurora dan Mila, akibat dirinya yang membuat Kiran pergi. Terlihat dari pipi sebelah kanan Andre yang membiru, Kiran yakin itu pukulan dari Aurora.


Kiran tidak menjawab, ia langsung pergi ke kamar dengan langkah dan raut wajah dingin. Andre yang melihat sikap dingin Kiran hanya bisa menghela napas panjang dan sedih, rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi, teman-temannya hanya bisa diam dan iba terhadap Andre.


"Ndre kita pulang dulu ya? Nggak enak kalau kita disini lama-lama, toh juga Kiran sudah pulang," pamit Rifzal yang merasa kondisi sudah tidak kondusif lagi, ia serta yang lainnya juga tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Andre dan Kiran.


"Jangan! Temenin gue dulu," perintah Andre dengan wajah datar. Mereka pun hanya bisa mengangguk pasrah.


Di dalam kamar, ketika pintu ditutup, tubuh Kiran langsung luruh ke lantai. Dadanya sesak seakan terhimpit oleh sesuatu yang besar, ia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Ayo Kiran, lo harus keluar dari sini. Lo udah nggak berhak disini, semuanya benar-benar sudah berakhir," lirih Kiran memprovokasi hati untuk mengikuti akal pikirannya.


Kiran melangkah untuk mengambil salah satu koper berukuran sedang miliknya yang berada di atas lemari, dia akan membawa barang-barang yang diperlukan. Sisanya nanti ia akan menyuruh orang suruhannya yang datang membereskan semuanya.


Tangannya gemetar memasukan pakaiannya ke dalam koper, air matanya kembali keluar padahal ia sudah menahannya. Kenangan ia bersama Andre kembali mengitari pikirannya, Andre yang manja, Andre yang menangis di pelukannya, Andre dengan kelakuan konyolnya, Andre dengan janji-janjinya, Andre yang menyakiti fisik dan hatinya tanpa ampun, tanpa ada rasa kasihan, tanpa memperdulikan tangisan memohon nya, yang tanpa disadari itu hampir membuat dirinya keguguran.


"Ya Allah ternyata sakit banget," lirih Kiran disertai tangisannya.


Kiran menyeret koper di tangannya keluar dari kamar, ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sebelum melangkah keluar. Langkah grasak-grusuk Kiran langsung mengambil alih beberapa pasang mata yang berada di ruang tamu.


Mereka semua terbelalak kaget dan refleks berdiri ketika melihat Kiran keluar dengan menyeret koper.


Andre menghadang langkah Kiran, "Kamu mau kemana?" tanyanya takut.


Tak menjawab Kiran langsung melewati Andre, namun tangannya di tahan oleh pria itu.


"Aku tanya mau kemana?" tanya ulang Andre menatap tajam Kiran.


Mata Kiran menatap balik sengit Andre, "Mau pergi ngeja.lang," jawabnya setegar mungkin. Ucapan Kiran membuat semuanya terperangah tak percaya.


"Coba ulangi!" sentak Andre.


"Gue mau pergi ngeja.lang, kenapa? Nggak ngerti lo? Gue mau ngejual tubuh gue... Ummm mungkin bahasa kerennya itu open BO. Kan gue ja.lang," tekan Kiran pada kalimat terakhirnya.


"KIRAN!"


"APA!" balas Kiran membentak balik Andre, ia menyentak tangan Andre dengan kasar.


Rahang Andre mengetat, "Apa malam itu belum cukup?" geramnya.

__ADS_1


"Bentar deh, ini yang sama lo, atau yang sama Kevin, mantan tersayang gue?" tanya Kiran dengan nada mengejek.


"KIRAN!" hardik Andre ketika mendengar ucapan tak terduga dari istrinya. Keempat teman Andre yang masih berada disana seketika meringis mendengar ucapan Kiran serta teriakan Andre yang menggelegar di ruang tamu itu.


Kiran tertawa kecil, "Loh kenapa lo malah marah? Bukannya kemarin lo liat gue sama Kevin? Bukannya lo percaya sama omongan dia? Terus apa yang salah dari ucapan gue?" sinis Kiran menyunggingkan senyumnya. Jujur, sekarang ia sedang menahan diri untuk tidak menangis.


Ucapan Kiran langsung membungkam mulut Andre, keempat teman Andre semakin merasa tak enak jika lama-lama berada disana. Mereka rasanya ingin cepat-cepat pergi jauh dari adegan percekcokan antara suami-istri di hadapan mereka sekarang ini.


"Nggak usah sok peduli deh sama gue, dari tatapan mata lo kemarin udah jelas, gimana cara lo mandang gue selayaknya seorang ja.lang. Nggak usah munafik deh, eneg gue liatnya!" Ucapan tajam Kiran seperti tusukan keras yang menyadarkan Andre dari kesalahannya.


"Maafkan aku, Kiran. Aku salah, nggak percaya dengan ucapan kamu, maaf udah menyakiti kamu dan calon anak kita," lirih Andre menatap lekat Kiran.


Rasanya Kiran ingin tertawa kencang sekarang, "Haha maaf? Setelah apa yang lo lakukan ke gue dan calon anak gue? Fuc.king bullshit!" teriak Kiran merutuki ucapan Andre.


"KIRAN!" Andre membentak Kiran, pria itu menggeram kesal karena istrinya itu telah berkata kasar.


"Stop panggil gue, Kiran! Kiran yang lo kenal udah mati, sekarang yang ada di hadapan lo ini hanyalah seorang JA.LANG yang udah tidur dengan banyak pria!" teriak Kiran dengan lantang meluapkan segala emosinya.


Andre langsung memeluk Kiran hingga wanita itu memberontak memukul kuat dada Andre.


"Nggak usah peluk gue! Lepasin gue sialan!" teriak Kiran masih terus mendorong tubuh Andre. Jangan pikir dengan sebuah pelukan membuat Kiran melupakan kejadian itu hilang begitu saja. Hey, Kiran tidak sebodoh itu untuk memaafkan.


"Romi, bawa koper istri gue kembali ke kamar!" perintah Andre pada salah satu temannya dan terus mendekap erat tubuh Kiran yang masih memberontak.


"Nggak! Gue mau keluar dari sini, lo jangan sentuh koper gue!" teriak Kiran menatap tajam Romi.


"Cepat bawa ke kamar gue, Romi!" perintah Andre lagi tak memperdulikan teriakan serta berontak nya Kiran.


Andre melepaskan pelukannya lalu beralih mencengkram kedua bahu Kiran, "Kiran diam!" Andre mencoba mengontrol emosi agar tidak kelepasan.


Kiran menatap datar Andre, kemudian bergantian menatap keempat teman dari Andre, "Jika ada yang berani nyentuh koper gue dan menghalangi jalan gue, besok kalian nggak akan liat gue dalam keadaan hidup!" ancam Kiran seketika membuat cengkraman Andre mengendur dan terlepas dari bahu Kiran. Begitu pula dengan Romi yang langsung melepaskan koper milik Kiran.


Kiran menyunggingkan senyum sinis dari bibirnya, ia berjalan menuju ke arah Romi, tangannya menarik kasar koper miliknya.


Andre menjadi kalut, dadanya menjadi sangat sesak, apa dirinya masih bisa di maafkan karena perbuatan yang menyakiti istrinya itu?


Andre berbalik dan berjalan cepat ke arah Kiran yang hampir keluar dari pintu keluar. Pria itu langsung memeluk tubuh Kiran dari belakang.


"Jangan pergi sayang, aku mohon. Maafkan aku," lirih Andre mengeratkan pelukannya.


"Lo nggak bosen minta maaf mulu? Gue yang dengernya aja gedek banget, sumpah!" kata Kiran bagai palu raksasa yang menghantam kepala Andre.


Kiran melepaskan tangan Andre dari tangannya secara paksa, tubuhnya berbalik dan langsung mendorong tubuh pria itu hingga membuatnya mundur beberapa langkah sampai hampir terjatuh.


"Gue udah bilang kan? Gue udah nggak sudi lagi di peluk sama lo. Nggak usah sentuh gue, nggak usah minta maaf, nggak usah mohon-mohon sama gue karena semua yang lo lakuin akan sia-sia!" sentak Kiran. Ingin sekali dirinya menampar wajah pria di hadapannya ini.


"Lo tau? Setiap kali gue inget kejadian itu, setiap kali gue liat muka lo, gue mau muntah. Lo nggak ada bedanya dengan Kevin, kalian berdua sama-sama buat gue muak!" sarkas Kiran, lagi-lagi ia menahan air matanya, dadanya kembang kempis akibat terlalu banyak luka yang di gores kan oleh Andre padanya.


Hati Andre bagai terkena lelehan lava pijar yang panas, apa kesalahannya begitu fatal?

__ADS_1


Andre berlutut dihadapan Kiran hingga membuat wanita itu tersentak kaget, "Aku ngaku, aku salah, Ki. Hari itu aku nggak bisa mengontrol rasa cemburuku melihat kamu di atas pangkuan Kevin dan saling bercumbu ..." Andre mengepalkan tangannya kuat mengingat kejadian itu. Keempat laki-laki disana syok mendengar ucapan Andre, ternyata itu yang membuat mereka berselisih paham, akhirnya terjawab juga rasa penasaran mereka tentang ini.


"Sekarang jelasin ke aku apa yang sebenarnya terjadi, Ki." Andre mendongak menatap Kiran dengan sendu serta mata yang berkaca-kaca, ia bisa gila bila dibenci Kiran sampai seperti ini.


Kiran tertawa pedih, "Jelasin? Nggak ada yang perlu aku jelasin, lo lebih percaya sama omongannya Kevin, kan? Hari saat kejadian itu gue mau jelasin semuanya ke lo, tapi gue malah di bentak dan kasarnya lo tiduri gue sampai gue mohon-mohon namun lo nggak menggubris sama sekali. Dan lo tau, gara-gara perbuatan lo itu, gue hampir kehilangan anak gue!" Nada Kiran meninggi sambil tangannya mencengkram pegangan koper menahan segala emosinya.


Ucapan Kiran membuat jantung keempat teman Andre seakan keluar dari tempatnya, ingin sekali mereka memaki dan memukul Andre, mereka sangat geram dengan perlakuan Andre terhadap istrinya sendiri sampai hampir membuat Kiran keguguran.


"Hamil?" Empat pria itu tersentak kaget.


"Iya gue hamil, tapi bukan anak dari teman kalian!" Semakin Kiran menguatkan diri dengan ucapan tegar nya, semakin pula ia terluka yang teramat sakit.


Andre menggeleng kuat, setetes air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya, sungguh ia seperti akan gila mendengar ucapan Kiran.


"Nggak, Kiran. Itu anak aku, aku mohon hati aku sakit denger kamu ngomong seperti itu." Suara Andre bergetar dengan tangan mengepal kuat.


"Anak lo? Hahaha dia bukan anak lo, tapi anak gue dari hasil ngeja.lang," bantah Kiran. Air matanya juga luruh seketika.


"Kiran, please jangan bilang seperti itu," isak Andre menahan sesak di dadanya.


"Malam itu lo bilang gue ja.lang, lo yang bilang sendiri udah berapa banyak laki-laki yang udah nidurin gue, lo rendahin gue disaat gue nangis mohon-mohon supaya lo berhenti, tapi apa? Lo main kasar tanpa peduli rasa sakit yang gue alami, gue di lecehkan sama Kevin dan brengseknya lo nggak mau dengerin penjelasan dari gue, gue lebih sakit, Andre!" teriak Kiran menggebu-gebu sambil memukul-mukul dadanya yang teramat sesak setelah meluapkan kekesalan, kemarahan dan kekecewaan pada pria yang ia anggap obat dari masa lalunya tersebut.


Andre hendak maju menahan Kiran, namun dengan cepat Kiran memundurkan langkahnya.


"Jangan kayak gini lagi, Ndre. Hubungan kita sebentar lagi akan berakhir."


"Nggak mau Kiran, aku mohon jangan bilang seperti itu!" teriak Andre frustrasi, tangisannya semakin menjadi-jadi mendengar penuturan Kiran.


Kiran memejamkan matanya sejenak lalu membukanya, "Hubungan pernikahan kita udah nggak ada rasa saling percaya, nggak ada rasa saling memahami dan masalah akan terus ada karena lo selalu menanggapinya dengan emosi, tanpa mau mendengar penjelasan dari gue terlebih dulu," ucap Kiran membuat Andre semakin terisak dan sesenggukan karena apa yang di ucapkan Kiran itu benar adanya.


Kira menarik kopernya namun langkahnya terhenti, ia kembali membalikkan badannya menatap Andre dan keempat temannya.


"Ndre, secepatnya pengacara gue bakal bawa surat perceraian kita lo tinggal tanda tangan, untuk Rifzal, Romi, Bagus dan Adam, makasih selama ini kalian udah menjadi temen gue dan gue harap lo bisa jadi temen baik Andre untuk selamanya," ujar Kiran lalu beranjak pergi. Keempat teman dari Andre hanya bisa membisu serta mematung, napas mereka tercekat seakan sepatah katapun sangat susah mereka lontarkan.


"Aku nggak mau cerai, Kiran!" teriak Andre lagi, tubuhnya bergetar hebat, namun teriakannya hanya angin berlalu bagi Kiran yang terus melangkah keluar rumah.


Andre segera berlari mengejar sang istri dan diikuti oleh keempat temannya untuk menghadang Kiran yang hendak membuka pintu mobilnya. Kiran tanpa ekspresi menoleh ke arah mereka berlima.


"Gue udah bilang, kan? Kalau kalian menghalangi jalan gue, besok kalian nggak akan nemuin gue dalam keadaan hidup. Apa kalian menganggap ancaman gue itu seperti lelucon?"


"Ki--"


"Ck!" potong Kiran mengeluarkan decakan kemarahan. Wanita itu membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan kuat. Sebelum pergi Kiran melepaskan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya, lalu melempar tepat ke arah dada bidang Andre.


Kemudian Kiran menginjak pedal gas mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Andre yang banyak memberikannya kenangan.


Andre menatap kosong cincin yang terjatuh di tanah, apa ini semua benar-benar akan berakhir? Apa ia tak bisa memperbaiki semuanya? Kepalanya serasa seperti akan meledak sungguh ia tak bisa hidup tanpa Kiran.


"Aarrgghh Kiran!" teriak Andre frustrasi sambil menjambak kuat rambutnya. Keempat temannya melihat itu merasa iba dan hanya bisa mensupport serta mendoakan yang terbaik untuk hubungan Andre dan Kiran.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2