
Rumah mewah bernuansa Eropa terdapat sepasang setengah baya serta putri cantik mereka yang lebih banyak mengambil gen Turkish dari sang daddy.
"Caca," panggil Wilson.
Caca menghentikan makannya lalu menatap ke arah sang Daddy, "Ya Dad?"
"Daddy ingin bicara sesuatu ke kamu," ucap Wilson.
"Apa Dad?"
"Nanti sehabis makan, Daddy akan beritahu," jawab Wilson. Caca hanya mengangguk dan kembali memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Caca serta kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga, Caca dan Ranti duduk di sofa panjang, sedangkan Wilson duduk di single sofa. Terlihat raut wajah Wilson sangat serius.
"Caca."
"Ya Dad?"
"3 hari lagi kita akan pindah ke Turki," ujar Wilson. Caca sangat terkejut dengan penuturan Wilson. Turki adalah negara asal Wilson, ia memiliki beberapa perusahaan di negara yang memiliki tempat wisata Cappadocia itu.
"Are you kidding, Dad?" tanya Caca masih belum percaya.
"Daddy serius Caca, pekerjaan Daddy yang ada di perusahaan Turki sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk Daddy bolak-balik Indonesia-Turki, karena itu Daddy lebih memilih untuk menetap disana," jelas Wilson.
Caca langsung terdiam, bukan hanya sekolah yang akan dia tinggali, tapi juga teman-teman baiknya, terutama laki-laki yang sejak dulu ia sukai, tak lain dan tak bukan adalah Aril. Apa dia bisa untuk tidak bertemu dengan Aril? Sehari saja Caca tidak bertemu dengan laki-laki itu, dia langsung uring-uringan tidak jelas, bagaimana dia tidak bertemu dalam beberapa tahun atau bahkan selamanya? Oh tidak, dia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.
"Apa ini tidak terlalu cepat, Dad? Bentar lagi Caca ulangan kenaikan kelas loh," ucap Caca mencoba menegosiasi dengan Wilson.
"Lebih cepat lebih baik sayang, pekerjaan Daddy disana sangat membutuhkan bantuan dari Daddy," timpal Ranti.
"Apa Caca boleh tidak ikut?" tanya Caca dengan hati-hati. Kedua orang tuanya langsung menggeleng, mereka tidak mungkin membiarkan anak semata wayang mereka tinggal sendirian. Walaupun ada keluarga dari Ranti di Indonesia, tapi sayang mereka berbeda kota.
"No, princess. Kamu harus ikut kemanapun Daddy dan Mommy pergi," tolak Wilson. Caca hanya bisa menghela napas panjang.
Tadi malam Caca tidak bisa tidur dan membuat dirinya tidak tidur semalaman karena ucapan sang Daddy, dia benar-benar sangat berat untuk meninggalkan Indonesia. Pagi ini mata Caca begitu lelah sampai membuat kantung matanya menghitam akibat begadang, dia juga semalam menangis hingga matanya juga ikut sembab. Bahkan kini setelah jam pelajaran selesai, gadis itu langsung tertidur pulas di mejanya dengan lengannya sebagai bantalan kepalanya.
"Ca, lo nggak ke kantin?" tanya Lala. Gadis itu merasa heran melihat sahabatnya itu tertidur di kelas, biasanya Caca tidak pernah seperti itu.
Caca menggeleng, "Nggak La, gue titip susu sama roti ya?" pesan Caca sambil mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan menyodorkannya ke Lala.
__ADS_1
"Oke." Setelah itu Lala pun melenggang pergi dari dalam kelas menuju ke kantin.
Suasana di kelas terasa sunyi karena murid XI IPS 2 semua keluar beristirahat, hanya Caca saja di dalam sana. Kesunyian itu seketika lenyap saat seseorang menempelkan kotak susu dingin ke pipi Caca membuat sang empu terjengkit kaget.
"Dingin!" pekik Caca dan langsung duduk dengan tegak, lalu menatap tajam orang yang mengusik dirinya.
"Aril ih, jahil banget!" sungut Caca, sedangkan sang pelaku hanya memasang wajah datarnya, ia merasa tidak bersalah sama sekali.
"Itu susu sama roti dari Lala, dia nitip ke gue," ucap Aril.
"Hem thanks!" Caca tidak bisa kesal lama-lama dengan lelaki pujaan hatinya. Gadis itu segera meminum susu tersebut karena kebetulan dia merasa haus.
Aril menatap Caca sedari tadi, ia melihat penampilan gadis itu begitu kacau pagi ini. "Lo kenapa?" tanyanya.
Caca menatap Aril, "Gapapa," jawabnya singkat. Dia masih takut untuk menceritakan jika dirinya harus pindah ke Turki.
Aril menaikkan satu alisnya, ia tidak percaya apa yang dikatakan oleh gadis itu, karena wajah dan penampilan Caca hari ini jauh dari kata baik-baik saja. "Lo nggak usah bohong, Ca. Lo itu paling payah dalam dalam berbohong!"
Glek!
Caca sampai susah menelan ludahnya, lelaki itu memang sangat sulit untuk di bohongi. Caca membuang napas berat, mungkin dia harus menceritakan tentang itu pada Aril.
"Kapan?" tanya Aril.
"Besok lusa. Kami harus pindah, karena pekerjaan Daddy disana sangat banyak dan tidak memungkinkan Daddy untuk bolak-balik Indonesia-Turki," jelas Caca. Aril melihat mata Caca berkaca-kaca, dia yakin bahwa gadis itu tidak rela meninggalkan Indonesia.
"Pergilah jika itu yang terbaik," ujar Aril. Entah kenapa hati Caca terasa sesak saat Aril menyuruhnya untuk pergi, padahal Caca berharap Aril menahan dirinya untuk tidak pergi.
"Tapi nanti gue nggak bisa bertemu lagi dengan teman-teman terutama lo, Ril," ucap Caca dengan suara lirih di akhir ucapannya sambil menunduk sedih. Aril cukup tertegun sejenak sebelum senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Gue akan tungguin lo kembali kesini," timpal Aril membuat Caca mendongak menatapnya.
"Lo serius mau nungguin gue?"
Aril mengangguk, "Setelah lo kembali kesini nanti, gue akan jadikan lo lebih dari seorang teman," ucap Aril bersungguh-sungguh.
Mata Caca berbinar mendengarnya, "Lo nggak bohongin gue kan?"
Aril menggeleng sambil menghapus jejak-jejak air mata Caca, "Gue serius, Caca. Lo disana belajar yang rajin biar jadi wanita hebat. Disini gue juga bakal belajar yang rajin biar bisa bersanding dengan wanita hebat seperti lo," ujar Aril. Ucapan Aril membuat hati Caca berbunga-bunga dan pipinya pun ikut terasa panas.
__ADS_1
"Oke gue janji akan menjadi wanita hebat, biar gue bisa menjadi pendamping hidup laki-laki hebat seperti lo, Ril!" balas Caca.
Aril hanya tersenyum tipis, "Gue bakal ingat janji lo, Ca."
...****************...
Pernikahannya sudah menginjak usia ke satu tahun. Aurora maupun Irsyan bersyukur atas semuanya.
Dipersatukan dalam sebuah kebetulan, tanpa ada hubungan seperti berpacaran dan langsung melangsungkan acara lamaran. Alhamdulillah rumah tangga yang mereka bangun tetap kokoh walau badai sering juga datang.
Semalam, Irsyan dan Aurora sudah menghabiskan waktunya berdua dengan cara dinner di sebuah restauran ternama.
Kini, Irsyan dan Aurora masih berada di sebuah kamar hotel tempat yang juga mereka sewa untuk merayakan anniversary pernikahan yang ke satu tahun.
Aurora tengah berkutat dengan make up-nya, sementara itu Irsyan tengah merapihkan susunan tempat tidur. Niatnya sekarang mereka akan check-out dari hotel dan pulang menuju rumah.
Sudah dua minggu ke belakang Irsyan sudah cuti dari kantor karena ia ingin lebih siaga dan sigap mengurus Aurora yang sebentar lagi akan melahirkan.
"Udah siap, sayang?" Irsyan menghampiri Aurora yang masih bercermin untuk merapikan tatanan rambutnya. Tangan besarnya memeluk pinggang sang istri tak lupa untuk mengecup permukaan pipi gembul sang istri juga.
Mengelus perut besar itu dengan perlahan. Dapat Irsyan rasakan bahwa anaknya tengah bergerak begitu aktif. "Sebentar lagi bayi kita akan lahir," katanya sembari terus mengelus-elus perut istrinya.
"Nggak nyangka ya perjalanan kita udah jauh aja. Mas berharap kita terus sama-sama sampai rambut kita memutih dan hingga maut yang memisahkan kita," ucap Irsyan membuat Aurora berbalik menghadap suaminya. Menaruh kedua tangannya di pipi Irsyan dan mengelusnya dengan begitu lembut.
"Aamiin. Aku berharap begitu juga Mas, kita terus bersama, saling percaya walaupun bakalan ada kesalahpahaman, aku berharap kita menyelesaikan masalah dengan baik dan dari hati ke hati. Jangan sampai hubungan kita renggang karena suatu hal, terima kasih untuk semuanya," timpal Aurora tersenyum.
Cup.
Irsyan mengecup sekilas bibir sang istri. "Harusnya Mas yang berterima kasih. Karena tanpa kamu Mas nggak akan bisa merasakan kebahagiaan seperti ini dan Mas nggak pernah menyesal untuk memilih kamu sebagai pasangan hidup, Mas. Terima kasih sudah sabar atas semua sikap maupun sifat Mas selama ini. Terima kasih untuk selalu ada di samping Mas, memberi dukungan, kepercayaan, doa dan rasa cinta."
"Aurora Putri Ramadhina wanita yang pernah Mas temui sampai pada titik kita dipersatukan dalam sebuah ikatan yang sah. Terima kasih untuk semuanya," sambung Irsyan.
Irsyan langsung memeluk tubuh Aurora dengan erat. Usia pernikahan yang ke satu tahun ini begitu sangat membahagiakan. Semoga saja untuk tahun-tahun selanjutnya, keduanya bisa merasakan hal seperti ini lagi.
"I love you my wife..."
"I love you too my husband..."
Setelah selesai mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, Aurora dan Irsyan keluar dari kamar hotel sambil bergandengan tangan.
__ADS_1