GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN

GADIS PILIHAN PERAWAT TAMPAN
Episode 153


__ADS_3

"Mas bisa diem nggak sih!" kesal Aurora saat dirinya sedang membantu mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu dan atas bibir sang suami. Irsyan sedari tadi terus menjahili Aurora.


Irsyan terkekeh geli melihat wajah cemberut Aurora, "Iya maaf sayang."


Dengan perlahan dan lembut Aurora mencukur bulu-bulu tersebut membuat hati Irsyan berdesir dengan perlakuan istrinya itu. Apa nanti ketika sudah memilik anak perhatian Aurora akan berkurang kepadanya? Pikir Irsyan. Pria itu langsung mengenyahkan pikiran tersebut dari otaknya, ya kali dirinya cemburu dengan darah dagingnya sendiri.


Irsyan memajukan wajahnya ke arah Aurora setelah selesai dicukur, kedua tangannya bertumpu di sebelah kanan-kiri tubuh sang istri dan Aurora memang sedari tadi duduk di pinggiran wastafel.


"Apa-apaan nih maju-maju kayak gini?" tanya Aurora was-was mendorong dada Irsyan. Irsyan tidak menanggapi dan malah mengambil kedua tangan Aurora lalu menaruhnya di atas pundaknya. Irsyan semakin memajukan wajahnya membuat Aurora terpaksa harus menutup matanya.


"Ngapain tutup mata gitu?" tanya Irsyan menggoda Aurora, mata Aurora yang tadinya terpejam langsung terbuka menatap Irsyan yang tersenyum jahil padanya.


Aurora berdecak kesal dan memukul dada Irsyan, ia mengira suaminya itu akan menciumnya, "Mas nyebelin banget sih!"


Irsyan mencoba menahan tawa, "Nyebelin kenapa sayang?"


"Tau ah!" ucap Aurora sambil menggembungkan pipinya, Irsyan yang gemas langsung mencium seluruh wajah istrinya.


"Kenapa kamu ini menggemaskan sekali sih sayang?" ujar Irsyan greget.


"Ya karena dari lahir aku sudah menggemaskan," balas Aurora dengan percaya diri


Setelah obrolan yang sedikit random itu, Aurora dan Irsyan memutuskan untuk mandi bersama. Setelah air bathtub terisi penuh, mereka berdua yang sudah polos langsung masuk ke dalam bathtub tersebut.


Bukan Irsyan namanya jika tidak berbuat sesuatu pada istrinya apalagi ketika sedang mandi bersama seperti sekarang ini.


"Mas, tangannya jangan kemana-mana!" tegur Aurora memukul tangan Irsyan yang berada di alat sensitifnya.


"Mas cuma pegang aja sayang," kilah Irsyan.


"Iya cuma pegang, tapi nanti lama-kelamaan masuk tuh jari!" pungkas Aurora yang tau niat terselubung sang suami.


Irsyan terkekeh kecil lalu mencium bahu polos Aurora, "Kan pengen sayang," ucapnya dengan nada rendah. Oke, Aurora mulai merinding dan otaknya mengeluarkan tanda peringatan pada saat Irsyan mulai mengeluarkan suara rendahnya, itu berarti gairah suaminya mulai menaik, apalagi Aurora merasakan ada tonjolan di belakangnya.


Aurora berdiri dari bathtub, "Aku duluan ya, Mas."


Irsyan menarik pinggang Aurora dan sang empu kembali terduduk, "Sabunan aja belum, sayang."


"Iya nanti Mas, sekalian bilas di bawah shower," ucap Aurora.


"Nggak biar sini Mas sabunin," ucap Irsyan mengambil sabun cair dan menaruhnya di atas spons lalu mulai menggosokkan nya ke tubuh Aurora, sementara itu Aurora hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi wajah Irsyan terlihat kesal, ya pasti tau lah kenapa. Sedangkan Aurora terkikik geli melihat wajah suaminya yang belum terpuaskan. Mereka berdua melangkahkan kaki ke ruang wardrobe.


Setelah selesai mereka keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah. Wajah Irsyan masih terlihat kesal, bahkan terkesan dingin.


"Mau minum teh, Mas?" tawar Aurora dan Irsyan hanya diam saja.


"Mas," panggil Aurora. Irsyan masih saja diam, sama sekali tidak menengok ke arah Aurora dan tetap fokus menonton televisi. Aurora menghela napas panjang, ia berdiri kemudian berpindah tempat duduk ke atas pangkuan Irsyan membuat Irsyan yang sedang menonton televisi itu tersentak dengan tingkahnya itu.


"Kamu mau ngapain?"


"Mas marah sama aku? Dari tadi cuekin aku mulu," tanya Aurora.


"Nggak," jawab singkat Irsyan.


"Nah kan Mas marah sama aku," ucap Aurora mulai memajukan bibir bawahnya seperti ingin menangis. Irsyan langsung kelimpungan melihat wajah Aurora yang akan menangis itu.


"Mas nggak marah, sayang," kata Irsyan dengan lembut.


"Bohong, hiks," isak Aurora. Irsyan merutuki dirinya, ia lupa istrinya itu paling tidak suka jika dirinya mencueki dan mendiamkannya.


Irsyan menangkup kedua pipi Aurora agar melihatnya, "Mas nggak marah kok sayang, cuma sedikit kesel aja sama kamu," ucapnya jujur.


Irsyan menggeleng, "Ini juga salah Mas, yang sering minta hak Mas ke kamu."


"Nggak Mas, ini salah aku. Seharusnya aku sebagai istri harus melayani keinginan Mas. Maafkan aku ya, Mas?"


Irsyan tersenyum dan mengangguk, "Mas sudah maafkan kamu, jadi berhenti menangis. Mas nggak suka liat kamu menangis apalagi gara-gara, Mas." Irsyan menghapus jejak-jejak air mata di wajah Aurora.


Aurora mengalungkan tangannya ke leher Irsyan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.


"Kamu mau makan sesuatu, sayang?" tawar Irsyan seraya mengelus punggung sang istri.


Aurora berpikir sejenak lalu berkata, "Aku mau Mas buatkan aku spaghetti carbonara," pintanya.


"Hah? Mana bisa aku masak sayang, kalau kamu suruh Mas menyuntik orang sama memenangi proyek, baru deh Mas paling jago," ucap Irsyan. Tak bisa ia bayangkan jika dirinya memasak.


Aurora menatap kesal suaminya, "Beneran ini nggak mau masakin aku?"


"Bukannya nggak mau sayang, Mas takut yang ada nanti kamu dan calon bayi kita keracunan sama masakan buatan Mas," jawab Irsyan frustrasi.


"Gimana kalau kita pesan aja?" usul Irsyan.

__ADS_1


Aurora menggeleng cepat, "Nggak mau, aku maunya Mas yang masakin, titik!" tekan Aurora.


"Mas kan bisa liat tutorial membuat spaghetti carbonara di internet," sambung Aurora.


"Tapi sayang--"


"Mas mau liat anak kita ileran nantinya?" Irsyan semakin frustasi dibuatnya mendengar ancaman istrinya itu.


"Oke fine, biar Mas yang masakin," final Irsyan membuat Aurora menyunggingkan senyum bahagianya.


"Oke, ayo kita ke dapur." Aurora turun dari pangkuan Irsyan dan menarik tangan sang suami menuju ke dapur.


Irsyan mulai sibuk dengan alat-alat dapur, terkadang beberapa alat dapur seperti panci, pisau terjatuh akibat kecerobohan dirinya. Aurora yang duduk di kursi mini bar hanya terkikik geli melihat suaminya yang sedang memasak itu.


Setelah 40 menit lebih berperang di dapur, akhirnya masakan buatan Irsyan pun telah siap.


"Nah spaghetti carbonara ala chef Irsyan sudah jadi, silahkan di makan yang mulia," ucap Irsyan menaruh piring berisi spaghetti itu di hadapan Aurora.


"Terima kasih, Mas." Aurora mulai memakan masakan Irsyan, baru saja ia memasukan spaghetti itu ke dalam mulutnya, Aurora sudah merasakan keanehan di makanan tersebut, bagaimana tidak spaghetti itu terasa asin, tapi bagi Aurora masih di makan dan dia tak ingin mengecewakan kerja keras suaminya yang telah membuatkannya makanan tersebut.


"Bagaimana sayang? Enak nggak?" tanya Irsyan.


"Iya enak Mas, Mas mau?" tawar Aurora menyodorkan spaghetti yang sudah ia ambil menggunakan garpu. Irsyan mengangguk lalu memakan masakannya sendiri, sedetik kemudian matanya terbelalak sempurna dan langsung berlari menuju ke tempat sampah untuk membuang spaghetti yang ada di dalam mulutnya.


"Kenapa Mas?" tanya Aurora pura-pura tidak mengerti.


"Spaghetti itu asin sekali sayang," jawab Irsyan sembari meneguk segelas air putih.


"Ini enak loh Mas," ucap Aurora dengan santai terus memakan spaghetti tersebut.


"Buang aja ya spaghetti itu sayang, nanti kamu bisa sakit perut. Biar Mas pesan online aja."


"Nggak usah Mas, ini enak kok," tolak Aurora. Irsyan meringis melihat Aurora memakan masakan buatannya dengan lahap.


"Tapi sayang--"


"Udah gapapa Mas, ini bisa aku makan kok," sela Aurora menenangkan Irsyan. Irsyan hanya bisa pasrah dan berdoa semoga istri serta anak yang ada di kandungan Aurora tidak kenapa-napa akibat dari masakannya.


...----------------...


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2