GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 95


__ADS_3

Hari pun cepat berlalu, Irsyan sudah seminggu di desa U, tapi ia rasa seperti satu bulan. Irsyan tak sabar untuk pulang, ia sangat merindukan istrinya.


"Syan, lo mah ngelamun mulu!" ucap Aji yang mengagetkan Irsyan.


"Bisa nggak lo nggak ngagetin?" Irsyan menatap tajam Aji. Aji langsung nyengir kuda sambil mengangkat dua jarinya.


"Ke pasar yok, bahan makanan di kulkas udah hampir habis," ajak Aji.


Irsyan menaikan satu bibirnya ke atas, "Hah? Gue ke pasar? Nggak deh Ji, lo tau kan gue nggak pernah belanja kesana," tolaknya. Memang benar, Irsyan tidak pernah menginjakkan kaki di pasar, paling mentok di minimarket atau warung kecil bahkan Irsyan belanja disana jika terpaksa.


"Ya elah Syan, terus mau belanja dimana dong? Disini kan nggak ada supermarket atau minimarket," ucap Aji frustasi. Horang kaya mah agak lain memang.


"Memang nggak ada gitu warung di sekitaran sini?" tanya Irsyan.


"Ya ada tapi nggak lengkap jualan mereka, makanya gue ajak lo ke pasar untuk beli sayur, ikan dan daging-dagingan," jelas Aji. Dia sering mengantar ibunya pergi ke pasar, jadi Aji tidak terlalu skeptis terhadap hal-hal yang dijual di pasar seperti Irsyan.


"Tapi pasti sayur, ikan dan daging-dagingan yang dijual disana nggak higenis!"


Aji menghela napas panjang, bicara dengan sahabatnya yang satu ini memerlukan kesabaran yang tinggi.


"Lo mau makan mie instan terus?" tanya Aji.


"Ya nggak lah, yang ada nanti gue obesitas dan kena batu ginjal kalau terlalu sering makan mie instan!" balas Irsyan sewot.


"Makanya ayo kita ke pasar," bujuk Aji. Mau tak mau Irsyan mengangguk mengiyakan ajakan Aji, daripada ia harus terus menerus memakan makanan yang tidak sehat.


"Nah gitu dong."


Irsyan dan Aji ke pasar dengan cara jalan kaki karena jarak pasar cukup dekat dengan mess tempat tinggal mereka. Di jalan, tak henti-hentinya mereka disapa oleh warga-warga disana, bahkan diantara mereka ada yang terang-terangan menggoda Irsyan dan Aji.


"Ji, lo embat aja tu cewek lumayan loh cantik!" suruh Irsyan.


"Iya nanti gue embat buat dijadikan pajangan di dapur biar tikus-tikus disana pada takut, puas lo?" kesal Aji. Irsyan langsung tertawa terbahak-bahak, ia sangat suka menjahili sahabatnya ini.


Baru saja sampai di depan pasar, Irsyan langsung terjengkit karena hampir menginjak kubangan air bekas hujan semalam.


"Ya Allah, belum masuk aja udah dapat cobaan kayak gini," ucap Irsyan mengelus dada membuat Aji menggelengkan kepalanya.


"Makanya biasakan ke pasar, gue yakin istri lo pasti sering belanja ke pasar kan?" tebak Aji karena setahunya Aurora itu wanita yang sederhana, pasti dia sering berbelanja di pasar, pikirnya.


"Iya dia suka berbelanja di pasar, walaupun gue sama Mama sering larang, tapi Aurora tetep kekeuh untuk belanja di pasar, dengan alasan belanja di pasar itu higenis kok dan murah pastinya, kalau nggak percaya Mas bisa pergi kesana" jelas Irsyan sambil menirukan cara bicara istrinya.


Aji terkekeh, "Bener kok kata istri lo, nggak semua bahan-bahan makanan di pasar itu kotor dan tidak higenis. Belanja di pasar juga bisa menghemat uang," ujarnya.


"Iya-iya gue tau, ayo kita masuk aja sekarang. Gue males lama-lama disini," tandas Irsyan. Aji hanya menganggukkan.

__ADS_1


Masuk ke dalam pasar, membuat Irsyan sedikit merinding apalagi keadaan pasar tersebut cukup gelap dan lantainya sedikit becek. Saat melewati para penjual ikan, seketika Irsyan langsung menutupi hidungnya saking bau ikan tersebut sangat menyengat, ia menyesal tidak membawa masker kesini. Aji yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya.


"Syan, lo mau makan ikan apa?" tanya Aji.


"Gue ikan kerapu aja," pinta Irsyan.


"Pak saya beli ikan kerapu 3 kilo, ikan kakapnya 2 kilo sama ikan baronang 2 kilo." Aji memesan banyak karena bukan hanya ia dan Irsyan saja yang makan, tapi juga rekan-rekannya yang lain.


"Siap Mas." Penjual itu menyiapkan pesanan Aji.


"Mas-mas ini orang baru ya disini?" tanya penjual itu.


"Bukan Pak, kami disini jadi relawan," jelas Aji.


"Oh gitu. Pantas saja baru pertama kali saya liat."


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun telah selesai di bungkus.


"Ini pesanannya Mas."


"Totalnya berapa Pak?" tanya Irsyan sambil mengeluarkan dompetnya.


"Totalnya 450 ribu Mas," jawab penjual itu. Irsyan mengambil lima lembar uang seratusan dan memberikannya pada penjual tersebut.


"Ini Pak, kembaliannya buat Bapak saja."


"Sama-sama Pak." Irsyan berjalan duluan meninggalkan Aji.


"Biasalah Pak, dia itu anak orang kaya, uang segitu mah menurutnya nggak seberapa, jadi maklumi aja Pak," ucap Aji. Penjual itu hanya tersenyum dan mengangguk.


...****************...


Setelah selesai meeting, semua keluar dari ruangan kecuali Rian dan Ammar, ayahnya. Ammar ingin membicarakan tentang hubungan Rian dan Dania.


"Rian."


"Ya Pi?"


"Kata Mami kamu lagi bertengkar dengan Dania?" tanya Ammar.


Rian menghela napas, lalu mengangguk.


"Iya Pi."


"Kenapa bisa begitu? Yang Papi denger dari Mami karena kamu membentak dia di depan umum, apa benar?" tanya Ammar lagi.

__ADS_1


"Ya semua yang katakan oleh Mami itu benar Pi, Rian membentak dia karena dia sudah keterlaluan. Masa orang mau bersalaman aja ditolak sama dia!" jelas Rian dan berharap Ammar berada di pihaknya.


"Rian nggak mau punya istri kayak dia Pi, attitude nya itu kurang baik, Rian itu maunya perempuan yang baik, anggun dan keibuan. Apa Papi mau punya menantu yang tidak sopan?" sambungnya lagi.


"Ya tentu saja tidak."


"Makanya dukung Rian untuk membatalkan pertunangan aku dan Dania."


Ammar terdiam sejenak, ia sangat bimbang, jika dia menyetujui permintaan sang putra bisa-bisa perusahaannya juga akan bermasalah nantinya.


"Tapi kamu sebentar lagi akan menikah dengan dia nak."


"Ya kan masih belum, Pi. Jadi aku bisa membatalkan pertunangan ku dengan Dania," timpal Rian dengan santai.


"Kalau kamu batalkan pertunangan itu, bisnis kita akan goyah pasti pak Mario akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," ujar Ammar. Mario adalah ayah dari Dania.


"Tenang aja Pi, perusahaan kita nggak akan bangkrut kalau hanya membatalkan kerja sama dengan perusahaan pak Mario saja," pungkas Rian mencoba menenangkan Papinya.


"Papi sekarang tinggal menyetujui aja kalau pertunangan aku dan Dania dibatalkan," sambung Rian meyakinkan Ammar.


Ammar menghela nafas panjang dan mengangguk, ia tau jika putranya itu tidak mencintai Dania.


"Yes! Makasih Pi, Papi memang yang terbaik," ucap Rian senang.


"Tapi ingat jangan cari wanita yang sudah bersuami!" tegur Ammar yang juga mengetahui tentang sang putra menyukai wanita yang sudah bersuami. Rian mengangguk malas, tapi dalam hatinya ia tidak janji dan pastinya akan terus mencoba untuk mendapatkan Aurora.


Aurora yang baru keluar dari gedung kantornya langsung terkejut melihat keberadaan Vania di depan kantornya.


"Hai Ra," sapa Vania sambil melambaikan tangannya. Aurora tersenyum dan menghampiri Vania.


"Kok kamu disini Van?" tanya Aurora.


"Gue-- Eh aku kesini mau jemput kamu," jelas Vania.


"Pakai lo-gue aja, gapapa kok toh kita seumuran kan?" balas Aurora. Vania mengangguk menyetujui ucapan Aurora.


"Kita ke Mall yuk?" ajak Vania.


"Mau ngapain?"


"Shopping dong, udah lama gue nggak ke Mall Indonesia, mau ya?" bujuk Vania sambil mengeluarkan puppy eyes andalannya.


"Iya gue mau," jawab Aurora.


"Yey ada temen ke Mall! Ayo masuk!" Vania menyuruh Aurora untuk masuk ke dalam mobil. Aurora mengangguk dan masuk ke dalam mobil jenis Porsche milik Vania.

__ADS_1


...----------------...


To be continued.


__ADS_2